
Aku menggeser layar ponselku ke atas ke bawah. Aku mengeklik hampir setiap unggahan terbaru Juna di akun instagramnya. Aku mengamati, membaca beberapa komentar orang pada unggahan Juna itu.
Karena jenuh menunggu seseorang tiba di tempat makan ini, aku jadi kurang kerjaan dan stalking medsos Juna. Membaca ocehan-ocehan netizen di kolom komentar posting-an selfie Juna membuatku sedikit panas.
miami.muah : Juna Oppa, pacaran yuk!
hanaputri_ : Rumor mengatakan kalo Bang Juna udah punya pacar. Who is she??? Kenapa nggak pernah diekspose? Apakah rumor itu tidak benar?
unknown.cecan : Gue udah lihat video Juna di Sunny Cafe. Asli, pacarnya lebih cantik daripada selebgram kampus gue. Ha ha ha.... But, kenapa nggak pernah di ekspose? Udah putus, kah?
lalalanoban : Hah? Kak Juna udah punya pacar? Jangan, donggggg!!! Hu hu.... Potek hatiku.
bininyadongmin : Mas Juna ganteng kembarannya Cha Eun Woo. Nikah yuk, Mas! Mau nggak?
Pandanganku tajam menusuk setiap komentar genit cewek-cewek yang aku pun tak mengetahui siapa dia. Aku tidak tau jika Juna punya banyak fans di instagram.
Unggahan foto ganteng Juna selalu menuai banyak respon. Karena rasa penasaran yang tinggi, aku terus menggeser layar ponselku membaca komentar-komentar itu lagi. Juna memang tampak tak menggubris ocehan mereka, namun aku terbesit sedikit rasa kesal.
liahpsr_ : Pacarnya nggak diekspose apakah takut direbut orang? Awokkwkwk....
mimiperi.mungil : Mas Juna introvert nggak mungkin udah punya pacar! #penggemarberatnggakmaudiselingkuhin
putriputput : Akun pacarnya ini bukan sih justsophia_? Diprivasi dan nggak posting apa-apa. Profilnya juga nggak jelas, ha ha.
dndsn.spam : Mungkin Juna malu punya pacar kayak cewek itu, makanya nggak diekspose. Ups, atau mungkin udah putus???
Balasan untuk dndsn.spam dari sitibukannetijen : Yang ada Juna malu kalo punya cewek kayak lo! Udah pake akun spam, komen seenak jidat. Sampah lo!
"Sophia!" panggil Raya mendadak mengejutkanku.
Ya, siang ini aku berjanji temu dengan Raya. Sejak aku hengkang dari kantor instansi, terkadang kami masih berkomunikasi melalui whatsapp. Paling-paling sekedar menyapa kabar, dan lalu membisu lagi.
Walaupun Raya sedikit mengecewakanku dengan ketidakpercayaannya saat Adi menjebakku dulu, tapi aku memaafkan dan memaklumkannya. Raya tidak tau apa-apa, jadi dia berhak kesal karena aku terkesan tak bisa bekerja dengan baik untuk kantor.
Semalam Raya tiba-tiba mengirimiku pesan pendek untuk bertemu sebentar di sini. Karena aku tak terlalu sibuk di kantor, aku pun menyanggupi permintaannya.
"Mbak Raya? Hai," sapaku seraya mematikan ponsel.
Raya beranjak duduk di kursi depanku. Dia tersenyum. "Hai, apa kabar? Udah lama ya kita nggak ketemu."
"Kabarku baik kok, Mbak. Mbak Raya sendiri apa kabar?" tanyaku balik.
"Alhamdullilah, sangat baik." Jawab Raya tersenyum, lalu membuka resleting tas kremnya.
Aku melebarkan mata setelah Raya menyodorkan sebuah undangan pernikahan padaku. Di sana tertulis jelas nama calon pengantinnya, Raya Saraswati dan Tegar Bintang Wibawa.
Aku mengambil undangan itu. "Mbak Raya mau nikah?" tanyaku mengedarkan senyum.
Raya tersenyum lagi. Sorot matanya menyungging kebahagian besar. "Iya. Kamu dateng, ya."
"Wah, suatu kehormatan sekali bisa diundang ke pernikahannya Mbak Raya. Aku pasti dateng kok, Mbak. Ini sama masnya yang anak perantau itu?"
Raya mengangguk lagi-lagi tersenyum.
"Waduh, selamat ya Mbak. LDR-annya jadi nggak sia-sia dong sekarang," ujarku menggoda si calon pengantin. Dia tertawa kecil. "Mbak, aku boleh kan datengnya sama cowokku?"
"Ya boleh, dong. Malah bagus itu." Raya bersemangat.
Kami pun terus mengobrol-ngobrol kecil. Karena sekarang jamnya makan siang, kami juga memesan menu di tempat makan itu. Raya tak berubah, dia masih terkesan ramah dan menyenangkan seperti dulu saat kami masih menjadi rekan kerja sekantor.
__ADS_1
"Sophia, sebenernya aku ngajak kamu ketemuan juga mau minta maaf," celetuk Raya padaku.
"Minta maaf buat apa, Mbak?" tanyaku bingung.
"Aku udah tau kalo kamu diganggu sama Pak Adi sampai kamu milih resign dari kantor," ungkap Raya membuatku membulat mata. "Aku minta maaf karena sempet sebel sama kamu. Aku bener-bener nggak tau kalo sebenernya kamu bukannya nggak bisa kerja, tapi pekerjaanmu dikacau sama Pak Adi."
Aku masih menyimak Raya.
"Kenapa kamu diem aja difitnah kayak gitu?" tanya Raya padaku.
Aku tersenyum kecut. "Nggak usah dibahas lagi, Mbak. Mendingan sekarang kita bahas pernikahannya Mbak Raya aja."
Raya tertawa. "Apanya yang perlu dibahas? Aku nggak mau ya kasih kamu banyak spoiler. Nanti pas hari H jadi nggak greget."
Raya yang tersenyum mulai mendatarkan raut wajahnya lagi. "Sophia, sebenernya Pak Adi udah nggak kerja di kantor lagi."
"Maksud Mbak Raya?"
Raya mendesah berat. "Satu bulan lalu kantor ada kunjungan KPK. Setelah ngejalanin pemeriksaan, Pak Adi terbukti ngelakuin korupsi. Sekarang dia udah ditahan," jelasnya membuatku terkejut.
Aku masih memandangi Raya dengan wajah bodohku. Aku hanya tak menyangka jika seorang Adi Bagaskara akan melakukan tindakan seperti itu. Ternyata dia tak hanya buruk padaku, tapi juga pada negara.
Setelah beberapa pelecehan verbal yang kuterima dari Adi, juga kekerasan fisik yang membuatku sampai sakit, rasanya semua itu terbalaskan sekarang. Syukurlah jika perilaku buruk Adi yang merugikan itu cepat terendus.
Seharusnya aku juga mengajukan tuntutan atas penganiayaan, tapi aku sudah tak punya bukti. Aku tak perlu mengotori tanganku dan laki-laki itu sudah mendapatkan ganjaran. Semoga dia lekas bertobat.
Aku dan Raya melanjutkan makan siang. Kami terus berbincang dengan saling bertukar cerita soal tempat kerja. Aku juga menceritakan soal Semesta Corp pada Raya.
Beberapa menit kemudian, kami selesai. Raya yang sebenarnya sibuk itu akhirnya berpamit duluan. Dia hanya menyempatkan waktu sedikit untuk memberiku undangan pernikahan dan sekedar makan siang. Tapi aku senang karena dia masih mengingatku sebagai temannya.
Aku pun meninggalkan tempat makan itu setelah kepergian Raya. Aku berjalan santai menuju tempat parkir.
***
"Temenin gue mampir dulu ke De Boutique, ya?"
"De Boutique? Lo mau beli baju?"
"Iya. Kemarin gue lihat IG-nya De Boutique ada produk baru. Sumpah, gue suka banget sama Sophia's Design! Gue udah koleksi 5 blousenya, loh."
"Gilak lo!"
Aku menguping pembicaran dua orang gadis remaja di samping kananku. Aku tersenyum tipis karena salah seorang remaja itu menyukai pakaian rancanganku. Perasaanku mulai terbang karena pujian secara tak langsung itu.
"Eh, lo tau nggak model cowoknya De Boutique?"
Aku yang sudah memasang helm hendak mengegas Fino pergi dari sana tiba-tiba terdiam karena mendengar pertanyaan itu.
"Tau, ganteng banget!" seru salah seorang gadis itu.
Aku mulai berpura-pura mengecek ponsel dan menguping pembicaraan dua orang itu lagi. De Boutique hanya memiliki dua model, Juna dan Bunga. Pasti model ganteng banget yang dimaksud dua gadis itu adalah Juna.
"Bener! Kek oppa-oppa korea gitu nggak, sih?"
"Setuju-setuju. Tapi katanya sih dia udah punya pacar, loh. Gue kan aktif stalking akun IG-nya."
"Iya, gue lihat komen-komen netizen sih katanya gitu. Banyak yang komplain karena pacarnya nggak pernah di ekspose di IG. Gue jadi penasaran deh, secantik apa sih pacarnya?"
"Pastinya cantik, lah. Juna kan ganteng. Juna kan nama modelnya?"
__ADS_1
"Iya, namanya Juna." Gadis yang menjawab itu tiba-tiba mendecak. "Orang cantik jaman sekarang mah banyak. Apa pacarnya nggak di ekspose gara-gara udah putus?"
"Bisa jadi, sih. Gue aminin, deh," kata satu gadis lainnya cekikikan.
Aku memutar bola mata masih sok menyibuk dengan ponselku terus menguping mereka. Seharusnya aku tak melakukan ini karena omongan warganet itu bisa menyalakan api ke kuping dan hatiku. Tapi entah kenapa aku jadi makin kepo dengan bahasan mereka.
"Pokoknya gue nggak setuju kalo Juna punya pacar! Gue sebagai penggemarnya ngerasa kek dihianatin!"
"Terus kalo dia beneran punya pacar gimana?"
"Halah, paling-paling si ceweknya dihujat sama fans-nya Juna. Dia kan penggemarnya nggak cuma gue."
"Abis kena hujat terus putus. Biasanya anak medsos kayak gitu kan kalo pacaran? Nggak ada langgeng-langgengnya."
"Udah yuk berangkat sekarang. Ngapain sih kita gibah mulu di sini?"
Dua orang itu terkekeh-kekeh, kemudian pergi dengan berboncengan motor. Kepergian mereka menorehkan kesal untukku. Aku dengan wajah cemberut mulai mengegas Fino pergi.
***
Di perjalanan...
Aku mengendarai Fino malas. Benar saja kupingku masih panas terngiang omongan pedas dua gadis remaja tadi. Ditambah lagi komentar-komentar netizen yang kubaca di instagramnya Juna. Lengkap sudah kekesalanku.
Tin-tin! Seru klakson motor tepat di samping kananku membuatku menoleh. Di sana, Rama dengan motor ninja hitamnya menyamai kecepatanku berkendara. Aku tak menghiraukan Rama dan terus mengegas Fino lurus.
"Sophia," panggil Rama padaku.
Aku tak menggubris.
"Woi! Lo denger nggak sih gue panggil?"
"Sophia!"
"Nggak usah sok budek gitu. Budek beneran tau rasa lo."
Aku masih membisu. Aku tak ada mood untuk meladeni Rama yang suka asal bicara itu. Lima detik. Tiba-tiba Rama berhenti menukik menghadang motorku dari depan.
Aku ambruk bersama Fino ke pinggir jalanan berumput. Rama turun dari motornya menghampiriku. Laki-laki itu tertawa.
"Lo waras nggak, sih? Lo sengaja ya mau nyelakain gue?" Aku memekik pada Rama.
Rama mendirikan Fino yang sedikit menimpa kakiku. Kemudian, dia hendak membantuku berdiri.
"Nggak usah sok bantuin gue!" Aku mendorong tangan Rama kasar. Ekspresi laki-laki itu yang awalnya tersenyum kecut berubah menjadi datar menatapku.
Aku pun cepat-cepat berdiri dan mengebas-ngebas rumput-rumput kering berpasir yang menempel di celana juga bajuku. Aku menoleh menatap Rama marah, lalu berniat menggapai Fino hendak pergi dari sana. Namun, Rama menarik lengan kiriku menahan.
"Sorry, gue nggak bermaksud nyelakain lo," ujar Rama padaku.
Aku membuang napas mencoba sabar.
"Lo nggak pa-pa, kan?" tanya Rama padaku.
"Nggak pa-pa." Jawabku jutek.
Rama mendesah. "Kenapa muka lo asem gitu? Lagi dibikin kecewa ya sama pacar sok baik lo itu?"
"Lo tu kenapa sih selalu julid sama pacar gue?" hardikku pada Rama.
__ADS_1
"Julid? Gue tu ngomong seadanya, jujur, tidak dibuat-buat!"
Aku masih menatap Rama tak mengerti. Satu detik. Dua detik. Aku memutar bola mata dan beranjak menaiki Fino. Aku terus mengegas motor hitamku itu pergi meninggalkan Rama. [ ]