
Bulik Susan sudah pergi, dan Mini pun mengajakku untuk menonton acara spesial perayaan First Day Campus-nya bersama Haris.
Kami masuk ke dalam sebuah aula. Di sana sudah disiapkan panggung kecil yang didekorasi semenarik mungkin. Tapi sayangnya, mereka tidak menyiapkan tempat duduk. Atau mungkin acara itu diatur seperti itu. Para penonton harus berdiri untuk menikmati penampilan khusus senior-senior kampus.
Aku, Mini, dan Haris berdiri di sana. Penampilan pertama dari empat orang mahasiswi yang tampak berdandan dengan kostum rok mini menarikan lagu Blackpink yang tengah booming, Ddu-Du Ddu-Du.
Aku dan Mini sangat berantusias. Penggemar K-pop mana yang tak menyukai lagu itu? Bahkan Non K-popers saja banyak yang tau lagu itu. Ya, walaupun hanya sekedar menyanyikan hit you with that ddu-du ddu-du du. Ah yeah, ah yeah-nya saja.
Satu menit. Seorang gadis tiba-tiba menghampiri kami. “Mini? Hai…,” sapanya tersenyum ramah pada Mini.
Aku juga tak asing dengan gadis itu. Dia, Adinda Sonia. Mini sering membahas teman sekelas SMA-nya itu padaku. Kata Mini, gadis yang akrab disapa Dinda itu sangat populer di sekolah karena dinilai sangat rupawan.
Dan sepertinya Dinda juga tak hanya populer di sekolah, tapi dia juga menyandang gelar sebagai selebgram dengan followers yang tentu tak sedikit. Aku tau itu, karena informasi dari Mini dan sempat mengunjungi akun instagramnya.
“Eh, Dinda. Lo juga kuliah di sini?” tanya Mini.
“Iya. Kayaknya yang masuk sini sekelas cuma kita doang, nih,” ungkap Dinda menatap Mini.
Mini hanya meresponnya dengan senyum tipis.
Aku merasa canggung di sana. Aku bukan bagian dari kampus itu, jadi rasanya aneh saja.
“Ni, gue balik duluan, ya,” kataku berpamit pada Mini.
“Cepet banget, sih? Acaranya aja baru mulai, masa lo mau balik sekarang?” Mini mencoba menahanku.
Aku pun diam.
“Ini siapa, Ni?” tanya Dinda menatapku, lalu menatap Mini.
Aku pun berinisiatif untuk memperkenalkan diri pada temannya Mini itu. “Aku Sophia, sepupunya Mini,” ujarku tersenyum seraya menyodorkan tangan.
Gadis itu menjabat tanganku. “Aku Dinda.” Balasnya yang juga tersenyum.
Kami pun melepas jabatan bersamaan.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Haris tampak berbisik di telingan Mini, kemudian dia pergi.
“Haris ke mana?” tanyaku pada Mini penasaran.
“Biasa, repot. Dia juga panitia acara soalnya.” Jawab Mini padaku.
Aku mengangguk-angguk.
“Dia bukannya senior di sini, ya? Kok, lo kenal, Ni?” tanya Dinda menatap Mini penasaran.
Aku kira, Dinda si selebgram itu tak mengetahui hubungan Mini dan Haris. Mini juga bukan tukang pamer pacar ke orang. Tapi kalau denganku, jangan ditanya lagi! Bahkan bau sampo sampai keringatnya Haris pun diceritakan padaku.
Mini tertawa aneh. “Kita deket soalnya.” Jawabnya pada Dinda.
Ekspresi Dinda tampak heran penuh arti.
Mini menyenggol-nyenggol lenganku. Aku yang tak peka dengan isyarat Mini malah memasang wajah cengo. Mini yang melihatku seperti itu segera mencubit tanganku.
Aku tersenyum paksa menahan kesal pada Mini. Tinggal bilang ke Dinda kalau dia sama Haris pacaran kan lebih gampang daripada harus menyuruhku mengalihkan topik.
Satu detik. Dua detik. Intro instrumen lagu membuatku terdiam sebentar. Tepat di saat seseorang mulai menyanyikan lirik lagu itu, aku cepat menoleh pada arah panggung acara kampus Mini.
Sudah berapa lama
Aku menunggu jawaban darimu
Aku terpaku pada siapa yang menyanyikan lagu itu. Juna Raja Semesta, aku melihat laki-laki itu sangat keren di sana. Lagu ini, aku pernah mendengarkannya sebentar dengan Juna di tempat wisata kala itu.
Aku mengingatnya. Saat itu,
Aku tiba di sebuah taman bunga. Katanya, itu adalah tempat paling spesial dari pariwisata lokal di sana. Tapi kenapa sepi sekali? Aku pun mengistirahatkan kaki duduk di bangku besi bercat hitam yang disediakan di beberapa sisi di taman itu.
Aku menyandarkan punggung, memasukkan kedua tanganku ke saku mantel, lalu memejam menikmati sebuah lagu dari The Overtunes.
Satu menit. Seseorang mendadak menyahut earphone kananku. Aku terkejut, lalu menoleh ke samping kiri.
Di sana, laki-laki yang tadi baru saja duduk. Dia memakai satu sisi earphone milikku. Matanya dipejamkan seolah-olah dia benar-benar menikmati musiknya.
__ADS_1
Aku segera mematikan lagu Bicara dari ponselku. Laki-laki itu pun menoleh. “Kenapa dimatiin?” tanyanya dengan wajah terheran.
Laki-laki itu, Juna, dia telah mendengarkan sebentar lagu Bicara, lagu yang sering aku putar di Music Player-ku. Apa laki-laki itu juga menyukainya?
Sampaikah kepadamu
Kata-kata yang kurangkaikan
Agar kau tau perasaanku
Yang telah lama terpendam
Inilah yang kurasakan
Ku tak perlu kata-kata
Tuk mengerti yang kau rasakan
Karena ku hanya butuh
Separuh hatimu di dalam hidupku
Tuk buatku bahagia
“Gilak! Kak Juna bisa nyanyi???” Dinda tampak mengoceh terkagum di sampingku.
Aku menoleh Dinda sebentar yang menatap Juna berbinar di sana. Tiba-tiba, Mini menarik menggandeng tanganku menuju barisan depan.
Dan sekarang, aku bisa melihat Juna sangat jelas di depanku. Laki-laki itu menatapku dengan senyum menggoda. Tapi aku, aku hanya merasa sangat gugup dengan jantung berdebaran. Ini kenapa, Tuhan?
Sebut yang kau inginkan
Apa pun itu kan kuberikan untukmu
Andai kau bersamaku
Ditempat dan waktu yang sama
Kau akan tau perasaanku
Yang telah lama terpendam
Inilah yang kurasakan
Ku tak perlu kata-kata
Tuk mengerti yang kau rasakan
Karena ku hanya butuh
Separuh hatimu di dalam hidupku
Tuk buatku bahagia
Semenjak kau ada disini kumengerti
Betapa ku membutuhkanmu
Bila kataku tak cukup tuk buatmu mengerti
Izinkanku bertemu lagi denganmu
Ku tak perlu kata-kata
Tuk mengerti yang kau rasakan
Karena ku hanya butuh
Separuh hatimu di dalam hidupku
Tuk buatku bahagia
Haaa…
__ADS_1
Tuk buatku bahagia
Para penonton bertepuk tangan, tak terkecuali aku. Aku tersenyum menatap Juna mengapresiasinya. Ternyata dia jago nyanyi juga. Suaranya lumayan.
“Sophia, gimana? Suara gue bagus, kan?” tanya Juna di mik tersenyum nakal menatapku membuatku terkejut sedikit ternganga.
Demi apa dia nanya kayak gitu? Di mik??? Ubun-ubunku rasanya ingin melorot ke telapak kaki saja. Malu banget!!!
Orang-orang di sana menyoraki kami. Dan Mini, dia juga tampak menggodaku dengan menyenggol-nyenggol lengan kananku. Saat ini aku butuh kekuatan mimikri transparan untuk melenyap dari pandangan orang-orang itu.
Si Juna Raja Semesta itu berhasil membuat kepercayaan diriku mengkerut segede kacang hijau. Tidak, tapi sekecil kacang hijau.
Juna tampak menuruni panggung, lalu menghampiriku. Juna mendorong wajahnya mendekat ke hadapan wajahku. Dia tersenyum. “Hai, Sophia,” sapanya.
Bisa meninggoy di tempat nih gue! Kaki lemes, jantung cenat-cenut. Fix!!! Gue pasti lagi kena demam panggung akut!
Aku pun segera menyeret Mini pergi dari tempat itu. Jika aku tetap di sana dan meladeni laki-laki sangar seperti Juna, bisa-bisa aku pingsan konyol di depan banyak orang. Si Juna bener-bener!
***
Di halaman kampus…
Aku menghela napas panjang memegangi dada. Aku bersyukur masih tampak waras sekarang. Kejadian di aula tadi tak bisa dipercaya.
Mini menyilang tangan menertawaiku. “Lo kenapa, sih? Santai, dong. Kayak abis jurit malam tau nggak model lo!”
Aku memukul paha Mini kesal. Dia bukannya mengaduh, tapi malah masih menertawaiku.
“Sumpah, ya! Seumur-umur gue nggak pernah nemuin kejadian kayak gitu!” Aku menelan ludah membasahi kerongkonganku yang rasanya bak tandus.
Boro-boro diperlakukan begitu oleh Juna, dulu saja saat aku masih kelas 7 SMP, aku pernah dimintai nomor telepon oleh kakak kelasku. Dan apa yang aku lakukan? Aku malah sembunyi di bawah kolong bangku. Itu sih salah satu kejadian konyol yang masih aku ingat sampai sekarang.
“Ya bagus, kan? Anggep aja ini momen legendaris lo.” Mini terkekeh.
Aku memejam mata menggeleng-geleng. Lima detik. Sepuluh detik. “Ya tapi, kan-” Aku membalik wajah hendak menoleh pada Mini. Tapi sayangnya, mendadak Mini berubah menjadi Juna membuat ucapanku terpotong.
Aku menolah-noleh mencari-cari Mini, dan sepupuku yang ngeselin itu sudah pergi hilang entah ke mana.
Juna menatapku. “Lo kok hobi kabur, sih? Nggak di sini, nggak di sana (Juna menyilang tangannya) lo selalu kabur kalo liat gue.”
Aku mulai gelagapan. “Gue, gue nggak kabur, kok! Siapa yang kabur, sih? Ngaco lo.” Aku meringis canggung tak berani menatap laki-laki itu.
“Ngomong-ngomong, lo ngapain di sini?” tanya Juna padaku.
“Gue dateng buat ngucapin selamat ke Mini.” Jawabku lagi-lagi masih tak berani menatapnya.
“Yang bener? Lo kesini nggak lagi pengen ketemu gue, kan?”
Sontak, aku memicing menatap Juna yang tersenyum-senyum padaku. “Geer banget lo! Siapa juga yang-”
Juna menangkup wajahku memperhatikannya teliti. “Jangan-jangan lo suka stalking medsos gue, ya? Makanya lo bisa lihat gue nyanyi di sini,” tuduhnya padaku.
Aku cepat-cepat melepas tangkupan tangan laki-laki itu dari mukaku. Siapa juga yang stalking medsos dia? Punya rencana mau ketemu dia lagi saja tidak. Aku kan ketemu Juna lagi karena undangan First Day Campus-nya Mini. Kalau bukan karena itu, aku juga tak berharap banyak.
“Fitnah aja lo!” seruku seraya mengelap-ngelap kasar pipiku yang sudah dipegang Juna tadi.
“Biasa aja kali ngelapnya. Tangan gue lebih steril daripada muka lo,” ungkap Juna mengejek.
Aku pun memilih beranjak pergi meninggalkan laki-laki itu tanpa sepatah kata pun.
"Sophia."
"Sophia, lo mau ke mana?"
“Sophia!!!”
Juna memekik memanggilku, tapi aku tak menggubrisnya.
Aku tak suka laki-laki mana pun menyentuhku seperti itu. Walaupun, laki-laki itu seganteng dan setampan Juna Raja Semesta.
Dia pikir, dia siapa? Teman bukan, pacar bukan, saudara bukan. Aku dan Juna cuma sebatas kenal. Dan kembali pada nasihat ayah, jangan terlalu mempercayai laki-laki mana pun, selain dia!
***
__ADS_1
Aku berjalan menyusuri trotoar. Aku masih terngiang dengan lagu Bicara milik The Overtunes yang dibawakan Juna tadi. Aku tak bisa membohongi perasaanku dengan mengungkapkan kata kesal.
Masa iya sih si Juna menyanyikan lagu itu untukku? Dari mana dia tau aku akan datang ke acara itu? Apa Haris dan Mini memberitahunya? Apa Juna sudah lama menyiapkan semua itu? Entahlah. Aku hanya bisa tersenyum-senyum mengingatnya. [ ]