Stunning My Life

Stunning My Life
Arti Kepercayaan


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini aku mengundurkan diri dari kantor. Orang-orang di sana bertanya-tanya, tapi ada juga yang menduga-duga tentang alasanku keluar dari instansi itu.


Aku tidak peduli soal mereka yang menggunjingku. Aku hanya lega karena bisa menjauh dari Adi. Mungkin ini pilihan terbaik agar aku benar-benar putus hubungan dengan laki-laki itu.


Sore ini Bulik Susan menyuruhku untuk membeli tepung beras di toko seberang. Aku memilih berjalan kaki ke sana. Hitung-hitung, untuk jalan-jalan sore.


Sekitar lima belas menitan, aku sampai di toko. Aku pun bergegas pulang setelah membeli tepung berasnya. Satu menit. Dua menit. Aku melihat seorang anak kecil sedang menangis di pinggir jalan.


Aku menghampiri anak itu. "Dek, kamu kenapa kok nangis?" tanyaku membungkuk menatap anak laki-laki yang mungkin sekitar tujuh tahunan itu.


Anak itu terus menangis tersedu-sedu. "Nggak ada yang mau temenan sama aku, Tante. Mereka bilang aku anak haram." Jawabnya membuatku terenyuh.


Aku mencoba tersenyum mengelus kepala anak itu. "Shuuut..., nggak pa-pa. Jangan nangis, nanti gantengnya ilang, loh," kataku menenangkannya.


Aku tidak tau harus bicara apalagi. Saat anak itu mengatakan anak haram, aku jadi teringat masa lalu. Tapi ceritaku sedikit berbeda, itu hanya kesalahpahaman.


Lima detik. Sepuluh detik. Anak laki-laki itu mulai diam menyeka air matanya. Aku pun tersenyum lagi. "Nama kamu siapa?" tanyaku padanya.


"Aku Leo, Tante." Jawab anak itu masih dengan napas tersekat-sekat karena tangisannya tadi.


Aku memegang pundak anak kecil yang bernama Leo itu. "Udah jangan nangis. Kamu cowok harus kuat," kataku tersenyum.


***


"Ini rumah kamu?" tanyaku pada Leo.


Karena tak tega dengan anak itu, aku pun mengantarkannya sampai ke rumah. Aku tidak menyangka jika anak sekecil Leo akan bermain lumayan jauh dari lingkungan tempat tinggalnya. Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk berjalan kaki mengantarkan anak itu pulang.


"Iya, Tante. Ini rumahku." Jawab Leo padaku.


Aku pun berjongkok tersenyum menatap Leo. "Ya udah, kamu masuk, ya. Lain kali, mainnya jangan jauh-jauh. Nanti orang tua kamu nyariin gimana?"


"Aku udah nggak punya orang tua, Tante," ungkap Leo membuatku terdiam. Aku jadi merasa sangat tak enak pada bocah itu.


Satu detik. Dua detik. "Leo!!!" pekik seorang wanita tua dari pintu masuk rumah itu.


"Oma?" celetuk Leo menoleh pada sumber suaranya.


Aku pun berdiri dan menggandeng Leo menghampiri seorang wanita tua yang sepertinya nenek dari anak kecil ini.


"Maaf, Bu. Ini tadi saya ketemu Leo lagi nangis di pinggir jalan. Saya samperin dia, terus saya antar pulang," jelasku pada si wanita tua.


Wanita tua itu tersenyum padaku. "Terima kasih. Cucu saya jadi repotin kamu."


"Nggak pa-pa kok, Bu." Jawabku tersenyum.


***


Aku duduk di kursi kayu pelituran di ruang tamu rumah itu. Aku tadi hendak langsung berpamit, tapi nenek Leo memaksaku untuk mampir sebentar. Dan akhirnya, ya.


Rumah keluarga itu besar. Namun sepertinya, itu bangunan lama. Desain dan interiornya tampak kuno, suasanannya juga sepi.


"Nama kamu siapa?" tanya neneknya Leo padaku.


"Saya Sophia, Bu." Jawabku tersenyum.


"Panggil Oma saja. Nama saya Laras," kata si wanita yang sedikit beruban dengan gaya rambut disanggul.


Aku tersenyum lagi seraya mengangguk singkat.


Aku dan Oma Laras masih duduk bersama di sana. Leo, bocah itu tampaknya tengah bermain sendirian di halaman samping rumahnya. Aku tidak tau di sana ada apa, tapi sepertinya ada sesuatu yang menyenangkan.


"Sophia, sekali lagi saya minta maaf ya karena cucu saya sudah ngerepotin kamu. Saya sudah tua, jadi sedikit kerepotan mengurus cucu saya sendiri," ujar Oma Laras.


Aku masih terus menyimaknya.


"Leo itu, ibunya sudah meninggal waktu melahirkan dia. Dan bapaknya...." Oma Laras menghela napas berat kemudian menunduk. "Saya sebenernya juga nggak tau siapa bapaknya Leo. Anak perempuan saya hamil di luar nikah, dan yang hamilin dia nggak mau tanggung jawab."


Aku merasa sedih mendengar cerita wanita tua itu. Wajahnya tampak lelah. Mungkin dia juga tertekan karena takdir putrinya yang pilu. Leo, anak itu juga kasihan sekali.


"Sejak kecil, Leo saya yang urus dibantu putra bungsu saya." Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Oma Laras tersenyum canggung padaku. "Maaf ya, Sophia. Saya jadi curhat banyak ke kamu."


"Nggak pa-pa kok, Oma," kataku tersenyum. "Terus, Oma sama Leo tinggal di sini berdua atau sama putra bungsu Oma?"


"Kami tinggal bertiga di sini. Rumah ini cukup besar, tapi selalu sepi. Anak bungsu Oma sering keluar rumah." Oma Laras terdiam sebentar, dan aku pun masih terus menyimak mendengarkan ceritanya. "Sejak kakaknya ketawan dihamilin orang, dia jadi sedikit pembangkang dan liar. Dia nggak mau kuliah dan selalu kelayapan sama motornya."


Aku hanya bisa terdiam. Cerita keluarga itu sangat miris dan memelas. Aku yang selama ini sibuk mencari kebahagiaan dengan bekerja keras untuk mengumpulkan pundi-pundi uang, tiba-tiba merasakan kalau itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan harapan bahagia keluarga ini.


Keluarga Leo sepertinya adalah orang yang bisa dikatakan mampu. Tapi, mereka tampaknya tak cukup senang. Bagaimana bisa rumah sebesar itu hanya berisikan tiga orang saja? Rasanya pasti lengang dan hampa. Dan lagi, ditambahi latar belakang cerita kelam anak perempuan wanita tua itu.


"Ya ampun, saya sampe lupa bikinin kamu minum. Sebentar ya, Sophia," celetuk Oma Laras padaku, lalu berjalan pelan hendak pergi ke dapur sepertinya.


"Nggak usah repot-repot, Oma," kataku pada Oma Laras yang terus berjalan menjauh.


"Udah, nggak pa-pa." Jawab Oma Laras seraya berbelok ke lorong bertembok kemudian tak terlihat pandanganku.


Satu menit. Dua menit. "Tante, Tante!" pekik Leo memanggil-manggilku dari halaman samping. Aku pun mencari menghampirinya.

__ADS_1


Aku terpaku menatap halaman samping rumah besar itu. Di sana ada sebuah kolam renang. Ini kali pertama aku melihat rumah seperti hotel lama. Menurutku, rumah itu mirip penginapan-penginapan di daerah Bali.


"Tante, ayo kita main kejar-kejaran," ajak Leo padaku, dan anak itu pun mulai berlarian melewati pinggir kolam renang.


Aku berjalan pelan menghampiri Leo, tapi dia terus berlari sembari tertawa-tawa menyuruhku menangkapnya.


"Leo, jangan lari-lari nanti kamu jatuh, loh," ujarku padanya, tapi dia tetap tak menggubris.


Aku tersenyum memperhatikan Leo yang tampaknya lebih riang daripada tadi. Aku pun mulai bergerak cepat mengejar menangkapnya.


"Kena kan kamu sekarang...." Aku memegangi Leo supaya tak kabur lagi.


Leo memberontak sembari berteriak-teriak kecil tertawa-tawa. Satu detik. Dua detik. Byur! Aku terdorong Leo terpeleset jatuh ke kolam.


Aku tidak bisa berenang, dan kolam itu lumayan dalam. Tidak, tapi cukup dalam. Aku kehilangan kendali diriku karena air terus masuk ke mulut juga hidungku. Aku menggelepar-gelepar di dalam kolam memohon pertolongan.


Lima detik. Seseorang terdengar menjebur ke air, lalu menarik membawaku keluar dari sana.


Aku terbatuk-batuk. Kemudian, seseorang meraih kepalaku. Dan apa ini? Dia hendak menciumku? Aku segera mendorong dahi laki-laki itu yang sebenarnya adalah..., Rama.


"Jangan kurang ajar ya, lo!" seruku ke Rama masih sedikit terbatuk-batuk.


"Kurang ajar gimana? Gue cuma mau kasih napas buatan ke lo," ungkap Rama padaku. "dibantuin malah maki orang," sambungnya.


"Gue masih bisa napas sendiri, nggak perlu lo kasih napas buatan," kataku pada Rama.


Laki-laki itu pun berdiri, dan aku menyusulnya. Aku dan Rama sekarang basah kuyup. Aku memeluk badanku sendiri merasa kedinginan.


"Ya ampun, ini kenapa kalian bisa basah kuyup begini?" tanya Oma Laras menghampiriku dan Rama.


"Tadi Leo nggak sengaja dorong Tante ke kolam, Oma. Terus Kak Rama nolongin, Tante." Jawab Leo pada neneknya itu. Bocah itu memang sedari tadi masih di sana bersamaku juga Rama.


Suasana menghening sebentar.


"Sophia, kamu ganti baju dulu, yuk. Ikut Oma," ajak Oma Laras padaku. "Rama, kamu juga cepetan ganti baju sana, biar nggak masuk angin," sambung Oma Laras menoleh menatap Rama. Jadi, Rama ini adalah putra bungsu wanita itu, ya?


Kemudian, Oma Laras pun menggandengku pergi dari pinggir kolam renang itu.


***


Aku baru saja selesai berganti baju. Oma Laras meminjamiku baju milik anak perempuannya yang sudah meninggal. Tapi kata dia, aku tidak perlu mengembalikan bajunya.


"Oma, saya pamit pulang dulu, ya. Orang rumah pasti sudah nyari-nyari saya sekarang," ujarku pada Oma Laras.


Sudah hampir magrib, tapi aku masih di sana. Aku tidak membawa ponsel untuk mengabari Bulik Susan atau Mini. Aku pikir, aku hanya butuh waktu sebentar untuk membeli tepung beras pesanan bulikku itu. Tapi jadinya malah seperti ini.


"Ya udah, kamu minum teh hangat bikinan Oma dulu, yuk. Nanti biar Rama yang anterin kamu pulang," kata Oma Laras padaku.


***


Di perjalanan pulang...


"Ram, lo kok bawa motornya pelan banget, sih?" tanyaku sebenarnya berprotes pada Rama.


Laki-laki itu tengah memboncengku dengan motor ninja hitamnya yang beberapa waktu lalu kuambrukkan.


"Ini tu udah magrib, banyak setan kelayapan di jalanan. Kalo gue ngebut entar nabrak setan gimana?"


"Lo tu setannya!" celetukku pada Rama.


Satu menit. Dua menit. Kami sama-sama membisu.


"Gue tu heran, lo tadi ngapain di rumah gue? Wah, jangan-jangan lo ada maksud buruk ya sama keluarga gue?" tuduh Rama padaku.


Aku memukul punggung laki-laki itu. "Kenapa sih lo tu selalu berburuk sangka ke gue? Tadi itu gue ketemu anak kecil lagi nangis di jalan, terus gue anterin dia pulang, deh. Eh, taunya ponakan lo." Aku memutar bola mata.


"Oh, ya? Nggak ada yang curiga gitu kalo lo mau nyulik ponakan gue? Lo kan tampang-tampang kriminal," tukas Rama padaku.


Laki-laki itu memang sangat menyebalkan. Kenapa sih aku harus bertemu orang sakartis seperti dia?


"Berhenti," suruhku pada Rama untuk menghentikan motornya. "Gue bilang berhenti! Gue turun di sini aja."


Rama pun menghentikan motornya. Aku turun dari motor itu melepas helm dan memberikannya ke Rama. Aku menatap laki-laki itu kesal seraya menenteng dua kantong keresek hitam berisi pakaianku yang basah dan tepung beras yang kubeli tadi.


Aku berjalan pergi meninggalkan laki-laki itu. Sekitar tiga langkah aku berjalan, Rama menarik tanganku menghentikan.


Dia terkekeh. "Lo kok baperan, sih? Gue tu cuma bercanda. Gitu aja marah."


"Bercanda lo nggak lucu tau nggak! Nyebelin," ungkapku menatap malas laki-laki itu.


"Ya udah, gue minta maaf." Rama menatapku.


Aku memicing padanya. Aku mendorong wajahku mendongak mendekatkannya ke depan wajah Rama. Laki-laki itu tampak membeku di sana.


Rama yang berpenampilan sangar itu mengatakan maaf padaku? Rasanya terdengar aneh. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Aku terbahak.


"Lo gila, ya?" tanya Rama padaku.

__ADS_1


Aku tersenyum. "Enggak. Cuma lucu aja dengerin lo bilang, gue minta maaf. Feel-nya cringe banget."


***


Sekitar sepuluh menit, aku sampai di rumah Bulik Susan. Rama, dia yang mengantarku. Dia tadi menyeretku kembali menaiki motornya. Dia bilang, dia tidak mau dimarahi Oma Laras karena menurunkanku di jalanan.


Aku sedikit terkejut karena melihat Juna di sana. Bulik Susan, Mini, dan pacarku itu keluar rumah menghampiriku dan Rama yang baru sampai di halaman depan rumah.


"Sophia, kamu ke mana aja? Di suruh beli tepung beras kok lama banget." Bulik Susan menatapku khawatir.


Aku terdiam sebentar menatap takut Bulik Susan.


"Sophia, gue balik dulu, ya." Rama berpamit menyelaku yang hendak menjelaskan sesuatu ke Bulik Susan juga Mini dan Juna.


"Saya permisi dulu. Mari semua," ucap Rama tersenyum singkat pada Bulik Susan dan Mini, lalu menoleh Juna sebentar dengan ekspresi berbeda.


Rama pun mengegas motornya pergi.


***


Setelah salat magrib, aku kembali ke ruang tamu dan menceritakan semuanya kepada Bulik Susan, Mini, juga Juna.


Aku sedikit dimarahi juga dinasihati Bulik Susan. Tapi aku terus diam mendengarkannya. Mini juga tampak diam enggan berkomentar apa pun. Dan Juna, aku bisa melihat dia tengah bete di sana.


"Ya, udah. Sekarang kita makan malam dulu, yuk. Juna, kamu ikut makan di sini aja, ya," ajak Bulik Susan.


"Maaf, Bulik. Saya boleh izin ajak Sophia makan malam di luar? Ada yang mau saya bicarakan juga sama Sophia," kata Juna pada bulikku.


Bulik Susan tersenyum. "Iya, boleh. Tapi pulangnya jangan malam-malam, ya," tutur bulikku menatap Juna lalu menoleh menatapku.


"Siap, Bulik!" serunya tersenyum.


Aku pun bersiap-siap, kemudian berpamit dengan Bulik Susan dan pergi berboncengan motor bersama Juna.


***


Di perjalanan...


"Juna, kamu kenapa diem aja?" tanyaku.


Sejak berangkat dari rumah tadi, Juna tak mengatakan apa pun padaku. Wajahnya hanya kelihatan muram.


"Kamu marah sama aku?" Aku bertanya lagi karena Juna tak kunjung menjawabku.


Lagi-lagi, Juna membisu.


"Oke. Kalo kamu marah aku juga ikutan marah, nih."


Lima detik. Juna mengerem pelan memberhentikan motor trailnya. Dia terdiam sebentar. "Sophia, aku nggak suka kamu deket-deket sama cowok itu," kata Juna padaku.


"Aku nggak deket-deket sama dia. Aku tadi kan udah jelasin." Jawabku pada Juna.


Juna mendesah. "Kamu tau kenapa aku sama cowok itu nggak akur?"


"Enggak. Kamu kan nggak mau kasih tau aku soal itu."


Juna tampak diam sebentar. "Dia itu perusuh. Bunga pernah kecelakaan di tempat gym yang waktu itu kita pernah datengin gara-gara dia. Dan soal dia yang nggak suka sama aku, aku nggak tau," jelas Juna padaku.


Aku terdiam. Rama itu memang menyebalkan dan terkesan pemberontak. Tapi, sepertinya dia orang baik. Mungkin karena latar belakang keluarganya yang rumit membuat laki-laki itu tumbuh tak terkendali. Atau sebenarnya dia dulu hidup lurus, lalu berubah membelok? Ah, aku hanya bisa menduga-duga.


"Aku cuma takut sampai kamu kenapa-napa gara-gara deket-deket sama cowok itu. Sophia, kamu harus hati-hati kalo mau bergaul sama orang baru. Jangan sampai kejadian kayak si Adi itu terulang lagi," tutur Juna padaku.


Aku tersenyum memeluk Juna menyandarkan kepalaku ke punggungnya. "Iya, aku tau. Aku janji bakalan lebih hati-hati lagi, supaya kamu nggak cemas," kataku pada Juna.


Juna terasa mengelus tanganku yang melingkar ke perutnya. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Juna mulai mengegas menjalankan motornya lagi.


***


Masih di perjalanan...


"Juna, jadi kamu nggak marah karena cemburu, kan?" tanyaku pada Juna sembari terus memeluk kendur laki-laki itu.


"Buat apa aku cemburu? Cemburu itu cuma buat orang-orang yang nggak percaya diri." Jawab Juna padaku.


Aku masih diam menyimak Juna.


"Aku itu percaya sama kamu, Sophia," celetuk Juna.


Aku tersenyum. "Dan aku juga percaya sama kamu," timpalku melirik Juna dari kaca spion.


Juna tampak tertawa kecil.


Aku dan Juna selalu berusaha membina hubungan dengan mindset dewasa. Salah satunya, dengan memerangi rasa cemburu untuk saling mempercayai satu sama lain.


Sebenarnya cemburu dalam suatu hubungan percintaan itu normal. Tapi tergantung, sampai di mana tingkat cemburunya. Aku pikir, lebih baik aku membuang sentimen seperti itu.


Aku hanya perlu menjaga hati dan perasaan Juna, begitu juga sebaliknya. Juna Raja Semesta, laki-laki itu telah berhasil meyakinkanku atas dirinya. Lewat keluarga dan kepribadiannya, aku pastikan laki-laki itu tulus padaku.

__ADS_1


Juna itu punya hati yang teguh. Aku melihatnya ketika Dinda, gadis yang berparas ayu itu berusaha menggoyahkannya. Tapi apa? Juna tetap memilihku. Aku bukannya besar kepala atau sombong, tapi aku kagum padanya.


Dan selamanya, aku harap Juna selalu kuat memegangku. Dan aku, aku akan melakulan hal yang sama untuknya. [ ]


__ADS_2