Stunning My Life

Stunning My Life
Tak Ada Rama Lagi


__ADS_3

Aku dan Rama saling diam membisu menyantap makan malam di warung tenda itu. Tempat itu sepi, hanya ada aku dan Rama juga dua pembeli lainnya.


"Sophia," panggil Rama membuatku menoleh mengangkat kedua alis menatapnya. Laki-laki itu juga menatapku. "Gue kan punya temen. Nah, temennya temen gue itu punya pacar. Tapi temen gue itu sebenernya suka sama temennya. Menurut lo, dia harus gimana?"


Aku mengernyit mencoba mencerna kalimat Rama yang belibet. "Jadi temen lo punya temen. Terus temen lo itu suka temennya. Tapi temennya udah punya pacar gitu?"


Rama mengangguk.


"Ah, ribet lo! Gue nggak tau," tukasku pada Rama, lalu kembali menyibuk dengan nasi dan ayam bakarku.


"Sophia," panggil Rama membuatku menoleh lagi.


Dan apa ini? Rama tiba-tiba saja mengusap bibir bawahku pelan dengan punggung jari kanannya. Aku menampik tangan Rama cepat.


"Apaan, sih." Aku menatap laki-laki itu kesal.


"Kalo makan tu pelan-pelan. Biar nggak belepotan kayak bayi. Udah tua juga." Rama berkilah dengan ekspresi sewot.


"Lo tu yang udah tua!" Aku melengoskan mata.


Lima belas menit. Aku dan Rama selesai makan malam. Cih, hari ini laki-laki itu ternyata mentraktirku.


"Wih..., lagi banyak duit nih pake bayarin orang segala," sindirku pada Rama seraya memakai helm.


Rama tak merespon, dia sibuk memakai helmnya.


"Hebat ya lo, nganggur nggak kerja tapi bisa traktir gue. Duitnya Oma, ya?" Aku sengaja memanas-manasi Rama.


"Nyinyir banget sih lo! Nggak ada bersyukur-bersyukurnya dibayarin orang." Rama menggerutu padaku.


Aku tertawa kecil. "Iya-iya.... Thank you loh udah traktir gue." Aku melempar senyum pada Rama.


"Udah buruan naik," suruh Rama padaku.


"Iya-iya, bentar dong," gumamku. Aku masih sibuk mengaitkan pengikat helmku. "Susah banget, sih," keluhku karena pengait itu tak kunjung terpasang.


Rama manarik pengikat helmku membuatku terdorong mendekat padanya. Laki-laki itu dengan teliti membantuku menutup pengait helm. Wajah kami begitu dekat. Aku membeku dengan sikap spontan Rama yang mengingatkanku pada Juna.


Rama sekarang menatapku. Dia sudah berhasil mengaitkan pengikat helmku.


"Makasih," ujarku datar pada Rama, kemudian naik ke motornya.


***


"Loh, kok kita terus, sih?" tanyaku pada Rama yang melewati belokan arah kompleks rumah Bulik Susan.


"Kita muter-muter dulu ngabisin bensin motor gue. Sayang kan kalo duit gue yang banyak ini nggak kepake nantinya." Rama berkelakar.


"Sombong!" seruku mengatainya.


Suasana hening. Rama mengendarai motornya pelan-pelan. Lima belas menit. Ah, aku sudah tidak betah.


"Ram, cepetan dong bawa motornya. Anterin gue pulang. Gue capek," ujarku pada Rama.


"Manja banget sih lo! Iya-iya, nih gue anterin pulang...."


Aku mendengus kesal. Rama pasti sengaja mengerjaiku. Rama pun mulai mengendarai motornya sedikit lebih kencang.


Lima detik. Sepuluh detik. Klakson motor dibunyikan bertubi-tubi. Aku dan Rama mendadak dikepung beberapa pengendara motor. Aku mulai bingung juga takut. Sepertinya mereka bukan orang-orang yang baik.


Rama menghentikan motornya karena orang-orang itu mulai menyerempet-nyerempet dan berteriak-teriak memerintah Rama untuk berhenti.

__ADS_1


Aku, Rama, dan lima pengendara motor itu turun. Ah, ternyata orang itu lagi. Tiga orang yang memukuli Rama kala itu, dan tambahan dua orang asing.


"Wah, ada yang lagi kencan, nih," gurau laki-laki yang kutebak adalah bos. Ya, bos dari kampret-kampret itu. Dia yang sejak saat itu terkesan paling arogan. Dia juga yang berkelahi dengan Rama di tempat gym. Aku tidak tau siapa namanya, sebut saja Bos Kampret.


Rama menggenggam erat tangan kiriku. Tatapannya tajam mengintimidasi lima orang yang seperti menyulut amarahnya. Lima orang itu terlihat santai menatap kami, aku dan Rama.


Bos Kampret mendekatiku. Rama cepat-cepat menarikku ke belakang badannya. Jangan bilang akan ada perkelahian lagi? Tangan kiriku mencengkeram jaket denim Rama. Aku takut.


Bos Kampret terkekeh. "Ternyata lo cepet juga ya move on dari Fanya." Dia menyeringai pada Rama.


Bos Kampret mendecak. Dia mendekati Rama menatap laki-laki itu malas juga benci. "Seharusnya lo nikahin Fanya, bukan malah pacaran sama dia," ujar Bos Kampret mengedikkan dagunya menunjukku.


Aku berfikir keras. Apa maksud Bos Kampret itu? Seharusnya Rama menikahi Fanya? Fanya siapa?


Rama getem-getem. "Lo yang seharusnya nikahin Fanya. Lo yang hamilin dia. Bajingan!"


Bos Kampret tertawa. Ekspresinya aneh. Dan, dia mulai menarik kerah jaket Rama. Laki-laki itu mulai marah.


"Lo harus nikahin Fanya!" tegas Bos Kampret pada Rama.


Rama berang. Dia mendorong Bos Kampret menjauh. Dan mulai, mereka berkelahi lagi. Bos Kampret kalah pada ronde pertama. Dia mengisyaratkan anak-anak buahnya untuk ikut menyerang Rama. Rama pun dikeroyok lima orang itu.


Aku menjauh dari kegaduhan. Saat ini Rama masih bisa menangani mereka, mungkin beberapa saat lagi dia kelengar. Aku ketakutan sendiri. Aku harus menolong Rama sebelum laki-laki itu pingsan digebuki para kampret itu.


Aku pun segera menelepon Juna. Iya, Juna. Waktu itu Juna bisa menangani tiga kampret tanpa jalan pukul-memukul. Kali ini Juna pasti juga bisa membantu.


Oh, tidak. Rama tampak mulai kehabisan tenaga. Dia pasti akan segera K.O. Aku melihat ada setumpuk kayu bakar di dekatku. Tanpa pikir panjang, aku cepat-cepat mengambilnya.


Aku memukuli lima kampret itu sekuat tenaga. Mereka mengaduh. Terus dan terus, aku melayangkan sepotong kayu itu ke kepala, ke leher, ke badan, kepada kelima orang itu secara bergantian.


Empat orang terlihat lemah, tapi tidak untuk Bos Kampret. Laki-laki itu menampis tanganku cepat merebut kayu yang kubawa. Rama ditahan oleh empat orang kampret itu. Dan aku, aku mulai dirundung oleh Bos Kampret.


Napasku memburu ketakutan. Aku berjalan mundur pelan-pelan karena Bos Kampret memasang wajah bengis berjalan ke arahku. Juna, aku harap dia segera datang. Suaranya terdengar sangat khawatir tadi saat aku meneleponnya.


"Pacar lo cantik juga, ya," celetuk Bos Kampret menoleh menyeringai pada Rama yang masih ditahan geraknya oleh empat orang di sana, sekitar tiga meter dariku.


"Jangan macem-macem lo sama dia!" Rama memperingati Bos Kampret dengan tatapan mematikan.


Bos Kampret terkekeh, dia kembali menatapku. Tangannya mengambang mecoba membelai rambutku. Aku menunduk-nunduk ketakutan.


"Jangan sentuh dia!!!" Rama berteriak.


Bos Kampret cekikikan. "Gue jadi penasaran juga, gimana rasanya pacar lo ini? Pasti lebih enak daripada Fanya. Iya, kan?"


Seketika aku merinding. Ucapan Bos Kampret terdengar anarkitis. Dia melecehkanku secara verbal. Dia kurang ajar.


"Dasar keparat bajingan!" Rama mengumpati Bos Kampret. "Lepasin gue!!!" bentaknya pada empat orang yang masih menahan mengunci geraknya.


Bos Kampret masih menatapku dengan senyum seringainya. Aku merasa tak adil. Kenapa aku menjadi sasarannya? Aku tak tahu-menahu soal masalah Rama dengan orang itu, tapi kenapa aku harus ketakutan akan itu? Aku merasa dilecehkan.


Bos Kampret itu membelai wajahku. Tidak, aku cepat-cepat menampik tangannya. Aku mulai marah.


"Kamu jangan kurang ajar ya sama saya! Saya bisa laporin kamu ke polisi." Aku mengancam menutupi ketakutanku.


Bos Kampret itu mendecak. "Ram, kok kayaknya gue tertarik juga sama pacar lo yang ini. Boleh buat semalem aja nggak?"


Aku mendelik. Plak! Aku menampar laki-laki bermulut kotor itu. Aku mengerti sekarang. Laki-laki itu pasti sudah berbuat aneh-aneh pada gadis yang bernama Fanya. Fanya, mungkin dia mantan pacarnya Rama.


Dan apa tadi? Fanya hamil? Pasti Bos Kampret itu yang menghamilinya. Lalu, kenapa dia meminta Rama untuk menikahi Fanya? Seharusnya dia yang bertanggung jawab.


Kalaupun ceritanya benar begitu, aku tidak ada urusan. Aku hanya membela diri karena merasa direndahkan oleh laki-laki itu.

__ADS_1


Bos Kampret terkekeh setelah menerima tamparanku. Satu detik. Dua detik. Dia mencengkeram rahang bawahku.


Tinnn...!!!!! Seru klakson motor nyaring memanjang. Juna, akhirnya dia datang. Bos Kampret mulai melepas cengkeramannya dariku.


"Lo masih inget ancaman gue, kan?" Juna menatap datar Bos Kampret. Dan benar saja, nyali Bos Kampret seperti tertahan.


Tatapan Bos Kampret kepada Juna terkesan marah, tapi juga tersirat ketakutan. Satu detik. Dua detik. "Cabut," ujar Bos Kampret pada empat orang anak buahnya.


"Urusan gue sama lo belum selesai," tukas Bos Kampret pada Rama.


Dan kemudian, lima berandalan itu pergi.


Juna menoleh menatapku dengan wajah tak menyenangkan. Sepertinya dia marah. "Ayo kita pulang," ajak Juna padaku.


Aku masih diam. Aku menatap Rama kasihan. Dia terluka. Rama pun berjalan pelan menghampiriku dan Juna.


"Lo nggak pa-pa?" tanyaku pada Rama.


Rama diam.


"Dia nggak pa-pa, Sophia. Kamu nggak usah khawatirin dia, seharusnya kamu khawatirin diri kamu sendiri," sahut Juna menatap tajam ke Rama.


Wajah Rama tampak bersalah.


Juna menarik pergelangan tangan kananku. "Mulai sekarang kamu nggak usah temenan sama dia lagi," suruh Juna menatapku. "Dia cuma bisa bahayain kamu. Nggak bisa ngelindungi," sambungnya menatap Rama.


Rama hanya diam. Dia tak merespon sedikit pun. Dan Juna pun membawaku pergi dari sana meninggalkannya.


***


Juna mengantarku pulang. Laki-laki itu terus diam mengendarai motornya. Maaf, Juna. Aku udah buat kamu khawatir. Aku memeluk Juna menyandarkan kepalaku ke punggungnya.


Beberapa menit kemudian, kami pun sampai di halaman depan rumah Bulik Susan. Aku turun dari motor Juna melepas helmku.


"Juna, aku minta maaf."


Juna hanya diam enggan menatapku. "Udah malem, aku mau pulang," katanya malah berpamit.


Aku segera mencabut kunci motor Juna menahan laki-laki itu agar tak pulang dulu. "Kamu boleh pulang kalo udah maafin aku."


Juna mendesah panjang. Dia melepas helmnya. "Mulai hari ini kamu nggak boleh ketemu sama cowok itu lagi. Aku nggak mau kamu kenapa-napa," ujarnya menatapku.


"Aku cuma kasihan sama Rama."


"Buat apa kamu kasihan sama dia? Kamu nggak sadar kalo dia itu selalu bahayain kamu?"


"Iya aku tau, tapi itu bukan salah Rama, kan."


"Salah dia atau bukan itu nggak penting. Aku nggak bisa jamin kamu bakalan baik-baik aja kalo masih deket sama dia."


Aku menunduk.


"Ini demi kebaikan kamu. Jauhi Rama."


"Iya." Dan pada akhirnya aku menuruti perintah Juna. Aku tak ingin berdebat dengannya.


***


Seminggu. Dua minggu. Dan hampir sebulan. Rama tak pernah lagi menghubungiku atau juga sekedar menampakkan sedikit pun batang hidung. Entah karena aku yang menjauhi Rama, atau Rama yang memang juga menjauhiku.


Sekarang Juna mulai membatasi kebebasanku. Dia menjadi protektif dengan orang-orang baru yang dekat denganku. Dia selalu bertanya, siapa dia, kenapa bisa kenal, bagaimana dia. Ah, terlalu detail.

__ADS_1


Namun Juna tak berubah. Dia masih sama seperti Juna yang sebelum-sebelumnya. Gombalan maut, candaan lucu, pujian lembut, dan bertambah perhatiannya padaku. [ ]


__ADS_2