
Tadi pagi aku berangkat kerja bersama Mini. Dia hanya mengantarku sekalian berangkat ngampus, karena Juna ingin menjemputku sepulang ngantor nanti.
Siang ini aku nervous banget. Hari ini Juna akan mengajakku ke rumahnya untuk bertemu ibunya.
Kami sudah di perjalanan. Dan beberapa menit berlalu, aku dan Juna pun tiba.
Aku berdiri di halaman rumah itu. Rumah Juna lumayan besar dengan desain minimalis. Pekarangan rumahnya dipenuhi tanaman hijau juga bunga-bunga warna-warni.
Tampaknya keluarga Juna adalah orang berada. Ya, tentu. Mereka kan juga punya butik. Sejak awal aku melihat Juna juga bisa merasakan aura itu. Juna selalu memakai fashion yang tampaknya tak murah. Maksudku, pakaiannya selalu bermerek dan bagus.
"Sophia," panggil Juna memecah lamunanku. "Kenapa bengong?" tanyanya.
Aku tersenyum. "Nggak pa-pa, kok."
"Yuk, masuk!" ajak Juna padaku.
Kami pun melangkah pelan ke dalam rumah itu.
***
Juna menyuruhku duduk di sofa abu-abu di ruang tamu. Rumah Juna terlihat sepi. Juna tadi juga sudah bilang kalau orang-orang rumahnya sedang tak ada.
Ayah Juna sibuk mengantor. Adik perempuannya masih sekolah. Dan ibu Juna, katanya akan segera pulang untuk menemuiku.
"Juna, ini browniesnya kamu simpen dulu," suruhku menyodorkan sekantung plastik berisi dua kotak kue brownies coklat dan pandan yang kubeli di perjalanan tadi dengan Juna.
"Oke. Kamu mau minum apa? Jus, teh, air putih, susu juga ada." Juna menawariku.
Aku tersenyum. "Apa aja, deh. Yang penting bisa diminum."
"Oke-oke." Jawab Juna kemudian berlalu pergi. Sepertinya dia menuju dapur.
Aku masih duduk di sofa itu. Aku memperhatikan tiap sisi rumah Juna yang bisa kujangkau mata.
Rumah Juna rapi. Tampaknya keluarga Juna suka sekali berfoto. Aku bisa melihat, di dinding-dinding dan beberapa laci di sana dipajangi foto-foto mereka.
Aku jadi tau wajah ayah, ibu, juga adiknya Juna dengan jelas. Ternyata benar tebakanku. Adik Juna, ternyata dia yang berpose bersama Juna di selembaran poster iklan De Boutique itu.
Lima menit. Sepuluh menit. Juna pun kembali menghampiriku.
"Kamu bikin apa sih kok lama banget?" tanyaku penasaran.
Juna tersenyum sok imut seraya menaruh segelas minuman berwarna..., aneh.
"Astaga, ini apaan???" Aku menatap senyum keheranan ke minuman itu.
"Pokoknya minuman spesial buat pacar. Ayo cobain," suruh Juna melebar mata padaku.
Aku pun mencoba minuman buatan Juna. Tapi..., uhuk-uhuk. Aku terbatuk setelah menelan sedikit minumannya. "Ini apa, sih? Kok asin? Rasanya juga aneh," kataku pada Juna.
"Masa, sih?" Juna terheran, lalu mencoba minuman yang dibuatnya sendiri.
Ekspresi Juna mendadak mengkerut setelah meminum minuman itu.
Aku tertawa. "Gimana minuman spesial buatan kamu? Enak?"
"Kok, kayak gini sih rasanya?" Juna masih terheran sendiri.
"Ya, kamu sendiri gimana buatnya?"
"Aku cuma jus tomat sama apel, kok. Aku kasih gula sama garem dikit," ungkap Juna membuatku ternganga.
"Tomat sama apel kamu jus bareng? Kamu kasih garem?" Aku tertawa.
"Kok ketawa, sih? Biasanya Bunga bikin enak, loh." Lagi dan lagi, Juna terheran sendiri.
"Oh, ya? Mungkin itu nggak enak gara-gara kamu kasih garem. Kamu tuh ada-ada aja, masa bikin jus buah dikasih garem? Juna..., Juna."
Juna menghela napas kecewa. "Kalo gitu minum air putih aja, ya?" Dia menatapku.
Aku tersenyum. "It's okey. Nggak pa-pa."
Juna pun membawa jus gagalnya itu kembali ke dapur. Dia pun datang lagi dengan segelas air untukku.
Satu menit. Dua menit. Terdengar suara wanita mengucap salam dari arah pintu masuk rumah.
"Loh, Calon Mantu udah dateng?" celetuk wanita itu, ibunya Juna.
Ibu Juna menghampiriku. Aku pun mencium tangannya. "Siang, Tante," sapaku tersenyum.
Ibunya Juna terus tersenyum ramah. "Siang juga. Bunda aja panggilnya."
"Ah, iya." Aku tersipu.
Aku, Juna, dan ibunya duduk bersama di sofa ruang tamu.
"Calon Mantu, kita udah pernah ketemu, kan?" Ibunya Juna menatapku. "Tapi kan belum sempet kenalan. Jadi, nama kamu?" Dia tersenyum melebar mata padaku.
"Saya Sophia, Bunda." Jawabku tersenyum.
__ADS_1
"Namamu cantik! Sama seperti orangnya.... Saya Aulia, Bundanya Juna."
Bunda Aulia, dia terkesan supel dan ramah. Bundanya Juna itu, dia juga murah senyum. Aku menyukainya.
"Hm..., kok cuma air putih minumnya?" tanya Bunda Aulia menatap segelas air di depanku, lalu menoleh Juna.
Aku dan Juna pun saling menoleh sebentar. "Soalnya, Sophia mintanya cuma air putih." Jawab Juna, lalu tersenyum pada ibunya.
Suasana mendadak hening. Aku mulai gugup. Aku juga tak ada pertanyaan untuk ditanyakan ke ibunya Juna itu.
"Sophia," panggil Bunda Aulia menatapku datar.
Aku menoleh pada wanita berhijab itu. Semoga dia tak langsung menanyakan status sosialku. Jika iya, mungkin ibunya Juna sama saja dengan ibunya Adi.
Bunda Aulia mendadak tersenyum. "Hobi kamu apa?" tanyanya.
Batinku berdesir. Hobi? "Nggak ada sih, Bunda. Tapi saya suka baca novel sama menulis. Kadang-kadang saya juga gambar desain baju kalau lagi bosen nggak ada kerjaan." Jawabku tersenyum.
"Oh, ya? Wah, sama dong kayak saya." Bunda Aulia melebarkan mata, kemudian dia menunjukku. "Saya suka kamu," ujarnya memicing.
Aku tersenyum. Juna yang duduk di sampingku tiba-tiba menyenggol-nyenggol lenganku pelan. Aku menoleh padanya. Juna terlihat tersenyum-senyum menggodaku.
"Sophia, mau lihat album fotonya Juna? Juna udah ganteng loh dari kecil." Bunda Aulia tersenyum nakal menatap Juna.
Aku pikir, sifat Juna mewarisi ibunya. Mereka sama-sama punya kepribadian seru. Cara mereka berbicara membuat orang nyaman dan santai.
Aku tersenyum. "Boleh, Bunda." Jawabku semangat.
"Oke, saya ambil dulu albumnya." Bunda Aulia pun beranjak pergi.
"Gimana? Baik kan ibuku?" tanya Juna tersenyum menatapku.
"Baik banget!" seruku setuju.
Juna tertawa kecil mengusap-usap puncak kepalaku.
***
Aku memperhatikan foto-foto di album hitam itu membaliknya pelan-pelan. Bunda Aulia meminjamiku sebuah album foto berukuran sedang yang bertuliskan The Memories of Baby Juna pada sampul depannya.
"Itu waktu Juna baru bisa duduk sendiri," terang Bunda Aulia yang tengah duduk di sampingku itu saat aku menatap sebuah gambar bayi gembul tersenyum ceria sedang duduk di atas kursi.
Aku terus memperhatikan foto-foto Juna. Masa-masa kecil Juna Raja Semesta, keluarganya berhasil mengabadikan momem-momen itu dengan baik. Aku bisa melihat gambar bayi Juna yang tersenyum, merangkak, menangis imut, sampai berpose gemas di depan kamera.
Aku akui, sejak kecil Juna memang sudah sangat tampan. Hidungnya mancung, kulitnya bersih. Untuk ukuran orang Indonesia, menurutku dia masuk ke dalam kelompok manusia berkulit putih.
Aku tertawa kecil saat membalik sebuah halaman berisi foto Juna yang menunjukkan gigi depannya yang hilang satu.
"Oh, ya?" Aku tersenyum membelalak mata ke Bunda Aulia.
"Enggak, kok. Bunda jangan bohong, dong...." Jawab Juna menyela.
"Hei, siapa yang bohong?" Bunda Aulia menoleh Juna, lalu menolehku lagi. "Bunda serius. Waktu itu Juna nangis, takut kalo giginya nggak bisa tumbuh lagi."
Aku tertawa mendengar cerita ibunya Juna itu. Juna tampak sedikit berprotes di sana karena ibunya mengungkit-ungkit memori masa kecilnya.
Aku kembali membalik halaman album itu. Lima menit. Aku pun selesai melihat foto-foto di dalamnya.
"Udah, Bunda." Aku menutup album hitam itu dan memberikannya ke Bunda Aulia.
"Sophia, kamu mau ikut Bunda nggak?" ajak ibunya Juna tiba-tiba.
"Ke mana, Bunda?"
"Ketemu calon adik iparmu. Udah hampir jam 3, Bunda harus jemput adiknya Juna."
Aku menatap Juna sebentar. Dia tersenyum mengedikkan bahu padaku.
"Boleh, Bunda." Jawabku setelah sedikit berpikir.
Bunda Aulia tersenyum padaku, lalu menoleh menatap Juna. "Juna, Bunda pinjam calon mantu sebentar nggak pa-pa, kan?"
"Pinjam aja, Bunda. Lama juga boleh," kata Juna berkelakar.
Aku mendecak menatap Juna terus tersenyum. Bunda Aulia tampak tertawa di sampingku, begitu juga Juna yang duduk di sofa sana.
***
Di dalam mobil bersama Bunda Aulia...
"Sophia, kapan-kapan Bunda boleh lihat desain bajumu?" tanya Bunda Aulia padaku.
"Maksudnya gambar desain baju buatan Sophia, Bunda?"
"He'eh. Boleh, kan?"
"Tapi, Bunda. Gambaran Sophia nggak bagus, loh. Sophia cuma ngedesain ngawur aja," ujarku.
Bunda Aulia tersenyum sembari terus mengemudikan mobilnya. "Itu kan menurutmu. Bunda belum lihat bagus atau enggak. Jadi kan belum terbukti kalo itu nggak bagus."
__ADS_1
"Ya, nanti Sophia tunjukkin ke Bunda gambarnya," kataku pelan tersenyum.
"Oke. Bunda tunggu, ya."
"Iya, Bunda."
Kami terus melanjutkan perjalanan ke sekolah adiknya Juna. Lima menit. Sepuluh menit. Kami pun sampai di sekolahan itu.
***
"Loh, ini siapa, Bunda?" tanya seorang anak perempuan setelah duduk masuk ke mobil.
Aku tersenyum menoleh ke anak itu yang menatapku dari kursi belakang. "Hai, kamu Bunga, ya?"
Anak itu tampak bingung.
"Ini calon mantunya Bunda. Cantik, kan?" Ibunya Juna menjawab sembari menjalankan mobilnya.
"Oh..., calon kakak ipar." Gadis SMP itu melebarkan mata padaku. "Ya ampun, cantik banget, Bunda!"
Aku tersenyum. "Mana ada? Kamu tu yang cantik banget."
Adiknya Juna itu memang terlihat cantik sekali. Dia sedikit lebih putih dari Juna. Rambutnya tampak lurus alami sepanjang pinggang.
Bunga, nama adiknya Juna itu. Gadis itu mendecak. "Kalo aku sih emang cantik, Kak." Aku dan Bunda Aulia tertawa. "Tapi Kakak nggak kalah cantik, kok. Mantap deh Kak Juna pilih pacarnya."
"Kamu bisa aja," kataku sedikit tertawa.
"Nama Kakak siapa?"
"Sophia."
"Nama lengkap?"
"Cuma Sophia aja."
Bunga mengangguk. "Kalo aku Bunga. Bunga Ratu Semesta."
"Wah, keren banget ya nama kamu!" Aku memuji.
"Iya, dong...." Bunga tersenyum meringis tampak manis sekali.
"Sophia, kamu mau langsung dianterin pulang atau kita balik lagi ke rumah?" tanya Bunda Aulia padaku.
Aku diam sebentar menatap jam tangan. Sudah pukul tiga sore lebih. Aku harus pulang, tapi aku tak enak dengan ibunya Juna. Masa dia harus mengantarku pulang, sih?
"Saya turun di depan sana aja, Bunda. Saya pulang naik ojol aja," ucapku.
"Loh, kenapa? Bunda nggak keberatan loh anterin kamu pulang."
"Iya, Kak Sophia. Sekalian aku mau kenalan sama orang tuanya Kakak," sambung Bunga.
"Maaf, sebelumnya. Tapi saya tinggal bareng bulik sama sepupu saya. Kalo Ibu sama Ayah, rumahnya masih jauh banget dari sini," ungkapku pada kedua orang itu.
"Oh, gitu. Ya nggak pa-pa, dong. Bunda anterin kamu nih, ya."
"Tapi, Bunda."
"Udah.... Nggak pa-pa, kok."
Aku tersenyum. "Makasih, Bunda."
"No problem, Sayang." Jawab Bunda Aulia terus tersenyum.
***
Kami pun tiba di halaman rumah Bulik Susan. Aku mempersilakan ibu dan adiknya Juna masuk ke dalam rumah. Kemudian, aku memanggil Bulik Susan untuk menemui mereka yang sudah duduk di kursi ruang tamu.
"Oh..., ini ibunya Juna, ya?" Bulik Susan pun menyapa Bunda Aulia juga Bunga yang sontak berdiri karena ketibaan bulikku itu.
"Iya, Bu. Saya ibunya Juna. Dan ini (Bunda Aulia tersenyum mengelus pundak putrinya) Bunga, adiknya Juna."
"Sore, Bulik." Bunga menyapa Bulik Susan tersenyum.
Adik Juna itu juga lumayan lucu. Dia baru kenal dengan bulikku dan sekarang memanggil Bulik Susan dengan sebutan itu. Dasar memang adiknya Juna Raja Semesta!
"Iya, sore juga," Bulik Susan tersenyum.
"Ya sudah, ayo duduk dulu," suruh Bulik Susan pada Bunda Aulia juga Bunga yang masih berdiri.
"Nggak usah, Bu. Saya cuma mau nganterin Sophia pulang. Tadi saya ajak dia buat jemput putri saya di sekolah. Sudah sore, nggak enak kalo bertamu lama-lama," ujar Bunda Aulia.
"Loh, nggak pa-pa. Kayak di rumahnya siapa aja." Jawab Bulik Susan.
Bunda Aulia tertawa ramah. "Iya, Bu. Nanti biar Juna aja yang sering main ke sini. Nggak pa-pa, kan?"
"Iya nggak pa-pa." Bulik Susan tersenyum.
"Ya sudah, kalo begitu kami pamit dulu, Bu." Bunda Aulia pun menatapku. "Sophia, Bunda pulang dulu, ya."
__ADS_1
"Ah. Iya, Bunda." Aku tersenyum.
Kami pun bersalaman. Dan kemudian, Bunda Aulia juga Bunga pulang. [ ]