Stunning My Life

Stunning My Life
Pekerjaan Rahasia


__ADS_3

Hari ini aku berniat untuk mengunjungi ibu dan ayah. Sudah lebih dari setengah tahun aku belum lagi berjumpa dengan mereka. Aku hanya ingin melepas kerinduanku pada mereka untuk beberapa hari saja.


“Sophia, salam buat Mbak Mira sama Mas Budi, ya.” Bulik Susan tersenyum padaku seraya memberikan sebuah bingkisan kecil.


“Phi, jangan lama-lama ya pulkamnya. Entar gue rindu gimana? Rindu kan berat Phi, gue nggak akan kuat,” ungkap Mini memanyunkan bibir.


“Hilih, lu seneng kan gue pulkam? Nanti kalo malem nggak ada yang gangguin lo pacaran,” kataku pada Mini.


Mini tersenyum meringis. “Kalo itu sih emang bener. Tapi kan tetep nggak seru kalo nggak ada lo, Phi.”


Aku tersenyum sok imut. “Oke-oke.... Gue bakalan balik cepet kok, demi sepupu terngeselin dan ternyebelin kayak lo. Tapi bagaimanapun, gue tetep sayang....”


Mini memelukku. “Gue juga sayang sama lo, Sop Hiu….”


Aku melihat sekelebat senyum Bulik Susan mengembang menatap kami, aku dan Mini yang berpelukan itu.


Aku pun berpamitan dengan Bulik Susan juga Mini, kemudian bergegas pergi dengan taksi yang sudah menungguku di depan rumah Bulik Susan sedari tadi.


***


Di perjalanan…


Aku membuka penuh kaca taksi itu. Hembusan angin menerpa wajahku. Aku menikmatinya.


Entah kenapa, rasanya aku seperti berdosa dengan keluargaku. Sejak SMP kelas sembilan aku memilih tinggal bersama Bulik Susan. Ketidaksukaanku terhadap lingkungan tempat tinggalku sendiri adalah latar belakangnya.


Aku hanya tak betah dengan hinaan orang-orang di sana. Teman-teman sebayaku, tetangga-tetanggaku, kerabat dekatku, olokan mereka membuatku terguncang. Kesal, tentu saja perasaan itu sedikit demi sedikit menggerogotiku.


Dan lagi, keluargaku tak bisa menyelamatkan semuanya. Ibu yang setiap hari semakin menuntutku untuk menjadi sesuatu yang orang-orang itu inginkan. Kakak yang suka mengomel karena sifat malasku yang mengganggu matanya. Dan ayah, dia tentu tak bisa mengerti diriku sepenuhnya.


Aku hanya kecewa pada mereka. Mereka yang seharusnya menjadi sandaran dan selimutku, tapi malah memperkeruh keadaan. Namun, Mini dan Bulik Susan berbeda. Makanya, aku mau tinggal bersama mereka.


***


Satu setengah jam kemudian, aku sampai di rumah. Tempat tinggalku dan Bulik Susan memang hanya berbeda kota. Itu tak terlalu jauh, tapi lingkungannya jelas-jelas sangat kontras.


Di lingkungan tempat tinggal Bulik Susan rasanya aku lebih tenteram. Masyarakat di sana terlihat tertutup dan tak terlalu memperdulikan urusan orang lain. Aku tidak tau itu salah satu tanda yang baik atau buruk. Mereka tampak seperti individualis, tapi setidaknya masih punya empati dan tata krama.


Sedangkan, orang-orang yang tinggal di lingkunganku berbanding terbalik dengan mereka. Lingkungan, masyarakat, semuanya terasa toxic. Apa pun yang mereka lihat, akan mereka bicarakan. Baik ataupun buruk hal itu. Tapi lebih banyak buruknya, sih.


Ibu dan ayah menyambut kedatanganku dengan gembira di teras rumah, begitu juga Karina dan suaminya, Bimo. Aku pun segera menjabat dan mencium tangan mereka.


“Ibu kangen banget sama kamu. Gimana kabarmu? Baik-baik aja, kan?” tanya ibu setelah memelukku.


Aku tersenyum. “Sophia baik-baik aja kok, Bu. Terus gimana kabar Ibu sama Ayah? Sehat, kan?”


“Alhamdulillah…,” ungkap ibu tersenyum.


“Ya udah, masuk yuk! Nggak enak dilihatin tetangga,” ujar Karina.


Dan kemudian, kami semua pun berjalan ke dalam rumah.


***


Aku memasuki ruang kamarku. Aku lihat tempat itu sangat bersih dan sedikit pengap. Tentu, karena aku sudah lama tak menempatinya. Tapi sepertinya, keluargaku masih merawatnya dengan baik.


Aku beranjak berbaring ke kasur. Luar biasa, rasanya aku seperti terlahir kembali. Selama ini aku sudah berhibernasi cukup lama di rumah Bulik Susan. Dan kembali ke kampung halamanku, itu seakan aku punya hidup yang baru.


Pintu kamarku tiba-tiba dibuka. Aku secepatnya beranjak duduk.


“Hai, Tante Sophia...,” sapa Karina sembari menggendong seorang gadis kecil berjalan ke arahku.


Aku tentu kenal dengan gadis kecil itu. Dia adalah Lusy Anggoro, putri kakakku.


Karina menikah dua tahun lalu dengan seorang laki-laki yang bisa dikatakan tidak mapan. Laki-laki itu bernama Bimo Anggoro. Sejak pernikahannya, mereka tinggal bersama ibu dan ayah.

__ADS_1


Sebenarnya aku sedikit kecewa dengan Karina. Ibu selalu berharap Karina bisa menjadi wanita karier yang sukses dan mampu merubah perekonomian keluarga.


Tapi apa? Karina yang semasa bujangnya selalu mengoleksi barang-barang bagus, selalu tampil cantik dan rajin merawat diri, tapi malah kebelet menikah.


Padahal berumah tangga itu bukan sesuatu yang mudah. Karina hanya menambah beban ibu dan ayah. Tapi bagaimanapun, aku tak bisa menyalahkannya seperti itu.


Jika Karina belum berhasil, maka akulah yang harus berjuang menggantikannya. Dan aku yakin, aku akan berhasil.


“Hai, Lusy. Kamu baru bangun bobo, ya? Cantiknya….” Aku menyentuh lembut pipi putih keponakanku.


“Kak, gimana kesan dan pesan Kakak setelah hidup berumah tangga? Apakah seru, menyenangkan, atau…?”


Karina menatapku penuh maksud. “Seru. Menyenangkan.” Jawabnya tak ragu.


Aku menipiskan bibir.


“Kakak udah berani memulai semuanya. Dan nggak mungkin kan Kakak bilang kalo itu nggak seru atau nggak menyenangkan,” timpal Karina padaku.


Aku tersenyum. “Aku harap, Kakak sama Kak Bimo bahagia terus. Kalian juga udah punya Lusy. (Aku mengelus kepala bocah itu dan menatapnya) Lusy, dia bakalan jadi kekuatan kalian.”


Karina menunduk, lalu memaksakan senyum tipis.


“Terus kamu gimana? Udah dapet kerjaan belum?” tanya Karina padaku.


“Doain aja. Aku lagi nungguin panggilan kantor kok sekarang.”


Karina menepuk pundakku. “Good luck, ya.”


Aku tersenyum.


Aku ini hanya lulusan SMK. Aku mengambil jurusan Manajemen Perkantoran. Dan aku, aku tak tertarik untuk melanjutkan kuliah.


Sebenarnya bukan tak tertarik. Saat aku melihat teman-temanku yang memiliki rencana melanjutkan study mereka, ada segelintir rasa iri di hatiku.


Tapi, aku tak mungkin mengurusi rasa dengki semacam itu. Aku hanya perlu banyak bersyukur atas semuanya.


Sebenarnya aku hanya tak berani berkomentar pada orang tuaku. Ibu dan Karina selalu menganggap kuliah itu bukan sesuatu yang penting. Dan ayah, dia tak pernah ikut membahasnya.


Fakta bahwa keluargaku tak mendukungku melanjutkan ke jenjang perkuliahan membuatku semakin takut akan masa depan.


Lagi pula, bersekolah di sekolah kejuruan bukan hal yang buruk. Murid-murid SMK bisa dikatakan lebih terampil dan mengetahui lapangan lebih banyak, kan? Dan aku harus menjadi orang yang seperti itu.


***


Selesai makan malam, aku kembali lagi ke ruang kamarku. Aku lebih suka menghabiskan waktu di sana. Membaca beberapa buku yang kubawa, mendengarkan musik, dan lagi, tempat itu adalah goa yang melindungiku dari pandangan orang-orang di lingkungan sana.


Satu menit. Dua menit. Ibu masuk menghampiriku.


“Sophia, gimana kabar Bulikmu dan Mini? Kamu belum cerita soal mereka loh ke Ibu,” celetuk ibu sedikit berprotes padaku.


Aku tersenyum. “Mereka baik-baik aja, kok. Bulik Susan sama Mini sehat. Oh, iya. Mereka juga titip salam buat Ibu sama Ayah.”


“Bilangin ke Bulikmu, makasih buat bingkisannya.”


“Siap!” seruku sambil menghormatkan tangan.


“Ibu lihat-lihat, kamu makin cantik aja. Kamu beneran betah ya tinggal bareng Bulikmu? Tadi Mbak Aning muji kamu di depan Ibu. Dia sempet lihat kamu pas baru datang tadi di teras depan,” ungkap ibu padaku.


Mbak Aning, tetanggaku itu padahal dulu suka menyuruhku untuk makan yang banyak agar gemuk. Aku selalu bingung dengan orang-orang yang bicara gampang seperti itu. Porsi makan seseorang itu tidak bisa dipaksakan. Dan makan banyak bukanlah satu-satunya jawaban agar tubuh kita bisa gemuk. Kalau mengingat caranya mengomentari tubuhku…. Entahlah. Aku tak ingin mengingat itu.


Wajahku sedikit merungut.


“Sophia, kamu rencana bakalan tinggal di sini lagi, kan?” tanya ibu berharap dengan mata berbinar.


Aku menunduk sebentar, lalu menatap ibu yang sepertinya penuh dengan mohonan. “Sophia masih pengen tinggal sama Bulik Susan, Bu. Sophia sebenernya udah ada rencana buat bikin rumah sendiri, tapi masih coba ngumpulin dananya dulu,” jelasku.

__ADS_1


Ibu terheran. Dia pasti bingung mendengar ucapanku yang terlalu optimis. “Bikin rumah sendiri? Sophia, bikin rumah itu butuh duit banyak. Emang kamu bisa?”


“Kok, Ibu nggak percaya sih sama Sophia? Walaupun Sophia kelihatannya kurus, lunglai, bodoh, tapi Sophia punya tekad kuat, Bu.” Jawabku pada ibu yang terkesan meremehkanku.


Ibu masih terdiam.


“Sophia udah berhasil beli tanah.”


“Kamu beli tanah?” Lagi-lagi, ibu terheran.


“Iya. Sebenernya itu nggak terlalu luas sih, Bu. Tapi itu punya keluarganya almarhum Paklik Seto. Lewat perantara Bulik Susan, Sophia bisa beli tanah itu dengan harga murah.”


“Kamu dapat uang dari mana?” tanya ibu terlihat bingung.


“Sophia kerja. Sophia manfaatin waktu luang kalo nggak ada kerjaan sekolah. Dan Sophia berhasil beli itu awal tahun ini.”


“Kamu kerja apa?” Ibu menatapku dengan tatapan khawatir.


Aku tersenyum mencoba merilekskan perasaan wanita yang melahirkanku itu. “Ada, deh…. Pokoknya itu halal, aman, dan Sophia seneng ngejalaninya.”


Ibu pun memelukku erat. “Sejak kapan anak bungsu Ibu bisa sedewasa ini? Ibu selalu doain kamu agar jadi orang sukses kelak.”


Aku merasakan ibu terenyuh di sana. “Makasih, Bu. Makasih atas doanya,” kataku penuh ketulusan.


Aku memang sengaja tak ingin memberi tau siapa pun tentang pekerjaan rahasiaku. Termasuk, orang tuaku sendiri. Yang mengetahui pekerjaan itu hanya aku, dan… Mini.


Jadi ketika saat itu aku dan Mini membahas tentang penampilanku, Mini memberiku sebuah ide bagus.


Sekitar 2 tahun yang lalu…


“Jadi gimana, dong? Gue harus rubah penampilan, nih?” tanyaku pada Mini.


“Ya, iyalah.”


“Terus dananya?”


“Ya pake uang bulanan lo, lah....” Jawab Mini padaku.


“Heh, Minion! Gue kan udah bilang itu uang gue tabung buat beli buku bacaan.”


Mini tampak berpikir sebentar. “Udah gini, deh. Lo mendingan kalo mau baca buku di perpustakaan kota aja. Nah, itu kan bukunya bisa dipinjem juga, kan? Satu lagi, teknologi sekarang udah canggih, Sis…. Lo coba dong cari-cari aplikasi di play store buat baca-baca novel online gitu. Jangan gaptek deh, Sophia!!!”


“Iya, sih. Kalo gitu kan jauh lebih hemat, ya.”


“Oh, iya. Temen gue ada yang nulis di aplikasi novel online gitu dapet bayaran, loh,” ungkap Mini tiba-tiba.


“Serius?” tanyaku membelalak mata. Kalau soal uang, siapa sih yang tidak semangat?


“Iya, serius. Dia bilang bisa dapet hampir 5 juta buat satu karya aja dalam sebulan.” Jawab Mini.


“Phi, ini kesempatan buat lo! Lo kan suka tu baca-baca novel. Nah, kenapa lo nggak coba nulis juga? Lumayan Phi bisa nambah-nambah isi dompet,” kata Mini memberiku ide.


Dan semenjak saat itu, aku pun mulai menulis cerita di platform bacaan online. Mini dengan baik hatinya meminjamkan laptopnya padaku untuk mengetik naskah. Satu bulan. Dua bulan. Aku pun sudah memiliki laptop sendiri.


Ternyata, aplikasi itu memang membayar para pemakainya yang berkarya. Setiap hari aku selalu lembur menyelesaikan lima sampai sepuluh bab naskah cerita. Aku juga sempat jatuh sakit dan merepotkan Bulik Susan juga Mini. Tapi karena keinginanku yang kuat dan bertekad, aku bisa melalui itu semua.


Aku juga sempat mengirimkan beberapa naskah novel pada penerbit-penerbit besar. Dan dengan beruntungnya, semua naskah yang kukirimkan itu diterima oleh mereka.


Aku bisa dikatakan berhasil menjadi seorang penulis. Karya-karyaku diterbitkan, dan itu tentu juga membuatku memiliki uang. Aku dibayar, dan mencoba menjadi sosok misterius dibalik buku-buku bacaan itu.


Tapi walaupun aku sudah mencapai semua itu, aku masih belum merasa puas. Penulis, itu adalah karier yang singkat, karier yang tak akan bertahan lama. Mungkin saat ini karya-karyaku sedang diminati mereka, tapi nanti, akan ada saatnya itu dilupakan dan tak dijamah lagi.


Jadi, perjuanganku belum selesai. Aku harus memiliki pekerjaan tetap. Selain itu, aku harus punya beberapa pekerjaan sampingan. Ya, aku ini perempuan yang terlalu berambisi.


Aku ingin mengubah semuanya. Status sosialku, diriku, kehidupanku, membahagiakan kedua orang tuaku, dan membingkam mulut orang-orang yang sudah merendahkanku dengan kesuksesanku kelak. Aku bersemangat akan itu semua. [ ]

__ADS_1


__ADS_2