Stunning My Life

Stunning My Life
Gara-Gara Toyota Fortuner


__ADS_3

Pagi ini aku tak sabar menunggu kedatangan Juna ke rumah. Bulik Susan, Mini, juga Haris, mereka bertiga juga akan datang.


Aku sengaja tak memberitahu ayah dan ibu soal kedatangan mereka. Tapi aku memberitahu Karina. Aku meminta Karina untuk tutup mulut dan membantuku meyakinkan ayah akan Juna nantinya.


Hari ini ibu sudah mulai berjualan pecel lagi setelah libur beberapa hari selama ayah di rumah sakit. Aku membantu ibu melayani pelanggan yang terus berdatangan. Aku tak punya kerjaan di sini, jadi aku bisa melakukan apa pun sesukaku. Membantu ibu misalnya.


Pelanggan yang berdesakan mulai pergi. Lima menit. Suara bising motor dengan knalpot menyembur-nyemburkan gas hitam mendadak datang. Roni, anak nakal itu memarkirkan motor berisiknya ke halaman rumahku.


"Assalamu'alaikum, Bu Mira," sapa Roni pada ibu, lalu duduk di kursi kayu memanjang di teras itu. Aku terus memperhatikannya. Tingkahnya masih sama seperti dulu.


Roni yang tak acuh saat datang tadi mulai menolehku. "Sophia? Ya ampun..., kamu ke sini kok nggak bilang-bilang aku, sih? WA, dong.... Biar aku bisa main ke sini. Ya kan, Bu Mira?"


Aku menatap laki-laki itu terheran. Aku menggeleng kepala, lalu menyibuk menata meja jualan ibu yang sedikit berantakan. Orang seperti Roni itu tak usah dipedulikan.


"Kamu ngapain ke sini, Ron? Mau ngutang pecel?" tanya ibuku dengan wajah menyindir.


"Biasalah, Bu. Pecel satu porsi, makan di sini. Bayarnya nanti ya kalo Roni udah nikah sama Sophia," ujar Roni enteng membuatku sangat-sangat keheranan.


"Hah??? Situ mimpi apa halusinasi?" celetukku pada Roni.


"Loh, gimana-gimana? Bu Mira, aku ini calon mantumu, kan?" tanya Roni pada ibu.


"Calon mantu apaan! Kerjaan kamu aja ngutang pecel tiap hari, bisa-bisanya mau nikahin Sophia. Anak saya mau kamu makanin apa kalo kamu nikahin?" sahut ayah yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah kemudian duduk di samping kiri Roni.


"Eh, Pak Budi. Assalamu'alaikum, Pak." Roni mendadak mencium tangan ayahku. Dia benar-benar tak jelas. "Katanya Bapak baru kecelakaan, ya? Udah sembuh, Pak?" sambungnya bertanya.


"Udah...." Jawab ayahku menatap Roni sabar. Tapi aku tau sebenarnya ayah sangat malas meladeni laki-laki itu. Roni tampak diam hanya melirik-melirikku. Dia pasti tak berani menggodaku karena ada ayah di sana.


Ibu pun membuatkan sepiring nasi pecel untuk Roni. Kemudian laki-laki itu memakannya lahap.


Melihat nasibnya Roni sekarang membuatku ingat pada masa TK yang dia sering menindasku. Tuhan benar-benar tak tidur. Dia adil. Siapa sangka aku akan menjadi orang yang lebih berharga dari sosok yang merendahkanku dulu.


Satu menit. Dua menit. Tiba-tiba nenek dan Tante Tari datang dengan berboncengan motor. Mampus aku! Jangan-jangan nenek mau mengadu ke ayah soal omonganku kemarin?


Aku menyalami Tante Tari dan nenek yang baru datang itu. Wajah nenek terlihat masih kesal padaku. Aku hanya bisa menelan ludah. Semoga nenek tidak bicara macam-macam ke ayah.


"Gimana keadaanmu, Bud? Udah enakan, kan?" tanya nenek pada ayah.


Ayah tersenyum. "Alhamdulillah, udah nggak pa-pa, Mah. Kaki Budi masih sedikit linu, tapi lebih enakan." Jawabnya.


"Syukur, deh." Nenek melirikku sebentar berkacak pinggang, kemudian dia menoleh pada Roni yang masih sibuk menyendoki nasi pecelnya.


"Ini preman ngapain makan pecel di sini, sih? Bayar nggak, nih?" celetuk nenek ke Roni yang penampilannya terkesan berantakan itu. Tapi Roni memang sudah terkenal nakal bak preman di kompleks sini.


"Nenek mertua jangan nuduh-nuduh Roni kayak gitu, dong.... Nggak baik tau." Jawab Roni ke nenek.


"Nenek mertua palamu! Ini anak kenapa, sih?" Nenek mulai keheranan.

__ADS_1


Aku memalingkan wajah menahan tawa. Si Roni nggak tau aja nenek itu kayak mak lampir! Kena ngap baru tau rasa tu bocah. Batinku bergumam.


Ayah tampak mengedipkan mata mengisyaratkan nenek agar diam.


Aku, ayah, nenek, Tante Tari, dan ditambahi Roni si cowok gombal itu masih berkumpul di teras rumah. Sedangkan ibu, dia sudah masuk ke dalam rumah sedari tadi setelah memberikan nasi pecel ke Roni.


"Bud, Mamah ke sini cuma mau minta kamu buat nerusin perjodohannya Sophia sama anaknya Hartono," kata nenek pada ayah tiba-tiba.


Aku sontak melebarkan mata ke mereka. "Apaan sih, Nek. Nggak usah maksa-maksa, deh."


Nenek masih berdiri sedari tadi. Begitu juga Tante Tari. Respon nenek hanya melengoskan wajah padaku.


"Iya, nenek mertua nggak usah maksa-maksa gitu. Lha wong Sophianya aja nggak mau. Maunya sama aku kan, Sophia?" Roni ikut-ikutan menyuara.


"Apa, sih." Aku menautkan alis bergumam pelan memicing Roni.


"Kamu nggak usah ikut campur, ya! Sana pulang!" suruh nenek ketus pada Roni. Roni mulai gagap. "Sana!!!" pekik nenek memelotot.


Roni yang sebenarnya bernyali ciut itu pun langsung meninggalkan piring nasi pecelnya yang masih sedikit. Dia kemudian mengegas motornya yang berisik itu pergi.


"Mah, ayo ngobrolnya di dalem aja," ajak ayah pada nenek.


"Nggak usah. Mamah cuma mau ngomong itu aja."


Aku pun berjalan menghampiri nenek. "Mau Nenek apa, sih? Nenek sendiri aja tuh yang dijodohin sama Bara, Yah. Sophia nggak mau dijodoh-jodohin. Maksa banget, deh," ocehku.


"Abisnya Nenek maksa banget. Sophia kan udah bilang kalo Sophia itu udah punya pilihan sendiri. Kok, nggak ngerti-ngerti." Aku menatap nenek muak.


"Nih, lihat kelakuan anak kamu! Kebanyakan tinggal sama buliknya jadi nggak punya sopan santun sama orang tua!" Nenek berceloteh ke ayah.


"Ini apaan, sih? Nenek dateng-dateng bukannya membawa kegembiraan malah bikin panas suasana," sahut Karina mendadak menghampiri kami.


"Nggak usah maksa Sophia buat dijodohin sama anak temennya Ayah! Sophia masih muda, biar nikmatin hidupnya dulu. Dia juga udah punya calon sendiri, kok. Malah jauh lebih baik daripada anaknya si Hartono-Hartono itu. Nenek tau apa, sih!" Karina berusaha membelaku melawan nenek.


"Kamu tu yang tau apa! Nenek kayak gini itu biar hidupnya adik kamu nggak kayak kamu. Sengsara!"


Aku mendecak. "Nenek nggak usah sok tau sama kehidupan Sophia sama Kak Karina, deh. Hidup Nenek sendiri tu diurus. Udah tua juga."


Ekspresi nenek mulai sangat kesal padaku dan Karina. "Bud, pokoknya Mamah nggak setuju kamu batalin perjodohannya Sophia sama anaknya Hartono!" seru nenek ke ayah.


"Udah, Mamah nggak usah ikut-ikutan, deh. Biarin Budi yang urus anak Budi sendiri. Kalo Sophia mau perjodohannya dibatalin, ya dibatalin aja. Masa harus maksa anak sendiri buat dinikahin ke cowok yang nggak dia mau." Jawab ayah membuatku tersenyum. Jadi ayah sudah setuju nih kalo perjodohanku dengan Bara dibatalkan?


"Kamu tu, ya!" Nenek tampak tak terima. "Nanti gimana kalo Sophia dapet suami kere? Hidupnya entar bisa susah, Bud...."


"Dari kemarin itu mulu sih yang Nenek khawatirin? Nggak capek apa negatif thinking mulu?" tanyaku pada nenek.


"Halah, bilang aja cowok pilihanmu itu emang kere! Dijodohin sama tentara nggak mau, malah milih cowok kere!" Nenek mencemeehku.

__ADS_1


Aku tersenyum menyeringai. "Nenek lihat aja sendiri kalo calonku udah datang ke sini. Nanti nggak usah sok kagum sama dia. Nggak usah melotot-melotot sampe mulut Nenek menganga."


Satu detik. Dua detik. Sebuah mobil tiba di halaman rumahku. Aku pun tersenyum lebar menatapnya.


"Gilak! Toyota Fortuner, Mah!" Tante Tari terdengar kagum melihat mobil putih milik Bunda Aulia itu.


Aku masih tersenyum. Pasti Juna meminjam mobil itu ke bundanya agar bisa menampung Bulik Susan, Mini, juga Haris.


"Sophia...!!!" pekik Mini tersenyum lebar menatapku setelah turun dari mobil.


Aku pun berlari kecil menghampirinya. Aku dan Mini berpelukan.


"Gue kangen banget sama lo," ungkap Mini masih memelukku.


"Gue juga, Minion. I miss you...." Balasku ke Mini.


Mini, Bulik Susan, Juna, juga Haris pun aku persilakan untuk masuk. Aku melihat nenek tampak ternganga menatap Juna yang tersenyum tengah kugandeng. Kicep kan sekarang!


Kami semua pun mengobrol di ruang tamu. Karena kursi tamu tak cukup untuk menampung banyak orang, maka beberapa diantara kami duduk di tikar bawah. Ayah, nenek, Tante Tari, Juna, dan Haris duduk di kursi. Aku, Mini, Bulik Susan, ibu, Karina, dan Lusy duduk di tikar bawah. Kalau Bimo, dia sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali.


Obrolan ayah dan Juna berjalan baik. Juna mulai berbicara jujur tentang dirinya, keluarganya, dan hubungannya denganku. Dibantu penjelasan Bulik Susan yang memuji kebaikan Juna padaku, keluargaku jadi bisa dengan mudah mau nenerima Juna sebagai laki-laki pilihanku.


Nenek yang sedari tadi memaksa menjodohkanku dengan Bara tiba-tiba saja, "Ya, kalo Nak Juna ini latar belakangnya jelas dan bagus, Nenek juga setuju kalo Nak Juna berhubungan sama Sophia. Semoga hubungannya bisa sampai ke jenjang pernikahan."


Cih. Aku tak pernah membayangkan jika nenekku akan semunafik itu. Aku hanya memutar bola mata bertatap-tatapan dengan Karina. Bagaimana bisa nenek sok bersikap lemah lembut di depan Juna dan mencoba mengambil hati laki-laki itu?


"Phi, mumpung gue sama Haris di sini, kita keluar, yuk!" Mini yang duduk di sampingku itu berbisik padaku.


"Keluar ke mana?" tanyaku juga berbisik ke Mini.


"Ya, terserah ke mana. Pokoknya ke tempat yang seru di daerah sini."


"Gue nggak tau daerah yang seru di sini." Jawabku pada Mini.


"Banyakan ngejawab lo. Udah, ah." Mini tampak mengambil ancang-ancang. "Pakde, aku boleh kan jalan-jalan sama Sophia? Sama Haris, sama Juna juga." Mini memberanikan diri meminta izin ke ayah.


Ayah terdiam sebentar. "Ya, boleh. Kesempatan juga kamu udah lama nggak ke sini, Ni. Bisa keliling-keliling kompleks kan jadinya."


Kami semua tertawa kecil merespon ucapan ayah.


"Kalo gitu Nenek ikut, ya," celetuk nenek membuat kami semua terdiam bengong menatapnya.


"Nenek ikut mau ngapain? Gangguin anak muda lagi pacaran? Udah, di sini aja sama kita," sahut Karina pada nenek.


"Nenek kan cuma mau deket sama Nak Juna. Sekalian cobain mobil fortunernya. Boleh, kan?" Nenek mulai merayu Juna.


"No...! Nggak ada ikut-ikutan! Nenek di rumah aja. Sana, main sama Lusy!" Aku menyela.

__ADS_1


"Lusy mau ikut Tante Sophia...," rengek Lusy tiba-tiba pada Karina yang sedari tadi memangkunya. Tentu, bocah cilik itu sudah pandai sekali berbicara. [ ]


__ADS_2