Stunning My Life

Stunning My Life
Basah Kuyup


__ADS_3

Malam ini Juna mengajakku pergi ke luar dengan mobil ibunya. Sebenarnya aku menolak, aku juga enggan menggubris pesan Juna. Tapi Juna tetap saja datang dan memaksaku ikut. Alhasil, aku hanya memakai kaos putih polos dengan celana training hitam.


"Sophia, aku nggak suka ya kamu ngambek-ngambek kayak gini. Aku kan udah minta maaf sama kamu. Aku janji deh kejadian kayak tadi siang nggak bakalan keulang lagi," ujar Juna padaku seraya terus mengemudikan mobil.


Aku masih diam menatap jalanan lurus. Saat ini pikiranku kalut. Aku tak pernah memperkirakan jika hujatan orang-orang yang bahkan tak kukenal akan terus bermunculan.


Juna tentu tidak tau kalau sebenarnya akhir-akhir ini aku sering mendapatkan DM-DM aneh. Banyak yang mengusik soal hubunganku dengan Juna. Ada juga yang mengataiku.


"Sophia," panggil Juna.


Aku bergeming. Lima detik. Juna menghentikan mobilnya.


"Kamu mau aku jadi marah sama kamu?" Juna menanyaiku.


Aku menghela napas berat menatap lamun kaca mobil. "Aku cuma lagi mikir. Apa aku beneran pantes buat kamu?"


"Iya, kamu yang paling pantes buat aku."


Aku menoleh pada Juna yang juga menatapku.


"Sophia, kamu nggak usah peduliin omongan orang. Yang jalanin hubungan itu kita, mereka nggak tau apa-apa. Kamu harusnya jadi orang yang percaya diri, dong."


Aku mencoba menguatkan mentalku. Memaksakan keberanian itu tak nyaman, tapi apa yang dibilang Juna itu benar. Juna saja menerimaku dengan tulus, kenapa aku harus sibuk-sibuk mendengarkan pendapat orang?


Aku meraih tangan Juna memegangnya. Alisku bertaut. "Aku takut kalo kamu ninggalin aku karena aku kurang baik buat kamu, Juna."


Juna pun memelukku. "Seharusnya aku yang bilang kayak gitu ke kamu, Sophia. Jangan sedih, aku nggak suka kalo kamu sedih," bisiknya padaku.


***


Aku dan Juna berdiri di pematang jalan. Kami berpegangan pada pagar jembatan menatap sungai yang beriak ditiup angin malam ini. Beberapa saat lalu kami sudah baikan. Kata Juna sih, marahannya jangan lama-lama.


"Sophia, kamu tau kenapa bintang-bintang itu redup nggak kayak biasanya?"


Aku menatap langit yang juga ditatap Juna. Bintang-bintang hari ini memang tak terlalu terang. Hanya tampak seperti bintik-bintik kecil yang bergkedip-kedip.


"Nggak tau, mungkin jaraknya jauh kali dari bumi." Jawabku asal.


"Kamu salah." Juna menyangkal. "Mereka itu sebenernya lagi ngerasa nggak aman."


"Nggak aman? Kenapa?" tanyaku pada Juna.


"Mereka ngerasa nggak aman karena kamu lagi cantik-cantiknya." Juna melirikku.


"Apa, sih. Aku cuma pake kaos oblong gini masa lagi cantik-cantiknya?" Aku tertawa geli.


Juna mendecak. "Kamu pake apa aja juga cantik. Lihat deh bintangnya. Mereka sampe insecure gitu karena ada kamu di sini. Mereka itu takut kalah saing terangnya...."


Aku hanya menanggapi Juna tersenyum, lalu kembali menatap langit dengan taburan bintang yang redup itu. Juna menarik pinggangku merapatkan jarak kami. Kami saling menatap.


"Bintang aja bisa kepojok lihat kamu, apalagi orang-orang itu," ucap Juna padaku. "Sophia, nggak ada gunanya kamu nanggepin orang-orang yang dengki sama kamu. Biarin aja mereka kayak gitu. Kamu cuma perlu jadi diri kamu sendiri. Jadi orang yang baik."


Juna mengedarkan pandang menghela napas lega. Dia kembali menatapku. "Terkadang kita harus bersikap bodo amat. Karena itu yang sebenernya bikin kita bahagia."


Aku tersenyum. "Juna, aku suka sama laki-laki yang punya mindset kayak kamu."


"Aku juga suka, suka sama perempuan yang punya prinsip kayak kamu," timpal Juna tersenyum menatapku.


Aku tertawa kecil. "Oh, ya? Emang kamu tau prinsip aku?"


"Tau dong."


"Apa?"


"Bahagiain keluarga dan nikah sama aku." Jawab Juna percaya diri.


"Kamu kok sok tau gitu, sih?"


"Emang aku tau. Dan prinsip kamu yang kedua itu yang paling bikin aku semangat."


Aku dan Juna pun tertawa.

__ADS_1


Satu menit. "Sophia, kamu haus nggak?" tanya Juna padaku.


"Enggak." Jawabku menoleh.


Juna tersenyum gemas. "Kalo gitu kamu tunggu di sini, ya. Aku mau beli air."


Aku mengangguk.


Juna pun berjalan pergi menuju sebuah toko yang tak jauh dari jembatan itu. Aku menghela napas panjang memandang hamparan sungai dengan biasan sinar bulan.


Satu menit. Dua menit. "Ehem!" seru seseorang terdengar berat membuatku menoleh.


Aku terperanjat karena seorang pria berpenampilan aneh sudah berada di dekatku.


"Sendirian aja, Neng?" tanya pria itu menatapku.


Aku mulai takut. Pria itu melirik tanganku, kemudian beralih ke leherku. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Pria asing itu menarik paksa kalung yang kupakai.


Aku berteriak meminta tolong dan berusaha mempertahankan kalungku. Aku tak mungkin mengikhlaskan kalung pemberian Juna jatuh ke tangan perampok jelek itu.


Tapi tetap saja, aku ini wanita lemah. Aku melihat Juna berlari dari sana hendak menyelamatkanku. Namun, perampok itu berhasil mendorongku kuat dari pagar beton jembatan dan memutus kalung emasku.


Pria itu berlari pergi ketika aku mulai terhuyung jatuh dari jembatan. Tubuhku rasanya ringan dengan dada berdesir hebat. Aku tenggelam ke sungai itu.


Karena pembatas beton yang tingginya nanggung tak sampai sepinggang, aku jadi terjungkal ke belakang saat perampok tadi mendorong.


Aku sekilas melihat seseorang terjun dari atas sana tepat di atasku. Air sungai itu jernih. Dan di saat itu, aku mulai tak sadarkan diri.


***


Aku terbatuk-batuk dengan napas memburu. Orang yang memegang wajahku juga tak kalah samanya sepertiku. Napasnya menderu kencang jelas sekali kudengar.


Aku masih setengah sadar, tapi aku tau jika seseorang yang mulai memelukku erat itu adalah Juna.


Juna menangkup wajahku. "Kamu nggak pa-pa?" tanya Juna dengan raut wajah begitu cemas. Aku mengangguk dan Juna kembali memelukku.


"Juna, orang tadi ambil kalung yang kamu kasih." Aku mencoba menyuara walaupun dadaku masih terasa sesak.


"Nggak pa-pa. Yang penting kamu selamat," ujar Juna terus memeluk kepalaku mendekapnya ke dada. Jantungnya berpacu hebat, aku bisa merasakan.


Juna tersenyum padaku. "Aku nggak pa-pa."


Lima detik. Sepuluh detik. Suasana mulai canggung. Aku dan Juna pun berdiri dan kembali ke mobil.


***


"Nih, kamu pakai," suruh Juna menyodorkan jaket denimnya padaku.


"Nggak usah. Baju aku kan udah basah, nanti jaket kamu ikutan basah."


Juna tadi memang meninggalkan jaketnya di jok mobil. Dia ke luar bersamaku dengan mengenakan celana jeans longgar dan kaos oversize.


"Iya, emang. Tapi itu daleman kamu kelihatan." Juna menatap bajuku santai tanpa sungkan.


Aku yang hendak memasang sabuk pengaman sontak membelalak, kemudian menyahut jaket Juna cepat-cepat memakainya. Juna cekikikan sembari mulai melajukan mobil.


"Dasar mesum!" seruku pada Juna.


"Kok mesum, sih?" Juna mulai berdalih.


"Ya, iyalah. Ngapain ketawa-ketawa gitu? Kamu udah lihat kan dari tadi?" Aku menggerutu tak terima karena Juna baru memberitahu kalau pakaian dalamku menerawang karena kaosku yang basah.


"Aku tu cuma nggak mau bikin kamu canggung. Lagian nanti kan aku juga lihat itu kalo kita udah nikah."


Aku memelotot mata ke Juna. Dan dengan sigap, aku menjitak kepala laki-laki itu.


"Sakit tau!" Juna mengelus singkat kepalanya.


"Buang jauh-jauh tu otak kotor kamu," ujarku ke Juna. Dia tertawa.


***

__ADS_1


Sesampainya di rumah Bulik Susan...


"Loh, ini kenapa kalian basah kuyup?" tanya Bulik Susan keheranan


"Ini Bulik, tadi-"


"Nggak pa-pa, Bulik. Sophia sama Juna cuma kehujanan kok tadi. Ya, kan?" Aku tersenyum menyenggol lengan Juna.


Aku memang sengaja memotong ucapan Juna. Aku tak ingin Bulik Susan khawatir karena aku baru saja jatuh ke sungai dari atas jembatan. Bisa gawat kalau sampai Bulik Susan tau.


"Ah, iya Bulik. Tadi di daerah selatan lagi hujan." Juna mencari-cari alasan.


Bulik Susan mengangguk, tapi wajahnya masih tak percaya.


Mini keluar dari kamar menghampiri kami. Tatapannya sudah mengancam. Aku tau, dia pasti mau berulah.


"Hujan dari Hongkong? Cuaca lagi bagus cerah begini lo bilang di daerah selatan lagi hujan? Yang bener aja lo?" Mini menahan tawa menatapku dan Juna.


Aku dan Juna saling menoleh. Aku mulai tertawa kecil. Pastinya, sikapku itu terlihat aneh. "Juna, udah malem kamu pulang aja, ya. Sana-sana!" Aku mengusir dengan suara halus.


Juna pun menurut. Dia berpamit pada Bulik Susan dan bergegas pulang.


"Sophia, sana mandi dan ganti baju," suruh Bulik Susan padaku.


"Iya, Bulik." Jawabku, lalu meninggalkan Bulik Susan dan Mini yang masih memperhatikan Juna berlalu dengan mobilnya.


***


"Abis ngapain lo sama Juna?" Mini menyeringai setelah aku masuk ke kamar menghanduki rambutku yang basah.


"Abis ngapain gimana?" tanyaku seraya menghampiri meja rias.


"Kok, bisa basah-basahan gitu? Jangan-jangan kalian abis macem-macem, ya?" Mini menuduh.


Aku mendecak melemparkan tatapan tajam ke Mini. "Ngeres banget sih pikiran lo! Gue tu abis kejebur sungai."


"Hah? Kok, bisa?" Mini terkejut.


Aku berjalan mendekati Mini. "Gue abis dirampok, Ni. Kalung yang dikasih Juna dicopet orang...." Aku menatap Mini sedih.


"Lo dirampok? Gimana ceritanya? Terus-terus, emang Juna nggak nolongin lo?" Mini semakin penasaran.


"Ya nolongin, lah. Pokoknya tu rampok dorong gue dari jembatan. Terus gue kecemplung deh ke sungai."


Mini ternganga. "Jembatan? Jembatan yang di sono?" Tangan Mini menunjuk.


Aku mengangguk.


"Ya ampun, Phi.... Untung lo nggak mati. Tu jembatan lumayan tinggi, loh."


Aku membogem Mini dengan bantal. "Mulut lo, ya!!!"


Mini terbahak. "Astaga, jadi lo jatuh ke sungai terus si Juna ikutan nyebur buat nolongin lo gitu?"


"Kayaknya sih gitu. Gue sebenernya sempet pingsan, sih."


"Aw, lovebird. So sweet banget...! Gue jadi pengen juga. Kapan ya bisa seromantis itu sama Haris?" Mini berandai-andai tersenyum-senyum.


"Gilak lo, Ni! Masa orang kecebur sungai lo pengenin? Nyawa Ni taruhannya, nyawa...!"


Mini cekikikan. "Tapi kan romantis."


Aku menggeleng.


"Oh, iya. Berarti Juna kasih napas buatan dong buat lo?" Mini memelotot dengan senyum merekah lebar. "Cie cie.... Kiseu-kiseu." Mini menyenggol-nyenggol lengan kananku. "Udah berapa kali lo kiseu-kiseu sama Juna?"


Rasanya pipiku mulai memerah. "Apaan sih lo! Dasar jorok!"


Aku beranjak turun dari kasur.


"Hilih, udah sering kan lo kiseu-kiseu-nya? Gue bilangin ke Pakde Budi, nih...."

__ADS_1


"Apaan sih lo, Ni!" Aku pun beranjak keluar dari kamar untuk menghindari Mini sementara.


"Kiseu-kiseu!!!" Mini masih terdengar menggodaku memekik dari kamar, kemudian suara tawanya yang menggelegar itu mulai terdengar. [ ]


__ADS_2