
Sehabis pulang mengantor, aku dan Adi langsung mampir ke Sun Plaza. Kami pergi dengan motor masing-masing.
Di sana Adi terlihat sibuk memilih kemeja untuk ibunya. Dan aku hanya berdiam diri terus membuntutinya.
"Sophia, gimana menurutmu?" tanya Adi menunjukkan sebuah kemeja putih dengan renda-renda bunga.
"Bagus." Jawabku.
Adi memilih lagi. "Kalo yang ini gimana?" tanyanya menunjukkan sebuah kemeja marun berbordiran daun-daun kecil.
"Juga bagus." Jawabku.
Adi terdiam sebentar menatapku, lalu tersenyum dan kembali memilih.
"Yang ini gimana, Sophia?" tanya Adi lagi sembari menunjukkan kemeja lavender polos.
"Bagus." Jawabku lagi.
Adi tertawa kecil. "Dari tadi jawabanmu sama, loh."
"Ya, menurut saya semuanya bagus. Saya kan nggak tau selera ibu kamu, Di. Kamu dong seharusnya sebagai anaknya yang paling tau."
Adi mendecak. "Iya, kamu bener," katanya tampak sedikit kesal enggan menatapku.
Adi pun memilih-milih lagi. Lima menit. Sepuluh menit. Adi selesai membayar untuk sebuah kemeja yang dipilihnya.
Dan setelah itu, kami pun berjalan bersama menuju parkiran.
"Adi," panggiku setelah kami sampai di samping motor.
Adi menoleh menatapku menaikkan kedua alisnya.
"Kamu bete ya sama saya?" Aku bertanya begitu karena Adi tak mengajakku bicara setelah berselisih pendapat tadi.
"Enggak, kok. Kenapa saya bete sama kamu?"
Aku menundukkan pandang terdiam.
Satu detik. Dua detik. Adi menepuk singkat pipi kiriku. Aku sontak menatap laki-laki itu yang tersenyum di sana.
"Makasih, udah nemenin saya pilih kado buat Mama," ujar Adi padaku.
Aku berusaha menarik senyum tipis. "Iya, sama-sama." Ingin sekali kumengelap pipi yang disentuh Adi barusan. Tapi sepertinya, itu terkesan tak sopan.
"Kamu mau mampir ke tempat makan?" Adi menawariku.
"Enggak, deh. Saya tadi udah makan siang, kok. Saya harus buru-buru pulang sekarang," tolakku.
"Oh, begitu. Ya, sudah." Adi tersenyum.
Kami pun bergegas pergi dari mal itu.
***
Malam ini aku dan Juna pergi ke taman kota. Suasana di sana tak kalah indah dengan pagi hari. Lampu-lampu kuning menerangi jalan setapak berpapin juga bunga-bunga tinggi di pinggirannya.
"Juna," panggilku tersenyum
Juna menoleh menatapku.
"Aku tadi ke Sun Plaza, loh."
"Terus?" tanya Juna tampak terheran.
"Terus..., aku ke sananya nggak sendiri."
"Sama Mini?" tebak Juna.
"No! Tapi sama...."
"Sama siapa?" Juna mulai sangat penasaran.
"Sama Adi."
"Adi? Ngapain?"
"Dia minta ditemenin pilih baju buat ibunya." Jawabku, lalu tersenyum.
"Ngapain sih pilih baju buat emaknya sendiri ngajak-ngajak pacar orang? Modus tu!"
Aku tertawa kecil. "Kenapa? Kamu cemburu?" tanyaku tersenyum menyeringai menggoda Juna.
"Ya, iyalah. Aku tu paling cemburu kalo kamu jalan sama si Adi-Adi itu."
Aku terus tertawa kecil melihat sikap lucu Juna yang kekanak-kanakan. "Kenapa emangnya? Takut kesaing, ya?" Aku terus mencoba mencandai Juna.
Juna berjalan pelan mendekatiku dengan tatapan tajam. Aku yang tadinya tersenyum mulai mendatar. Juna menarik pinggangku mendekatkan tubuhku padanya. Aku tersentak mendongak menatap Juna.
"Takut kesaing?" Juna terkekeh. " Enggaklah. Gantengan aku ke mana-mana."
Aku tersenyum menatap laki-laki itu. Satu detik. Dua detik. Aku mencium pipi kiri Juna cepat. Dia membelalak. "I love you," kataku pada Juna.
Juna menarik lengkung manis di bibirnya. "I love you more."
Dan hari ini pun terasa indah bersama Juna. Aku harap momen seperti ini akan terus bertahan sampai maut memisahkan kami.
__ADS_1
***
Aku dan Juna mampir ke sebuah warung tenda. Kami membeli bakso solo dan menikmatinya di sana.
"Juna, akun IG-ku banyak banget yang minta accord. Kayaknya mereka fan-fan kamu, deh."
"Gitu tu repotnya punya pacar artis," timpal Juna padaku.
"Artis dari Hongkong?"
Juna tertawa. "Sini coba liat HP kamu."
"Buat apa?" tanyaku seraya memberikan ponselku ke Juna.
Juna tampak membuka akun instagramku. Aku yang duduk bersebelahan dengan Juna, memperhatikan laki-laki itu mengotak-atik opsi pengaturan.
Juna terlihat menonaktifkan privasi akunku. Dia membiarkan akun-akun yang mengirimiku permintaan mengikuti masuk begitu saja. Dan setelah itu, Juna tampak unfollowing akun-akun yang aku ikuti.
"Kok di-unfol, sih?" tanyaku bingung menatap Juna.
Juna terus menekan tombol berhenti mengikuti semaunya. "Kamu tu sama aja kayak Bunga."
"Bunga?"
"Iya."
"Bunga siapa?" tanyaku pada Juna.
Juna menoleh menatapku, lalu tersenyum. "Adikku." Jawabnya. "Kamu tu sama aja kayak dia, following-nya orang-orang sangar!"
"Orang-orang sangar gimana? Aku cuma ngikutin online shop sama artis-artis Korea aja."
Juna mendecak. Kemudian dia melanjutkan unfollowing akun-akun itu.
Aku cepat-cepat merebut ponselku. "Aku nggak suka ya kamu atur-atur medsosku."
Juna terdiam menatapku.
"Aku punya hak buat follow orang-orang yang pengen aku follow. Dan aku punya hak sendiri buat unfollow mereka. Itu cuma online shop sama selebritas Korea. Apa itu ganggu hubungan kita?"
Juna berdeham. "Maaf, aku nggak bermaksud buat over protektif sama kamu," ucapnya padaku.
Aku memilih diam, lalu menyimpan ponselku ke tas dan melanjutkan menyantap bakso.
"Sophia..., jangan marah, dong...." Juna menunduk menengokku dengan raut imut.
Junaaa..., gue nggak bisa marah sama lo kalo lo semenggemaskan itu!!! Aku menggarpu sebuah bakso, lalu menjejalkannya ke mulut Juna.
Juna dengan tampang cengonya menatapku seraya menahan bakso sebesar mulutnya itu. Aku tertawa melihatnya. Juna pun mulai mengunyah.
Juna pun tersenyum mengacungkan jempol kanannya padaku.
***
Hari ini Juna akan menjemputku untuk berangkat bekerja. Aku sebenarnya menolak, tapi Juna terus memaksaku. Dia bilang, dia juga ingin menjemputku siang ini sepulang kerja untuk makan siang bersama.
Pukul setengah tujuh kurang, Juna sampai di rumah Bulik Susan. Aku yang sudah menunggu Juna di teras depan rumah mendadak bengong karena Juna datang dengan toyota fortuner putih.
Juna menghampiriku dengan senyum ceria. "Hai," sapanya padaku.
"Hai." Balasku, lalu menatap bingung mobil itu.
"Kenapa?" tanya Juna menatapku, kemudian menatap mobilnya.
"Kamu pake mobil siapa? Nggak ngerental, kan? Aku nggak masalah loh dijemput pake motor aja."
Juna tersenyum. "Mobil Bunda. Tenang aja, ibuku sendiri kok yang suruh jemput kamu pake mobilnya."
Aku terheran. Dan tiba-tiba, Bulik Susan menghampiri kami. "Juna? Udah nyampe?"
Juna mencium tangan Bulik Susan lalu menjawab, "Iya, Bulik." Dia tersenyum.
Sejak Juna memulai hubungan denganku, dia juga mulai memanggil Bulik Susan dengan sebutan Bulik sama sepertiku. Bulik Susan sendiri juga tak keberatan dengan sapaan itu.
"Ya udah, kalian buruan berangkat gih. Bulik juga mau berangkat ini," ujar Bulik Susan pada kami.
Aku dan Juna pun berpamit dengan bulikku itu.
***
Di perjalanan ke kantor...
"Jadi kayak gini rasanya nganterin istri kerja?" Juna berceloteh sembari mengemudi.
"Amin...." Aku tersenyum mengamini ucapan laki-laki itu.
Juna menolehku sebentar. "Jadi serius ni kamu mau jadi istriku?"
"Iya, dong. Emang kamu nggak mau punya istri kayak aku?"
Juna tertawa kecil. "Aku maunya cuma kamu."
Aku pun ikut tertawa kecil.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di jalanan depan kantorku. Aku hendak melepas seatbelt yang kupakai, tapi Juna meraihnya lebih dulu. Aku terus memperhatikan sikap manisnya padaku.
__ADS_1
Juna pun menatapku sangat dekat. Satu detik. Dua detik. Juna mengecup keningku pelan. "Semangat, Calon Istri." Dia tersenyum menunjukkan gigi rapinya.
Aku membalas senyuman itu. "Semangat juga, Calon Suami."
Aku pun turun dari mobil. "Hati-hati, ya," nasihatku pada Juna.
Juna tersenyum. "Siap, Calon Istri!" Dan kemudian dia bergegas pergi dengan mobilnya. Lalu aku segera masuk ke kantor.
***
Jam istirahat kantor tiba. Hari ini aku berencana mengurangi porsi makan siangku, karena nanti Juna juga mengajakku makan siang bersama.
"Sophia, kok kamu makan dikit banget?" tanya Raya, rekan kerjaku.
Raya adalah pegawai baru yang diterima kantor bersamaan denganku. Tapi dia tiga tahun lebih tua. Dan jika dilihat dari segi kelulusan, dia lulus dari politeknik negeri di kota.
Karena masuk kerja di waktu yang sama, aku dan Raya menjadi cepat akrab. Raya juga berkepribadian supel dan ramah. Aku pikir, orang-orang kantor juga menyukainya.
"Iya, Mbak. Aku ada acara makan siang lagi abis ini." Jawabku pada Raya.
Raya mengangguk.
Satu menit. Dua menit. Adi datang menghampiri kami berdua. "Siang, Bu Raya," sapa Adi seraya duduk menoleh Raya, kemudian menatapku. "Siang, Sophia." Dia tersenyum.
Aku tak pernah membayangkan jika Adi akan sefrontal itu menyapaku. Aku lihat Raya di sana tampak terheran menatapiku dan Adi.
"Si-siang, Pak," sapaku balas.
"Siang, Pak Adi." Raya ikut membalas sapaan laki-laki itu.
Adi mendecak. "Sophia, Mama pengen ketemu kamu malam ini. Nanti setelah magrib saya jemput, ya?"
Aku sedikit ternganga mendengar itu. Aku cepat-cepat merapatkan bibir. "Mama Bapak mau ketemu saya? Buat apa, Pak?"
Adi tersenyum. "Dia suka kemejanya. Mama pengen bilang makasih sama kamu, sekalian kenalan."
Raya mendadak tersedak makanannya. Dia tampaknya sangat heran dengan sikap Adi padaku.
Aku juga begitu, heran sekali! Padahal kemeja itu yang pilih Adi sendiri, kenapa ibunya ingin berterima kasih padaku? Aku juga tak membelikan kemeja itu untuknya.
"Maaf, Pak. Tapi sepertinya saya nggak bisa ketemu Mama Bapak malam ini." Aku berusaha menolak Adi.
Adi menguncup bibir menundukkan pandangannya. Apa dia kecewa? Tapi aku juga harus tegas dengan Adi, sepertinya dia mulai bermain hati denganku.
"Ya ampun Sophia, kenapa nggak bisa? Mama Pak Adi mau kenalan sama kamu, loh. Ayo dong, kasian Pak Adinya." Raya mulai mengompori.
Gue harus gimana sekarang??? Adi mulai menatapku dengan harapan penuh karena ucapan Raya yang membuatku sulit menolak.
Apa aku juga harus sefrontal Adi untuk mengakui jika aku sudah punya pacar? Tapi jika aku bilang begitu, sepertinya kurang pas.
Adi adalah pegawai yang disegani di sana. Dan kalau aku mencoba menolaknya lagi, itu akan melukai harga dirinya. Dan terpaksa,
"Ya sudah kalau begitu." Aku memaksakan senyum tipis pada Adi.
"Kamu mau? Serius, Sophia?" Adi tampak girang di sana.
Aku mengangguk.
"Oke. Nanti saya jemput kamu." Adi tersenyum riang.
***
Aku dan Juna tengah makan siang bersama di sebuah warung geprek. Juna tampak lahap dengan makanannya. Aku sebenarnya mau bilang pada Juna soal ibunya Adi yang ingin bertemu denganku malam ini.
"Juna,"
"Hm?" Juna menolehku sembari terus menikmati ayam gepreknya.
"Nanti malem Adi mau jemput aku di rumah." Aku sedikit ragu mengatakan itu pada Juna.
"Jemput di rumah? Emangnya mau ke mana?"
"Ibunya Adi pengen ketemu sama aku. Dia mau kenalan. Kamu nggak pa-pa kan malam ini aku keluar sama Adi?" Aku menatap Juna sedikit memohon untuk diizinkan. Ini hanya untuk hubungan kerjaku dengan Adi, tidak lebih.
Juna membisu sebentar melahap sesuap nasi. "Kamu ketemu ibuku aja belum, malah mau ketemu sama ibunya Adi dulu." Dia berprotes.
Aku pun segera tersenyum pada Juna. "Udah, kok. Aku udah pernah ketemu ibumu."
"Oh, ya? Kapan?" Juna melebarkan mata.
"Pas aku ke De Boutique." Aku menyangga kepala menumpukan siku tanganku ke meja menatap Juna. "Ibu kamu cantik, dia juga baik banget sama aku. Aku dikasih diskon 50 persen, loh. Dan itu bukan promo." Aku membisik pada kalimat terakhir.
Juna tersenyum. "Dari mana kamu tau De Boutique? Jadi kamu udah kenalan nih sama Bunda?"
Aku kembali menjumput makananku. "Mini yang rekomendasiin butik itu. Dan sebenernya aku belum kenalan sih sama Bundamu. Aku cuma tau namanya dari pegawai kasir di sana," ungkapku pada Juna.
"Aulia Mentari," celetuk Juna, lalu menolehku. "Nama Bundaku." Dia tersenyum.
"Aulia Mentari? Namanya juga cantik," pujiku.
Kami pun melanjutkan makan siang.
"Jadi gimana? Aku boleh kan ketemu ibunya Adi?" tanyaku pada Juna.
"Hm.... Boleh-boleh aja sih kalo cuma ketemu ibunya. Asal jangan anaknya."
__ADS_1
Aku tertawa kecil. [ ]