
Dokter tampak fokus mengecek keadaan ayah. Aku dan Bara memperhatikannya.
"Bapak boleh pulang hari ini. Semuanya sudah stabil. Tinggal tahap pengeringan luka-luka kecil saja," ujar dokter perempuan itu tersenyum.
Aku bernapas lega mengucap syukur. Akhirnya ayah sudah boleh pulang dari rumah sakit.
"Dok, apa sekarang boleh langsung mengurus administrasinya?" tanyaku pada dokter itu.
"Iya, silakan. Setelah administrasinya selesai bisa langsung beberes untuk pulang." Dokter itu tersenyum. "Mari," sapanya kemudian pergi bersama seorang asisten perawat.
Aku menghampiri ayah tersenyum. "Alhamdulillah, Ayah udah boleh pulang. Kalo gitu Sophia urus administrasinya dulu ya, Yah."
"Biar aku aja. Kamu mendingan beres-beres barang-barangnya Om Budi, Sophia." Bara tersenyum pada ayah. "Bara permisi dulu ya, Om," sambungnya berpamit, lalu berjalan pergi.
"Yah, Sophia tinggal dulu, ya."
"Sophia!" panggil ayah mencoba menahanku yang berjalan keluar ruangan itu. "Sophia, kamu mau ke mana?" Ayahku terdengar sedikit berteriak, tapi aku tak menggubrisnya.
Aku berjalan cepat membuntuti Bara yang hendak mengurus biaya perawatan ayah. Dia keras kepala sekali untuk membayar semuanya. Aku berniat menghentikan Bara.
***
Di ruang kasir rumah sakit...
"Sus, saya mau bayar semua biaya administrasi perawatan pasien atas nama Budi Setiawan," kata Bara kepada seorang perawat rumah sakit yang bertugas menjaga kasir resepsionis di sana.
Perawat itu tersenyum hendak menjawab Bara.
"Enggak, Sus. Saya yang mau bayar biaya perawatan atas nama Budi Setiawan," selaku tersenyum.
"Saya Sus yang bayar." Bara mulai mengotot.
Aku menoleh Bara sebentar menatapnya malas, lalu kembali menoleh perawat itu tersenyum. "Enggak, Sus. Saya yang bayar."
"Sophia, biar aku aja yang bayar." Bara mengotot lagi padaku.
"Aku aja. Aku kan anaknya." Jawabku.
"Aku aja. Om Budi kan udah kayak papaku sendiri."
"Enggak. Aku aja."
"Aku aja!" tegas Bara padaku.
"A-"
"Maaf, ini jadi siapa yang mau bayar?" tanya perawat itu memotongku.
"Saya, Sus." Jawabku dan Bara bersamaan. Kami pun saling menoleh menatap aneh masing-masing.
"Gini aja, Mas sama Mbaknya iuran setengah-setengah biar nggak berantem. Adil, kan?" Perawat itu memberi saran.
Aku dan Bara hanya diam.
"Saya cek dulu ya keseluruhan biayanya. Atas nama pasien siapa tadi?"
"Budi Setiawan, Sus." Jawabku pada perawat itu, kemudian dia mengotak-atik komputer di depannya.
Lima detik. Sepuluh detik. "Maaf, tapi semua biaya rumah sakit atas nama pasien Budi Setiawan sudah lunas sejak dua hari lalu."
"Hah?" Aku terheran. "Kamu udah bayar, ya?" tanyaku pada Bara.
"Be-belum. Kamu kali yang bayar," tuduh Bara padaku.
"Enggak, kok." Aku kembali menoleh perawat itu lagi. "Siapa Sus yang bayar?"
"Di sini penebusnya tertulis atas nama Juna Raja Semesta." Jawab perawat itu membuatku seketika membelalak kaget.
"Juna?" tanyaku memastikan sekali lagi.
"Iya, Juna Raja Semesta. Semua biaya admistrasi pasien Budi Setiawan sudah dilunasi olehnya. Dan orang itu memberikan uang lebih untuk berjaga-jaga jika biayanya bertambah lagi. Kalo tidak bertambah, sisa pembayarannya akan disumbangkan ke rumah sakit atas suruhan pembayarnya sendiri," jelas perawat itu padaku.
Astaga, Juna? Kapan dia bayarnya? Dia juga baik sekali mau menyumbangkan sisa pembayarannya ke rumah sakit. Sekarang aku jadi berhutang budi ke Juna, kan. Juna dan keluarganya sudah banyak sekali membantuku.
Dan pada akhirnya, aku dan Bara pun kembali ke ruangan ayah dengan ekspresi malu. Kami bertengkar gara-gara mau membayar uang rumah sakit ayah, tapi malah sudah dilunasi Juna semua.
Sesampainya aku di ruangan ayah, ayah tampak sudah memberesi barang-barangnya sendiri.
"Loh, Ayah kok rapi-rapi sendiri?" tanyaku menatap ayah bingung.
__ADS_1
Ayah berjalan kecil duduk ke pinggir kasur putih itu. "Biar cepet aja. Gimana? Ini Ayah udah boleh pulang sekarang, kan? Administrasinya udah dibayar?"
Aku dan Bara saling bertatap bingung akan menjawab apa pada ayah.
"Kok, diem aja?" Ayah menatap kami heran. "Bara, kamu ya yang bayarin?"
Bara tampak gugup. "Bu-bukan, Om. Biaya administrasinya udah dilunasin orang lain."
"Dilunasin orang lain? Siapa? Kamu ya, Sophia?" Sekarang giliran aku yang ditanyai ayah.
"Bu-bukan juga, Yah." Jawabku gugup.
"Lha, terus siapa?" tanya Ayah sangat penasaran.
Aku menggigit bibir sebentar. "Nanti Sophia kasih tau aja di rumah. Sekarang kita pulang aja dulu. Ya, Yah?"
Aku, ayah, dan Bara pun meninggalkan ruangan juga rumah sakit itu. Tadi aku ke rumah sakit dijemput Bara dengan mobilnya. Jadi sekarang, Bara yang mengantarku dan ayah pulang.
***
Sesampainya di rumah, aku belum bisa bercerita banyak soal Juna yang membayari semua biaya perawatan rumah sakit kepada ayah. Banyak tetangga yang datang sekedar menjenguk dan menanyai keadaan ayah. Bara juga masih ada ikut nimbrung mengobrol.
Sekitar jam empat sore, rumah sudah sepi dari pengunjung. Bara juga sudah pulang. Aku pun mulai bercakap dengan ayah.
"Yah, Sophia mau ngobrol penting sama Ayah. Ibu juga," kataku memulai. Kebetulan ibu juga ada di sana. Kami bertiga duduk di kursi ruang tamu.
"Ibu sama Ayah tau kan temennya Sophia yang ke sini itu?" tanyaku menoleh ibu dan ayah.
"Yang ganteng itu? Nak Raja, ya?" Ibu menebak. Jadi kesan istimewa anggota keluargaku kepada Juna adalah dia ganteng. Dasar.
Aku mengangguk. Ibu dan ayah mulai menyimakku
"Sophia cuma mau kasih tau, kalo Sophia udah punya pacar." Aku menoleh ayah tegas. "Dan Sophia mau, perjodohan Sophia sama Bara dibatalin."
Ayah hanya menarik napas seperti mencoba untuk tak menyela pembicaraanku. Dia terus menyimak. Begitu juga ibu.
"Dan soal siapa yang bayarin rumah sakit Ayah.... Yang bayarin itu," Aku menelan ludah. "Raja."
"Hah? Raja? Temen kamu yang jenguk Ayah itu?" Ayah melebarkan mata tampak kaget.
"Jadi, Yah. Sebenarnya Raja itu adalah Juna. Juna itu adalah Raja. Pacarnya Sophia." Aku mencoba menjelaskan.
Aku mendesah. "Pacarnya Sophia itu namanya Juna Raja Semesta. Nah, panggilan sebenarnya itu Juna. Tapi Juna, dia ngaku ke Ibu sama Ayah kalo namanya itu Raja."
"Buat apa coba?" Ayahku terheran.
"Ya, nggak tau." Jawabku mengedikkan bahu.
"Ayah makin bingung sama cerita kamu." Ayah mengernyit padaku. "Kamu bilang, pacarmu itu mahasiswa. Tapi si Raja, kan-"
"Juna...," selaku mengoreksi. Rasanya aneh saja jika ayah terus memanggil Juna itu Raja.
"Sama aja. Ya pokoknya si cowok itu kan bilangnya udah kerja. Malah katanya sekantor sama kamu."
Aku mendecak. "Jadi gini. Ayah sama Ibu dengerin Sophia baik-baik, ya...."
Ibu dan ayah mulai fokus lagi menyimakku.
"Juna itu emang masih kuliah. Mungkin setahun atau dua tahunan lagi bakalan kelar kuliahnya," ungkapku.
Ayah sontak membuka mulutnya hendak menyelaku.
"Stop!" Aku menghentikan ayah yang mau bicara itu. "Ayah dengerin Sophia dulu," kataku menyuruh.
"Sophia sekarang udah nggak kerja di instansi pemerintahan itu lagi. Sekarang Sophia kerjanya di perusahaan swasta, Semesta Corp. Dan perusahan itu, miliknya kakeknya Juna. Dan CEO-nya, itu ayahnya si Juna."
Ayah tampak ternganga. Dan ibu, dia cuma kelihatan bingung. Tapi semoga ibu sedikit mengerti penjelasanku.
Aku tersenyum. "Ayah nggak perlu khawatir kalo pacarnya Sophia itu masih kuliah. Sophia yakin, kok. Juna bakalan sukses setelah kuliah nanti. Ayahnya CEO, pimpinan Sophia di kantor. Dan Ibunya Juna, dia punya butik. Jadi bisa dikatakan, keluarganya Juna itu orang terpandang. Mereka juga baik banget sama Sophia."
"Kamu serius?" tanya ibu padaku.
"Serius.... Ngapain Sophia bohong." Aku kembali menoleh ayah. "Gimana, Yah? Deal ya perjodohannya dibatalin!?"
Ayahku yang masih ternganga itu sontak menutup mulutnya. "Isss..., jangan ngibul kamu! Ayah belum percaya sebelum pacar kamu itu ke sini nemuin Ayah. Masa iya sih si Raja itu pacar kamu? Jangan-jangan kamu cuma ngada-ngada supaya perjodohannya Ayah batalin lagi."
Aku menatap ayah malas. Aku menghela napas berat. "Oke, aku bakalan suruh pacarku ke sini. Dan nanti kalo Raja itu beneran Juna pacarnya Sophia, Ayah nggak perlu sok-sokan syok lihatnya."
"Ini pada kenapa, sih...? Bahas pacarnya Sophia aja kayak bahas warisan. Ayah lagian ngapain sih pake acara sok-sokan nggak percaya? Cuma batalin perjodohannya Sophia sama anaknya temen Ayah itu kan masalah selesai. Ribet banget deh Ayah, mah." Karina yang tiba-tiba keluar kamar dan ikut duduk di kursi ruang tamu itu pun mulai mengompori ayah.
__ADS_1
"Kamu ngapain sih ikut-ikutan? Udah, ini tu urusan Ayah sama adik kamu. Nggak usah ikut campur," kata ayah pada Karina.
Karina hanya membalasnya dengan melengoskan bola mata.
"Udah-udah. Ini kenapa jadi pada ribut?" Ibu mulai menyuara. "Sophia, kamu suruh aja pacarmu itu ke sini biar masalahnya selesai. Ibu nggak mau pusing-pusing," ujarnya padaku.
"Iya, Bu." Jawabku, kemudian mengerucut bibir ke ayah.
***
Malam ini aku mencoba berbincang dengan Juna. Aku menyibuk dengan ponselku seraya tidur-tiduran di kasur.
Sophia : Juna, ayahku mau ketemu sama kamu lagi. Kali ini aku mohon sama kamu, kamu tolong bilang sejujurnya ke keluargaku soal hubungan kita. Dan aku nggak mau kamu datang sebagai Raja. Aku maunya kamu datang sebagai Juna.
Juna : Kamu kenapa? Kok, kayak frustrasi gitu? Ha ha.
Sophia : Gimana nggak frustrasi, Ayah nggak mau batalin perjodohanku sama tentara itu kalo kamu nggak mau jujur. Jadi please..., kamu datang ke sini, ya. Kamu bicara sama ayahku, sama ibuku juga. Bisa, kan?
Juna : Apa sih yang nggak bisa buat kamu. Oke, nanti aku ke sana. Kapan? Sekarang juga bisa sih aku. He he....
Sophia : Jangan membual, ya.... Ya nggak perlu sekarang juga, tapi kalo bisa secepatnya. Aku juga paling-paling mau balik ke rumah Bulik Susan. Orang-orang kantor udah kirimin aku banyak email laporan soalnya.
Juna : Hm.... Ayah kamu udah pulang dari rumah sakit?
Sophia : Udah, baru siang tadi.
Sophia : Oh, ya. Kamu kok bayarin biaya perawatan ayahku segala, sih? Kapan kamu bayarnya?
Juna : Nggak pa-pa, Sophia. Kurang nggak uangnya?
Sophia : Kata perawatnya tadi sih masih lebih. Tapi dia bilang, kamunya minta sisa uangnya buat di sumbangin ke rumah sakit. Serius?
Juna : Syukur, deh. Iya dong serius. Yah walaupun nggak seberapa, tapi semoga bisa bantu kemajuan rumah sakit itu.
Aku tersenyum membaca pesan Juna itu. Aku juga bersyukur, deh. Juna, pacarku itu lahir di keluarga yang serba mampu, tapi dia rendah hati. Bagaimana tidak? Bunda Aulia dan Ayah Rei kan juga orang yang seperti itu.
Sophia : Pacarku baik banget, ya. Udah soleh, nggak sombong lagi. Jadi pengen nyubit.
Juna : Kok jadi pengen nyubit, sih? Seharusnya kan jadi pengen nyium.
Sophia : Ayah Rei bilang, kalo Juna nakal dijewer aja kupingnya!!!
Juna : Ampun....
Sophia : Ha ha ha. So..., gimana, nih? Kapan kamu ke sininya?
Juna : Besok, deh.
Sophia : Serius?
Juna : Iya....
Sophia : Sama siapa? Sendiri?
Juna : Emang kamu maunya aku sama siapa ke sana? Sama Bunda sama Ayah? Kamu mau dilamar sekalian?
Aku tertawa kecil.
Sophia : Jangan dulu, ah. Nanti aja kalo aku udah kode. He he.
Juna : Siap, Calon Istri...!
Juna tampak mengetik lagi. Aku pun menunggunya.
Juna : Akhir-akhir ini Bunda sama Ayah sibuk sama kerjaannya. Jadi kemungkinan, mereka nggak bisa ke sana. Tapi, gimana bulikmu sama Mini? Mereka nggak ke sana?
Sophia : Aku cuma hubungin kabar Ayah ke mereka lewat WA aja. Mereka juga sibuk deh kayaknya. Aku nggak berani nyuruh mereka ke sini.
Juna : Gini, deh. Aku coba hubungin Mini dulu aja. Siapa tau dia mau ikut ke sana besok.
Sophia : Oke.
Sepuluh menit. Lima belas menit. Sebuah pesan dari Juna masuk.
Juna : Besok pagi aku ke sana sama Mini sama Bulik Susan. Mereka mau, kok. Katanya si Haris juga ikut.
Sophia : Hah? Serius?
Juna : Iya, serius.... Ya udah, kamu istirahat. Udah malem. See you tommorow, Sophia.... I love you full.
__ADS_1
Sophia : See you. I love you too, Juna. [ ]