Stunning My Life

Stunning My Life
Malam Romantis


__ADS_3

"..., jadi mohon kerja samanya."


"Baiklah, hari ini kita mendapatkan rekan kerja baru. Sophia, silakan perkenalkan diri kamu," suruh Ayah Rei padaku.


Hari ini adalah hari pertama aku bekerja di Semesta Corp, perusahaan milik keluarganya Juna. Aku sangat gugup, tapi juga sangat senang.


Ayah Rei mengumpulkan para karyawannya di ruang meeting. Dia memberikan arahan dan semangat untuk beraktivitas bekerja hari ini. Dan juga, hendak memperkenalkanku pada mereka, karyawan-karyawannya.


Aku tersenyum ramah. "Selamat pagi semua. Saya Sophia. Mulai hari ini, saya akan menjadi bagian dari Semesta Corp. Mohon bantuan dan arahannya dari rekan-rekan semua. Terima kasih."


"Baiklah. Nadia, tolong kamu ajari Sophia soal pengolahan data-data perusahaan," kata Ayah Rei pada seorang pegawai berhijab merah marun di sana. "Dan untuk semuanya, silakan lanjutkan pekerjaan kalian. Terima kasih atas perhatiannya. Selamat pagi," sambung Ayah Rei tersenyum, kemudian berlalu pergi dari ruangan itu.


Nadia, aku diajak perempuan itu ke sebuah ruangan kerja yang cukup luas. Kantor itu menggunakan model ruangan terbuka bersekat untuk para pegawainya. Orang-orang di sana tampaknya ramah dan open padaku.


Seminggu, dua minggu bekerja. Aku mulai akrab dengan para pegawai Semesta Corp, khususnya Nadia. Nadia adalah ketua karyawan di sana. Dia masih muda dan lihai dalam pekerjaannya.


Awalnya aku sedikit risih karena beberapa pegawai tampak memperhatikan kedekatanku dengan Ayah Rei. Sebenarnya Ayah Rei tak pernah memberikan perhatian khusus untukku. Dia selalu profesional menyetarakan semua bawahannya.


Namun terkadang, Ayah Rei suka mencandaiku di depan karyawan-karyawannya. Bunda Aulia juga terkadang menengokku di kantor. Dia menanyai kebetahanku di sana.


Dan rumor tentang aku yang menjadi kekasih dari putra Ayah Rei sedikit demi sedikit mulai mencuat ke penjuru Semesta Corp. Aku tidak tau dari mana berita itu berasal. Tapi Ayah Rei bilang, cuek saja dengan itu.


***


Malam ini Juna akan mengajakku pergi dinner katanya. Dia sudah merencanakan hari ini sejak seminggu lalu. Dan karena tidak mendadak, aku pun bisa menyiapkan sesuatu juga.


Tiga hari lalu aku mengajak Mini untuk membeli sebuah dress. Aku cuma ingin tampil sempurna untuk Juna malam ini. Hanya itu.


"Ni, ini nggak berlebihan, kan?" tanyaku pada Mini seraya mengaca ke meja rias di kamar.


Aku memperhatikan dress merah muda bermotif bunga-bunga yang kukenakan. Dress itu punya model kerah boat neck. Baju itu menunjukkan dengan jelas tulang selangkaku.


"Enggaklah." Jawab Mini, kemudian menghampiriku yang masih berkaca.


Mini tersenyum menatapku. "Bagus banget kan dress pilihan gue? Lo jadi kelihatan gorgeous. Pasti Juna klepek-klepek deh nanti."


"Bagus apaan? Emangnya ini nggak terlalu seksi?" Aku mendecak. "Gue ganti baju aja, ya?"


"Ayolah, Sophia.... Yang pede, dong!" Mini mengerutkan dahinya padaku.


Satu menit. Dua menit. Suara Juna terdengar dari ruang tamu. Sepertinya dia sudah datang dan saling bersapa dengan Bulik Susan.


"Phi, Juna udah dateng, tuh. Buruan siap-siap," ujar Mini berbisik-bisik memelankan suaranya padaku.


Aku mulai gugup. Padahal belum bertemu Juna, tapi dadaku sudah berdebar-debar. Aku pun segera meraih tasku dan berjalan pelan keluar kamar dengan Mini yang mendahuluiku.


Lima detik. Sepuluh detik. Juna tampak terpaku di sana menatapku yang baru keluar ruang kamar.


"Ehem." Mini menyuara membatuk-batukkan kerongkongannya.


"Sophia, kamu cantik sekali," puji Bulik Susan melebarkan mata padaku. Bulik Susan juga baru menyuara setelah melamun menatapku dari bawah ke atas, atas ke bawah.


Pipiku rasanya memerah. Sepertinya dress sepanjang setengah betis pilihan Mini itu memang cocok untukku. Respon Juna tadi juga lucu sekali saat menatapku.


Aku dan Juna lalu berpamit pada Bulik Susan untuk pergi bersama. Kami pun berjalan ke luar halaman depan.


"Silakan masuk, Tuan Putri," ujar Juna tersenyum menggodaku seraya membukakan pintu mobil honda civic hitam itu. Mobil itu milik ayah Juna. Aku hafal karena mobil itu selalu dibawa ke kantor oleh Ayah Rei.


Aku tersenyum pada Juna, kemudian masuk ke mobil.


***


Di perjalanan ke tempat dinner...


"Juna, kita mau dinner ke mana?" tanyaku pada Juna yang terus fokus menyetir mobil.


"Ke tempat spesial." Jawab Juna padaku.


Aku mengerucut bibir mengangguk. Tempat spesial apa yang dimaksud Juna?


Beberapa menit kemudian, kami sampai di halaman De Boutique. Butik itu sepi karena saat malam Bunda Aulia memilih menutupnya. Di sana hanya ada seorang satpam yang bertugas menjaga keamanan De Boutique.


Aku terheran. "Kita ngapain ke butik?"


Juna menoleh menatapku tersenyum. "Aku kan udah bilang, kita mau ke tempat spesial," katanya padaku.


Aku terdiam sebentar. "Oh..., maksud kamu atap butik?" Aku tersenyum melebarkan mata ke Juna.


"That's right. Yuk!" Juna pun keluar mobil, kemudian bergegas membantuku turun dari sana.


Aku tersenyum menatap Juna sembari meraih tangannya yang disodorkan padaku untuk berpegangan.


***


Aku dan Juna pelan-pelan menaiki anak tangga menuju atap De Boutique. Sesampainya di sana, aku terdiam terpukau melihat tempat itu.


Tempat yang kelihatannya gersang dan panas saat siang itu, sekarang sangat indah sekali. Lampu kelap-kelip berwarna kuning membuat tempat itu sangat cantik. Dan suasana malam yang tenang juga pemandangan gedung-gedung tinggi berlampu membuat semuanya tampak romantis.


Kursi besi hitam itu masih di sana. Dan juga sebuah meja persegi panjang dengan taplak bermotif papan catur berwarna putih dan merah muda dipasang di atasnya. Lalu, Juna terlihat sudah menyiapkan hidangan malam juga minuman di meja itu.

__ADS_1


Dan satu lagi, aku juga melihat sebuah kamera digital dipasang pada tripod setinggi satu meteran disisihkan ke tepi.


Lima detik. Juna mengandeng tanganku menghampiri kursi dan duduk di sana. Aku masih memperhatikan seluruh sisi tempat itu.


"Sophia, aku benar, kan? Tempat ini sangat indah kalau malam," kata Juna menatap tempat itu, lalu menoleh menatapku tersenyum.


Aku menatap mata Juna berbinar. "Kamu yang siapin semuanya?"


"Bunda sama Bunga yang bantuin siapin." Jawab Juna tersenyum.


Aku terdiam terus menatap Juna. Aku tidak tau harus bicara apa ke Juna, tapi ini sungguh sangat istimewa sekali.


"Sophia, aku punya sesuatu untukmu," ujar Juna padaku.


Aku mematung melebarkan mata setelah Juna mengeluarkan kotak merah beludru kecil berisi sebuah kalung dan kemudian memasangkannya ke leherku.


Dan sekarang Juna menatapku sangat dekat dan lekat. Bau parfum yang sudah kuhafali itu menusuk masuk ke hidungku.


Aku tidak tau sudah berapa banyak detik berlalu mengukir momen romantis hari ini. Tapi detik ini dan berikutnya, rasanya detik lalu seperti mimpi. Apa aku pantas menerima semua ini?


"Sophia, apa suatu hari nanti aku boleh menemui kedua orang tuamu? Aku ingin bicara, kalau aku ingin melamar putrinya, dan ingin hidup bersamanya selamanya."


Satu detik. Dua detik. Setetes air mata jatuh dari mata kananku, lalu disusul sebelahnya. Perasaanku tersentuh.


Suara lembut dengan tatapan teduh laki-laki itu. Suasana romantis dan tempat indah yang dia ciptakan untukku malam ini. Semua itu terlalu berlebihan, terlalu sempurna untukku. Sampai aku berpikir jika itu tak nyata dan hanya fantasi belaka.


Juna tersenyum mengusap halus air mataku. Pandangan kami bertemu lagi saling bertaut lekat. Pelan-pelan, bibir Juna menyentuh bibirku.


Kami memejam membiarkan rasa mengalir bersamaan. Dan ******* lembut itu, kuartikan sebagai frasa yang menyimbolkan kasih dan sayang di antara kami, aku dan Juna Raja Semesta.


***


Kisah malam ini belum selesai. Aku dan Juna masih di tempat itu. Kami masih saling menatap tersenyum satu sama lain. Bahkan hidangan malam itu belum kami sentuh sama sekali.


"Sophia, apa kamu punya sesuatu untukku?" tanya Juna padaku tiba-tiba.


Aku terdiam sebentar berpikir. Aku tidak menyiapkan apa pun untuk Juna, rasanya itu jahat sekali. Aku pun tersenyum padanya. "Punya." Jawabku.


"Apa itu?" tanya Juna tampak sangat penasaran.


"Aku punya satu lagu buat kamu," kataku pada Juna.


"Oh, ya?" Juna melebarkan matanya tersenyum menyeringai padaku.


Sebenarnya aku tak bisa bernyanyi. Suaraku itu pas-pasan dan tak terlalu merdu. Tapi aku menyukai lagu ini dan ingin bersenandung kecil untuk Juna.


I want to call the stars


I want to live a day


That never dies


I want to change the world


Only for you


All the impossible


I want to do


I want to hold you close


Under the rain


I want to kiss your smile


And feel the pain


I know what's beautiful


Looking at you


In a world of lies


You are the truth


And baby


Every time you touch me


I become a hero


I'll make you safe


No matter where you are


And give you


Everything you ask for

__ADS_1


Nothing is above me


I'm shining like a candle in the dark


When you tell me that you love me


Aku terus bersenandung kecil. Juna tampak tersenyum di sana menatapku menikmati setiap lirik yang kuungkapkan untuknya.


I want to make you see


Just what I was


Show you the loneliness


And what it does


You walked into my life


To stop my tears


Everything's easy now


I have you here


And baby


Every time you touch me


I become a hero


I'll make you safe


No matter where you are


And give you


Everything you ask for


Nothing is above me


I'm shining like a candle in the dark


When you tell me that you love me


In a world without you


I would always hunger


All I need is your love to make me stronger


And baby


Every time you touch me


I become a hero


I'll make you safe


No matter where you are


And give you


Everything you ask for


Nothing is above me


I'm shining like a candle in the dark


When you tell me that you love me


You love me


When you tell me that you love me


(When You Tell Me That You Love Me oleh Diana Ross)


Aku dan Juna tertawa kecil bersama. Kami mulai menikmati dinner itu. Sesekali kami bercanda dan bergurau.


Malam ini terlalu indah jika harus dibiarkan begitu saja. Aku dan Juna tak lupa mengabadikan beberapa foto dengan kamera digital yang Juna sudah persiapkan.


Hari ini semua beban terasa hilang. Aku tak ingin memikirkan apa pun sekarang. Aku hanya ingin larut dalam setiap momen kecil bersama Juna malam ini. Aku tak ingin menyia-nyiakan peristiwa langka itu yang mungkin saja hanya terjadi satu kali seumur hidupku.


Betapa bersyukurnya aku tentang malam ini tidak terkira. Aku sangat bahagia. Dan lengkung lebar di bibir laki-laki itu juga sama bahagianya sepertiku.


***


Aku sampai di rumah Bulik Susan. Karena sudah malam, Juna pun langsung berpamit pulang.


Aku masuk ke dalam kamar dengan wajah kegirangan. Aku melempar tasku ke kasur, lalu juga menerjunkan diriku ke sana. Aku mengacak-acak selimut dengan perasaan berbunga-bunga.

__ADS_1


"Lo kenapa, Phi? Pulang dinner bukannya waras malah kek orang kesurupan gitu. Merinding gue!" seru Mini yang tengah berkutat dengan ponselnya di meja belajar tampak memperhatikanku sebentar.


Aku tak menghiraukannya. Aku bangun dari tempat tidur, lalu berjalan ke meja rias untuk berkaca. Aku menatap tersenyum memegangi liontin kalung pemberian Juna. Di sana, tampak terukir inisial namaku dan Juna dengan lambang hati di tengahnya. S love J. [ ]


__ADS_2