Stunning My Life

Stunning My Life
Terkilir


__ADS_3

Namaku Sophia. Dan sekarang aku delapan belas tahun.


Aku baru menyelesaikan sekolahku. Saat ini, aku sedang menunggu surat lamaran pekerjaanku diterima. Aku harap, aku memang diterima.


Aku masih tinggal bersama Bulik Susan dan Mini. Tapi aku sudah berjanji kepada mereka untuk segera pindah setelah aku berhasil membangun rumah sendiri nantinya.


Sebenarnya aku sudah berhasil membeli sebidang tanah awal tahun ini. Itu tak terlalu luas, tapi cukup untuk membuat sebuah rumah minimalis. Dan dari mana aku mendapatkan uangnya? Itu karena aku berusaha keras.


***


Akhir pekan ini Mini dan pacarnya mengajakku berlibur ke sebuah tempat wisata di lereng gunung. Kata Mini, di sana ada sebuah telaga, taman bunga, sampai pasar lokal yang menjajankan makanan khas.


Pacar Mini punya jeep pribadi berwarna hijau gelap. Dia lebih tua dua tahun dari kami. Mini dan pacarnya mulai menjalin hubungan sejak tiga tahun lalu. Aku pun melihatnya melayat saat Paklik Seto meninggal.


Haris adalah laki-laki yang baik. Dia setia dan menerima Mini apa adanya. Mini dulu memang punya badan gemuk. Tapi karena dia bertekad untuk diet, sekarang dia punya tubuh langsing yang hampir sama sepertiku.


Aku juga tak tau entah sejak kapan aku mulai menilai tubuhku sebagai sesuatu yang alhamdulillah. Tubuhku yang kurus kering itu pun sekarang sedikit lebih bervolume.


Itu adalah hasil dari jam makan tepat waktu dan mengonsumsi sesuatu yang bergizi. Aku juga tak pernah menambah porsi makanku. Tapi aku mau makan ini makan itu asalkan halal dan menyehatkan. Aku berusaha dan yakin jika aku bisa menjadi cantik nantinya. Dan itu terbukti.


Kami bertiga masih dalam perjalanan menuju tempat wisata.


“Beb, pokoknya nanti kita harus hunting foto yang banyak banget!” Mini menyandar lembut pada lengan kiri Haris yang tengah mengemudi.


“Oke, Beb. Pokoknya aku bakalan ambil semua sisi keimutan kamu.” Balas Haris tersenyum.


“Kamu nggak lupa bawa kameranya, kan?” tanya Mini ke pacarnya.


“Nggak lupa, dong…. Aku bawa kamera paling canggih pokoknya.”


“Oh, seriously?”


“Yes, of course.”


Aku tersenyum tipis. “Ati-ati lo, Ni. Kalo kameranya terlalu canggih entar nggak hanya sisi imut lo yang berhasil dijepret Haris, tapi sampe ke kutil-kutil lo sekalian. Pori-pori gede sama daki-daki lo juga bisa-bisa kelihatan jelas. Kan, nggak lucu,” candaku.


“Minta di lakban tu mulut emang!” gertak Mini padaku.


Aku tertawa kecil, dan meneruskan membaca buku mencoba tak menghiraukan mereka.


“Beb, jangan nempel-nempel terus, dong…. Nggak enak tau dilihat Sophia,” celetuk Haris pada Mini yang masih menyandar di lengannya.


“Biarin aja. Siapa suruh masih jomblo? Terlalu cantik yang nggak berguna.”


Aku mendesah, lalu menatap malas Mini yang masih jadi perangko melekat pada lengan kiri pacarnya. “Lo muji atau ngehina gue?”


“Dua-duanya.” Jawab Mini menoleh padaku, kemudian tersenyum dengan mata menyipit.


“Jangan nempel terus kayak cicak di dinding. Haris lagi nyetir, tuh…. Kalo nabrak bisa gawat entar.”


“Iya nih, Beb. Entar aja nempelnya kalo udah nyampe tempat,” timpal Haris.


Aku terkekeh. Walaupun Haris itu baik dan lumayan ganteng, tapi dia sama sekali bukan tipeku. Melihat cara berpacaran Haris dan Mini itu saja membuatku cukup mual.


***


Sesampainya di lokasi…


“Phi, nanti jam 3 sore kita ketemuan lagi ya di sini,” seru Mini padaku.


Aku yang baru keluar dari mobil pun menatap sepupuku tampak tolol. “Ketemuan jam 3 sore? Maksudnya?” tanyaku bingung.


Mini menghela napas berat seraya memutar bola matanya. “Masa lo mau ngintilin orang pacaran, sih? Kayak anak paud aja, deh.”


“Jadi kita pencar, nih?” tanyaku menatap Mini dan Haris. Mereka tersenyum nakal, lalu mengangguk-angguk.


“Terserah kalian, deh. Tapi awas aja kalo sampe ninggalin gue balik!”


“Nggak gitu juga kali. Sebenernya gue takut kalo lo diculik sama om-om di sini. Lo kan masih polos,” ungkap Mini, lalu berkedip-kedip padaku.


Astaga, hari ini sudah berapa kali Mini menistakanku? Punya sepupu satu saja nyebelin banget. “Iya, dong…. Gue kan selalu merem kalo ada kiss scenes di drakor. Nggak kayak lo!!!” Balasku menyeringai mengerjai Mini.


Mini menatap Haris malu, dan aku menahan tawa melihatnya.


“Merem apaan? Yang ada lo malah ngintip-ngintip nontonnya. Ketawan mesum kan lo sekarang,” sangkal Mini menuduh.


Aku melebarkan mata pada Mini. Dan sialnya, tampang Haris tampak cengingisan di sana. “Minion, lo tau kan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan!?” Aku mengernyit.


“Terserah lo deh, Sop Hiu. Gue nggak ikut-ikutan.” Mini pun bergegas menggandeng Haris pergi.


***

__ADS_1


Aku berdiri menatap hamparan tebing yang tertutup tanaman hijau. Suasana di pegunungan memang menyegarkan pandangan dan kepala. Selain udaranya sejuk, perasaan rasanya juga tenang sekali.


Satu menit. Dua menit. Aku menyibakkan tudung jaket mantelku. Aku memejam mata merasakan hawa dingin merayap di samping-samping leher.


Aku menghirup panjang udara segar di sana, lalu menghelanya pelan lewat mulutku. Aku mulai membuka mata, kemudian tersenyum menatap pemandangan di depan.


“Cantik.” Suara seseorang membuatku menoleh menatapnya.


Seorang laki-laki tinggi dengan kamera canon tengah berdiri di kananku. Aku bisa melihat jelas wajah laki-laki itu. Dan menurutku, dia sangat-sangat tampan.


Laki-laki itu tersenyum, memalingkan muka menatap pemandangan di sana. “Pemandangannya cantik,” jelasnya membuatku tersadar akan kege'eran.


Aku menundukkan mata tersenyum. Otak bodohku yang dengan gampangnya teperdaya seperti itu??? Cantik, aku kira pujian itu ditujukan untukku. Benar kata Mini, aku itu masih polos. Tapi polos dan tolol itu tak jauh berbeda, kan?


Laki-laki itu menyodorkan tangan kanannya ke arahku. Oke, sekarang aku tak mau jadi orang polos dan tolol lagi. Laki-laki itu pasti tak sebaik tampangnya. Aku tak mau berkenalan dengannya.


Aku pun memilih tak menghiraukan si orang asing itu. Aku menatapnya malas, lalu berjalan pergi melewatinya.


***


Aku melangkah menuju tempat yang katanya paling ikonik di sana. Aku memasang earphone kabel di kedua telingaku, menutupkan tudung jaket mantel ke kepala.


Aku tiba di sebuah taman bunga. Katanya, itu adalah tempat paling spesial dari pariwisata lokal di sana. Tapi kenapa sepi sekali? Aku pun mengistirahatkan kaki duduk di bangku besi bercat hitam yang disediakan di beberapa sisi di taman itu.


Aku menyandarkan punggung, memasukkan kedua tanganku ke saku mantel, lalu memejam menikmati sebuah lagu dari The Overtunes.


Satu menit. Seseorang mendadak menyahut earphone kananku. Aku terkejut, lalu menoleh ke samping kiri.


Di sana, laki-laki yang tadi baru saja duduk. Dia memakai satu sisi earphone milikku. Matanya dipejamkan seolah-olah dia benar-benar menikmati musiknya.


Aku segera mematikan lagu Bicara dari ponselku. Laki-laki itu pun menoleh. “Kenapa dimatiin?” tanyanya dengan wajah terheran.


Aku tersenyum singkat. “Lo siapa, sih?”


Laki-laki itu mendesah. “Tadi diajakin kenalan nggak mau. Sekarang jadi kepo, kan.”


“Gue serius nanya. Jangan-jangan lo penjahat, ya???” tuduhku mulai takut.


“Wah, nggak ada sopan-sopannya ya lo! Masa orang sekeren dan seganteng gini dikatain penjahat?”


“Apaan, sih. Lo gila, ya? Pasti lo orang cabul, kan? Pake sok bawa-bawa kamera lagi. Wah, kamera lo isinya aneh-aneh, kan? Atau jangan-jangan…, lo foto-foto gue, ya? Ngaku lo!!!”


Laki-laki itu mendecak. “Parah lo nuduh gue kayak gitu.”


***


Aku berlari terbirit menghindari si laki-laki aneh yang tak jelas asal-usulnya. Tapi entah kenapa dia masih terus mengejarku. Aku melangkah tanpa arah. Aku benar-benar ketakutan dan tak bisa berpikir jernih.


Dan sekarang, aku tersesat di sebuah ladang buah-buahan. Aku menolah-noleh ke belakang dengan napas terengah-engah mencari-cari sosok laki-laki aneh tadi. Aku bersyukur karena tampaknya dia tak mengikutiku lagi.


Satu jangkah. Dua jangkah. Mendadak aku terjungkal ke rumput berlumpur. “Ah…, kenapa nasib gini amat, sih?” keluhku mengernyit kesal.


Sepatu, celana jeans, dan jaket mantelku tampak kotor karena lumpur. Aku mencoba berdiri, tapi pergelangan kaki kananku sepertinya terkilir. Benar-benar nasib buruk.


Aku segera mengecek ponsel untuk meminta bantuan Mini dan Haris. Dan parahnya, tak ada sinyal sama sekali.


Aku benar-benar tak bisa melakukan apa pun. Tapi kan tak lucu jika aku harus terus-terusan terdampar di kebun buah orang. Entah kebun buah siapa yang aku masuki. Namun sepertinya, tak ada seorang pun yang melintas.


“Tolong…! Apa ada orang di sini???”


“Tolong!!!”


Aku mencoba berteriak mencari bantuan.


Satu menit. Dua menit. Aku mendengar suara ranting dipijak. Aku membelalak membeku. Jangan-jangan itu hewan buas?


“Hai,” sapa seseorang terasa sangat dekat di telingaku.


Aku refleks membalikkan muka menoleh pada sumber suara itu. Aku terpaku menatap mata seorang laki-laki yang tersenyum begitu manis. Lima detik. “Biasa aja kali lihatnya. Nggak pernah lihat orang ganteng, ya?” ocehnya.


“Lo kok ngikutin gue terus, sih?”


Laki-laki itu enggan menjawab. Dia memperhatikan pergelangan kaki kananku yang kupegangi. “Sakit?” tanyanya seraya menolehku.


“Enggak. Enggak sakit.” Jawabku kikuk.


Laki-laki itu pun berdiri. “Ya, udah. Kalo gitu bisa balik sendiri, kan?”


“Bi-bisa.”


Laki-laki itu pun beranjak berjalan pelan meninggalkanku. Hah? Serius dia bakalan ninggalin gue?

__ADS_1


Aku mencoba berdiri hendak mengikutinya. "Aw…." Malang, kakiku tak bisa diajak berkompromi. Menggerakkannya sedikit saja sudah terasa nyeri, apalagi dibuat untuk berjalan dan berdiri. Huh, menyebalkan.


Aku menunduk memegangi pergelangan kakiku yang terkilir. Aku menahan cengeng dan menyedot ingus yang hampir keluar. Tiba-tiba, laki-laki itu kembali berdiri di hadapanku.


Aku menatap sepatu nike biru dongkernya, kemudian mendongak. Dia pun berjongkok di depanku. “Gitu aja nangis."


Satu detik. Dua detik. Laki-laki itu mulai menggendongku ke punggungnya. Aku hanya membisu memperhatikan caranya menolongku. “Pegangan,” katanya menyuruh.


Aku pun mulai mengalungkan tangan ke leher si laki-laki asing. Dan dia pun mulai berjalan meninggalkan kebun buah itu.


“Lo kok berat banget, sih?” ungkap laki-laki itu terus menggendongku.


“Gue cuma 45 kilo. Masa berat, sih?”


“45 kilo aja kalo isinya kalori semua kan berat.”


“Lo kira gue apaan? Singkong? Ubi jalar?”


Laki-laki itu tertawa.


***


Kami pun sampai di sebuah pos bambu. Aku diturunkan pelan-pelan di sana. Kemudian, laki-laki itu duduk menarik kedua tangannya ke belakang sebagai penyangga. Napasnya terdengar sedikit terengah-engah. Pantas saja, jalanan menanjak, dan dia juga menggendongku. Pasti sangat melelahkan.


“Makasih, ya. Gue minta maaf udah nuduh lo yang enggak-enggak,” ucapku merasa berdosa pada laki-laki asing itu yang ternyata orang baik.


Dia menatapku. “Kaki lo masih sakit?”


“Masih, sih.”


“Lo tunggu bentar di sini, jangan ke mana-mana. Sepuluh menit gue bakalan balik lagi ke sini,” katanya, lalu berjalan pergi.


***


Aku masih sendirian menunggu di pos bambu bercat hijau itu. Aku mencoba mengecek ponselku. Dan lagi, sinyalnya masih none.


Aku menunduk, tersenyum-senyum. “Apaan, sih? Kacau nih otak gue!” gumamku mengoceh, lalu menggeleng-geleng.


Lima menit. Sepuluh menit. Laki-laki tadi pun tiba dengan seorang pria sepuh berbelangkon di kepalanya.


“Mbah, jadi dia yang kakinya keseleo.”


Pria sepuh yang disapa Mbah itu pun mendekatiku. “Cah Ayu, mana sikilmu sing sakit?” tanyanya bercampur dengan logat Jawa.


“I-ini.” Jawabku ragu menunjukkan pergelangan kaki kananku.


“Tole, kamu pegangi Cah Ayu sana.”


“Pegangi, Mbah?” Laki-laki itu tampak bingung, lalu melangkah ragu duduk di sampingku. Dia memegangi pundakku.


“Apaan, sih?” Aku menyingkirkan tangan laki-laki itu.


“Cah Ayu, iki nanti bakalan sakit temenan, loh…,” ungkap si Mbah padaku. Aku tau jika beliau akan memijat kakiku yang terkilir, tapi kan tak perlu juga laki-laki aneh itu memegangiku.


“Udah pijit aja kakinya, Mbah,” suruh si laki-laki aneh menatapku remeh.


Mbah pun meraih kaki kananku yang sudah tak bersepatu. Beliau mulai menekan memijat pergelanganku.


Aku tidak tau jika dipijat rasanya akan sesetengah mati ini. Aku memejam mata merapatkan mulut untuk tak berteriak.


Namun, pijatan itu semakin menyakitkan. Aku pun meraih jaket hitam si laki-laki aneh, mengepalnya kuat hingga membuatnya seperti tercekik.


Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Mbah pun menyudahi pijatannya. Aku bernapas lega.


“Gimana, Cah Ayu? Enakan, to?”


Aku mencoba menggerakkan pergelangan kanan kakiku. Aku tersenyum. “Iya, Mbah. Matur suwun sanget.” Jawabku yang sebenarnya tau banyak tentang bahasa Jawa.


Si Mbah tersenyum.


“Makasih ya, Mbah,” ujar laki-laki aneh juga ikut tersenyum.


Mbah pun berpamit dan pergi.


“Dia nggak minta bayaran, ya?” celetukku masih menatap pria tua berbelangkon itu yang semakin menjauh.


“Udah gue bayarin tadi,” sela laki-laki aneh menjawabku.


Aku menoleh menatapnya. “Berapa? Ini gue ganti.” Aku hendak mengeluarkan dompet dari saku mantelku.


“Nggak usah. Gue ikhlas kok bayarinnya.”

__ADS_1


Masih ada ya cowok kayak dia di jaman sekarang? “Makasih.”


Laki-laki itu tersenyum. “It’s okey.” [ ]


__ADS_2