
Karina membuntutiku masuk ke kamar. Sepertinya dia mau menginterogasiku soal Juna yang mengaku sebagai Raja.
"Temen kamu tadi perlente banget, sih! Kamu dapat temen kayak gitu dari mana? Tapi kok Kakak nggak yakin ya kalo dia cuma temen kamu. Tapi kamu udah punya pacar namanya Juna, dan cowok tadi namanya Raja." Karina tampak keheranan sendiri. "Ayo dong cerita, Sophia...," sambung Karina merengek menarik-narik lengan kiriku.
Aku mendecak. "Iya-iya. Aku cerita, nih."
Karina mulai menyamankan duduknya menatapku sangat antusias.
"Sebelumnya, cowok tadi bilang apa aja ke Kakak sama Ibu? Dia ngaku siapa, cerita apa aja, kesannya kayak gimana? Nggak aneh-aneh, kan?" tanyaku pada Karina.
Karina mengerucut bibir, lalu mendadak tersenyum. "Dia ngetok pintu, bilang assalamu'alaikum, terus aku bukain pintunya. Aku ya syok dong...! Kirain Zayn Malik terdampar ke rumah kita."
Aku mendadak terbahak. Sejak kapan Juna mirip sama Zayn Malik? Tak ada mirip-miripnya sama sekali!
"Abisnya dia ganteng banget! Mana pake prada lagi. Dan kayaknya bukan kw-kwan," jelas Karina padaku.
Kalau soal barang-barang branded, Karina selalu semangat. Kata Karina dulu, pakai barang-barang bermerek bikin kita jadi percaya diri dan bahagia. Entahlah, aku hanya mengiyakannya saja. Tapi kakakku itu juga masih cinta merek-merek lokal, kok.
"Terus gimana?" tanyaku tak sabar menunggu cerita Karina selanjutnya.
"Ya, aku pikir dia pacar kamu. Terus aku langsung tanyain dia, kamu Juna, ya? Eh, dianya jawab kalo namanya Raja."
Aku mendecak. "Dia tu sebenernya emang Juna...."
"Hah?" Karina memasang wajah bingung keheranan padaku.
"Raja itu Juna, Juna itu Raja. Jadi..., nama lengkapnya dia itu Juna Raja Semesta," kataku mencoba menjelaskan siapa Raja yang sebenarnya kepada Karina.
Karina menatapku bengong dengan mulut sedikit ternganga. "Pantesan dia bawa oleh-oleh banyak banget. Ternyata beneran pacar kamu?" gumamnya.
"Sorry nih, Kakak, Ibu, sama Ayah jadi kena kibulnya si Juna. Dia emang suka bercanda soalnya. Jadi mohon untuk dimaafkan."
Karina tertawa kecil. "Ada-ada banget tu pacar kamu. Terus, latar belakangnya dia kayak gimana?"
Aku menarik napas panjang, lalu membuangnya singkat. Tak ada salahnya pertanyaan Karina itu. Aku memang juga harus jujur soal latar belakang Juna pada keluargaku. Lagi pula, semua tentang Juna itu adalah baik.
Aku pun menceritakan hampir semuanya soal Juna kepada Karina. Soal Juna yang masih kuliah, soal Bunda Aulia yang punya butik, soal Ayah Rei dan perusahaannya, soal Bunga si adik perempuannya Juna. Dan lalu, aku juga cerita pada Karina tentang Semesta Corp, tempat kerjaku sekarang.
"Wah, Kakak nggak nyangka kamu bisa ketemu cowok yang kayak gitu. Selamat, deh. Kalo kayak gini sih Kakak juga setuju kamu nolak perjodohan yang dibikin Ayah sama temennya itu," ungkap Karina padaku.
***
Sekitar pukul setengah tujuh malam aku kembali ke rumah sakit untuk mengunjungi ayah lagi. Aku dan orang rumah sudah membagi tugas. Karina harus momong Lusy, Bimo harus mengurusi kariernya yang baru melejit itu, dia sibuk dengan laporan lapangan pekerjaannya, dan ibu mulai menyibuk di dapur karena mesti jualan nasi pecel.
Sebenarnya aku sekalian berniat datang ke rumah nenek setelah dari rumah sakit nanti. Rumah nenek juga tidak jauh. Tempat tinggal kami cuma berbeda desa.
Aku mengetuk ruangan ayah pelan, kemudian masuk. Bara, dia masih saja di ruangan itu. Laki-laki itu terkesan sayang sekali pada ayahku.
"Ayah udah makan?" tanyaku menatap ayah yang raut wajahnya ceria.
"Udah." Jawab ayah tersenyum.
Aku pun membalas senyumnya.
"Em.... Bara, aku boleh bicara sebentar sama kamu?"
Bara melebarkan mata padaku dan tersenyum. "Iya, boleh."
***
__ADS_1
"Ada apa, Sophia? Kamu mau nanya lagi soal perjodohan kita, ya?" tanya Bara menebak padaku.
Aku dan Bara duduk di kursi depan ruangan opname ayah.
"Enggak juga, sih. Tapi terus gimana? Kamu udah ngomong ke papamu buat batalin perjodohannya?"
Bara tersenyum. "Iya, aku udah ngomong ke papaku. Papa sih setuju-setuju aja kalo perjodohannya mau dibatalin. Tapi tadi waktu aku bicara sama Om Budi, dia belum setuju buat batalin perjodohan kita."
Aku terus menyimak penjelasan Bara.
"Kata Om Budi sih, sebelum kamu kenalin pacarmu ke dia, dia belum bisa buat kepastian. Jadi soal persetujuan Om Budi, itu kayaknya urusan kamu sendiri, deh."
Aku menggigit bibir bawahku. Aku mulai berpikir. Sepertinya jika aku menjelaskan ke ayah soal Juna yang mengaku sebagai Raja sebenarnya adalah pacarku, ayah bisa-bisa tidak percaya dan malah menganggap Juna itu penipu.
Satu-satunya jalan keluar adalah mempertemukan Juna dengan ayah lagi. Juna harus mengakui fakta statusnya yang memang menjadi kekasihku di depan ayah. Atau mungkin malah semua anggota keluargaku.
Setidaknya aku punya senjata kecil. Karina sudah tau soal Raja yang sebenarnya adalah Juna. Dia juga mendukung hubungan kami. Karina pasti akan membantuku membujuk ayah jika sampai ayah tak mau mengakui Raja yang sebenarnya adalah Juna, pacarku.
"Sophia," panggil Bara menepuk pundak kiriku.
Aku melebarkan mata pada Bara sedikit kaget karena dia memecah lamunanku. Tapi aku tak sedang melamun, aku hanya memikirkan penyelesaian masalah perjodohan ini.
"Kamu kenapa? Lagi ngelamun?" Bara bertanya.
Aku segera melempar senyum. "Enggak, kok. Oke, soal persetujuan ayahku, biar aku sendiri yang nanganin. Sebelumnya makasih ya, Bar. Karena kamu mau batalin perjodohan kita."
"Iya, sama-sama. Aku bukan orang yang suka maksain kehendak, kok. Yah walaupun kamu emang cantik, sih. Kelihatannya kamu juga baik. Jujur aja, aku suka sama kamu. Tapi suka itu bukan berarti harus memiliki, kan?"
Aku terdiam. Bagaimana bisa Bara yang belum ada sehari penuh bertemu denganku sudah bisa mengakui rasa suka padaku? Ya, bisa aja, sih. Juna kan pernah memberitahuku kalau orang jatuh cinta itu hanya butuh waktu sekitar empat menit.
Bara tersenyum. "Semoga kamu langgeng ya sama pilihanmu, Sophia."
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. "Bara, sebenernya aku mau bicara soal biaya rumah sakit Ayah," ungkapku pada Bara.
Bara mulai menyimakku.
"Kamu nggak usah repot-repot buat bayarin biaya rumah sakit ayahku. Biar aku aja yang tanggung."
"Aku ikhlas kok bayarin semuanya. Om Budi itu udah aku anggap kayak papaku sendiri. Kamu nggak usah sungkan sama aku. It's okey kita batalin perjodohannya, tapi aku harap kamu masih mau anggep aku jadi temen kamu, atau bahkan sodara."
"Tolong, Sophia. Aku cuma mau bantuin Om Budi aja, kok. Aku sayang sama dia. Biarin aku yang tanggung semua biaya RS Om Budi," mohon Bara padaku.
"Tapi, aku-"
"Please...!" potong Bara seraya memegang kedua tanganku lagi-lagi memohon menautkan kedua alisnya memelas.
Aku cepat-cepat menarik tanganku melepas genggaman Bara.
"Ma-maaf, Sophia. Aku nggak bermaksud...." Bara tampak kikuk setelah melihat tingkahku yang menunjukkan ketidaksukaan karena dia memegang tanganku seperti itu.
"Aku juga please sama kamu, Bar. Aku nggak mau utang budi sama kamu. Jadi tolong, biarin aku sendiri yang bayarin biaya rumah sakit ayahku," tegasku pada Bara.
Aku pun bergegas pergi meninggalkan laki-laki itu kembali masuk ke ruangan ayah.
"Yah, aku pamit pulang dulu, ya. Aku mau ke rumah Nenek soalnya." Aku langsung berpamit ke ayah.
"Ke rumah Nenek? Udah malem, loh. Nggak besok aja?" tanya ayah memberi saran.
"Rumah Nenek kan deket. Aku cuma sebentar kok Yah ke sananya," kataku ke ayah.
__ADS_1
"Aku anter kamu ya, Sophia." Mendadak Bara menawariku. Dia tentu juga masuk ke ruangan ayah membuntutiku sejak tadi.
"Nggak usah, Bar." Jawabku pada Bara, lalu menoleh ayah. "Sophia duluan ya, Yah."
"Biarin Bara anter kamu, Sophia.... Udah malam ini. Nggak baik anak gadis kayak kamu kelayapan sendirian di jalanan."
Batinku mendecak sedikit kesal. "Ini tu belum terlalu malem, Yah.... Sophia bakalan baik-baik aja, janji!" Aku tersenyum singkat pada ayah. "Assalamu'alaikum," tukasku kemudian bergegas pergi.
Aku tak mau memberikan sedikit pun kesempatan untuk Bara bisa mendekatiku. Bara memang sudah mengaku jika dia sebenarnya menyukaiku, namun dia rela melepasku dengan membatalkan perjodohan kami. Tapi, siapa yang tau perasaan orang yang sebenarnya? Bisa saja si Bara itu mau-mau tapi malu.
Aku harus tetap berjaga-jaga dan selalu menjaga jarak dengan Bara. Aku bukannya suuzan, tapi Bara bisa saja menjadi ancaman besar untuk hubunganku dengan Juna.
***
Aku sampai di rumah nenek. Sudah lama sekali aku tak ke sana. Rumah itu masih tetap sama dan tak berubah warna cat atau bahkan suasananya.
Pasti aku akan mendapatkan omelan dari nenek setelah bertemu dengannya nanti. Tapi tunggu..., aku punya sogokan ampuh untuk membuat nenek tak terlalu marah-marah padaku.
Pintu depan rumah nenek tampak dibuka. Sepertinya ada tamu di dalam. Satu detik. Dua detik. Seorang laki-laki keluar dari rumah itu disusul oleh nenek dan Tante Tari.
Ya, Tante Tari, adik ayahku itu memang tinggal di sana bersama nenek. Ayahku sebagai anak pertama ibunya memilih tinggal bersama keluarga kecilnya. Dan nenek yang sebatang kara itu pun hidup ditemani anak bungsunya.
Aku berjalan pelan menghampiri mereka, nenek, Tante Tari, dan laki-laki yang terkesan sedikit lebih muda dari tanteku.
"Assalamu'alaikum," salamku pada ketiga orang itu, kemudian mereka menjawabnya.
"Sophia? Kamu udah pulang? Apa kabar? Wah..., cantik banget loh Mah cucu kamu sekarang. Mana gayanya necis lagi," celetuk Tante Tari menatapku tersenyum kagum.
Aku pun segera mencium tangan nenek dan Tante Tari. Aku merasa sungkan untuk juga menjabat tangan laki-laki itu, jadi aku hanya canggung mengabaikannya.
"Ini keponakan kamu?" tanya laki-laki asing itu pada Tante Tari.
"Iya, ini anak kedua kakakku." Jawab Tante Tari tersenyum.
Laki-laki itu mulai memperhatikanku. Dia menatapku tersenyum dari atas ke bawah, bawah ke atas. Aku sedikit merinding karena ekspresinya terkesan cabul dan kriminal.
Kemudian, laki-laki itu pun berpamit. Dia pergi dengan sebuah motor supra lama namun masih terlihat mengkilap. Sepertinya motor itu terawat sangat baik.
***
Di ruang tamu rumah nenek...
"Tadi siapa, Tante?" Aku menanyai Tante Tari soal laki-laki asing tadi yang sepertinya akrab sekali dengan nenek dan tanteku itu.
"Dia ya calon suami tantemu ini. Tantemu kan kelamaan bujangnya, udah jadi perawan tua! Untung masih ada yang mau sama dia," sahut nenek culas.
Aku hanya mengerucut bibir mendengarnya. Nenekku benar-benar! Masa anak sendiri dikatain perawan tua, sih? Yah, walaupun aku setuju sebenarnya. Ha ha. Tapi kan tetap saja, itu adalah penghinaan.
Jadi Tante Tari akan menikah, ya? Aku pikir, itu sudah sangat telat. Tapi, tak apalah. Tante Tari juga masih lumayan cantik, walaupun sebenarnya sudah ada beberapa kerutan di bagian tubuh dan wajahnya.
"Kamu ngapain ke sini? Sekarang baru inget sama Nenek? Kemarin-kemarin ke mana aja???" Dan ya, nenek mulai mengomeliku.
Aku mengambil napas berat. "Maafin Sophia, Nek. Sophia terlalu sibuk kerja, jadi nggak sempet jengukin Nenek sama Tante Tari." Jawabku kemudian mengeluarkan dua kantong keresek hitam yang sedari tadi kutaruh di samping kanan tempat dudukku, lalu menaruhnya ke atas meja.
"Itu apa?" tanya nenek padaku.
"Bahan-bahan dapur, Nek. Terus itu yang satu ada martabak manis sama asin." Aku tersenyum. "Sophia beliin yang paling istimewa buat Nenek sama Tante Tari," tambahku merayu.
Nenek tampak menahan senyum di balik raut judes dan galaknya. Tante Tari juga terlihat menggigit bibir memelototi kantung keresek itu setelah mendengar jika aku membawakan mereka martabak dua rasa. Sepertinya sogokanku benar-benar ampuh dan berhasil. [ ]
__ADS_1