Stunning My Life

Stunning My Life
Goblin


__ADS_3

"Jadi kamu temenan sama dia, nih?"


"Iya. Kenapa? Kamu cemburu, ya...?" Aku mengedik-ngedikkan alisku menatap Juna.


Aku dan Juna bercengkerama di kantin Semesta Crop. Siang ini dia sengaja menghampiriku di kantor.


Kedatangan Juna mengundang perhatian pegawai-pegawai sana. Bagaimana tidak? Juna tak memberitahuku jika dia akan datang. Dan tiba-tiba saja, laki-laki itu menerobos masuk menyapaku ke ruang kerja.


Ini adalah kali pertama Juna membuatku sangat canggung dengan para pegawai Semesta Corp. Kabar angin yang sudah mendominasi telinga rekan-rekan kerjaku soal aku yang katanya kekasih anak CEO perusahaan itu mendadak terbukti jelas.


Karena apa? Tadi,


Lima belas menit menjelang istirahat siang, aku mulai merapikan meja kerjaku yang berserakan dengan kertas-kertas HVS di atasnya.


"Sophia, aku udah kirim file data pengiriman barang hari ini ke email kamu, ya. Coba deh kamu cek," suruh Nadia yang meja kerjanya tepat berada di samping kananku.


"Oke." Aku pun mulai mengotak-atik komputer di depanku dan membuka pesan email dari Nadia.


"Gimana? Udah masuk, kan?" tanya Nadia memastikan. Gadis berhijab itu masih mengintip dari belakang penyekat samping meja kami.


"Sip, udah masuk!" seruku.


Satu detik. Dua detik. "Hai, Sayang...," sapa Juna tersenyum lebar terdengar begitu lantang menggema di ruangan yang sunyi itu.


Seketika aku ternganga. Juna tampak mengedarkan pandang ke penjuru ruangan. Dan benar saja, walaupun meja para pegawai di sana disekat-sekat sampingnya, mereka semua berdiri dan ada yang celingukan menatapiku dan Juna.


"Maaf...," ujar Juna lirih menatapku. Wajahnya tampak malu. Lebih malu lagi tampangku!


Aku mengerjap, lalu menoleh pada Nadia. Gadis itu terlihat menahan tawa sembari menunduk-nunduk.


Aku memaksakan senyum menatap Juna tajam. Aku menghampiri laki-laki itu memegang lengan kanannya erat. Pegawai-pegawai yang seruangan denganku masih menatap kami.


Aku segera tersenyum mengedarkan pandang ke orang-orang itu. "Maaf semuanya, permisi...." Aku pun menarik tangan Juna pergi dari sana.


***


Masih di ruang kantin Semesta Crop...


"Enggak. Ngapain aku cemburu." Juna mengerucut bibir enggan menatapku.


Aku tersenyum gemas. "Kata Rama, cemburu itu tanda cinta, loh...."


Juna mendecak. "Terus kamu maunya aku harus kayak gimana? Kamu mau aku cemburuin kamu temenan sama si cowok itu?"


Aku menggeleng. "Aku maunya kamu percaya sama aku," ujarku tersenyum.


Juna membalas dengan senyum manisnya. "Iya, aku percaya sama kamu."


Aku telah memceritakan semuanya pada Juna. Tentang kalung pemberiannya yang sudah kembali di tanganku dan sekarang sedang diperbaiki di toko emas untuk disambung rantainya, tentang Rama yang ternyata mengajakku ke panti asuhan malam minggu kemarin, dan tentang Rama lagi yang mengajakku untuk berteman.


"Kamu udah siapin bajunya buat minggu depan, kan?" tanyaku pada Juna.


"Udah, dong. Nanti aku sama Bunga jemput kamu."


"Dia mau kamu ajak?" Aku tersenyum lebar menatap Juna.


"Mau, lah. Udah aku suap 100 ribu." Jawab Juna terdengar kesal.


Aku tertawa kecil. Kami pun tersenyum dan melanjutkan makan siang.

__ADS_1


***


Tepat pada malam ke satu tahun sejak hubunganku dengan Juna dimulai. Di depan kaca rias aku merapikan pakaianku.


Aku tersenyum karena sweater turtleneck lengan panjang berwarna biru muda yang kumasukkan ke dalam celana jeans bootcut dengan warna yang senada itu terlihat serasi.


Aku mengambil sebuah coat tebal berkerah berwarna krem kemudian memakainya. Coat itu juga berlengan panjang dan bawahannya menjuntai sampai pertengahan betisku.


Aku lalu mengambil syal rajut berwarna merah segar dan mengalungkannya ke leher. Aku kembali merapikan rambutku menggerainya rapi ke belakang.


Setelah puas berkaca, aku membalik badan menatap Mini. "Ni, penampilan gue gimana?" tanyaku pada Mini yang sedari tadi tampak menyibuk dengan ponselnya bersandaran di kasur.


Dia menolehku. Dan lalu, matanya mulai semakin membulat. "Ya ampun, Phi! Lo kok mirip kayak Ji-"


"Shuttt....!" potongku menempelkan telunjuk kanan ke depan bibir.


Aku mengambil sepasang high heels berwarna senada dengan warna coat yang kupakai, cuma itu lebih glossy. Aku menghampiri Mini duduk ke pinggir kasur dan memakai sendal jinjit 3 senti itu.


"Lo sebenernya mau anniversary-an apa mau nyamperin bias ke Korea, sih?" Mini terheran.


Aku tertawa. "Nggak ada duit gue nyamperin bias sampe ke sono," gurauku.


Mini mendecak. "Heh, ini tu Indonesia! Lo nggak gerah apa pakai baju kayak gitu? Lha wong cuaca lagi anget-anget gini juga."


"Bawel lo! Gue sama Juna itu udah bikin tema buat hari ini. Jangan komen terus napa," sungutku pada Mini masih membenarkan pengait sendal jinjit itu melingkar pada pergelangan kakiku.


Satu menit. Suara pintu depan terdengar diketuk disusul dengan salam. Aku sudah sangat hafal suara itu. Juna dan Bunga, mereka sudah tiba.


Aku pun cepat-cepat mengambil tas yang sudah kupersiapkan sejak awal, lalu berjalan keluar kamar diikuti Mini.


"Hai," sapa Juna tersenyum padaku. Dia sudah berdiri di ambang pintu. Dan memang, pintu rumah sedang tidak ditutup.


Juna juga memakai style yang sama sepertiku. Inner turtleneck hitam ketat dengan outer berupa coat juga berwarna hitam gelap. Sepatu pantofel polos mengkilap dan celana hitam straight berbahan kain. Fix, sekarang dia sedang berkamuflase menjadi seorang karakter pria tampan di drama-drama korea yang pernah kutonton.


"Maaf, ini kenapa Kim Shin terdampar ke rumah gue, ya?" Mini menatapku, lalu menoleh menatap Juna lagi.


Bunga yang juga berdiri di samping kakaknya terlihat cengingisan. Aku dan Juna pun tersenyum saling melempar pandang.


***


Beberapa waktu lalu saat di alun-alun kota...


Aku pun tersenyum.... "Kamu tau drama korea yang judulnya Goblin?" tanyaku pada Juna.


"Goblin?" Juna mengingat. "Yang ada malaikat-malaikat mautnya itu, ya?"


Menurut cerita Bunga padaku, Juna itu lumayan sering nonton drakor. Dia bukannya suka atau apa, hanya saja, Bunda Aulia dan Bunga juga seorang pecinta drama korea sepertiku.


Bunga bilang sih, Juna itu sebenarnya penasaran. Sebagus apa toh drama dari Negeri Gingseng itu? Dan dia pun jadi kerap bergabung bersama ibu dan adik perempuannya untuk menonton. Hanya sesekali..., tak sesering itu.


Aku mengangguk tersenyum.


"Kenapa kamu nanyain itu?" tanya Juna penasaran.


"Em..., gimana kalo kita main roleplay?"


"Roleplay?" Juna menautkan alis menatapku.


"Iya, roleplay. Kita main peran," jelasku.

__ADS_1


Juna mengerutkan bibir. "Terus?" Matanya melebar.


Aku tersenyum. "Ya, kita cosplay. Kamu jadi Goblin, aku jadi pengantinnya."


Juna masih menyimak. Aku pun mengambil ponsel dan mulai mencari gambar Gong Yoo dan Kim Go Eun di google.


Di dalam drama korea yang berjudul Goblin itu, Gong Yoo berperan sebagai sosok dokkaebi yang memiliki kehidupan abadi. Dan untuk mengakhiri kehidupan abadinya, Kim Go Eun yang berperan sebagai pengantin Goblin harus mencabut pedang yang masih menancap di tubuh Gong Yoo.


Aku mulai menjelaskan permainan roleplay ini kepada Juna. Dia akan berperan sebagai Kim Shin, seorang goblin. Dan aku, aku akan berperan sebagain Ji Eun Tak, pengantinnya goblin. Maksudku, kami hanya akan memakai style fashion-nya saja.


Siapa yang tak hafal style kece Goblin? Aku menyuruh Juna untuk memakai pakaian serba hitam yang hampir sama persis ketika adegan Goblin dan Ji Eun Tak tak sengaja berpapasan di bawah cuaca gerimis. Itu ada di episode satu, aku masih sangat ingat.


Dan aku akan mengatur penampilanku sendiri. Tokoh Ji Eun Tak sering memakai syal merah rajut yang diberikan oleh mendiang ibunya. Jadi aku harus memakai syal seperti milik Ji Eun Tak.


Sepuluh menit setelah aku berbicara panjang lebar tentang permainan roleplay itu.


"Oke...," Juna mengangguk-angguk. "aku bakalan jadi Goblin, dan kamu jadi pengantinnya," sambungnya.


Senyumku merekah.


"Oh, iya." Aku berceletuk. "Aku mau ada sesi pemotretan spesial. Apa kita perlu sewa fotografer?"


"Kamu tu permintaannya aneh-aneh, ya." Juna tertawa memicingku.


"Nggak gitu.... Ayolah, ini anniv kita yang ke 1 tahun. Nggak pa-pa dong dirayain sespesial itu...," mohonku membujuk rayu Juna.


"Hmmm...." Juna memilin dagu. "Gimana kalo kita manfaatin Bunga aja?" tawarnya melebar senyum juga mata padaku.


"Manfaatin Bunga?"


"Iya." Juna memposisikan duduknya nyaman. "Jadi biar Bunga aja yang fotoin kita. Gimana?"


"Emang dia mau?"


"Hm..., nggak tau juga, sih. Tapi nanti aku coba bujuk dia." Juna tersenyum.


***


"Bulik Susan mana?" tanya Juna menolehku dan Mini.


"Lagi arisan RT orangnya." Jawab Mini.


"Em..., kalo gitu kita berangkat sekarang atau gimana?" Aku tak sabar.


Juna berjalan pelan menghampiriku. Dia menyikukan tangan kanannya menyuruhku mengalungkan tangan menggandeng.


"Ni, gue pinjem sepupu lo dulu, ya," ujar Juna tersenyum nakal pada Mini.


Aku memukul pelan pipi laki-laki itu.


"Pacar udah kayak Goblin gini kok ditampol, sih?" protes Juna padaku. Aku pun menggerutu. Mini dan Bunga tertawa melihat kami.


"Ya udah, sana buruan berangkat. Keburu kemaleman entar," tutur Mini padaku dan Juna.


Aku, Juna, dan Bunga pun berpamitan pada Mini. Kami berjalan bersama menuju mobil putih milik Bunda Aulia. Ah, Juna benar-benar sudah mengeksploitasi mobil itu untuk menunjang kelancaran hubunganku dengannya. Aku jadi tak enak dengan Bunda Aulia.


"Heh, lo berdua!" seru Mini memanggil membuat kami bertiga menoleh ke belakang.


"Ada Bunga tu, jangan macem-macem ya kalian!!!" Mini memperingatkanku dan Juna.

__ADS_1


Juna memicing pada adiknya. Bibirnya nyengir-nyengir kemudian dibalas dengan hal yang sama oleh Bunga. Mereka berdua terlihat sangat menggemaskan. [ ]


__ADS_2