
Pagi hari ini kebahagiaan menyelimutiku. Aku baru saja mendapatkan panggilan kantor soal lamaran pekerjaanku di sana. Dan aku sangat lega, mereka bilang, aku diterima untuk bekerja.
Jadi mulai besok, aku resmi menjadi wanita karier. Aku akan ditempatkan di bagian sekretariat TU di kantor. Aku berjanji akan bekerja keras dengan sungguh-sungguh.
Jika soal gaji, mereka bilang akan memberikan yang sepadan dengan kemampuanku. Dua juta per bulan sudah banyak bagiku, dan itu pasti juga bisa naik. Untuk aku yang hanya membawa embel-embel ijazah sekolah dan nilai-nilai yang lumayan, itu sudah sangat membuatku bersyukur.
Lagi pula, mereka juga menjanjikan reward untuk karyawan teladan. Aku hanya perlu melakukan yang terbaik. Aku pasti bisa, aku yakin.
***
Malam ini aku membaca buku tentang kegiatan seorang TU kantor. Selain aku harus pandai dalam praktek, aku juga harus menguasai materinya dulu dengan baik. Aku tak boleh pongah dan harus ekstra disiplin waktu.
Pekerjaanku tak hanya satu soalnya. Aku juga harus rajin membuat fiksi online untuk tambahan uang. Karena itu semua, aku tak boleh lalai akan kesehatan. Sakit berarti aku sudah membuang banyak waktu yang berharga. Aku harus tetap sehat dan semangat.
Aku masih di meja belajar membaca buku. Lima menit. Sepuluh menit. Aku mendengar Mini memanggil-manggilku. Aku pun bergegas keluar kamar hendak menemuinya.
Arah pintu keluar masuk ruang kamarku dan Mini langsung menyorot ke ruang tamu. “Kenapa, Ni?” tanyaku dengan pandangan menunduk seraya membuka pintu itu, lalu menutupnya kembali sedikit tak acuh.
Begitu aku menoleh pada Mini yang tengah duduk di kursi ruang tamu bersama Haris, aku sontak membeku. Bukan karena mereka, tapi karena seorang laki-laki yang juga duduk di sana, Juna.
“Hai, Sophia,” sapa Juna tersenyum padaku.
Sejak kapan cowok modus itu ke sini? Kalau aku tau Juna datang, aku tak akan keluar kamar melayani panggilan Mini.
“Sophia, ngapain lo berdiri di situ terus? Sini!” suruh Mini padaku.
Aku tertawa aneh. Bodoh sekali mau kelihatan canggung atau apa, timing kali ini memang sudah tak tepat. “Gue lagi sibuk di dalem. Kalian lanjutin aja ngobrolnya.” Aku tersenyum, lalu cepat-cepat kembali ke kamar.
Aku membanting tubuh ke kasur. Aku mengernyit. Tu orang ngapain ke sini, sih? Batinku mulai tak karuan.
Mendadak, Mini menghampiriku. “Phi, lo kenapa, sih? Di luar ada Juna bukannya seneng malah ngumpet di kamar,” ujar Mini dengan suara berbisik.
“Dia ngapain sih ke sini? Lo suruh dia ke sini, ya? Oh…, atau Haris yang bawa dia ke sini?” tanyaku yang juga berbisik mulai menuduh-nuduh.
Aku dan Mini memang sengaja berbicara dengan volume kecil agar dua cowok di luar itu tak mendengar obrolan kami.
Mini mendecak. “Juna sama Haris itu satu angkatan. Mereka juga sama-sama jadi panitia acara First Day Campus waktu itu. Urusan orang lo mana tau sih, Phi. Kalo Juna sama Haris deket atau bahkan temenan kan wajar.”
“Ya, tapi kenapa si Juna ke sini? Emang dia ada urusan gitu sama lo?”
“Ada. Juna, dia senior gue. Dan gue nggak mungkin kan ngelarang dia buat nggak ke sini dengan alasan yang nggak mendasar? Dia ke sini sama Haris mau ngasih contoh proposal buat materi pertama kuliah gue, Phi.”
Aku terdiam sebentar. “Tapi kan yang dateng Haris aja udah cukup,” bantahku.
“Lo kenapa sih kayak gitu ke Juna? Dia baik loh orangnya. Dia bukan orang yang perlu lo hindari. Lo sama Juna kan nggak ada masalah, Phi. Dan sekali lagi, Juna itu senior gue yang harus gue hormati.”
“Gue nggak suka ya sama sikap lo yang kayak gini. Tolong hargai Juna dengan sikap sopan lo. Jangan bikin gue malu, Phi.” Mini tampak marah padaku.
Mini benar. Juna tak melakukan kesalahan padaku. Lalu kenapa aku selalu mencoba menghindarinya? Kenyataan bahwa aku belum pernah bergaul dengan anak laki-laki membuatku bersikap konyol dan pengecut.
Mini berjalan keluar kamar meninggalkanku. Dan sekarang aku harus bagaimana? Masa iya sih aku harus keluar lagi lalu tiba-tiba duduk bersama mereka? Kan itu malah kelihatan awkward.
Tapi aku juga merasa sangat bersalah pada Mini. Masa bodohlah! Walaupun itu akan terlihat aneh, aku harus kembali ke sana untuk memulihkan harga diri Mini.
Aku pun mengumpulkan banyak keberanian untuk menghampiri mereka. Aku membuka pintu kamar pelan, lalu melangkah canggung duduk bergabung bersama Mini, Haris, juga Juna.
“Kenapa liatin gue kayak gitu?” tanyaku sedikit sewot pada tiga orang itu yang membuat suasana tampak ngeri. Oke. Rileks Sophia…, rileks.
“Ya, jadi proposal itu….” Haris mulai melanjutkan study private-nya ke Mini.
Rasanya sekarang aku seperti bulan-bulanan mereka. Dan lagi, Juna yang duduk tepat di arah depanku itu tampak sesekali memperhatikanku. Tentu saja aku risih. Besok adalah hari pertamaku bekerja, tapi sekarang mood-ku mendadak kalut.
***
Sudah pukul setengah delapan malam. Aku sudah duduk hampir satu jam di sana. Sedari tadi aku hanya diam sambil menyimak obrolan mereka. Sesekali Mini melontarkan pertanyaan padaku, namun aku hanya meresponnya dengan anggukan atau gelengan kepala saja.
“Mumpung belum ada jam 8, nih. Gimana kalo kita keluar cari makan?” Tiba-tiba Haris menawari ide buruk. Buruk untukku, tapi sepertinya tidak untuk mereka.
“Gue sih setuju aja, Bro,” ungkap Juna, tapi mendadak menatapku.
Haris dan Mini pun ikut menatapku. Ibarat panahan, aku itu face targetnya. Yang hanya bisa diam menunggu para pemanah melesatkan senjatanya.
“Gimana, Phi? Lo ikut, kan?” tanya Mini tersenyum lebar seakan memaksaku.
“Serah, deh.” Jawabku malas.
Ini si Mini emang nggak peka banget! Gue nggak mungkin kan besok hari pertama ngantor dateng dengan wajah lesu karena capek? Minion…, Minion, kenapa hari ini lo nyiksa gue banget, sih? Aku hanya bisa berprotes di batin.
“Oke, berangkat!!!” seru Haris bersemangat.
Kami berempat pun berpamitan dengan Bulik Susan, lalu menuju halaman depan.
“Phi, lo boncengan sama Kak Juna pake motor gue, ya. Gue sama Haris soalnya,” ujar Mini padaku.
Aku sedikit membelalak. Masa iya aku harus boncengan motor bareng Juna? Terpaksa deh harus begitu. Lagian ini juga mulai malam. Demi keamanan dan keselamatan.
__ADS_1
***
Di perjalanan…
Angin malam menerpa kulitku. Karena rencana yang mendadak, aku lupa memakai jaket. Hawa dingin pun sedikit terasa menyengat.
Mini dan Haris tampak santai berboncengan mendahului kami, aku dan Juna. Mereka sepasang kekasih lama, jadi tak akan merasa canggung sama sekali. Mini juga tampak tak mengenakan jaket. Jika dia kedinginan, tinggal memeluk Haris saja dari belakang dan masalah selesai.
“Sophia,” panggil Juna terus mengendarai motor mio milik Mini itu.
“Hmmm?”
“Lo kenapa sih kok kayak kaku gitu ke gue?”
“Kaku? Gue biasa aja, kok.”
“Gue boleh deket kan sama lo?” tanya Juna membuatku sedikit bingung menjawabnya.
“Ya, terserah lo aja.”
Juna pelan-pelan mulai mengerem menghentikan motornya.
“Kenapa berhenti?” tanyaku terheran.
Laki-laki itu tak menjawab, kemudian turun dari jok depan menghadap ke arahku yang masih duduk di boncengan.
Juna melepas jaketnya, dan memasangkannya padaku. Demi apa? Juna masangin jaketnya ke gue???
“Lo gimana sih malem-malem dingin begini bukannya pake jaket dulu malah keluar cuma pake luaran kaos sesiku. Udah nggak sabar ya buat jalan-jalan malem sama gue?” Lagi-lagi Juna menggodaku dengan senyum nakalnya.
Aku memutar bola mata. “Kalo nggak gara-gara kalian, gue nggak akan mau malem-malem kelayapan kayak gini.”
“Jadi ceritanya lo terpaksa, nih?” Juna menaikkan sebelah alisnya.
Aku mendecak. “Udah, ah. Buruan jalan! Mini sama Haris udah nggak keliatan, tuh.”
“Biarin. Gue emang mau ke tempat yang beda dari mereka,” ungkap Juna membuatku sedikit takut. Ke tempat yang beda?
Juna pun bergegas kembali mengendarai motor Mini.
“Lo mau ajak gue ke mana, sih?” tanyaku pada Juna.
“Ya ke tempat makan, lah.” Jawabnya.
“Awas ya lo kalo macem-macem sama gue! Gue gibeng lo entar!” ancamku.
***
Kami berdua sampai di sebuah warung mi ayam. Jadi Juna mengajakku kulineran mi ayam, nih? Aku sih oke-oke saja.
Juna pun memesan dua porsi mi dan dua gelas es teh. Kemudian kami duduk bersampingan di bangku kayu memanjang yang disediakan di sana.
“Aw, mata gue kelilipan ni. Perih banget,” ungkap Juna tiba-tiba mengerjap-ngerjapkan mata kirinya.
“Sini gue liat,” kataku seraya menolehkan wajah Juna padaku.
Aku pun mulai meniup pelan mata kiri Juna. Lima detik. Mata kami saling beradu. Omaigat!!! Ini jantung gue kenapa deg-deg ser gini???
Juna tiba-tiba tersenyum sangat dekat padaku. “Thank you, Sophia.”
Aku pun mulai menjauh mencoba menutupi salah tingkahku. “Iya, sama-sama.”
Satu menit. Dua menit. HP Juna terdengar berdering. Dia pun segera mengangkatnya.
“Halo, Bro,” sapa Juna pada seseorang di telepon itu.
Aku terus menyimaknya.
“Lo enjoy aja sama Mini. Ini gue sama Sophia udah di warung mi ayam soalnya.”
“Oke, Bro.”
Juna pun menutup telepon itu.
“Siapa? Haris?” tanyaku menebak pada Juna.
Juna hanya tersenyum seraya menekan opsi silent di ponselnya.
“Kenapa di silent?” tanyaku penasaran.
Juna menatapku. “Biar nggak ada yang ganggu.” Jawabnya.
Maksud dia apaan? Biar nggak ada yang ganggu dia berduaan sama gue di sini gitu? Arrrggghhhhh!!! Juna jago banget sih bikin anak orang baper!
“Lo mendingan juga silent HP lo deh!” suruh Juna padaku.
__ADS_1
Aku tersenyum sok imut. “Gue kebetulan nggak bawa HP, tuh.”
Juna terdiam masih menatapku.
Lima menit. Sepuluh menit. Pesanan mi ayam kami pun datang. Aku dan Juna mulai menikmatinya.
“Jadi lo sama Mini kenapa bisa serumah? Haris bilang, kalo kalian itu sepupuan. Emang bener?” tanya Juna padaku.
“Hmmm. Sejak Ayahnya Mini meninggal, gue diajakin Ibunya Mini tinggal bareng. Gue mulai tinggal sama mereka pas kelas 9 SMP.”
“Kenapa lo mau tinggal sama mereka? Emang keluarga lo di mana?”
“Ada. Cuma gue emang pengen tinggal sama Bulik gue aja.” Jawabku ke Juna. Aku tak mungkin menjelaskan semuanya pada Juna. Aku rasa itu tak perlu.
“Lo sendiri gimana?” tanyaku balik ke Juna.
“Lo penasaran, nih? Mau tau?” Juna tersenyum menyeringai padaku.
“Serah lo, deh!”
Juna tertawa kecil. “Gue tinggal sama keluarga gue. Gue punya adik perempuan, ibu, bapak. Gue tinggal sama mereka.”
Aku mengangguk aneh. “Jelas banget ya infonya.”
Juna tersenyum mengedikkan bahu.
Kami pun melanjutkan makan mi ayam itu. Ini momen keduaku makan bareng cowok. Setelah di tempat wisata saat itu, dan sekarang di warung mi ayam ini. Dan bersama orang yang sama pula, Juna Raja Semesta.
“Sekarang lo ngapain? Kerja, kuliah, atau masih sekolah?” Juna bertanya lagi padaku.
“Kerja.” Jawabku singkat.
Juna tersenyum. “Seru, dong.”
Aku membalas dengan senyum kecut mengedikkan bahu.
“Kenapa?” tanya Juna melihatku terheran.
“Nggak pa-pa.” Jawabku.
Selesai makan, kami pun segera pulang. Karena aku juga lupa bawa dompet, Juna jadi harus membayari makananku. Sejak peristiwa di tempat wisata itu, aku jadi berutang banyak ke Juna. Aku merasa sangat tak enak padanya.
***
Di perjalanan pulang…
“Juna, tadi berapa bayar mi ayamnya?”
“Kenapa?” tanya Juna terus mengendarai motor.
“Gue mau ganti duit lo.”
“Nggak usah.”
“Jangan gitulah. Gue jadi nggak enak sama lo.”
“Santai aja kali. Kapan-kapan kan bisa giliran lo yang traktir gue.”
Aku terdiam. Juna, dia laki-laki yang baik, dan sangat langka! Ya, walaupun di luar sana mungkin ada juga laki-laki yang seperti dia, tapi aku beruntung bisa bertemu satu yang seperti Juna.
Sejak di tempat wisata itu, lalu sekarang. Itu membuatku sedikit berharap dengannya. Aku tau itu terlalu ketinggian, tapi cewek mana sih yang tidak suka sama Juna? Dia ganteng dan baik. Walaupun kadang nyebelin dan suka modus, tapi dia kelihatan care dan hangat.
Lima detik. Sepuluh detik. Juna mendadak mengerem tiba-tiba. Aku yang tersentak langsung memeluk laki-laki itu membelalak.
“Tu orang nyebrang nggak liat-liat apa?” Juna terdengar mengkritik seseorang.
Aku masih membeku memeluknya. Juna menoleh padaku. Dia tersenyum. “Pegangan yang kuat, ya.”
Aku cepat-cepat melepas pelukanku. “Lo bisa santai nggak sih bawa motornya?” Aku berprotes.
“Makanya pegangan yang kuat,” ujar Juna seraya menarik kedua tanganku mengalung pada pinggangnya lagi.
Juna mulai mengegas mio Mini pelan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Bulik Susan. Sekarang jantungku berpacu cepat di dalam. Moga aja Juna nggak sadar kalo dada gue debar-debar gini. Aku mengernyit.
***
Aku dan Juna sampai di rumah Bulik Susan. Mini dan Haris tampak menunggu kami di teras depan. Aku yang masih memeluk Juna itu pun cepat-cepat melepas tanganku dari pinggang laki-laki itu.
Sudah hampir jam 9 malam. Juna dan Haris pun berpamit pulang. Mereka pergi berboncengan dengan motor vixion merah milik Haris.
Aku dan Mini menuju kamar. Bentar! Astaga, jaket Juna masih aku pakai?
Aku mendesah, lalu membersihkah diri dan beranjak ke kasur untuk tidur.
“Cie cie..., Sop Hiu. Boncengan sama cogan pake peluk-peluk lagi. Udah jadian, nih?” Mini tersenyum-senyum menggodaku.
__ADS_1
“Udah diem aja deh lo, Minion! Gue capek mau tidur,” ujarku pada Mini, lalu mulai memejam mata. [ ]