
Sehari yang lalu, aku dan Mini baru saja menghadiri acara ulang tahun Lusy. Kami tidak menginap, karena Mini masih banyak tugas kuliah, dan dia juga tak tega membiarkan Bulik Susan di rumah sendirian. Sedangkan aku, pekerjaanku juga menumpuk.
Aku sudah dua kali gajian. Kemarin aku baru bisa memberikan amplop untuk ibu dan ayah. Mereka berdua tampak senang dan terharu. Syukurlah.
Aku hanya bisa membalas mereka dengan sebagian gajiku. Seharusnya aku juga merawat ibu dan ayah, tapi di sana sudah ada Karina dan suaminya, Bimo.
Mungkin nanti saat aku sudah memiliki rumah sendiri, aku akan mengajak ibu dan ayah ke rumahku sesekali. Atau mungkin, ibu dan ayah mau tinggal bersamaku di sana?
Saat ini keadaanku sedikit kurang fit. Akhir-akhir ini aku sering begadang untuk mengejar deadline tulisanku. Dan tanggung jawabku di kantor sudah mulai bertambah-tambah.
Aku tidak tau kenapa Adi akhir-akhir ini juga sering memintaiku bantuan untuk mengerjakan tugasnya. Aku tak bisa menolak karena sungkan.
Dan akhirnya, aku jadi mengerjakan tugas kantor yang belum selesai di rumah. Mengelola data pegawai misalnya. Dan tugasku bukan hanya itu.
Padahal, aku juga ingin ikut kursus menjahit. Apa aku punya waktu untuk itu?
***
Malam minggu, Mini dan Haris sedang pergi kencan berdua. Bulik Susan pasti juga sibuk di kamarnya. Seminggu yang lalu, Bulik Susan baru mendapatkan kenaikan pangkat. Aku turut senang, dan sekarang tanggung jawab Bulik Susan juga sama naiknya.
Aku tengah memandangi ponselku di kasur. Di sana, nomor Juna Raja Semesta tampak seperti mati karena sudah sebulan lebih laki-laki itu tak pernah menghubungiku.
Saat ini aku sedang memikirkan cara untuk bisa bertemu dengan Juna lagi. Apa aku harus menghubunginya dulu dengan mengirimkan pesan whatsapp?
Aku tau hubunganku dan Juna seperti benar-benar kandas. Tapi entah kenapa, rasanya aku masih memiliki sesuatu yang ditinggalkan laki-laki itu. Selain kenangan manis, dan rasa yang masih tertinggal.
"Jaket!" seruku di ruang kamar sepi itu.
"Jaket Juna!" Aku tersenyum.
Aku lupa, aku belum mengembalikan jaket Juna setelah beli mi ayam kala itu. Dan waktu di perpustakaan kota itu,
“Oh, iya. Jaket lo masih sama gue, tuh. Gue lupa balikin waktu itu. Apa besok gue titipin aja ke Mini buat dikasihin ke lo?”
Juna tampak berpikir sebentar. “Lo bawa dulu aja. Nanti kalo gue suruh lo balikin baru lo balikin,” ujarnya.
Aku mengangguk.
Aku membuka lemari bajuku. Di sana, jaket hitam Juna masih terlipat rapi. Aku tersenyum-senyum menatapi jaket eiger itu.
Aku menutup lemari, lalu kembali terjun ke kasur mengambil ponselku. Aku bergegas mewhatsapp Juna.
Sophia : Juna, gue mau ketemu lo sebentar.
Lima menit. Sepuluh menit. Juna juga belum membuka pesanku. Satu detik. Dua detik. Dia mulai mengetik.
Juna : Gue nggak bisa.
Sophia : Jaket lo masih sama gue. Gue cuma mau balikin itu.
Juna : Kapan-kapan aja. Gue nggak bisa ketemu lo sekarang.
Sophia : Pokoknya gue tunggu lo di Jalan Delima! See you....
Juna hanya membaca pesanku. Dia dulu juga sering memaksa. Sekarang giliranku.
Aku berganti baju dan bersiap, kemudian segera memasukkan jaket Juna ke paper bag. Aku berpamit dengan Bulik Susan dan bergegas pergi dengan Fino.
***
Di Jalan Delima...
Sophia : Juna, gue udah sampe Jalan Delima, nih.
Aku sudah menunggu Juna sekitar 15 menit di sana, tapi Juna tak kunjung datang juga. Dia juga tak melihat whatsappku. Aku pun mengiriminya pesan lagi.
Sophia : Juna, lo datang, kan?
Lagi-lagi, Juna tak membaca pesanku.
Aku mulai jenuh. Hari mulai larut, dan jalanan mulai sepi. Aku masih terus duduk berdiri duduk berdiri, tak tenang menunggu kedatangan Juna.
Tling. Sebuah notifikasi pesan membuatku cepat-cepat membukanya.
Juna : Gue nggak bisa dateng, Sophiaaa.
Aku tak percaya Juna hanya mengetik itu. Aku sudah menunggu satu jam lebih di sana. Dan sekarang sudah pukul 9 malam. Aku yakin, Bulik Susan pasti mencemaskanku di rumah.
Sophia : Gue masih di Jalan Delima. Gue bakal tetep di sini sampe lo dateng.
__ADS_1
Juna : Lo balik sekarang! Lo ngapain masih di sana??? Ini udah malem. Bahaya!!!
Sophia : GUE TETEP TUNGGUIN LO!
Lagi-lagi, Juna hanya membaca pesanku.
Sebenarnya aku juga takut. Jalanan sudah benar-benar sepi. Ini kali pertama aku berkeliaran malam-malam sendirian. Tapi demi untuk bertemu Juna, aku harus melawan rasa takut itu.
Aku mulai cemas. Lima menit. Sepuluh menit. Dua laki-laki asing menghampiriku.
"Neng, ngapain malem-malem di sini?" tanya salah seorang laki-laki itu.
Aku tak berani menjawab dan mendadak gelagapan. Aku harap, mereka bukan orang jahat.
"Motornya rusak ya, Neng?" Laki-laki itu bertanya lagi.
"Enggak kok, Mas. Saya lagi nunggu temen." Jawabku sebenarnya sangat gugup dan takut.
Dua laki-laki itu mulai mendekatiku dan Fino. Satu orang mengelus-elus Fino, dan satunya lagi berdiri di samping kananku menatapi tas yang kubawa. Feeling-ku sudah tak beres sekarang.
Aku membeku terdiam dan bersiap siaga jika dua orang itu mendadak macam-macam.
Lima detik. Sepuluh detik. Laki-laki di sampingku mulai menyentuh tanganku. Aku cepat-cepat menampiknya.
Dia terkekeh. "Neng, malem-malem gini enaknya bobo di rumah. Ngapain mangkal di sini nungguin temen? Gimana kalo ditemenin aja sama Abang?"
"Jangan macem-macem, ya!!!" Aku hanya bisa mengeluarkan kata-kata itu. Jalanan sudah sangat sepi. Padahal jalanan itu tampak terang dan romantis saat petang. Tapi, aku tidak tau jika jalanan itu bisa sebahaya ini saat malam.
Aku cepat-cepat menaiki Fino hendak kabur. Namun saat aku mulai melangkah naik, dua laki-laki itu menahan dan mendorongku.
Aku tersungkur. Dua keparat itu tertawa. Jantungku berdetak hebat tak karuan. Napasku mulai memburu ketakutan.
Salah seorang laki-laki itu mencengkeram rahangku. Aku bergegas menamparnya keras kemudian mendorong.
Aku berdiri hendak lari. Tapi, salah seorang dari mereka menikam membingkam mulutku dari belakang. Aku memberontak sekuat mungkin.
Jika mereka menginginkan Fino atau uangku, aku akan memberikannya. Tapi jika mereka kurang ajar padaku, aku tak bisa membiarkan itu. Tapi aku, aku juga tak mampu melawan tenaga dua pria itu.
Mereka bersikeras menarik-narikku. Aku juga masih bersikeras memberontak menyelamatkan diri.
Tiiinnnnn..., tinnn...., tiiiiinnnnn...!!! Klakson motor terdengar nyaring menghampiri kami. Dua orang keparat itu langsung kabur tunggang-langgang.
"Sophia, gue udah bilang kan sama lo buat balik. Kenapa lo masih tetep ngeyel buat di sini nungguin gue? Lo hampir kenapa-napa gara-gara lo keras kepala!" Juna memarahiku setelah turun dari motornya.
Aku menatap kecewa laki-laki itu yang berdiri sekitar satu meter dariku. Air mataku mulai mengalir. Aku melempar paper bag berisi jaket eiger hitam itu ke Juna.
"Gue cuma mau balikin itu!" Aku terisak. "Gue cuma mau ketemu lo! Gue cuma mau minta maaf sama lo!" seruku semakin terisak.
Juna menatapku tajam. "Kenapa lo mau ketemu gue? Kenapa lo mau minta maaf sama gue?" Juna tampak marah di sana. "Kenapa?" Dia memekik.
Aku yang masih syok dengan kejadian tadi, sekarang bertambah takut dengan pekikan Juna. Dadaku terasa perih sekali.
"Lo sendiri kan yang bilang supaya gue nggak suka sama lo. Dan sekarang kenapa lo kayak gini?" Juna memekik lagi.
Tanganku mulai bergemetar. Aku tak mampu menjawab. Napasku tersengal-sengal tak beraturan.
"Kenapa lo diem aja?" Juna melangkah pelan menghampiriku sembari masih membawa paper bag putih yang kulemparkan padanya tadi. Juna berdiri tepat di depanku sedikit dekat. "Kenapa lo diem?" Lagi dan lagi, Juna memekik.
Suara itu membuatku semakin terpojok. Aku ketakutan menatap wajah Juna yang menggarang. Bahkan ketakutan itu membuat air mataku terhenti sendiri. Tapi napasku, itu terus memburu tak beraturan.
"Cuma gara-gara ni jaket, lo rela ke sini malem-malem dan ketemu sama dua bajingan tadi?" tanya Juna mengangkat paper bag di tangannya tepat di depan mukaku.
"Gue cuma mau ketemu lo!" Aku menjawab berteriak.
"Kenapa?" sahut Juna berteriak lebih kencang.
Sudut-sudut mataku mulai basah lagi. Aku mengepal tanganku yang bergemetar. Aku tak tau kenapa aku sangat takut dengan amarah Juna. Bentakan itu terdengar seperti kebencian untukku.
"Lihat gue," suruh Juna padaku mulai memelankan suaranya. Teriakan Juna tadi membuatku takut menatapnya. "Lihat gue, Sophia!"
Juna menjatuhkan paper bag itu dari tangannya, lalu meraih wajahku. "Sophia, lihat gue," suruh Juna menangkup wajahku.
Aku hanya memejam mencoba mengatur napasku. Satu detik. Dua detik. Aku memberanikan diri menatap Juna.
Juna melepas tangkupannya dari wajahku. Dia menatapku dalam. "Kenapa lo mau ketemu gue?"
Aku menelan ludah gugup. "Gue cuma mau ketemu lo." Jawabku.
"Ya, kenapa lo cuma mau ketemu gue???"
__ADS_1
"Ya karena gue nggak mau kehilangan lo!!!" Aku memekik pada Juna.
Napasku memburu lagi. Juna seharusnya menenangkanku karena kejadian tadi. Tapi sekarang, dia malah terus menginterogasiku memperkeruh keadaan.
Juna terus menatapku. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Juna tiba-tiba mencium bibirku. Dia memagut kasar seolah juga tak ingin kehilanganku.
Aku melebarkan mata. Untuk apa Juna melakukan itu setelah meneriakiku? Aku mencoba mendorong Juna. Tapi saat aku berusaha melakukannya, Juna semakin mendorongku masuk ke dalam tindakannya.
Juna semakin menekan tengkuk dan pinggangku. Jantungku terus bedebaran di dalam. Apa yang kami lakukan di jalanan sepi ini? Aku hanya bisa memejam pasrah menunggu Juna menyudahinya.
***
Aku dan Juna duduk bersama di pinggir jalanan itu. Kali ini Juna menyuruhku menenangkan diri sembari mengelus-elus punggungku.
"Jangan lakuin hal gila kayak gini lagi. Gue dulu pernah bilang kan, bawa aja jaket itu, lo bisa balikin kalo gue udah nyuruh lo buat balikin," ucap Juna padaku.
Aku yang sedari tadi menunduk mulai menoleh pada Juna. "Terus kapan? Kapan lo nyuruh gue buat balikin jaket itu?"
Juna terdiam.
"Gue nggak yakin. Lo pasti nggak bakalan nyuruh gue balikin jaket itu karena-" Aku memotong kalimatku sendiri.
Kami masih saling menatap.
"Karena gue beneran sayang sama lo, gue takut lo kenapa-napa, makanya gue ke sini," ungkap Juna tiba-tiba.
Juna terus menatapku. "Sophia, gue suka, gue cinta, gue sayang sama lo."
"Gue juga. Gue nggak mau kehilangan lo, Juna. Gue minta maaf karena perkataan gue waktu di kafe itu."
Juna tersenyum. "Nggak pa-pa. Gue ngerti kok kenapa lo kayak gitu."
Aku ikut tersenyum. "Makasih, Juna."
Juna pun memelukku. "Lo tau kenapa gue nggak bisa ketemu lo tadi? Karena gue ada acara keluarga. Ibu gue ulang tahun, dan gue harus ada di sana. Tapi pas gue berani bilang kalo lo masih nungguin gue di sini, Bunda nyuruh gue buat susulin lo," jelas Juna masih memelukku. "Untung gue nggak telat."
Aku hanya diam merasa tak enak dengan Juna juga keluarganya.
Pelukan Juna membuatku sangat lega. Rasa hangat dan nyaman itu membayar semuanya. Sekarang aku yakin, aku telah memilih laki-laki yang tepat.
Juna menyudahi pelukannya. "Jadi sekarang kita pacaran, nih?" Juna, senyum nakalnya kambuh lagi.
"Jadi lo ngajak gue pacaran, nih?" godaku balas.
Juna tertawa mengusap-usap puncak kepalaku. Perlakuan manis itu, selalu sukses membuat dadaku berdesir-desir.
***
Sudah pukul 10 malam lebih. Bulik Susan dan Mini sudah mengirimiku banyak pesan, tapi aku baru membacanya. Mereka pasti sangat khawatir.
Juna pun mengantarku pulang dengan mengikuti Fino dari belakang bersama motor trail kawasaki hitamnya.
Sesampai di rumah, Juna meminta maaf pada Bulik Susan karena memulangkanku sangat larut. Aku tak menyuruh Juna melakukan itu, namun dia berinisiatif. Aku juga tak menyalahkannya, karena ini sebenarnya salahku.
Bulik Susan tampak sedikit marah, tapi dia kelihatannya juga sangat mempercayai Juna. Sejak awal, Bulik Susan memang sudah seperti menyetujui hubungan kami.
Juna berpamit. Aku, Mini, dan Bulik Susan mulai menuju kamar masing-masing.
***
Di dalam kamar bersama Mini...
"Untung lo nggak kenapa-napa, Phi. Tapi selamet, ya." Mini tersenyum menatapku.
Aku menceritakan semuanya pada Mini, kecuali adegan ciuman tadi. Aku harus tutup mulut kalau soal itu.
Aku tersenyum-senyum menutupi wajahku.
"Cie cie..., lovebird." Mini terbahak.
"Apaan, sih." Wajahku tersipu.
"Azekkk..., seorang Sophia sekarang sudah memiliki tambatan hatinya, Juna Raja Semestahhh...."
Aku memukul Mini dengan guling yang kupeluk. Dia terus tertawa sampai Bulik Susan meneriaki kami untuk diam dari ruang kamarnya.
Hari ini aku dan Juna resmi menjalin hubungan. Aku pikir ini seperti mimpi. Aku seorang Sophia yang sudah lama menyendiri yang terbelenggu dengan status bujang, sekarang punya kekasih yang seperti Juna Raja Semesta. Cowok keren nan tampan yang dipuji-puji orang-orang sekampusnya.
Aku pernah berpikir jika ini tak pantas. Tapi karena Juna membuatku yakin akan perasaannya, hubungan ini terasa benar untuk dijalani dan dipertahankan.
__ADS_1
Aku berjanji untuk selalu melindungi hubungan kami. Karena aku masih memegang prinsipku, untuk terus bersama dengan satu laki-laki yang memang sudah kupilih. Dan Juna, dia adalah laki-laki yang tepat untukku. [ ]