Stunning My Life

Stunning My Life
Ulat ke Kupu-Kupu


__ADS_3

Aku berencana menginap di kampung halamanku selama seminggu. Aku berangkat hari Senin, dua hari lalu, dan aku akan balik ke rumah Bulik Susan hari Minggu pagi.


Malam ini aku tengah tiduran sembari bermain ponsel di kamar. Sebenarnya tak ada yang menarik di smartphone-ku itu. Aku hanya menyimpan sekitar dua puluh kontak teman. Dan di antaranya, kontak Mini adalah yang paling sering kuhubungi.


Mini : Lagi ngapain lo, Sop Hiu?


Sophia : Biasa, lagi ngehalu. He he.


Mini : Makanya dong cari pacar biar nggak halu terus!!! Nggak bosen apa udah 18 tahun lebih masih single aja???


Sophia : Komen aja lo!


Mini : Bodo!!!


Mini : Phi?


Sophia : Hmmm?


Mini : Hari Senin lo udah balik, kan?


Sophia : Gue sih rencana Minggu pagi udah OTW.


Mini : Sip!!! Pokoknya hari Senin lo harus temenin ibu gue ke kampus.


Sophia : Why??? Ngapain, Ni?


Mini : Hari Senin gue udah mulai kuliah, Phi. Dan katanya sih sanak saudara boleh dateng buat perayaan First Day Campus gitu. Gue nggak mau tau! Pokoknya lo harus dateng sama Ibu! Titik.


Aku tersenyum membaca pesan whatsapp dari Mini itu. Tapi tunggu dulu! Mini kan kuliah di tempat yang sama kayak si Haris. Dan Haris, dia sekampus sama si Juna Raja Semesta. So…, kalo gue dateng ke sana sama Bulik Susan, berarti gue ada kesempatan bakalan ketemu sama Juna, dong???


Mendadak, aku heboh mengguling-gulingkan tubuh ke kasur. Demi apa? Jadi, aku bisa bertemu dengan laki-laki itu lagi?


Sophia : Jadi beneran nih lo mau gue dateng?


Mini : Iya. Kenapa? Lo keberatan?


Aduh Mini..., ya enggaklah…!!! Batinku menjawab.


Sophia : Enggak, kok. Oke, gue bakalan dateng nemenin ibu lo. Cheer up!!!


Mini : Mantul!!!


Lima detik. Sepuluh detik. Aku mendengar ibu memanggil-manggilku dari ruang TV. Aku pun segera menghampirinya.


“Ada apa, Bu?” tanyaku pada ibu yang tengah menonton sinetron komedi Dunia Terbalik. Dan sepertinya, ibu penggemar beratnya Aceng. Aku melihat ibu tersenyum-senyum konyol pada tokoh itu di televisi. Aku hanya bisa menggeleng.


“Tolong beliin Ibu minyak kayu putih di warungnya Mbak Aning, ya.”


“Emang Mbak Aning punya warung sekarang?”


“Punya. Buruan gih! Ibu kayaknya masuk angin ni,” ungkap ibu padaku.


“Mau aku kerokin?”


“Nggak usah. Beliin minyak kayu putih aja, udah abis soalnya stok Ibu.”


“Iya, Bu.”


Ibu memberiku selembar uang sepuluh ribu.

__ADS_1


Aku pun masuk ke kamar sebentar, lalu bergegas menuju warung Mbak Aning. Entah sejak kapan tenggaku yang julid itu mulai berjualan. Demi ibu, jadi aku harus pergi ke warung Mbak Aning yang dibangun di depan rumahnya, kata ibu sih begitu.


Aku berjalan sembari mengamati lingkungan di sana. Sudah lama sekali. Aku juga merasa asing dengan bangunan-bangunan baru. Beberapa orang yang berlalu lalang juga aku tak banyak mengenalnya.


Lima menit. Aku sampai di warung Mbak Aning. Astaga, aku kira itu sebuah toko kecil yang menjual jajanan ringan dan keperluan rumah tangga yang sederhana. Tapi ternyata lebih daripada itu. Maksudku, di sana ramai sekali.


Ternyata warung Mbak Aning adalah tempat nongkrong cowok-cowok perokok di lingkungan sini. Tampaknya Mbak Aning membuka bisnis warkop kecil-kecilan.


Aku pun ragu-ragu berjalan ke warung itu. Aku sekelebat melihat dan mendengar beberapa cowok bersiul-siul menatapku. Tapi aku berusaha tak menggubrisnya.


“Permisi, Mbak Aning…,” panggilku pada wanita berambut bob itu.


“Eh, Sophia. Ya ampun…, aku sampe pangling, loh,” ungkap Mbak Aning padaku.


Aku hanya meresponnya dengan senyum. “Mbak, aku mau beli minyak kayu putihnya, dong.”


Mbak Aning pun segera melayaniku. “12 ribu,” katanya tersenyum sembari menyodorkan sebotol kecil minyak kayu putih.


Untung saja aku tadi sempat bawa dompet. Ibu cuma memberiku ceban, dan kalau kurang kan yang malu aku. Aku pun membayar pas ke Mbak Aning, kemudian berniat pergi.


“Eh, bentar-bentar,” ucap seseorang seperti menahanku. Aku pun menoleh pada sumber suara itu.


Roni??? Aku pun memperhatikan cepat wajah anak-anak cowok di sana. Roni and The Geng, mereka semua masih harmonis? Sumpah?


“Lo Sophia? Sophia yang sering gue bully itu?” tanya Roni padaku seperti memastikan.


Aku hanya diam.


Roni terkekeh. “Kok, lo sekarang cantik, sih? Pacaran sama gue gimana?”


Dia gila atau apa? Ya pasti aku bakalan jawab never, lah!!!


“Pepet terus, Ron. Jangan kasih kendor.”


“Abang juga mau kok, Neng.”


Teman-teman Roni tampak berseru. Iya mereka mau, tapi akunya yang ogah!!! Daripada aku terus di sana jadi bahan godaan cowok-cowok persetan itu, lebih baik aku segera pulang.


Aku tersenyum menunduk tipis pada Mbak Aning, kemudian melangkah pergi meninggalkan warung itu.


***


Aku tiba di rumah dan segera memberikan minyak kayu putih kepada ibu yang masih duduk di depan televisi.


“Loh…, kok ibu udah ada minyak kayu putih, sih???” tanyaku yang sebenarnya berprotes melihat ibu yang masih tersenyum-senyum konyol menatap Aceng di TV dan tampak membalurkan minyak kayu putih ke perutnya.


“Oh, iya ini Karina masih punya stok.” Jawab ibu tak acuh masih memperhatikan si Aceng.


Aku ternganga. Percuma dong gue ke tokonya Mbak Aning tadi? Mana ketemu Roni and The Geng lagi. Udah, ah! Gue ngambek aja.


Aku pun menaruh minyak kayu putih yang barusan kubeli ke atas televisi yang masih menyala, lalu bergegas masuk ke kamarku tanpa menghiraukan ibu.


***


Aku mencoba memejam mata di tempat tidur, tapi tak bisa. Rasanya sulit sekali untuk tertidur, aku terus mengingat kejadian di warung Mbak Aning tadi.


Benar kata Juna waktu kami berjalan kembali ke tempat wisata kala itu.


“Pas udah jadi kupu-kupu aja dikejar-kejar, tapi pas masih jadi ulet (Juna menunjuk wajahku tepat pada kata ‘ulet’ sambil menekan nada suaranya) ampe segitu jijiknya!”

__ADS_1


Dulu Roni and The Geng selalu aktif mengolok dan merundungku. Dulu, saat aku masih menjadi ulat yang menjijikkan. Tapi sekarang, saat aku sudah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih baik lagi untuk dipandang, mereka bisa-bisanya menggodaku seperti itu.


Aku mendesah panjang, kemudian bergegas mengambil ponsel di atas laci. Aku melihat dua pesan chat dari Mini. Aku pun membukanya.


Mini : Sophia…!!! Gue gabut ni nggak ada lo.


Mini : Mana Haris udah bobo lagi. Hu hu.


Sophia : Sabar ya, Beb. Udah bobo aja kalo gitu.


Mini : Gue rindu lo!!!!!


Sophia : Rindu gue apa Haris?


Mini : Haris nomor 1, lo nomor 2.


Sophia : Rese lo!!!


Mini : He he he….


Sophia : Gue juga nggak bisa tidur, nih.


Mini : Kasian sepupu bulukku…, sini aku peluk online.


Sophia : Nggak, ah. Lo bau!


Mini : Ya udah, deh….


Mini : Phi, lo belum cerita panjang lebar ke gue soal si mas-mas ganteng itu, loh….


Sophia : Mas-mas ganteng yang mana?


Mini : Yang di tempat wisata itu. Pas di parkiran.


Sophia : Oh, si Juna?


Sophia : Dia ngeselin tau!!!


Mini : Ngeselin gimana? Jelas-jelas orang ganteng kayak gitu. Dia mirip Jung Hae In nggak, sih?


Sophia : Jung Hae In? Lu rabun? Mirip dari mananya woi???


Mini : Kalo menurut gue sih mirip-mirip dikit.


Sophia : Not Hae In!!!


Mini : Serah lo deh.


Chatting sebentar dengan Mini membuatku mulai mengantuk.


Sophia : Gue udah ngantuk mau bobo.


Sophia : Good night, Minion….


Mini : Good night. Jangan lupa mimpiin gue....


Aku tersenyum.


Sophia : Iya, gue bakalan mimpiin lo jadi kecebong di selokan depan rumah gue.

__ADS_1


Mini : Asem lo!!!


Aku tersenyum lagi. Hari ini pun aku harap telah menjalani hidup dengan baik. Pelan-pelan, aku mulai terlelap. [ ]


__ADS_2