Stunning My Life

Stunning My Life
Seru-Seruan


__ADS_3

"Hai," sapaku lantang memanggil melambai tangan pada seorang gadis yang baru saja keluar dari pintu gerbang sekolahnya.


Gadis itu tersenyum terus berjalan ke arahku. "Kak Sophia udah nunggu lama, ya?" tanya Bunga seraya memakai helm yang baru saja kutodongkan padanya.


Hari ini aku menjemput gadis SMA itu. Ya, Bunga sudah SMA. Aku tadi sedang mampir di De Boutique. Biasa, urusan pekerjaan.


Sudah jam tiga sore, Bunda Aulia harus menjemput Bunga di sekolah. Aku lihat ibunya Juna tampak kelelahan hari ini. Pekerjaannya masih banyak, dia sangat sibuk. Dan aku pun akhirnya menawarkan diri untuk menjemput calon adik iparku itu. Tentu, aku diizinkan.


"Enggak, kok." Jawabku tersenyum.


"Kak, kita jajan dulu, yuk," ajak Bunga seraya naik ke boncengan motorku.


"Jajan ke mana?"


"Aku lagi ngidam pempek di perempatan Jalan Jawa, nih...."


"Oke, let's go!" seruku terus mengegas Fino pergi.


Aku dan Bunga pun membeli tiga bungkus pempek, panganan khas daerah Palembang. Setelah itu, aku langsung mengantar Bunga pulang.


***


Di rumah Juna...


"Saram deureun da aesseo utji... jinshireul sumgin chae geujeo haengboghan geot cheoreom...."


"Sarangiran mal sog garyeojin geojiseul sumgin chae machi yeongwon hal geot cheoreom...."


Aku dan Bunga berkaraoke. Salah satu hobi adiknya Juna itu adalah bernyanyi. Di ruang keluarga disediakan perangkat lengkap seperti TV LED 50 inch, DVD player, speaker, dan alat-alat portabel lainnya, semacam mik.


Lagu pertama Black dari G-Dragon feat Jennie Blackpink selesai kami nyanyikan. Karaoke berlanjut. Sesekali aku dan Bunga tertawa-tawa, menari-nari, berjingkrak-jingkrak.


"Oppa gangnam style!" Aku dan Bunga menyeru. Siapa yang tak terhipnotis dengan lagu Gangnam Style milik Psy? Musiknya menyenangkan sekali untuk berjoget.


"Maybe it's like a dream. I see the stars over me."


"Maybe it's like a magic. I know you, you, you're my star."


Lagu ketiga Stars Over Me dari Bolbbalgan4. Sangat seru bisa mengkover lagu itu. Walaupun suaraku tak sebagus Ahn Ji Young, tapi Bunga bisa menyanyikannya tak kalah merdu dari suara Taylor Swift.


Lanjut! Lagu Power dari EXO tak luput kami nyanyikan seraya nge-dance sedikit. Lagu kelima, Energetic dari Wanna One. Dan lagi, sambil nge-dance sedikit.


Aku dan Bunga mulai tepar. Kami berdua menyandar pada sofa di ruangan itu dengan dada kembang kempis.


"Udah ya, Bunga. Kakak capek," ungkapku pada Bunga kehabisan tenaga.


"Iyah, Kah. Akuh jugah capeh," timpal Bunga terdengar lebih loyo dariku. Setiap katanya sampai berakhiran h semua.


Satu menit. Dua menit. Aku dan Bunga selesai berdiam diri memulihkan tenaga mengeringkan keringat.


"Kak, main di kamarku, yuk," ajak Bunga tersenyum lebar.


"Main apa lagi?" tanyaku berakting lelah tak bertenaga.


"Ayo, Kak...!" Bunga menarik-narik tanganku memaksa.


***


Di kamar Bunga...


Dengan berkostumkan onesie unicorn warna pastel, aku dan Bunga bermain cat akrilik warna-warni melukis sesuatu pada kanvas.


Bunga punya banyak perlengkapan seni. Dan hobi lain dari gadis itu selain bernyanyi adalah menggambar. Aku sendiri juga suka menggambar.


Aku menyapu lembut kuas hitam pada permukaan kanvas. Beberapa hari lalu aku melihat video DIY cara melukis awan akrilik. Aku ingin mencoba itu.


"Wah...," celetukku terkagum pada hasil karya Bunga.


Gadis itu melempar senyum ke arahku, kemudian menyibuk lagi dengan kuas cat ditangannya. Bunga pun menyelesaikan lukisannya.

__ADS_1


"Waw, kamu bener-bener pro!" seruku mengacungkan jempol pada Bunga.


Tadi, aku sesekali memperhatikan Bunga tampak mencorat-coret asal kanvas persegi di depannya dengan cat. Aku tak terbayang jika hasilnya begitu cantik.


Bunga berhasil membuat serumpun kembang warna-warni. Batang-batang hijau memanjang. Bunga-bunga kuncup tanpa daun.


Di sela-sela bagian yang kosong, Bunga membubuhi totol-totol putih sedikit transparan. Itu mirip seperti dandelion yang ditiup. Bunga juga tampak memberi tulisan BRS kecil pada pojok kanan bawah kanvas itu. Mungkin itu tanda tangannya.


Aku mengedarkan pandang ke penjuru kamar Bunga. Tentu, pertama masuk ke ruangan itu aku sudah melakukannya. Dan sekarang, aku melakukannya lagi.


Lukisan-lukisan warna-warni dipajang rapi menghiasi dinding ruangan khusus gadis itu. Bunga, sepertinya dia hobi menggambar bunga.


"Kamu suka ya gambar nama kamu sendiri?" tanyaku pada Bunga menatapnya.


Bunga tersenyum. "Iya, aku suka gambar namaku sendiri." Bunga menatap lukisan barunya. Matanya seperti menerawang jauh. Aku melihat gadis itu memimpikan sesuatu.


"Aku pengen ke Keukenhof Garden." Bunga menolehku tersenyum. "Kak Sophia tau, di sana ada 7 juta bunga yang ditanam." Bunga mendesah panjang. "Aku pengen lihat tulip warna-warni di sana. Pasti cantik banget."


"Ya..., Kakak doain semoga kamu bisa ke sana lihat temen-temen kamu," ujarku tersenyum pada Bunga.


Bunga tertawa kecil.


Lima menit. Sepuluh menit. Aku dan Bunga menonton video-video youtube berbaring di ranjang empuk gadis itu. Kami masih berkostumkan onesie unicorn.


"Bunga, Kakak haus. Boleh minta minum?"


"Ya ampun, Kak.... Ambil aja langsung di dapur. Kayak di rumah siapa aja."


"Oke." Aku tersenyum pada Bunga, kemudian beranjak berdiri.


"Eh, Kak," panggil Bunga menghentikan langkahku tepat di ambang pintu. Gadis itu tampak menatap ponselnya membaca suatu pesan whatsapp. "Aku ke rumah temenku bentar, ya. Mau ambil buku."


"Oke. Mau Kakak anterin?" tawarku.


"Nggak usah, Kak. Cuma di RT sebelah kok rumahnya." Bunga menolak.


Aku mengangguk.


"Aku boleh pinjem motor Kakak nggak?" tanya Bunga padaku.


"Iya, boleh. Kuncinya masih nancep di sana, kok."


Bunga tersenyum padaku. "Aku tinggal bentar ya, Kak," pamitnya padaku kemudian berlari pergi.


"Hati-hati, Bunga!!!" Aku memekik pada Bunga yang terlihat begitu bersemangat ke rumah temannya.


"Iya...!!!" seru Bunga terdengar nyaring.


***


Aku mengambil sebuah gelas mengisi air ke dalamnya. Aku duduk di kursi meja makan ruangan itu. Pelan-pelan, aku meneguk air menghabiskannya. Ah..., lega sekali.


Aku melirik jam di tangan kiriku. Sudah pukul empat lebih, tapi Juna belum juga pulang. Padahal aku mampir ke rumahnya berniat untuk segera bertemu dengan laki-laki itu. Aku kangen.


Aku beranjak membawa gelas yang baru saja kupakai mencucinya di wastafel dapur itu. Lima detik. "Bunga, buatin Kakak nasi goreng, dong." Tiba-tiba suara perintah terdengar familier menembus kedua telingaku.


Aku menoleh. Juna, laki-laki itu duduk terbengong menatapku. Aku melebar mata. Astaga, Juna duduk di kursi meja makan menghadap ke arahku dengan..., dengan badan tanpa kaus.


Juna berdiri. Aku semakin memelotot. "Kamu di sini? Kok, pakai...???" tanya Juna tampak bingung hendak berjalan menghampiriku.


"Stop!" seruku pada Juna menyuruhnya berhenti.


"Kenapa?" Juna terheran.


Aku memaling muka enggan menatap Juna lagi. "Jangan deket-deket sama aku. Sana pake baju dulu!!!"


"I-iya." Jawab Juna terdengar kikuk. Dia pun pergi.


Aku memegang dada menghela napas lega. Yang benar saja si Juna. Dia hanya memakai kolor pendek dengan badan telanjang. Roti sobek-sobek itu terlihat jelas sekali. Oh My God!

__ADS_1


Sepuluh detik. Juna kembali dengan memakai kaus. Kenapa celana kolor itu tidak diganti juga???


Juna menghampiriku yang masih bersandar mematung di pinggir wastafel.


"Kamu kok di sini? Dan ini kenapa kamu pake baju badutnya si Bunga?" Juna bertanya padaku.


"Baju badut kamu bilang? Lha wong kostum lucu kayak gini juga. Aku tadi tu jemput Bunga pulang sekolah...." Jawabku. Juna menganjurkan bibir. "Kamu laper, ya?" sambungku bertanya menatap Juna.


Laki-laki itu mengangguk polos. Dia imut. Aku pun tersenyum. "Tadi aku beliin kamu pempek, loh."


"Oh, ya?" Juna celingukan. Sekarang dia seperti beruang besar yang kelaparan.


Aku pun mengambil mangkuk, menuang pempek ke dalamnya, dan memberikannya pada Juna.


"Kalo belum kenyang aku bisa buatin kamu nasi goreng. Mau?" tawarku pada Juna.


Juna menggeleng seraya terus melahap pempek itu. Aku tadi kan membeli tiga bungkus. Dua bungkus sudah kumakan bersama Bunga, dan satu bungkus lagi sedang di makan Juna saat ini.


"Bunga ke mana?" tanya Juna padaku.


"Katanya sih ambil buku sebentar di rumah temennya."


Juna mengangguk. Aku terus memperhatikan laki-laki itu yang menyantap pempek asam pedas dengan lahapnya.


"Aaa...." Juna menyodorkan sendok ke depan mulutku.


"Aku udah makan kok tadi. Buat kamu aja." Aku menolak suapan Juna.


"Kamu, ah. Nggak romantis." Juna menggerutu.


Aku tertawa kecil. "Iya-iya. Oke, aku mau," ujarku, kemudian membuka mulut menunggu suapan dari Juna.


Juna pun menyuapiku sesendok pempek itu.


Juna tersenyum. "Enak?"


Aku mengangguk-angguk mengiyakan. Juna masih memperhatikanku mengunyah makanan itu. Lima detik. Juna meraih tengkuk memagut bibirku.


Aku terkesiap. Pelan-pelan Juna mendorongku menyandar pada punggung kursi. Ciumannya lembut tapi semakin dalam. Aku tak melawan.


"Assalamu'alaikum." Sebuah salam membuatku dan Juna menghentikan adegan itu dengan salah tingkah masing-masing.


Tak selang beberapa lama Bunga datang menghampiri kami.


"Kenapa nih pada diem?" tanya Bunga menolehku dan Juna tampak terheran.


Juna mendecak menatap malas adiknya. "Ganggu aja. Orang lagi seru-seruan juga."


Aku melebar mata. Lalu mengerjap cepat-cepat. Terkutuk kau wahai calon suamiku!!! Lagi seru-seruan apanya???


Selang beberapa menit, aku pun pamit pulang. Hari sudah sangat sore.


***


Di halaman depan rumah Juna...


Aku bersiap menaiki Fino hendak pulang.


"Kak Sophia hati-hati, ya," tutur Bunga padaku.


"Iya." Balasku tersenyum.


Juna menoleh pada Bunga yang berdiri di samping kanannya. "Udah sana ke masuk," suruhnya memerintah.


Bunga menyengir, kemudian berjalan pergi meninggalkan kami berdua.


"Kamu serius nggak mau aku anterin?"


"Serius, Juna.... Ini masih sore, masih aman." Jawabku.

__ADS_1


Juna meraih helm yang masih kupegang. Dia memasangkan helm itu ke kepalaku. Juna tersenyum. "Hati-hati. WA aku kalo udah nyampe rumah."


"Siap, Komandan!" seruku menghormat pada Juna. Laki-laki itu tertawa kecil. [ ]


__ADS_2