Stunning My Life

Stunning My Life
Saran Bunda Aulia


__ADS_3

Hari ini aku berjanji temu dengan Bunda Aulia di butiknya. Entah mulai kapan, sejak aku dan Bunda Aulia dekat, para pegawai De Boutique terlihat mengenalku dengan baik. Mereka bersikap sangat ramah dan menyapaku riang.


Aku mengetuk ruangan Bunda Aulia, kemudian masuk setelah mendengar perintah wanita itu.


"Pagi, Bunda," sapaku tersenyum.


Bunda Aulia menyambutku ramah dengan pelukan juga senyum cantiknya. Aku pun dipersilakan duduk dan dilayani sebaik mungkin seperti biasa.


Aku sudah lama tak bertemu Bunda Aulia karena kami sama-sama sibuknya. Tapi ibunya Juna itu, dia tak berubah sama sekali. Dia masih suka menyanjungku juga menyayangiku sebagai kekasih putranya.


Kami saling bertukar kabar juga mengobrol ringan. Lima menit. Sepuluh menit. Bunda Aulia mulai membicarakan sesuatu yang serius.


"Sophia, Bunda sebelumnya mau minta maaf sekali sama kamu," ujar Bunda Aulia membuatku bingung.


"Minta maaf untuk apa, Bunda?" tanyaku.


Bunda Aulia terus menatapku diam. Kemudian, dia mengajakku ke sebuah ruangan berisi stok-stok pakaian. Sepertinya itu gudang butik.


Bunda Aulia menunjukkan beberapa baju yang digantung berplastik di ruangan terang di sana. Kelihatannya, itu semua baju-baju anyar yang baru jadi.


Aku mengamati baju-baju itu. Aku sedikit terkejut ketika sadar jika model desainnya adalah beberapa dari hasil gambaranku yang kutunjukkan ke Bunda Aulia beberapa waktu lalu.


"Sophia, Bunda minta maaf karena nggak kasih tau kamu soal baju-baju ini," celetuk Bunda Aulia.


Aku masih menyimak wanitanya.


"Desain baju buatanmu waktu itu kan masih sama Bunda. Akhir-akhir ini pelanggan minta model pakaian baru. Dan Bunda ada ide buat nunjukkin karya kamu ke mereka."


Bunda Aulia meraih kedua tanganku memegangnya. Dia tersenyum memohon. "Sophia, apa kamu mau kerja sama bareng saya? Kamu punya potensi untuk mendesai pakaian. Sangat disayangkan jika kamu nggak memanfaatkan itu."


"Baju-baju ini akan masuk ke produk De Boutique," kata Bunda Aulia seraya menatapi pakaian berplastik yang digantung itu, kemudian menoleh menatapku lagi. "Tapi saya akan mempromosikannya sebagai Sophia's Design," tukasnya tersenyum padaku.


Aku terdiam sebentar menatap Bunda Aulia. "Bunda serius? Sophia sih nggak keberatan kalo Bunda mau pakai desain Sophia. Tapi kalo Bunda juga mau promosiin karya Sophia, rasanya kayak nggak enak aja sama Bunda."


Bunda Aulia tersenyum. Dia membelai lembut rambutku yang sedikit menutupi dahi menyibakkannya menepi. "Sophia, kamu itu mengingatkan saya pada masa-masa muda saya dulu."


Bunda Aulia masih menatapku. Aku bisa melihat jika wanita itu sangat tulus menyayangiku. "Saya bersyukur Juna bisa kenal kamu. Kamu anak yang baik," ungkap si wanita berkerudung pasmina abu-abu itu padaku.

__ADS_1


Aku pikir, Bunda Aulia belum banyak mengenalku. Tapi aku sedikit bingung dan heran. Sepertinya wanita itu tau banyak tentangku.


Aku tersenyum sedikit tesipu. "Sophia nggak sebaik itu kok, Bunda."


"Loh, kamu itu emang baik. Bunda aja sampe kagum denger cerita Bu Susan soal kamu."


"Bu Susan? Bulik Sophia maksudnya?" Aku menatap Bunda Aulia keheranan.


Bunda Aulia tampak sedikit kelabakan. Ini sebenarnya ada apa, sih? Memang Bunda Aulia sama Bulik Susan dekat? Bulik Susan cerita apa saja soal aku pada ibunya Juna itu? Setahuku mereka bertemu hanya sekali saat Bunda Aulia dan Bunga mengantarku pulang waktu itu.


Bunda Aulia mencoba tersenyum padaku seperti menyembunyikan sesuatu. "Iya, Bulik kamu. Ya udah, yuk. Kita lanjut ngobrol di ruangan Bunda aja," ajak Bunda Aulia menggandengku pergi dari sana.


***


"Sophia, Bunda perhatikan kamu kok nggak fresh kayak biasanya? Kamu sakit?" tanya Bunda Aulia padaku.


Kami sudah kembali duduk di sofa ruangan kerja ibunya Juna.


Aku melebarkan mata terdiam sebentar menatap Bunda Aulia. Sudah hampir seminggu aku merasa sangat kesulitan di tempat kerja. Setiap hari selalu ada saja masalah.


Aku sebenarnya tau dasar masalah itu. Adi, dia setiap hari selalu punya rencana untuk membuatku tak betah bekerja. Orang-orang kantor juga mulai menyalahkanku. Tak terkecuali Raya, dia sekarang juga enggan membantuku.


Tempat kerja yang biasanya menyenangkan dengan orang-orang ramah yang baik padaku, mendadak seperti neraka. Sebenarnya aku ingin mengundurkan diri karena tak ingin terus melukai mentalku. Tapi, mencari pekerjaan itu susah. Aku sekarang benar-benar bingung.


Aku tersenyum pada Bunda Aulia. "Enggak kok, Bunda." Aku menunduk sebentar, lalu menatap wanita itu lagi. "Akhir-akhir ini cuma ada sedikit masalah di kantor. Sophia cuma kecapekan aja kok, Bunda." Jawabku.


"Ada masalah di kantor? Masalah apa? Kamu kalo mau curhat sama Bunda juga nggak pa-pa, loh." Bunda Aulia mengelus pundakku. "Kalo ada masalah jangan dipendam sendiri, Sophia. Kan ada Juna, kamu harus cerita sama dia. Bunda nggak keberatan Juna jadi pusing mikirin masalah kamu. Itu udah tanggung jawabnya, kan?"


Bunda Aulia tersenyum padaku. "Atau kalo kamu nggak mau cerita sama Juna, Bunda mau kok jadi penggantinya."


Bunda Aulia sangat baik. Aku pun berpikir sebentar. Aku kira, ibunya Juna itu mungkin adalah orang yang tepat untuk aku bagi masalah tentang ini.


Dia benar. Aku punya orang-orang yang pengertian di sekitarku. Jika ada masalah, aku bisa bercerita dengan mereka.


Aku juga pernah membaca beberapa buku dan artikel kalau memendam masalah untuk diri sendiri itu bisa menyebabkan penyakit mematikan. Amit-amit deh kalau aku sampai mati cuma gara-gara mikirin cowok sinting kayak Adi Bagaskara itu. Ngeri.


"Sebenernya...," kataku mulai ragu bercerita pada Bunda Aulia.

__ADS_1


Bunda Aulia melebarkan mata tersenyum tipis padaku hendak menyimak.


Aku pun terus memberanikan diri. "Sebenernya ada orang yang pengen Sophia resign dari kantor, Bunda," jelasku.


"Hah?" Bunda Aulia menatapku tampak bingung.


"Jadi ada pegawai kantor yang nggak suka sama saya. Udah hampir semingguan saya selalu kena semprot atasan. Orang-orang kantor juga mulai nyalahin saya," ungkapku.


Aku menunduk enggan menatap wanita itu. "Pekerjaan saya diretas sama dia. Saya nggak punya cukup kekuatan buat membela diri. Saya cuma bagian TU di sana. Dan orang itu, dia wakil kepala sekretariat," kataku berharap Bunda Aulia bisa memberikan solusi untuk masalahku ini.


Bunda Aulia tampak syok menatapku. "Masih ada ya orang kayak gitu? Bunda dulu juga sempet ada di posisi kamu. Ada aja gitu orang yang nggak suka sama Bunda terus pengen Bunda keluar dari tempat kerja."


Aku sedikit terkejut mendengar itu. "Bunda dulu pernah kerja di instansi?" tanyaku melebarkan mata.


"Iya. Bunda dulu sempet kerja di instansi. Tapi karena ada oknum jahat itu, Bunda pilih resign dan cari tempat kerja baru." Jawab Bunda Aulia padaku.


Aku pun terdiam menatapnya.


"Sophia, saya tau gimana tersiksanya kamu di tempat kerja. Kalo saran Bunda sih, kamu resign aja, Sayang, dari tempat itu. Masih banyak kok kantor-kantor yang lebih bagus lagi yang mau nerima kamu."


Bunda Aulia mendesah. "Daripada kamu dipecat dari kantor karena oknum jahat itu, mendingan kamu ngalah dan resign secara hormat dari sana. Nama baik kamu lebih penting, Sophia."


Aku diam sebentar mempertimbangkan ucapan wanita itu. Aku tersenyum. "Makasih Bunda atas sarannya. Sophia cuma bingung bakalan kerja di mana lagi kalo resign dari sana. Sementara sekarang, cari kerjaan itu susah."


Bunda Aulia tampak memikirkan sesuatu, kemudian dia tersenyum lebar padaku. "Kalo itu sih serahin aja ke calon ayah mertuamu."


"Maksud, Bunda?"


"Loh, kamu nggak tau kalo calon ayah mertuamu itu bos di kantornya?"


Aku menggeleng kepala.


Bunda Aulia tertawa. "Nggak pa-pa deh Bunda sombong sedikit ke calon mantu Bunda sendiri," ujarnya membuatku tersenyum.


"Kantor swasta itu milik kakeknya Juna, bapaknya suami saya." Bunda Aulia mulai menceritaiku. "Pasti ada lowongan kerja buat kamu di sana. Tenang Sophia, nanti saya bicarakan ini sama calon ayah mertuamu," sambungnya.


Aku tersenyum pada Bunda Aulia, kemudian memeluk wanita itu sangat berterima kasih. "Makasih, Bunda. Bunda baik banget sama Sophia. Sophia nggak tau harus ngomong apalagi. Tapi, Sophia sayang Bunda," ujarku masih memeluknya.

__ADS_1


Tangan hangat wanita itu terasa mengelus punggungku sangat nyaman. "Sama-sama, Sayang. Kamu tau, Bunda udah anggap kamu sebagai anak Bunda sendiri. Bunda suka orang yang seperti kamu. Perempuan hebat. Juna pasti bahagia kalo menikah denganmu nanti."


Aku terus tersenyum mendengar itu. Bunda Aulia, aku yakin semua perempuan pasti sangat mendambakan calon mertua yang seperti dirinya. Aku bahkan tak pernah terbayang akan menemukan calon mertua seperti wanita yang kupeluk ini. Dan sekarang, aku merasa sangat bersyukur. [ ]


__ADS_2