
Aku dan Juna masih duduk berdua di tempat itu. Aku menikmati permen kapasku dan Juna sesekali mencicipinya.
"Juna, kamu kok kayaknya tau banget soal momong anak kecil? Sampe bisa ngomentarin aku kalo nggak mahir bujuk Lusy," celetukku.
Juna terdiam sebentar menatapku. "Itu karena Bunda hebat mengurus anaknya...." Juna menunduk pandang tersenyum seperti membayangkan suatu momen yang manis. "Bunda itu ibu yang sibuk, tapi dia nggak pernah lalai merhatiin aku sama Bunga."
Juna kembali menoleh menatapku. Dia tersenyum. "Sejak kecil aku sama Bunga nggak pernah dibujuk rayu dipaksa buat nurutin apa kata Bunda. Tapi Bunda ngelakuin kayak apa yang dilakuin Mini tadi."
Aku terus menelaah ucapan Juna fokus.
"Sophia, anak seusia Lusy itu nggak bisa kamu paksa buat nurutin apa yang kamu mau. Kamu cukup ikutin dan dengar apa yang dia mau. Dan disela-sela itu, kamu baru bisa bujuk dia."
"Kamu tau, Bunda itu nggak pernah marah-marah ke aku atau Bunga. Kalo aku sama Bunga nakal dan kelihatan nggak bisa diatur, Bunda selalu tangkup muka kita terus ditatap dalem. Dia senyum, dan nasihatin kita lembut... banget. Dan entah kenapa, itu selalu berhasil."
"Cara bujuk anak kecil itu, bisa berefek ke depannya. Kalo cara kamu benar, anak itu bakalan tumbuh sesuai didikan kamu. Tapi kalo cara kamu salah, anak itu bisa tumbuh jadi orang yang pembangkang."
Aku menatap Juna diam. Laki-laki itu sepertinya begitu mencintai ibunya yang terkesan miris sempurna. Sebenarnya bagaimana cara Bunda Aulia mendidik Juna hingga menjadi laki-laki yang seperti ini?
Aku membuang muka pelan dan kembali menyibuk dengan gula-gula kapasku. Cerita Juna membuatku terpojok sampai aku tak bisa mengatakan apalagi padanya. Tentu saja didikan orang tuaku tak sebaik didikan orang tua Juna. Tapi itu juga tak terlalu buruk.
"Oh, iya. Tadi kenapa nenekmu nggak boleh ikut kita jalan-jalan?" tanya Juna membuatku menoleh lagi padanya. "Kasihan loh dia. Kayaknya ngebet mau ikut." Juna tersenyum menyeringai.
"Kamu mah nggak tau nenekku itu orangnya kayak gimana. Aku jujur aja nih, ya. Sebelum kamu dateng ke rumah, Nenek itu hina-hina kamu. Padahal dia belum tau kamu itu kayak gimana." Aku cemberut.
"Hina aku?" tanya Juna bingung.
"Ma-maaf sebelumnya, Nenek aku itu orangnnya otoriter. Dia kekeh buat jodohin aku sama tentara itu." Aku tersenyum menghela napas lega. "Tapi syukur, deh. Sekarang perjodohan itu udah bener-bener dibatalin."
"Awalnya Nenek nuduh kamu secara nggak mendasar. Dia bilang kalo kamu kere, aku bodoh karena nolak perjodohan itu dan milih kamu. Bahkan Nenek sampe nyumpahin kalo kita bakalan hidup sengsara nantinya," jelasku pada Juna.
"Masa sih nenek kamu bilang gitu?" Juna tampak tak percaya.
Aku mendecak. "Jangan bahas Nenek lagi, deh." Aku tersenyum tipis. "Bahas yang lain aja."
Juna tersenyum padaku, lalu mengusap puncak kepalaku.
Satu menit. Dua menit. Mini dan Haris datang menghampiri kami.
"Lusy kenapa?" tanyaku bingung menatap keponakanku itu yang tampak menangis digendong Haris.
Lusy mulai merentangkan tangannya padaku meminta gendong. Aku pun menyerahkan gula-gula kapas yang sebelumnya kubawa ke Juna, lalu menarik Lusy dari gendongan Haris meletakkannya ke gendonganku.
Lusy masih merengek ringan. Dia seperti kelelahan menangis hingga napasnya sedikit tersekat-sekat.
__ADS_1
"Lusy nyariin lo sampe puyeng gue bujuknya. Dia nangis terus. Lo juga dicariin tau-taunya di sini!" protes Mini padaku.
Aku mengelus punggung Lusy. "Shuttt..., Tante di sini Lusy.... Jangan nangis lagi, cup-cup," kataku menenangkan.
***
Kami berjalan meninggalkan festival pasar baru itu menuju parkiran. Tanganku mulai linu karena Lusy minta gendong terus.
"Sophia, sini biar aku aja yang gendong Lusy," tawar Juna padaku.
"Emang Lusynya mau?" gumamku pelan.
Kami pun berhenti berjalan. Juna mulai merayu Lusy. Dia tersenyum menatap bocah itu. "Lusy, mau nggak digendong sama Om Juna? Kasihan Tante Sophianya capek.... Nanti Om Juna kasih ini." Juna menunjukkan dua plastik gula-gula kapas yang dibawanya pada Lusy.
Lusy tersipu dan akhirnya mau digendong oleh Juna. Bocah itu gembira karena mendapatkan dua kantong gula-gula kapas berwarna ungu dan biru.
Aku dan Juna pun melanjutkan jalan menyusul Mini dan Haris yang sudah jauh.
***
Kami mampir ke sebuah rumah makan sederhana untuk makan siang. Aku juga memesan beberapa kotak nasi ayam untuk orang-orang rumah.
Setelah puas menghabiskan waktu bersama, kami berlima pun pulang. Lusy sampai tertidur di pangkuanku. Dia sudah kenyang, dan pasti juga kelelahan.
Sesampainya di rumah, kami semua salat dan beristirahat. Nenek dan Tante Tari tampaknya sudah pulang. Padahal aku juga membawakan mereka nasi kotak.
"Phi, lo sama Juna kok nggak pernah sih upload foto berdua gitu ke IG? Emang kalian nggak pernah foto bareng apa?" tanya Mini padaku.
Mini sedari tadi menyibuk dengan ponselnya. Aku mencoba memejam mata untuk istirahat siang, tapi tidak bisa. Dan Mini yang mulai mengajakku mengobrol itu membuatku melebarkan mata lagi.
Aku mengambil posisi nyaman mendekati Mini yang duduk bersandar bantal. Aku melirik ponsel Mini. Gadis itu tampaknya tengah melihat-lihat unggahan foto di akun instagram Juna yang dikomentari cukup banyak orang.
"Juna sih sering banget ngajakin gue foto. Tapi emang nggak di ekspose aja." Jawabku ke Mini. "Lo sendiri juga baru-baru ini aja deh suka ngeunggah foto sama Haris. Dulu-dulu lo nggak pernah tuh nunjuk-nunjukin hubungan lo sama Haris ke orang-orang," timpalku terheran.
Mini tersenyum masih menatap ponselnya. "Dulu gue belum berani open ke publik. Tapi sekarang kan gue udah kuliah. Dan satu lagi, banyak anak kampus yang ngira gue itu suka deket-deketin Haris. Dia kan senior. Jadi gue yang junior ini dianggap ganjen. Padahal kan kita emang pacaran. Terus gue sama Haris sepakat deh buat open ke publik dengan posting foto-foto kita."
Aku mengangguk. Suasana kembali sunyi. Lima detik. Sepuluh detik.
"Phi, lo nggak cemburu kalo lihat komentarnya orang-orang di postingan IG-nya Juna?" tanya Mini padaku.
"Komentar apa? Gue jarang banget buka IG, apalagi stalking akunnya Juna." Jawabku.
"Lo tu serius nggak sih pacaran sama Juna? Bisa-bisanya sesantai itu!" Mini menghujatku. Dia menggerutu sembari terus memainkan ponselnya.
__ADS_1
Aku kembali mencoba tidur siang memunggungi Mini tak memperdulikannya. Aku tak perlu menjelaskan kepada Mini seserius apa hubunganku dengan Juna. Keseriusan itu tak berarti jika diomongkan saja, tapi tindakankulah yang mungkin akan lebih berarti. Seserius itu.
***
Pukul tiga sore. Juna, Bulik Susan, Mini, dan Haris bersiap-siap untuk pulang. Aku berencana ikut mereka sekalian.
Semesta Crop sudah menantikanku untuk kembali. Email-email sudah menumpuk. Banyak data yang harus kususun. Dan lagi, Bunda Aulia memerlukanku untuk inovasi De Boutique. Aku juga sudah ketinggalan deadline menulis. Semuanya mulai kacau karena tiga hari aku cuti untuk pulang kampung.
Semua barangku sudah masuk tas ransel. Tiba-tiba ayah menghampiriku di kamar. Dia duduk di pinggir kasur di samping kiriku.
"Sophia, kamu nggak ada niatan buat tinggal di sini aja? Bukannya deket sama keluarga jauh lebih nyaman ketimbang tinggal terus bareng bulikmu?"
Aku masih terdiam menatap ayah. Ayah pasti ingin sekali memantau dan menjaga putrinya yang sudah perawan ini. Mungkin dia khawatir jika aku tak bisa menjaga diri. Atau ayah hanya sangat merindukanku?
Aku berusaha tersenyum pada ayah. "Kerjaan Sophia nggak di sini, Yah. Ayah tenang aja, Sophia nyaman kok tinggal sama Bulik Susan sama Mini. Ayah sama Ibu kan udah ditemenin Kak Karina sama Kak Bimo. Juga ada Lusy, kan."
"Tapi di rumah bulikmu kan nggak ada laki-lakinya. Kalo di sini ada Ayah yang bisa jagain kamu terus. Kamu juga bisa cari kerja di sini, kan?" Ayah berusaha membujukku.
Aku menghela napas berat tanpa bunyi. Lagi-lagi, aku mencoba tersenyum pada ayah. "Sophia udah nyaman sama pekerjaan Sophia yang sekarang, Yah. Sophia nggak mau sia-siain itu."
"Ayah nggak usah khawatir. Sophia bisa jaga diri baik-baik, kok."
Ayah masih menatapku. Sorot mata yang sulit untuk melepaskan putrinya kembali tinggal dengan adik istrinya sendiri terlihat begitu jelas. Ayolah ayah, aku ini cuma ingin tinggal bersama Bulik Susan, bukan ingin menikah dan pergi tinggal bersama dengan suamiku.
"Ya sudah. Tapi kamu janji nggak boleh keluar malem-malem. Kalo pun terpaksa, itu si Juna kamu mintain tolong buat anterin," tutur ayah padaku.
"Iya..., Ayah...." Aku tersenyum.
***
Aku berpamit pada ibu dan ayah, juga Karina dan Lusy. Bimo, suami kakakku itu sampai menyempatkan waktu pulang ke rumah walaupun kerjaannya di proyek belum selesai. Dia kakak ipar yang baik, meski awalnya sedikit mengecewakan.
"Juna, kamu jagain Sophia, ya. Dan jangan coba macem-macem sama anak saya!"
"Ayah...," panggilku lirih merasa tak enak mendengar omongan ayah yang seperti itu ditujukan ke Juna.
Juna bereaksi santai. Dia tersenyum manis pada ayah. "Ayah nggak usah khawatir. Saya janji bakalan jagain Sophia."
Ekspresi ayah masih sama masamnya. Tapi sepertinya, dia cukup yakin pada Juna.
"Ya sudah, kita pamit dulu, ya. Mbak Mira sama Mas Budi jaga kesehatan. Kalian nggak usah cemas soal Sophia. Dia anaknya baik dan nggak neko-neko, kok." ujar Bulik Susan.
Aku, Bulik Susan, Mini, Juna, dan Haris berpamitan pada ayah, ibu, Karina, Bimo, dan juga Lusy. Bocah itu menangis ingin ikut lagi denganku.
__ADS_1
Walaupun aku jarang bertemu Lusy di rumah, tapi kami sering berkomunikasi lewat video telepon. Aku juga menyempatkan waktu bermain bersama Lusy dalam tiga hari ini. Mungkin karena itu semua, Lusy menjadi lengket denganku.
Hah..., akhirnya semua baik-baik saja. Aku bisa kembali fokus pada karierku. Tiga hari yang penuh masalah. Dari ayah yang kecelakaan, kabar perjodohan yang tiba-tiba, sampai beradu mulut dengan nenek. Kenangan yang cukup rumit. Tapi syukurlah semuanya sudah selesai. [ ]