Stunning My Life

Stunning My Life
Terima Kasih Juna


__ADS_3

Aku dan laki-laki itu masih duduk di pos bambu di sana. Kami saling membisu untuk beberapa menit. Aku mencoba mengotak-atik ponselku lagi berharap sinyalnya penuh dan bisa segera menghubungi Mini.


Aku mendecak setelah mengetahui bahwa hasilnya masih sama. Zonk! Aku menunduk kecewa. Tiba-tiba, uluran tangan muncul di depanku.


“Jadi mau kenalan nggak?” Laki-laki itu menatapku.


Aku pun ragu menjabat tangannya. “Sophia,” kataku, lalu cepat-cepat melepas jabatan itu.


“Gue Juna. Juna Raja Semesta.”


“Ngeri juga ya nama lo.”


Juna mengedikkan bahunya.


Suasana mendadak hening. Satu menit. Dua menit. Juna pun beranjak berdiri. Aku menatapnya mendongak.


“Gue balik duluan, ya,” pamit Juna padaku. Kemudian, dia berjalan pergi.


Seketika, aku kelabakan mengikutinya. Aku tak tau sekarang ada di mana. Pos itu pasti jauh dari tempat wisata. Dan aku sangat buruk kalau soal arah, apalagi itu di daerah pegunungan.


Aku berjalan sedikit menyeret-nyeret kaki kananku mengikuti langkah Juna dari belakang.


“Tungguin gue, dong!!!” pekikku pada Juna, tapi dia tampak tak menghiraukan.


“Juna!!!”


“Jangan cepet-cepet jalannya!”


Aku terus mengoceh pada laki-laki itu yang terkesan nyebelin.


Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Aku mencoba mengecek jam tangan di pergelangan kiriku. “Aaaaaa...!!!!!” Aku berteriak sejadi-jadinya setelah melihat ulat hijau sebesar jentik raksasa menempel pada legan kiri jaket mantelku.


Aku berdiri membeku memejamkan mata. Aku merentangkan jauh lengan kiriku begitu jijik.


“Kenapa, sih?” Juna menghampiriku dan bertanya.


“Itu...!!! Itu gede banget!!!” Telunjuk kananku menunjuk-nunjuk si ulat.


Aku masih memejam mata dan tak berani bergerak sedikit pun. Dari semua serangga, jika disuruh untuk menyentuh ulat atau kecoa, aku akan memilih menyentuh kecoa.


Ulat si binatang empuk dan lonjong. Tak peduli sebagus apa coraknya. Jika itu ulat, lebih baik aku disengat tawon daripada harus melihat serangga semenggelikannya.


Hiii…, melihatnya berjalan saja sudah membuat bulu kudukku berdiri, apalagi dirayapinya. Merinding seribu persen!


“Udah gue buang,” ujar Juna padaku.


Aku membuka mata pelan-pelan, lalu menatap lengan kiriku. Aku pun menghela napas sangat lega setelah melihat jaket mantel tortillaku yang sudah selamat dari serangan ulat daun.


“Bisa segitu jijiknya ya lo sama ulet!?” Juna menatapku memicing.


“Siapa sih yang nggak jijik sama binatang lunak itu? Di dunia ini nggak cuma gue aja kali yang jijik sama ulet,” bantahku.


Juna terkekeh. “Pas udah jadi kupu-kupu aja dikejar-kejar, tapi pas masih jadi ulet (Juna menunjuk wajahku tepat pada kata ‘ulet’ sambil menekan nada suaranya) ampe segitu jijiknya!”


“Lo ngatain gue ulet?”


“Kenapa? Lo terhina?” Juna menyeringai.


Mendengar pertanyaannya seperti itu membuatku sedikit terbawa perasaan. Aku pikir, aku memang seperti ulat, yang menjijikkan, dibenci, dan tak disukai banyak orang. Aku menundukkan pandanganku, lalu berjalan pelan meninggalkan Juna.


“Lo kenapa? Baper?” tanya Juna sembari menyamai langkahku.


Aku memilih diam dan berjalan lurus tak menghiraukan laki-laki itu.


Beberapa menit kemudian, kami sampai juga di tempat wisata. Aku sangat bersyukur, setidaknya aku masih bisa kembali walau sempat hilang dan terkilir tadi.


Suara azan berkumandang. Aku menatap jam tangan yang menunjukkan hampir pukul dua belas siang.


“Gue duluan, ya.” Juna melangkah pergi.


Aku terus memperhatikan langkah Juna yang berlalu menjauh. Dan ternyata, dia pergi ke masjid di seberang sana. Aku tersenyum tipis, lalu berjalan pelan menuju tempat yang sama.


Aku melepas sepatu dan jaket mantelku, lalu membasuh sedikit bagian celanaku yang terkena lumpur. Aku berwudu, kemudian salat zuhur berjemaah di masjid itu.

__ADS_1


***


Aku duduk di tundakan teras masjid, mengikat tali sepatuku, lalu memakai kembali jaket mantelku yang masih kotor.


“Oh..., jadi kita seiman?”


Aku pun menoleh pada sumber suara itu. Juna, dia sedang duduk tak jauh di samping kananku.


Aku beranjak berdiri, kemudian memeriksa ponselku. Aku tersenyum menatap sinyalnya yang sudah penuh. Aku pun segera menghubungi Mini.


Sophia : Lo di mana?


Mini : Makan siang, dong….


Sophia : Di mana? Gue nyusul, ya?


Mini : TIDAK DIPERBOLEHKAN MENGGANGGU ORANG PACARAN!!!


“Bener-bener ni anak!” Aku bergumam.


“Ya udah, makan siang aja bareng gue,” sahut Juna di dekat telinga membuatku terkejut.


“Lo ngintip, ya?”


Juna tersenyum. “Dikit.” Jawabnya.


Entah bagaimana aku jadi makan siang bersama laki-laki itu. Di tempat wisata sana ada sebuah telaga, dan di pinggirannya dipasangi pagar beton selutut orang dewasa.


Para pedagang makanan lokal di sana pun memanfaatkan tempat itu untuk berjualan. Mereka mendirikan warung lesehan yang menempel pada pagar beton itu. Jadi, pembeli pun bisa menikmati makanan sekaligus pemandangan telaga.


Juna mengajakku ke sebuah warung sate kelinci. Dia memesan dua porsi sate itu tanpa persetujuanku. Kami pun duduk sembari menunggu pesanan sate siap.


Kami duduk bersampingan dengan jarak setengah meter menghadap ke arah telaga. Di warung sana disediakan meja kayu diperlak untuk menyamankan pembelinya menikmati hidangan. Aku menaruh kedua tanganku ke atas meja sembari menikmati riak air di telaga itu.


Lima detik. Aku menunduk menatap ponsel yang baru saja menghantam pelan siku kananku. Kemudian, aku menoleh ke arah Juna.


Juna tersenyum sok imut. “Nomor whatsapp lo, please…,” ujarnya memohon.


Aku mendorong kembali ponsel itu ke meja depan Juna. “Gue nggak main whatsapp.” Jawabku ngawur. Padahal laki-laki itu sudah memergokiku chatting dengan Mini tadi.


“Gue nggak punya nomor biasa.”


“Ya udah, nomor yang nggak biasa kalo gitu.”


“Ya maksud gue itu, gue nggak punya nomor seluler!”


Juna mendecak. “Kalo instagram? Facebook? Twitter?”


Aku menggeleng tersenyum pada Juna.


“Ya udah deh, alamat email aja kalo gitu. Oh, atau nomor telepon bapak lo juga nggak pa-pa.”


Ni orang sinting apa gimana, sih? Aku menatap aneh wajah Juna. “Lo kok maksa, sih? Gue tu nggak mau kasih data pribadi gue ke lo. Dah, ah. Gue pergi aja!” Aku pun hendak beranjak dari tempat itu. Tapi mendadak, bapak si penjual sate kelinci menghidangkan makanannya.


Juna menatapku mengisyaratkan untuk tak pergi dari warung itu. Dan aku pun kembali duduk. Sebenarnya kalau tidak merasa tak enak kepada pedagang itu, aku sudah berlari menjauh dari sana. Bagaimanapun, aku harus menghargai pedagang itu.


Juna tampak lahap memakan sate kelincinya. Aku hanya memperhatikan cara laki-laki itu makan sembari memutar-mutar setusuk sate yang ragu-ragu kugigit.


Sebenarnya ini adalah kali pertama aku mencoba membeli sate kelinci. Aku pun tak pernah membuat planning untuk mencoba sate itu. Membayangkan makhluk seimut kelinci dibuat sate membuatku tak tega memakannya.


“Kenapa nggak dimakan?” tanya Juna padaku yang kelihatannya hanya memainkan sate-sate itu.


“Ini beneran daging kelinci?”


“Ya, iyalah. Tanya aja sama Bapaknya.” Jawab Juna. “Pak, ini beneran daging kelinci, kan?” Buset...!!! Ini orang pake tanya beneran lagi ke Bapaknya. Mataku melebar.


“Iya, Mas. Daging kelinci segar.” Jawab si bapak penjual sate.


“Tuh, DAGING KELINCI SEGAR!” jelas Juna menekan setiap katanya.


"Gue…, gue nggak tega makannya." Aku mendorong piring plastik berisi sate kelinciku ke meja depan Juna. "Lo aja ya yang ngabisin," suruhku padanya.


“Lo serius?”

__ADS_1


Aku mengangguk-angguk.


Juna membuang napas pendek. “Terus lo mau makan apa? Mau gue pesenin sate ayam?”


“Nggak usah. Nanti gue beli roti aja. Lo makan aja dulu, daripada mubazir,” kataku pada Juna.


Juna pun dengan senang hati memakan sate kelinci milikku. Lima menit. Sepuluh menit. Aku dan Juna pergi meninggalkan warung kecil itu.


Aku mampir di sebuah toko di dekat telaga sana. Lalu membeli dua botol aqua tanggung dan sebungkus sari roti. Aku memberikan sebotol aqua itu kepada Juna, dan laki-laki itu pun meneguknya hingga habis.


Aku menatap Juna terheran. Mungkin saja dia benar-benar haus, karena penjual sate kelinci tadi memang tak menyediakan minuman di warungnya. Dan lagi, Juna juga sempat menggendongku saat kakiku terkilir.


Tiba-tiba, ponselku berdering. Mini menelepon. Aku pun segera mengangkatnya.


“Halo.”


Phi, gue udah di parkiran, nih. Sodaranya Haris ada yang meninggal, kita harus buruan pulang.


“Oke, gue ke sana sekarang.”


Aku pun mengakhiri panggilan itu.


“Sepupu gue udah ada di parkiran. Gue duluan, ya. Makasih buat semuanya,” ungkapku pada Juna.


“Sama-sama. Gue anterin sampe parkiran, ya.” Juna tersenyum nakal.


Aku tak boleh terlalu percaya dengan Juna. Karena bagaimanapun, dia adalah ‘laki-laki’. Ayah juga pernah memberitahuku untuk tak terlalu mempercayai laki-laki mana pun, selain dia.


“Nggak usah.” Jawabku, lalu berjalan cepat meninggalkan Juna.


***


“Woi, ke mana aja lo, Sop Hiu?” celetuk Mini setelah kedatanganku di tempat parkir.


“Hai,” sapa Juna tersenyum sok ganteng pada Mini dan Haris. Tentu, laki-laki itu masih mengikutiku sampai ke sana.


“Elo? Lo Juna, kan?” Haris menatap Juna terheran.


“Iya. Lo kenal gue, Bro?”


“Kita sekampus, Bro.” Jawab Haris pada Juna.


What??? Jadi Haris sama Juna sekampus? Demi apa? Dunia memang sempit.


“Kok, kalian bisa barengan?” tanya Haris menatapku dan Juna.


“Tadi nggak sengaja ketemu.” Jawabku.


“Enggak…. Tadi Sophia ilang di kebun buah orang. Terus gue kebetulan lewat sana. Gue kira sih dia maling buah gitu,” sahut Juna menyangkal dan membodohi Haris juga Mini.


Aku yang mendengarnya hanya bisa ternganga.


“Serius lo tadi ilang? Terus kok baju lo kotor banget, sih? Lo abis berkubang di mana?” tanya Mini menatapi jaket mantelku yang berlumpur.


Aku melihat Juna tengah menahan tawa di sana. Si Mini kalo ngoceh emang nggak disaring! “Berkubang? Lo kira gue kerbau? Ini tuh gue jatoh tadi.”


“Ini jadi pulang nggak, sih?” Suara Haris tiba-tiba membuatku merasa bersalah. Dia pasti sangat ditunggu keluarganya karena saudaranya meninggal.


“Ya udah, ayo. Phi, masuk!” suruh Mini memerintahku untuk naik ke dalam jeep hijau gelap pacarnya.


“Bro, gue boleh ngomong bentar nggak?” tanya Juna pada Haris.


Aku dan Mini dari dalam mobil memperhatikan Juna dan Haris tengah berbincang sesuatu sedikit menjauh di luar sana.


“Wih..., dapet gebetan baru nih ceritanya? Cie cie…,” oceh Mini menggodaku.


“Apaan, sih!”


Aku pun mencoba membaca buku novel yang belum selesai kubaca tadi. Aku membuka buku itu, lalu tersenyum-senyum.


“Iya-iya yang lagi kasmaran.” Lagi-lagi, Mini menggodaku.


“Lo kenapa sih, Minion? Ini bukunya ceritanya lucu. Siapa juga yang kasmaran. Emangnya lo tukang bucin!”

__ADS_1


Aku menatap Mini yang juga menatapku mencebik bibir dari spion dalam mobil. Aku memutar bola mata, lalu menutupi wajahku dengan buku yang kupegang. Dan sebenarnya, aku sedang melanjutkan perasaan gilaku hari ini. Membayangkannya membuatku tersenyum-senyum lagi. [ ]


__ADS_2