Stunning My Life

Stunning My Life
Calon Ayah Mertua


__ADS_3

Aku masih di perjalanan bersama Bunda Aulia hendak menemui ayah Juna di tempat kerjanya.


"Sophia, kamu mau tau sesuatu?"


"Sesuatu apa, Bunda?" tanyaku pada ibunya Juna itu.


"Menurutmu, sudah berapa kali Juna mengenalkan perempuan ke saya?"


Aku berpikir sebentar. "Kenapa, Bunda? Emang mantan pacarnya Juna banyak banget, ya?"


Bunda Aulia tertawa kecil. "Kamu tau, kamu perempuan pertama yang dikenalin ke saya sama Juna. Yah..., walaupun ada juga temen-temen cewek Juna. Tapi mereka kan temen, bukan pacar."


Jadi..., aku ini bisa dibilang cinta pertamanya Juna? Padahal Juna sebaik dan seganteng itu, dia bisa saja punya banyak pacar. Pasti banyak perempuan yang menyukainya.


"Kok, bengong?" Suara Bunda Aulia memecah lamunanku.


"Enggak kok, Bunda. Sophia cuma heran aja."


Bunda Aulia tersenyum.


"Em.... Emang Juna sebelumnya belum pernah pacaran, Bunda?" tanyaku sedikit ragu.


"Juna itu orangnya pemilih. Dia bilang, dia pengen punya pacar yang kayak Bundanya. Tapi Bunda kan limited edision," kata wanita itu membuatku tertawa.


"Tapi saya percaya sama Juna." Bunda Aulia tersenyum menolehku, lalu kembali fokus menyetir mobilnya. "Kamu, Sophia. Kamu pasti istimewa sekali untuk Juna."


Dia kembali menarik lengkung tipis di bibirnya. "Saya selalu yakin dengan pilihan Juna. Anak saya itu, nggak mungkin memilih perempuan yang salah."


Aku tersenyum mendengar itu. Jika Bunda Aulia berpikir begitu, berarti dia juga mempercayaiku. Aku tidak boleh mengecewakan wanita itu.


"Jadi Sophia, jangan menganggap rendah diri sendirimu seperti omong kosong orang tadi. Kamu tau, orang berpendidikan itu, adalah orang yang ber-attitude. Cara mereka bicara dan memperlakukan orang lain, itu tolak ukurnya."


"Lihat saja hal-hal baik yang bisa kamu lakukan. Dan untuk kekurangannya, kamu bisa perbaiki itu."


Bunda Aulia tersenyum. "Saya tidak punya aturan khusus untuk calon mantu saya. Cukup sopan santun, dan baik hati. Orang yang seperti itu, bagi saya sudah sangat berpendidikan."


Bunda Aulia memberhentikan mobilnya. "Semua itu ada di kamu Sophia, dan mungkin juga lebih-lebih lagi." Dia tersenyum. "Oke, kita sudah sampai."


Aku menatap sekeliling tempat itu, kemudian tersenyum pada Bunda Aulia.


Kami sampai di tempat kerja ayahnya Juna. Bunda Aulia pun mengajakku masuk ke dalam gedung tinggi berlantai dua itu.


Bunda Aulia tampak tersenyum ramah kepada seorang resepsionis di sana. Aku tidak tau posisi ayah Juna di tempat itu sebagai apa. Tapi sepertinya, beliau adalah orang yang cukup penting.


Aku lihat, tempat itu adalah sebuah perusahaan swasta. Namun aku belum tau perusahaan apa itu.


Bunda Aulia mengetuk singkat sebuah pintu ruang kerja. Kemudian, dia membukanya.


"Hai...," sapa Bunda Aulia masih mengintip di pintu itu. Dia hanya membuka sedikit dan belum mempersilakanku masuk.


"Hai..., kok nggak bilang-bilang sih mau ke sini?" Terdengar suara laki-laki membalas sapaan ibunya Juna. Aku pun terus diajak ke dalam.


"Loh, kamu siapa ini?" tanya laki-laki paruh baya yang tengah duduk di kursi hitam itu.


"Ini?" Bunda Aulia menolehku, lalu kembali menatap suaminya tersenyum. "Calon mantu kamu, dong...."


"Oh, ya? Kok, Juna pinter banget carinya? Cantik sekali, loh," puji ayahnya Juna padaku.


Aku tersenyum. "Terima kasih, Om."


"Ayah aja...," ujar Bunda Aulia mengoreksiku.


Ayah Juna tersenyum. "Nama kamu siapa?"


"Saya Sophia." Jawabku.


"Sophia?" Ayah Juna menaikkan kedua alisnya menatapku.


Aku mengangguk.

__ADS_1


Ayah Juna tersenyum. "Saya Rei, suaminya bundanya Juna." Laki-laki itu melirik menggoda istrinya. "Calon ayah mertuamu," tukasnya menatapku.


Aku tertawa kecil mendengar itu, terus diikuti Bunda Aulia.


Ayah Juna itu juga sama serunya seperti Bunda Aulia. Memang sepertinya, semua anggota keluarga Juna adalah orang yang ramah dan menyenangkan.


***


Aku masih di sana. Aku, Bunda Aulia, dan Ayah Rei duduk bersama di sofa hijau ruangan kerja itu.


Ayahnya Juna itu memang kelihatan sudah berumur. Tapi, dia masih gagah dan tampan. Dia tidak seperti bapak-bapak kantoran yang sering kulihat di tempatku bekerja yang cenderung punya perut besar dan buncit.


Tapi ayahnya Juna, dia sepertinya rajin berolahraga. Rambutnya juga ditata klimis. Dandanannya rapi.


Ibunya Juna juga sama. Pawakannya masih ramping walaupun sudah melahirkan anak dua, Juna dan adiknya, Bunga.


Bunda Aulia masih terlihat awet muda dan segar. Sepertinya umurnya juga sudah tak sedikit, namun aku sama sekali tak bisa menemukan kerutan di wajah cantiknya itu.


Aku belum tau seperti apa keluarganya Juna di dalam kesehariannya. Mereka tampak menjalani hidup dengan baik dan bahagia. Aku tak menyangka Tuhan akan mempertemukanku dengan orang-orang seperti mereka.


"Sophia, kamu sudah kerja atau masih sekolah?" tanya Ayah Rei padaku.


Aku tersenyum berusaha bersikap ramah. "Saya sudah kerja, Yah. Tahun ini mulainya." Jawabku.


Ayah Juna mengangguk. "Memang kamu umur berapa?" tanyanya.


"Saya 18 tahun," ungkapku.


Ayah Juna terdiam sebentar, kemudian tersenyum. "Juna 21 tahun. Dia baru ulang tahun bulan lalu."


Aku tersenyum canggung. Apa Ayah Rei berpikir jika aku terlalu muda untuk bekerja? Suasana sunyi sebentar.


"Sophia, kenapa kamu suka sama Juna? Kata adiknya, Juna itu nyebelin loh orangnya." Ayah Rei menatapku.


Aku berpikir sebentar. "Karena..., Juna itu baik. Saya suka Juna karena dia baik." Jawabku pada ayahnya Juna itu.


"Istri saya benar, kamu itu lugu orangnya." Ayah Rei tersenyum padaku.


Aku pun ikut tersenyum. Bunda Aulia sudah menceritakan apa saja pada suaminya itu tentangku? Aku penasaran sekali.


"Sophia, Ayah kasih tau sama kamu. Kalo Juna nakal, jewer aja kupingnya."


"Siap, Ayah!" seruku tersenyum.


Dua orang itu tertawa gemas.


"Hm..., kok udah hampir jam 3 aja, ya? Bunda harus jemput Bunga, nih," celetuk ibunya Juna.


"Ya, udah. Kalo gitu, kamu jemput Bunga, gih," suruh Ayah Rei menatap istrinya.


Aku pun juga berpamit pada pria itu.


"Sophia, kapan-kapan ngobrol sama Ayah lagi, ya. Jangan sungkan-sungkan," ujar Ayah Rei tersenyum padaku.


"Iya, Yah." Aku membalas senyumnya.


Aku dan Bunda Aulia pun meninggalkan ruangannya.


***


Bunda Aulia mengantarku ke De Boutique dulu. Ini sudah sore, aku tadi juga tidak memberitahu Bulik Susan jika akan mampir menemui ibunya Juna setelah pulang dari kantor.


Sesampainya di De Boutique, aku langsung pamit pulang ke Bunda Aulia. Aku mencium tangan wanita itu, lalu bergegas pergi dengan Fino.


Hari ini aku senang sekali. Aku bisa bertemu ayah Juna, menyapa dan berkenalan dengannya.


Aku lega karena keluarga Juna tampak open dengan kehadiranku sebagai seorang kekasih laki-laki itu, Juna Raja Semesta. Mereka semua adalah orang-orang langka yang takdir memberikan keberuntungan untukku bisa dekat dan mengenal mereka.


Aku terus menjalani hidupku. Dan hingga saat ini, aku jadi tau bermacam-macam sifat orang. Tuhan tidak tidur, aku tau itu. Dan aku, aku akan terus berdoa untuk didekatkan dengan orang-orang yang baik, orang-orang yang menyukaiku dengan tulus.

__ADS_1


***


Malam ini aku mengobrol dengan Juna di whatsapp.


Sophia : Aku tadi ketemu sama calon ayah mertuaku.


Juna : Oh, ya? Dia baik sama kamu?


Sophia : Dia baik.


Juna : Alhamdulillah.... Ayah nggak bilang macam-macam, kan???


Sophia : Dia bilang, aku suruh jewer kamu kalo kamunya nakal.


Juna : Tapi aku kan nggak nakal.


Sophia : Iya, dong. Kamu nggak boleh nakal! Awas aja kalo nakal, nanti aku jewer.


Juna : Sophia, Bunga tadi ngajarin aku bahasa Korea, loh.


Sophia : Oh, ya? Bahasa Korea apa?


Juna : Saranghae, Sophia.


"What???" Aku memekik dengan perasaan berbunga-bunga.


"Apaan sih, Phi?" tanya Mini yang tengah duduk di sebelahku penasaran.


Aku melempar ponselku lalu menarik selimut menutupi wajahku. Aku bertingkah heboh di kasur. Rayuan pacar memang ampuh banget mengacak-acak hati perempuan.


Mini terbahak setelah membaca obrolanku dengan Juna. "Ya ampun, Juna??? Saranghae, Sophia. Apaan sih, gombal banget!"


Mini menarik selimut yang sudah kuacak-acak itu menyingkirkannya dari wajahku. "Bucin banget ya kalian sekarang!?" Dia menggelitik tubuhku.


Satu menit. Dua menit. Setelah pergulatanku dengan Mini, aku pun mulai membalas pesan Juna tadi.


Sophia : Saranghae? Artinya apa?


Juna : Hah? Kamu nggak tau artinya?


Sophia : Enggak.


Saranghae? Tentu aku tau artinya. Aku cuma ingin mengerjai Juna saja.


Juna : Masa, sih? Bohong, ya...!!!???


Sophia : Aku nggak tau. Saranghae apa, sih???


Juna : Saranghae itu... semacam I love you....


Sophia : I love you too....


Juna tampak membalas pesan lama. Apa dia juga mabuk dengan rayuanku? Sepertinya tidak mungkin, deh.


Juna : Dasar gombal!!! Ha ha....


Aku tertawa kecil membaca pesan itu.


Sophia : Kamu tu yang gombal.


Sophia : Udah malam. Sleep well, Juna.


Juna : Em.... Sleep well.... Nanti kita ketemu, ya.


Sophia : Hah?


Juna : Iya ketemu. Ketemu di mimpi.... Sweet dream, Calon Istri.


Sophia : Ha ha, oke. Kamu juga, Calon Suami! [ ]

__ADS_1


__ADS_2