Stunning My Life

Stunning My Life
Menolong Rama


__ADS_3

"Sophia, kamu kenapa diem aja?" tanya Juna padaku.


Malam minggu ini kami menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan kecil di alun-alun kota. Ini sudah dua hari sejak aku mulai memperhatikan komentar netizen di akun instagram Juna.


Aku menoleh tersenyum pada Juna. "Enggak pa-pa." Jawabku.


"Bohong. Hari ini kamu nggak kayak biasanya. Lebih banyak diemnya," sangkal Juna.


Kami masih berjalan kecil.


"Hmmm. Masa, sih?" Aku menaikkan kedua alisku.


Juna menggandeng tanganku lembut mengajak duduk ke kursi beton di dekat kami. Juna mendorong wajah padaku. Dia menatap. "Juna Raja Semesta siap mendengarkan curhatan calon istrinya," ucap Juna membuatku tertawa kecil.


Wajah Juna semakin imut menantiku berbicara. Aku tersenyum kecut sembari memalingkan muka pelan. Aku menatap langit sebentar, lalu bersiap untuk mengadu isi hatiku pada Juna.


"Juna, kamu pernah nggak ngerasa malu punya pacar kayak aku?" tanyaku tak menatap Juna.


Aku pun menoleh karena Juna tak kunjung merespon. Laki-laki itu tampak menatapku dalam.


"Kenapa kamu nanya kayak begitu?" Juna enggan menjawab dan malah menanyaiku.


"Nggak tau. Kayaknya aku kena penyakit insecure." Jawabku asal.


Juna tersenyum, lalu senyum itu berubah menjadi tawa kecil. "Sophia, penyakit insecure itu nggak cocok buat kamu. Mendingan kamu jauh-jauh deh sama penyakit itu."


Aku mengerucut bibir mengerling. "Harusnya, tapi komentar fan-fan kamu di IG bikin penyakit itu nyerang aku."


Juna menatapku terheran. Dia tampak memikirkan sesuatu. Lima detik. Laki-laki itu mulai tersenyum lega. Sepertinya dia berhasil menangkap ucapanku.


"Oh..., jadi kamu suka lihat-lihat komentar julid netizen di IG-ku, ya?" Juna tersenyum menyeringai.


"Nggak juga." Jawabku seraya melengos pelan.


Juna tertawa kecil. "Sophia, kamu pengen aku unggah foto kita di medsos, ya?"


Aku kikuk. "Eng-enggak."


"Bohonggg!" Juna mencolek hidungku. Dia tertawa menggoda.


Aku hanya diam memasang wajah sok cemberut.


"Sebenernya aku udah ada niatan buat posting foto bareng kamu. Tapi aku takut kalo kamu nggak nyaman atau keganggu sama itu," ungkap Juna padaku.


Juna tersenyum. "Kamu kan misterius. Nggak pernah posting apa-apa di IG. Foto profil kamu juga selalu itu, bunga matahari."


Kata-kata Juna terdengar lembut, tapi batinku tertohok. Aku bukannya sok menjadi misterius dengan akun instagram yang aktif tanpa satu pun unggahan juga foto profil yang terkesan garing. Aku hanya tak suka ekspose diri di medsos.


Lagi pula, aku hanya menggunakan akun instagramku untuk mengikuti oppa-oppa tampan dengan foto-foto wawnya. Dan juga, hanya untuk referensi belanja online.


"Misterius apanya? Aku cuma nggak mau ketagihan likes sama followers." Jawabku pada Juna.


Juna membelai rambutku lembut. "Terus? Kamu maunya gimana?" tanyanya tersenyum.


Aku bergeming sebentar. "Aku kesel aja baca komen-komen orang yang nyebelin. Mana banyak cewek cantik yang genit ke kamu lagi."


Juna tertawa. "Kamu cemburu?"


"Enggak. Cuma kesel aja bacanya."


Juna mendesah. "Ya udah, nanti aku konfirmasi hubungan kita ke publik, deh. Biar kayak Haris sama Mini. Ya, nggak?" Juna tersenyum mengedikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


Aku tertawa kecil.


Juna pun merogoh ponselnya dari saku jaket adidasnya. Aku memperhatikan laki-laki itu serius. Juna tampak membuka instagram hendak mengunggah sesuatu.


"Kamu mau ngapain?" tanyaku menatap Juna.


"Mau konfirmasi hubungan kita sekarang." Jawab Juna melebar mata.


"Jangan sekarang." Aku tersenyum. "Aku punya ide bagus."


"Ide apa?"


"Sebentar lagi kan satu tahun hubungan kita. Kamu konfirmasinya pas itu aja," kataku.


"Nggak kelamaan?"


Aku menggeleng tersenyum.


"Oke, deh. Ikut perintah calon istri aja." Juna kembali memasukkan ponselnya ke saku jaket hitamnya. Dia terus menatapku lekat. "Kamu mau ngerayain setahunnya kita kayak gimana?" tanya Juna tersenyum.


"Sederhana tapi spesial." Jawabku.


"Sespesial apa?" Juna penasaran.


Aku pun tersenyum.


***


Dua minggu sebelum setahun hubunganku dengan Juna. Malam ini aku berjelajah dengan Fino untuk membeli sebuah syal merah. Aku memasuki toko-toko kain rajut untuk mencari satu barang keingananku itu.


Setelah menemukan yang pas, aku pun bergegas pulang. Guratan senyumku mengembang. Aku tak sabar agar hari itu segera datang.


Sekitar pukul delapan malam, aku mengegas Fino pelan melewati jalanan yang lumayan sepi. Hanya beberapa kendaran bermotor tampak menyalip dan mengebut mendahuluiku.


Aku merasa takut untuk melalui perkelahian itu. Aku ingin putar balik, tapi hari sudah semakin malam dan itu satu-satunya jalan menuju kompleks rumah Bulik Susan.


Mataku memicing menangkap sosok pria tinggi yang digebuki oleh tiga orang itu. Pria itu terus melawan seolah tak takut dengan mereka yang mengeroyoknya.


Aku membelalak kaget setelah mengetahui jika pria yang dirundung itu adalah Rama. Aku pun cepat-cepet berniat menghentikan perkelahian itu.


Aku berlari menghampiri sisi kegaduhan setelah menjagang Fino di tepi jalan. "Berhenti!" pekikku. Aku menatap takut tiga orang yang pakaiannya tak kalah hancurnya seperti Rama. Semua pria itu menatapku dengan napas terengah.


"Kalian pilih bubar atau saya panggilkan polisi?" ancamku pada mereka, termasuk Rama.


Salah seorang berandalah itu memicing padaku mulai mendekati. Telunjuk kanannya menunjuk wajahku. "Lo yang waktu itu nolongin dia di tempat gym, kan?" tebak laki-laki itu menunjuk Rama pada kata 'dia'.


Aku pun mengingat. Rupanya, laki-laki di depanku itu adalah orang yang berkelahi dengan Rama di ruang kantin tempat gym waktu itu.


Satu detik. Dua detik. Rama tiba-tiba menarik tanganku menyembunyikan tubuhku di belakangnya. Aku hanya bertingkah bingung.


"Jadi sekarang lo udah punya cewek?" tanya si laki-laki asing terkekeh pada Rama. Dan dua di antaranya masih diam sedari tadi.


"Bukan urusan lo." Rama menatap tajam orang itu.


Laki-laki itu tertawa geli. "Dibayar berapa lo mau sama anak pungut kayak gini?" Dia menatapku mencemooh.


Tangan Rama yang masih mencengkeram pergelangan kananku mulai mengencang. Tanganku terasa sakit, tapi aku hanya diam.


Aku tak bisa membaca situsi sekarang. Seharusnya aku tadi berlalu saja dan tak usah sok peduli dengan Rama. Jika seperti ini bisa-bisa aku masuk ke dalam masalah aneh cowok gangster seperti Rama.


"Pinter juga lo cari cewek. Ditinggalin sama Fanya terus cari yang lebih bening lagi. Udah lo apa-apain belum?" celoteh laki-laki itu menyeringai.

__ADS_1


Sontak, Rama menonjok wajah laki-laki itu. Aku terperanjat melebar mata dengan dada berdesir hebat. Perkelahian itu memuncak dan tiga orang asing itu mulai mengeroyok Rama lagi. Rama tak mau kalah, dia menangkis dan membalas pukulan yang diterimanya.


Aku cepat-cepat menyingkir menjauh dari sana. Betapa bodohnya aku, aku tak punya nomor polisi setempat. Dan jika aku mencari di internet, Rama keburu koit dipukuli berandalan itu. Aku pun mulai panik sendiri.


Aku menolah-noleh mencari bantuan. Tak ada kendaraan yang lewat. Tak ada juga penduduk sekitar yang berlalu lalang.


Aku kembali menoleh Rama. Laki-laki itu mulai tersungkur lemas. Dia tampak sudah tak bisa lagi melawan. Salah seorang pria yang berbicara leceh tadi mulai menarik mengangkat kerah baju Rama berdiri.


Tangannya mengepal berancang-ancang menonjok wajah Rama yang sudah babak belur. Aku cepat-cepat berlari menghentikan.


"Udah cukup! Jangan pukul dia lagi," mintaku menghadang tangan laki-laki asing itu.


Orang itu melepas menyentakkan Rama ambruk. Tapi dia mulai menarik kerah bajuku sebagai gantinya. Bibir laki-laki memagut. Ekspresinya tajam tampak marah padaku.


Jantungku menderu setelah laki-laki itu hendak mencoba menonjok wajahku. Tapi niat itu tiba-tiba dia urungkan. Dia masih menatapku tajam mencengkeran kerahku


Satu detik. Dua detik. Tinnn...! Tinnn...! Tinnn...! Suara klakson motor dibunyikan nyaring. Aku menoleh pada sumber suaranya. Juna, dia datang.


Juna mendorong kuat laki-laki itu melepaskan cengkeramannya pada bajuku.


Laki-laki itu tertawa aneh. "Maksud lo apa Bro dorong-dorong gue?"


Juna hanya diam menatap laki-laki itu tajam.


"Kamu diapain sama dia?" tanya Juna menolehku.


"Di-dia mau pukul aku." Jawabku ragu ke Juna.


Aku menahan tangan Juna yang tampak beranjak seperti akan mendekati orang itu memukulnya. Juna tersenyum menepuk tanganku pelan. Wajahku masih tegang, tapi aku melepaskan peganganku pada lengan kiri Juna.


Juna mengajak tiga orang asing itu berjalan sedikit menjauh dariku. Aku terus memperhatikan mereka. Juna terlihat berbicara sesuatu, tapi aku tak bisa mendengarnya.


Tak berselang lama, tiga berandalan itu pergi dengan motornya masing-masing. Mereka sempat mengedarkan tatapan tajam padaku sebelum pergi.


Juna menghampiriku lagi. "Kamu nggak pa-pa?" tanyanya padaku.


Aku masih tertegun, lalu cepat-cepat berkedip. "Nggak pa-pa. Kamu tadi bicara apa ke mereka?"


Juna bersungut. "Bukan apa-apa, kok. Aku cuma nakut-nakutin mereka supaya nggak macem-macem sama kamu." Jawabnya padaku.


Rama terbatuk-batuk menyadarkanku akan keberadaannya juga. Aku pun mendekati laki-laki itu yang berusaha berdiri.


"Lo nggak pa-pa?" tanyaku pada Rama.


Rama menoleh pada Juna sebentar, lalu kembali menatapku. Pandangannya terlihat lemah dengan badan geloyoran. Satu detik. Dua detik. Rama pingsan, ambruk kepadaku. Tubuhku terhuyung karena tertimpa badan Rama yang lebih tinggi dan berat.


Aku merasakan pinggangku ditahan sebuah tangan. Dan lalu, Juna menarik Rama menjauh dariku.


Juna mengalungkan tangan kanan Rama ke lehernya. "Sophia, kamu buruan pesan taksi buat ni orang," suruh Juna menatap malas wajah Rama yang kacau.


Aku pun bergegas memesan taksi online. Setelah taksi datang, Juna memasukkan Rama ke dalam dan menyuruh si sopir untuk mengantarkan laki-laki itu sampai ke rumahnya.


"Pak, anterin dia sampe rumah, ya. Sesuai aplikasi. Entar ongkosnya minta aja ke dia," ujar Juna ke sopir taksi itu.


Taksi itu kemudian pergi.


"Juna, terus ini motornya si Rama gimana?" tanyaku.


"Udah tinggalin aja." Jawab Juna tak peduli.


"Kamu serius? Kalo ilang gimana?"

__ADS_1


"Bukan urusan kita. Udah yuk kita pulang!"


Juna pun mengantarku pulang sampai ke rumah Bulik Susan. Karena sudah malam, Juna tak mampir dan memilih untuk langsung pergi setelah kami sampai di halaman teras depan. [ ]


__ADS_2