Stunning My Life

Stunning My Life
Mutiara Berisi Lumpur


__ADS_3

Hari-hariku terus berlanjut dengan semangat Juna. Aku masih sama seperti dulu. Aku masih seorang wanita gila kerja yang punya banyak keinginan.


Hari ini hari Sabtu, aku berencana memberi Juna kejutan dengan datang ke kampusnya. Aku membawakan pacarku itu dua potong sandwich spesial buatanku sendiri untuk makan siangnya.


Aku tiba di halaman kampus Juna, kemudian berjalan ke bawah pohon besar di dekat sana. Di dekat pohon besar itu ada sebuah taman bunga yang pinggirannya dicor dan diplester halus.


Beberapa mahasiswa dan mahasiswi menggunakan tempat itu untuk duduk-duduk mengobrol. Aku pun mengistirahatkan kakiku juga duduk di sana.


Aku hendak mengirimi Juna pesan, tapi sekelebat mataku melihat laki-laki itu tengah mengobrol dengan beberapa temannya dari kejauhan. Dan di antara teman-temannya Juna itu, aku juga melihat Dinda menyempil di sana.


Aku pun menunggu dan terus memperhatikan mereka. Sepertinya Juna tengah membahas sesuatu yang serius. Dan lagi, kenapa Adinda Sonia si selebgram itu terus menatapi Juna dengan wajah berseri-seri?


"Hai," sapa seseorang membuatku terkejut menolehnya.


Di sana, berdiri dua orang gadis yang sepertinya mahasiswi di kampus itu.


"Kamu Sophia, kan?" tanya gadis berambut hitam lurus seperti memastikan.


"I-iya. Kalian siapa?" tanyaku bingung.


Gadis berambut lurus itu tersenyum, terus disusul gadis berambut cokelat ikal seleher di sebelahnya.


"Aku Yola. Dan ini Salsa," ujar si gadis berambut lurus kemudian memperkenalkan temannya padaku.


Aku masih diam bertingkah bingung. Aku tidak mengenal mereka, tapi sepertinya mereka mengenalku.


Yola dan Salsa pun duduk bersamaku.


Yola tersenyum. "Sophia, kamu sama Kak Juna pacaran, ya?" tanyanya tiba-tiba.


Kenapa dia kepo sekali? Apa dia penggemar Juna yang ingin mengorek-ngorek informasi dariku? Aku terdiam canggung tak ingin menjawab.


"Sophia, kamu anak universitas mana?" Gadis yang bernama Salsa itu juga mulai menanyaiku.


Aku pikir, dua orang itu sangat aneh.


Salsa menepuk-nepuk pundak Yola menatap ke arah lain. "Eh-eh, itu si Dinda sama Kak Juna ngapain berduaan? Serasi banget nggak sih mereka?"


Aku menatap ke arah yang dilihat dua gadis itu. Ternyata teman-temannya Juna sudah pergi. Dan lalu, kenapa Juna masih berdiri di sana bersama Dinda?


"Duo selebriti kampus! Ngapain mereka mengumbar keakraban kek gitu? Bikin iri aja, deh...," celetuk Yola tampak mengagumi kedekatan Juna dan Dinda.


Aku masih diam.


"Sophia, kamu sama Kak Juna beneran pacaran nggak, sih?" tanya Yola lagi tampak penasaran sekali.


Aku tersenyum hendak menjawab. Tapi...,


"Kalo kamu cuma ngarep sama Kak Juna, mendingan mundur aja, deh!" seru Yola memotongku. "Kak Juna itu cocoknya cuma sama Dinda. Kita anak-anak kampus pada setuju kok kalo mereka jadian," sambungnya.


Salsa mengangguk. "Di kampus sini, cuma Dinda doang yang bisa deketin Kak Juna. Kak Juna tu selalu cuek sama anak-anak lain. Tapi kalo sama Dinda, mereka udah kayak punya chemistry unik gitu."


Batinku mendecak. Sebenarnya mereka berdua ini siapa, sih? Apa kaitannya mereka dengan hungunganku dan Juna?


Aku tersenyum. "Aku permisi dulu, ya," pamitku pada Yola dan Salsa, dua orang asing yang mendadak kuketahui namanya.


"Eh, Sophia!" panggil Yola menghentikan langkahku.


Aku menoleh tersenyum ke gadis itu.


"Kamu mau ke mana?" tanya Yola padaku.


"Aku mau nganterin makan siang buat pacarku." Jawabku tersenyum percaya diri.


"Pacarmu? Siapa? Bukan Kak Juna, kan?" Yola, gadis itu benar-benar sangat penasaran sekali.


Aku hanya menarik lengkung tipis di bibirku menatap dua orang itu, Yola dan Salsa. Kemudian, aku berjalan pergi.


Aku menghampiri Juna dan Dinda yang masih tampak mengobrol di sana, di pinggiran halaman kampus itu.


"Hai, Juna," sapaku tersenyum menatap laki-laki itu.


Juna tampak sedikit terkejut. "Loh, kamu kok di sini?" tanyanya.


Aku masih tersenyum sembari membawa tote bag bergambar bunga matahari.


"Sophia, ini kampus loh, bukan tempat main. Kamu ngapain ke sini?" celetuk Dinda tampak menyembunyikan rasa tak sukanya dengan kedatanganku. Tapi sepertinya dia mencoba bertingkah ramah dengan tersenyum padaku.


Juna meraih pundakku cepat merangkul mendekatkanku ke tubuhnya. Kemudian dia tersenyum menatap Dinda, lalu menolehku. "Sayang, kamu kok ke sini nggak bilang-bilang, sih?" Juna pun melirik tote bag yang kubawa. "Kamu bawain aku makan siang?" tanyanya melebar mata begitu senang.

__ADS_1


Ini Juna kenapa, sih? Sengaja manas-manasih Dinda, ya?


Aku tersenyum menatap Juna. "Aku bawain kamu sandwich spesial. Kamu udah makan siang belum?"


Juna memasang wajah memelas yang imut. "Belum...." Jawabnya memanyunkan bibir.


Aku tersenyum pada laki-laki itu, kemudian menoleh Dinda. Aku memperhatikan wajah Dinda yang seperti keheranan menatap Juna. Dinda mungkin terkejut kenapa Juna bisa bertingkah semenggelikan itu padaku.


"Sayang, temenin aku makan, yuk!" Juna pun menarikku menjauh dari gadis itu, Dinda.


***


Aku dan Juna duduk menepi di tempat yang tak terlalu ramai di halaman kampus itu.


Juna tampak menikmati sandwich buatanku. Aku membawakannya dua porsi roti isi yang berukuran sedang namum padat. Satu roti berisi telur, dan satu lagi berisi daging. Aku rasa itu cukup untuk membuat Juna kenyang.


Aku tersenyum menatap Juna. "Kamu kok kelihatan deket banget sama Dinda? Kenapa...? Lagi PDKT, ya?" godaku pada Juna.


Juna mengunyah roti isi itu menelannya, kemudian menjawabku. "Kenapa? Kamu cemburu?" tanyanya tersenyum nakal.


Aku tertawa kecil, lalu mengedikkan bahu.


"Sebentar lagi bakalan ada event kampus.... Aku sama Dinda ditunjuk jadi panitia. Aku bergaul sama dia cuma sekerdar tugas, kok." Juna tersenyum padaku. "Jadi jangan cemburu, Sophia."


Aku pun tersenyum pada Juna. Juna kembali melahap sandwich itu. Aku memang tidak cemburu dengan hubungan senior junior antara Juna dan Dinda. Tapi setelah Juna menjelaskan itu, rasanya seperti aneh. Rasanya, aku seperti tak tenang.


Juna dan Dinda hampir setiap hari bertemu di kampus. Mungkin, kecuali hari libur. Melihat hal itu, peluang Dinda untuk mendekati Juna pasti lebih besar daripada aku. Walaupun aku pacar Juna, tapi tidak setiap hari kita bisa bertemu. Paling-paling, kami hanya video call.


Namun, aku harus terus berpikir positif. Juna tak mungkin menghianatiku dengan perempuan lain. Aku harus mempercayai Juna.


"Sophia," panggil Juna menatapku.


Aku menaikkan kedua alisku menunggu laki-laki itu mengatakan sesuatu.


"Nanti malam minggu. Ayo kita jalan-jalan," ajak Juna padaku.


"Jalan-jalan ke mana?" Aku bertanya.


Juna tersenyum....


***


Mini juga bermalam minggu dengan Haris. Hari ini Bulik Susan pergi ke kondangan pernikahan anak temannya. Jadi, di rumah hanya ada aku dengan penuh rasa bosan.


Juna juga tidak mengirim satu pesan pun padaku. Laki-laki itu benar-benar tak ada kabarnya.


Aku membuang napas panjang. Dan tiba-tiba, sebuah pesan whatsapp dari nomor tak dikenal masuk.


Anonim : Hai, Sophia....


Sophia : Ini siapa?


Anonim : Aku Dinda. Save dong nomorku....


Hah? Dinda? Dari mana dia mendapatkan nomorku? Padahal, aku tak pernah menyebarkan kontak teleponku ke sembarang orang. Gadis itu sangat mencurigakan.


Sophia : Oh.... Ha ha, oke.


Dan terpaksa, aku harus menyimpan nomor gadis itu.


Dinda : Sophia, kamu lagi ada acara nggak sekarang? Kalo enggak, kita ketemuan di Rosa Cafe, yuk. Aku ada sesuatu yang mau diomongin sama kamu.


Aku terdiam sebentar, kemudian mulai mengetik balasan pesan untuk Dinda.


Sophia : Oke. Kamu share aja lokasinya.


Aku bukannya ingin meladeni hal yang tidak penting. Tapi sepertinya, Dinda ingin membahas sesuatu soal Juna. Aku ingin tegas pada gadis itu. Anggap saja ini sebagai usahaku melindungi hubungan kami, aku dan Juna.


***


Di Rosa Cafe...


Aku tiba di kafe itu. Dan sepertinya, Dinda sudah menungguku di sana. Dia tidak sendiri, tapi bersama dua orang itu, Yola dan Salsa. Perasaanku jadi tak enak.


Aku pun menghampiri mereka. "Hai, Dinda," sapaku, lalu juga tersenyum pada Yola dan Salsa.


"Oh, Sophia? Duduk-duduk," suruh Dinda padaku.


Yola dan Salsa tampak menatapku tak senang. Mereka berdua membuatku sangat canggung. Aku harap, tak ada masalah yang serius setelah ini.

__ADS_1


"Oke, langsung aja. Din, gue ngomong duluan, ya," pinta Yola menatap Dinda, kemudian menoleh menatapku.


Yola terkekeh kecil masih terus memperhatikanku. "Jadi lo pacaran sama Kak Juna?" Sudah kuduga, mereka pasti akan membahas hubunganku dengan Juna. Juna, dia bukan artis atau juga orang penting. Tapi kok anak-anak ini seperti posesif sekali dengannya.


"Iya. Kenapa?" tanyaku berusaha berani.


Yola dan Salsa tertawa. Dan Dinda, dia masih diam di sana.


"Lo pake pelet apa sampe Kak Juna mau sama cewek kayak lo?" Salsa tersenyum menyeringai mencemeehku.


Yola dan Salsa, aku sangat tidak mengerti dua orang itu. Tadi siang saja dia menyapa sangat manis dengan panggilan aku kamu. Tapi sekarang, sikap mereka membuat batinku mendecak.


Sayangnya, aku sudah menyiapkan strategi untuk melayani orang-orang seperti mereka. Aku tidak takut, dan aku tidak akan rendah diri.


Aku tersenyum menatap Salsa. "Maaf, tapi aku juga nggak tau loh kenapa Juna mau sama aku." Jawabku pada gadis itu.


Salsa tampak ternganga tak percaya dengan jawabanku. Dan Yola, dia terlihat memutar bola mata di sana.


"Heh, cewek ganjen, mendingan sekarang lo jauh-jauh deh dari Kak Juna. Lo itu nggak pantes buat dia!" ujar Yola padaku.


Aku tersenyum. "Kenapa menurutmu aku nggak pantes buat Juna? Padahal Tuhan aja milih aku sebagai yang terpantes buat Juna."


Suasana hening sebentar. Yola terkekeh lagi. Sepertinya responku belum cukup untuk membuat orang-orang itu jengkel dan diam.


"Pede banget lo! Palingan nanti ujung-ujangnya lo putus sama Kak Juna." Yola mendecak. "Dan sebelum itu bener-bener kejadian, mendingan lo mundur sekarang. Cuma Dinda! Cuma Dinda yang cocok sama Kak Juna!" tengasnya padaku.


Aku terkekeh. "Bunda sama ayahnya Juna aja nggak menentang hubungan kita. Dan kalian yang bukan siapa-siapa, kalian orang-orang yang nggak penting dan nggak ada sangkut pautnya bisa-bisanya ngomong gamblang seperti itu?"


Dua orang itu diam, begitu juga Dinda. Dinda, dia memang tak menyuara sejak tadi. Aku pikir, dia hanya berlindung dan menuntut pembelaan dari dua rekannya itu, Yola dan Salsa.


Aku mendesah. "Bagaimanapun usaha kalian merusak hubunganku dengan Juna, itu bakalan sia-sia. Dan atau jika kalian mau dan sangat bertekad, kalian bisa kok protes ke Junanya langsung. Bilang sama dia buat jauh-jauh dari pacarnya. Aku bakalan nafkahin kalian selama setahun kalo dianya mau." Aku tersenyum lagi.


Sepertinya kali ini responku cukup membuat dua orang itu jengkel. Yola dan Salsa sudah diam tak bisa menyahut sedikit pun kalimatku. Mereka memasang wajah sangat tak suka. Masa bodoh! Jika mereka membenciku, aku juga tidak peduli.


Aku menoleh menatap Dinda yang duduk di kursi samping kiriku. "Dinda, jadi apa yang pengen kamu omongin ke aku? Apa cuma temen-temen kamu yang pengen meluapkan unek-uneknya?" tanyaku terus tersenyum pada gadis ayu itu.


Dinda tampak grogi. Dia berusaha menatapku. "Aku boleh bicara sama kamu sebentar nggak? Tapi di luar aja, cuma kita berdua," pinta Dinda, lalu tersenyum padaku.


Aku membalas senyuman itu. "Oke."


Aku dan Dinda pun berjalan ke luar halaman kafe. Dinda mengajakku menepi ke sisi tempat yang tidak berisik dan sepi.


Dinda yang tadinya bertingkah santun di hadapan teman-temannya, sekarang mulai menyilang tangan menatapku tajam. Apa dia tipe orang bermuka dua? Mungkin, sepertinya.


"Sophia, aku mau jujur sama kamu," kata Dinda tampak serius.


Aku pun terus menyimak gadis itu.


"Aku suka sama Kak Juna. Aku nggak tau kapan aku mulai tertarik sama cowok tercuek yang pernah aku temui itu. Dari semua cowok-cowok di kampus, cuma Kak Juna yang sok jual mahal ke aku."


Dinda tersenyum menyeringai masih menatapku. "Aku nggak peduli kalo Kak Juna udah punya pacar sekalipun. Aku Adinda Sonia, aku bakalan dapetin siapa pun yang aku mau. Termasuk cowok kamu, Kak Juna."


Aku terkekeh tak percaya. Bisa-bisanya Dinda si gadis berparas rupawan berbicara serendah itu. "Kamu udah gila, ya?"


Dinda terdiam menatapku dengan wajah tak peduli.


Aku tersenyum. "Oke. Kamu coba aja sekeras mungkin. Rayu Juna semau kamu. Dan kalo kamu berhasil, fine, aku bakalan tinggalin dia."


Dinda tersenyum. "Kamu nggak perlu repot-tepot buat ninggalin Kak Juna. Karena aku bakalan pastiin, Kak Juna sendiri yang bakalan ninggalin kamu."


Gadis itu tak waras! Apa dia akan berusaha sekeras itu untuk mendapatkan Juna? Juna memang laki-laki yang baik, tapi di luar sana pasti juga masih ada laki-laki yang mungkin lebih baik lagi daripada Juna. Kenapa dia tidak mau membuka pikirannya dan malah ingin merebut Juna dariku?


"Dinda, segitunya kamu suka sama Juna?" tanyaku menatap heran gadis itu.


Dinda tersenyum. "Kak Juna itu cowok impianku. Aku bener-bener cinta sama dia. Bahkan..., aku berpikir buat kasih diri aku sepenuhnya ke Kak Juna. Aku nggak peduli apa pun. Asal untuk Kak Juna, aku rela jadi-"


"STOP!!!" Aku berteriak ke Dinda memotong kalimat gadis itu. "Juna nggak bakalan sudi sama cewek sinting kayak kamu. Aku akui kamu cantik, Dinda. Tapi, cantik itu cuma ada di luar kamu."


Dinda menatap remeh diriku. "Nggak usah sok tau deh kamu." Dia menyilang tangannya lagi. "Orang yang kelihatannya lemah kayak kamu ini, ternyata juga bisa memojokkan orang. Ayolah, kita ini sama-sama munafiknya. Nggak ada orang yang bener-bener baik di dunia ini."


"Ada kok orang yang bener-bener baik di dunia ini. Itu tergantung gimana cara kamu lihat orang itu," ujarku pada Dinda.


"Dinda, jangan jadi mutiara yang berisi lumpur. Tapi jadilah lumpur yang berisi mutiara. Buka mata kamu lebar-lebar. Kamu yang sekarang ini udah sangat salah. Dan maaf, Juna pasti menolak kamu bahkan sebelum kamu melakukan sesuatu."


Dinda tampak masa bodoh dengan semua ucapanku. "Kita liat aja nanti. Kak Juna, dia bakalan jadi milik aku!"


Gadis itu benar-benar keras kepala. Aku pun tersenyum menantang Dinda. "Oke, kita liat aja hasilnya. Aku percaya, Juna nggak akan ngecewain aku."


Dan aku berjalan pergi meninggalkan Dinda tanpa pamit dengan gadis itu. Aku menghampiri Fino, kemudian mengegasnya pergi. [ ]

__ADS_1


__ADS_2