Stunning My Life

Stunning My Life
Ancaman Pekerjaan


__ADS_3

"Ini Bu Sophia gimana, sih?"


"Ini semua salah, dan filenya bakalan dikirim ke pusat besok. Pak Rian bisa marah-marah ke saya kalo begini."


Pak Bayu, kepala bagian sekretariat di kantor tempatku bekerja. Hari ini aku mendapatkan kritikan dari beliau. Ini adalah kali pertama aku membuat kesalahan fatal.


"Tapi, Pak. Kemarin saya sudah cek, dan itu sesuai dengan contoh suratnya." Aku membela diri.


"Sesuai gimana? Ini coba Bu Sophia cek sendiri. Semua filenya salah, nggak ada yang bener sama sekali," sangkal Pak Bayu seraya memutar laptopnya menghadap ke arahku.


Aku sendiri juga bingung. Aku yakin kemarin file-file itu sudah kukerjakan dengan benar. Aku kemarin ditugasi untuk membuat surat dinas. Ada sekitar sepuluh lembar halaman sudah kuketik dengan benar sesuai contohnya. Tapi kenapa semua filenya berubah dan tak seperti kemarin?


Pak Bayu mendecak. "Sekarang begini. Bu Sophia, tolong segera revisi file ini secepatnya, dan setelah itu segera serahkan ke saya. Dan saya minta file data pegawai yang melakukan perjalan dinas minggu ini."


"Baik, Pak." Jawabku menunduk, kemudian permisi pergi dari ruangan itu.


Aku tak bisa terus mengotot jika file itu sudah benar. Karena faktanya, file itu memang salah seperti ada yang sudah merubahnya. Pak Bayu tampak sangat marah padaku. Beliau pasti juga takut kena semprot Pak Rian, kepala instansi.


Aku segera kembali ke meja kerjaku. Aku mencari file yang diminta Pak Bayu tadi di komputerku. Aku mulai cemas karena file itu tak kunjung kutemukan.


Aku yakin menyimpannya di folder yang sudah kutandai, tapi kenapa tidak ada? Aku terus mengeklik semua folder di komputerku, aku juga sudah mengetik di kolom search, namun file itu juga tak terdeteksi.


Aku mulai takut. Astaga, file itu sudah hilang. Aku juga mencarinya di recycle bin, tapi filenya juga tak ada.


Aku kembali ke ruangan Pak Bayu dengan rasa ketakutanku.


"Permisi, Pak." Aku menghampiri laki-laki berkulit cokelat itu.


"Mana file yang saya minta? Kamu kirim saja ke email saya," suruh Pak Bayu padaku.


"M-maaf, Pak. Saya sudah cari filenya di komputer saya, tapi nggak ada," kataku menunduk.


"Kamu gimana, sih? Itu file penting! Kamu bilang nggak ada emang kamu nyimpennya di mana???" Pak Bayu mulai melengkingkan suaranya.


Aku tak berani menatap laki-laki itu. Dia terlalu menyeramkan bagiku. "Semua file pegawai selalu saya simpan di komputer, Pak. Saya juga nggak tau kenapa filenya nggak ada." Jawabku.


Pak Bayu menggebrak mejanya membuatku tersentak. Jantungku mulai berdebaran ketakutan. Hari ini aku benar-benar bodoh.


"Sana, sana kembali ke mejamu dan kerjakan surat dinasnya," suruh Pak Bayu tampak frustrasi menatapku.


Aku yakin Pak Bayu sangat kesal denganku. Lalu aku harus bagaimana? Aku cuma takut jika dipecat dari kantor karena kesalahan pekerjaanku yang aku pun sebenarnya tak tau kenapa semuanya bisa begini.


Aku tadi sudah sarapan. Aku awalnya juga semangat mengantor. Tapi setelah bentakan Pak Bayu, aku mendadak lemas. Tanganku berkeringat.


Akhirnya aku pun mengerjakan kembali file yang salah tadi. Aku mulai pusing dan juga bingung. Rasanya, seseorang seperti sudah menyabotase pekerjaanku. Tapi siapa?


***


Siang ini aku dan Raya makan siang bersama di kantin kantor.


"Kamu beneran udah cek semuanya kemarin?" tanya Raya padaku.


"Iya, Mbak. Semuanya udah clear. Dan aku juga selalu simpen data-data pegawai di folder khusus. Pokoknya semuanya, semuanya ada di komputer itu. Bu Ratih (pegawai kantor yang pernah menempati posisiku) juga selalu begitu kan dulu," ujarku pada Raya.


Raya mengelus punggungku sebentar. "Sabar ya, Sophia. Pekerjaan kantor itu emang susah-susah gampang. Kendalanya kebanyakan ya kayak gini. Kamu lain kali harus hati-hati kalo ngerjain sesuatu."


Aku hanya diam menyimak nasihat Raya. Aku jadi tak berselera untuk makan siang. Kepalaku pusing memikirkan pekerjaan hari ini. Dan hari-hari berikutnya, akan ada apalagi?


***


Sekitar pukul setengah tujuh malam, aku tiba di Rosa Cafe.


Adi tadi mengirimiku pesan untuk mengajak bertemu di kafe itu. Awalnya aku menolak karena aku memang tak ingin berurusan lagi dengannya. Tapi setelah Adi bilang jika itu tentang pekerjaan dan penting, aku pun meluruhkan niat dan mau bertemu dengannya.

__ADS_1


Aku menghampiri Adi yang tampak sudah menungguku di meja nomor sepuluh. Aku langsung duduk di kursi depan Adi tanpa menyapanya.


Adi menoleh menatapku, kemudian tersenyum. "Malam, Sophia. Kamu mau pesan makan dulu?"


"Nggak usah basa-basi, Di. Sebenarnya kamu mau ngomong apa?"


Adi tertawa singkat. "Gimana kerjaan di kantor hari ini? Menyenangkan? Atau bikin pusing?" tanyanya membuatku bingung.


"Maksud kamu apa?"


Adi mendesah. "Aku denger hari ini kamu dapat semprot dari Pak Bayu. Terus gimana?"


Aku terdiam sebentar. "Terus gimana?" Aku masih bingung.


Adi membuang muka pelan, kemudian menoleh menatapku lagi. "Sophia, kamu pilih keluar kantor sendiri, atau saya harus turun tangan supaya kamu dikeluarkan?"


Oh..., aku mulai paham. Sepertinya Adi adalah dalang di balik kekacauan pekerjaanku hari ini.


"Maksud kamu apa? Kamu pengen saya dipecat dari kantor?" Aku menanyai Adi.


Adi tersenyum menyeringai padaku. "Syukurlah kalo kamu cepat tanggap. Jadi gimana? Kamu pilih mundur sendiri atau harus menyusahkan saya?"


Aku terkekeh tak mempercayai itu. "Kamu serius pengen saya keluar dari kantor?"


"Iya. Saya muak lihat kamu tiap hari di kantor," timpal Adi padaku.


"Kenapa? Saya salah apa sama kamu?"


Adi tertawa. Dia benar-benar aneh. Satu detik. Dua detik. Dia mulai berjalan meninggalkan tempat duduknya.


Adi menarik kursi samping kananku mendekatkannya padaku. Dia duduk di sana sembari menatapku sangat dekat.


"Sophia, kenapa saya masih suka sama kamu? Tapi saya juga benci. Saya pengen kamu jauh-jauh dari saya. Jadi kamu harus resigh dari kantor," kata Adi dengan suara pelan terus menatapku lekat.


"Saya nggak akan resigh dari kantor. Kenapa saya harus capek-capek mengorbankan karier saya hanya untuk mengikuti perintah bodoh laki-laki seperti kamu?"


Adi masih menyimakku.


"Kamu nggak capek fitnah saya terus? Daripada kamu ngurusin hidup saya, mendingan kamu lakuin hal yang bermanfaat buat kamu. Kamu udah tua, Di! Kamu nggak ada niatan buat nikah?"


Aku tersenyum mengejek. "Mungkin kamu perlu perbaiki kelakuan kamu supaya ada perempuan yang mau nikah sama kamu. Itu jauh lebih bermanfaat ketimbang bikin saya dipecat dari kantor," kataku pada Adi.


Adi terdiam menatapku tajam. Kemudian, dia menyeringai. "Oke, kalo kamu nggak mau nyerah. Saya bisa bikin kamu tersiksa lebih daripada hari ini. Dan itu kan yang kamu mau?"


Aku sedikit ternganga keheranan mendengar itu. Adi tersenyum seraya membelai tipis pipi kananku dengan telunjuk kirinya. Aku secepatnya menampik tangan laki-laki itu.


"Sophia, kenapa kamu susah-susah kerja di kantor? Kenapa kamu nggak goda saja laki-laki seperti saya? Itu pasti jauh lebih mudah untuk kamu dapetin uang."


Plak! Aku menampar pipi kiri Adi sekeras mungkin. Aku tidak peduli orang-orang di kafe itu memandangi kami. Aku hanya bisa menatap Adi dengan mata berkaca-kaca.


Adi, laki-laki itu sudah berapa kali merendahkanku? Aku sebetulnya punya rencana untuk memaafkannya jika dia meminta maaf padaku. Tapi apa ini? Dia justru menambahi kesalahannya.


Aku menyahut tasku di meja dan bergegas pergi dari tempat itu. Aku berjalan cepat menuju parkiran menghampiri Fino.


"Sophia, tunggu!" Adi menarik tangan kananku mencegahku pergi dari sana.


"Lepasin tangan saya," kataku mencoba menyingkirkan tangan Adi yang memegang erat pergelanganku.


"Saya nggak mau tau. Secepat mungkin kamu harus resigh dari kantor." Adi menatapku masih memegangi tanganku.


"Kenapa nggak kamu aja yang resigh? Kalo kamu cuma nggak mau lihat saya lagi di tempat kerja, kenapa nggak kamu aja yang ninggalin kantor?"


Adi semakin menguatkan cengkeramannya dari tanganku. "Karena kantor lebih membutuhkan saya daripada kamu." Jawabnya padaku.

__ADS_1


Aku masih mencoba melepaskan tanganku dari genggaman Adi. Satu detik. Dua detik. Seseorang menendang Adi hingga membuatnya tersungkur menghantam motor yang terparkir di sana.


Aku terkejut, lalu menoleh pada sesosok yang baru saja menendang Adi. Di sana, berdirilah Rama tengah menatap Adi yang tersungkur itu.


Rama menghampiri Adi, lalu menarik kerah bajunya. Aku bergerak cepat segera menahan tangan Rama yang terlihat hendak menonjok Adi.


"Rama, jangan!" Aku menatap Rama memohon menghentikannya.


Rama menoleh menatapku, lalu kembali menoleh Adi. Dia menyentakkan kerah baju Adi, kemudian berdiri bersamaku. Dan Adi pun, dia pergi dari sana.


***


"Lo nggak pa-pa?" tanya Rama padaku.


Kami berdua duduk di kursi beton di dekat parkiran kafe itu.


Aku sangat khawatir. Aku cemas dengan hari esok di tempat kerja. Aku takut jika Adi merencanakan hal yang lebih buruk lagi daripada kekacauan tadi di kantor.


"Sophia," panggil Rama padaku.


"Hm?" Aku menoleh melebarkan mata padanya.


Rama mendecak. "Lo kenapa, sih? Di tanya malah ngelamun."


Sebenarnya aku ingin sekali bercerita tentang masalahku di tempat kerja pada seseorang. Tapi Rama, sepertinya dia bukan orang yang tepat untuk aku curhati.


Lebih baik aku tutup mulut dan menyimpan semuanya sendiri. Bahkan jika aku bicara dengan Juna, aku tidak yakin dia punya solusi yang baik. Dia pasti hanya akan marah pada Adi, dan membuat semuanya tambah kacau.


"Gue nggak pa-pa, kok. By the way, thank you ya lo udah nolongin gue." Aku mencoba tersenyum pada Rama. "Gue balik dulu," sambungku berpamit.


Aku pun meninggalkan Rama sendirian di sana. Hari mulai larut, aku harus segera pulang. Aku tidak ingin Bulik Susan dan Mini mengkhawatirkanku. Aku sebenarnya juga ingin menyendiri untuk memikirkan ancaman Adi tentang karierku.


***


Di dalam kamar bersama Mini...


Mini tampak sibuk dengan buku-buku kuliahnya di meja belajar. Saat ini aku sangat pusing memikirkan pekerjaan kantorku yang berantakan, ditambah lagi Adi yang seperti itu. Karierku benar-benar di ujung tanduk.


Aku tak mood mengetik cerita atau melakukan hal apa pun. Aku hanya berbaring di kasur dan mengobrol dengan Juna di whatsapp.


Juna : Minggu depan kamu bisa ketemu Bunda di butik?


Sophia : Bisa. Emang ada apa, Juna?


Juna : Nggak tau. Kata Bunda rahasia.


Aku tersenyum tipis.


Sophia : Aku rindu bundamu.


Juna : Cuma rindu Bunda, nih? Aku?


Sophia : Hm..., nggak tau???


Juna : Oke, fine. Ngambek nih aku.


Aku tertawa kecil membaca pesan singkat dari Juna itu. Mungkin pekerjaanku sedang kalut saat ini. Tapi memiliki Juna di sampingku, rasanya sedikit ringan. Walaupun, aku juga tak ingin memberitahunya tentang masalahku ini.


Sophia : Jangan ngambek Juna, nanti aku sedih.


Juna : Oke deh aku janji nggak ngambek biar kamunya nggak sedih. I miss you, Sophia.


Sophia : I miss you, Juna. [ ]

__ADS_1


__ADS_2