Stunning My Life

Stunning My Life
Ada Apa dengan Keluarga Juna?


__ADS_3

"Ya ampun, Sophia.... Aku rindu banget sama kamu. Gimana keadaan ayah kamu? Udah baikan, kan? Rasanya di kantor kayak ada yang kurang selama kamu cuti."


Nadia yang baru datang itu langsung tersenyum lebar menghampiriku. Kami cukup dekat sebagai rekan kerja. Dialah yang sejak awal membimbingku di Semesta Corp.


"Alhamdulillah, udah baikkan kok, Nad." Jawabku. Bukannya bersikap tak sopan dengan memanggil gadis yang usianya sedikit lebih tua dariku seperti itu. Tapi dia meminta sendiri untuk dipanggil namanya saja.


"Syukur, deh. Oh, iya. Selama kamu cuti, ada pegawai baru di sini. Sekretarisnya Pak Rei kan udah mengundurkan diri. Nah, sekarang udah ada penggantinya," ungkap Nadia padaku.


"Oh, ya? Siapa?"


"Namanya Bu Clara. Nanti kamu juga tau sendiri orangnya yang mana," jelas Nadia.


Aku mengangguk.


***


Siang ini aku berjanji temu dengan Bunda Aulia. Banyak hal yang perlu dibicarakan bersama. Sebenarnya aku masih ada tugas di kantor, tapi Ayah Rei yang kupamiti itu mengizinkanku untuk menemui istrinya di De Boutique.


Seperti biasa, orang-orang butik selalu ramah padaku. Begitu aku masuk ruangan Bunda Aulia, wanita itu selalu tersenyum gembira menyambutku.


"Gimana keadaan ayahmu, Sophia? Maaf ya Bunda nggak bisa jenguk."


Sejak pagi aku sudah diberondong pertanyaan orang-orangku mengenai keadaan ayah yang dikabarkan kecelakaan itu. Aku maklum, mereka pasti punya empati dan rasa penasaran.


Aku tersenyum pada Bunda Aulia. "Ayah udah baikan kok, Bunda. Nggak pa-pa Bunda nggak bisa jenguk Ayah, pekerjaan Bunda kan banyak. Sophia ngerti kalo Bunda itu sibuk."


Bunda Aulia melempar senyum cantiknya padaku. Tapi sepertinya hari ini wanita itu terlihat sedikit pucat.


"Bunda lagi nggak enak badan, ya?" tanyaku membuat Bunda Aulia tampak sedikit melebarkan mata.


"Enggak kok, Sayang. Emang Bunda kelihatan kayak orang sakit, ya?"


"Cuma kelihatan sedikit pucat aja, Bunda."


Bunda Aulia tersenyum. "Bunda nggak pa-pa, kok. Mungkin karena akhir-akhir ini terlalu sibuk jadi kelihatan lesu."


Dan percakapan kami pun berlanjut. Bunda Aulia ingin mengajakku bekerja sama secara serius sekarang. Dia ingin aku ikut membantunya mengelola De Boutique. Dari menghasilkan rancangan produk baru, sampai mengecek laporan permintaan barang.


Awalnya aku takut untuk menerima tawaran itu, namun Bunda Aulia meyakinkanku. Aku pun akhirnya menyetujuinya dan memberikan satu permintaan pada ibunya Juna itu. Dan dengan senang hati, Bunda Aulia akan menuruti permintaanku.


***


Sepulang dari De Boutique, aku menyempatkan diri untuk mampir ke perpus kota. Aku menyapa Mbak Kezi si penjaga meja kunjung. Sudah lama juga aku tidak melihat wanita itu. Kami pun mengobrol sebentar.


"Sophia, masnya yang waktu itu ke mana? Nggak diajak?" tanya Mbak Kezi membuatku tak mengerti.


"Mas yang mana, Mbak?" tanyaku.


"Itu yang dulu pernah pulang bareng kamu.... Hidungnya mancung, tinggi, ganteng." Mbak Kezi mencoba menjelaskan.


Aku tertawa singkat. "Oh..., masnya yang itu." Mungkin yang dimaksud Mbak Kezi adalah Juna. Padahal itu sudah lama sekali. Dan ya, aku baru mengunjungi perpustakaan itu lagi setelah kejadian Juna mendatangiku ke sana. Dan sebelum aku menjalin hubungan dengan laki-laki itu.


Mbak Kezi pasti berkesan karena Juna bersikap ramah padanya waktu itu. Tapi menurutku, kejadian itu terlalu singkat sekali.

__ADS_1


Hmmm, entahlah.


"Iya.... Dia siapa? Pacar kamu?" Mbak Kezi tersenyum menggodaku.


Aku hanya merespon dengan tertawa kecil menyipitkan mata.


"Beneran pacar kamu, ya?" Mbak Kezi terus menebak dan sekarang wajahnya terlihat bersemangat dengan melebar mata.


"Apa sih Mbak Kezi, mah.... Udah, ah. Aku mau cari buku dulu," ujarku, lalu berjalan pergi.


"Nanti kalo nikahan kasih undangan, ya...!" Mbak Kezi terdengar sedikit memekik.


Aku meresponnya dengan menoleh tersenyum mengacungkan jempol kananku.


***


Aku berjalan pelan memperhatikan satu per satu buku-buku yang disusun di rak sana. Aku pun menemukan satu judul yang kucari. Aku menarik tangga kayu didekatku dan mengambil buku itu yang berada di rak paling tinggi.


Setelah aku mengambil bukunya, mendadak tangga kayu yang masih kupanjati ada yang menggeser. Aku yang terkejut hampir saja terjatuh. Tapi, itu hanya hampir. Karena seseorang menahan pinggangku.


Aku memukul orang itu kesal dengan buku yang masih di tanganku.


"Lo sengaja kan geser tangganya!" hardikku pada Rama.


Rama terkekeh. "Enggak, tuh. Kaki gue nggak sengaja nyangkut ke tangganya."


Aku memutar bola mata, lalu meninggalkan laki-laki itu.


Aku duduk di tempat biasanya yang sudah disediakan perpustakaan kota untuk para penyuka buku yang ingin membaca. Jadilah Ibu Hebat dengan Mengasuh Buah Hati Hebat. Aku mengelus halaman buku itu.


"Hah? Lo hamil?" Rama yang entah sejak kapan duduk di sebelah kananku itu sontak membuatku terkejut dengan pertanyaannya.


"Hamil pala lo!" seruku.


"Gue serius nanya. Oh..., jangan-jangan pacar lo yang sok baik itu lagi yang hamilin lo," ucap Rama semakin ngawur.


Aku mendorong jidat laki-laki itu kasar. "Lo tu, ya. Nyebelin banget jadi orang! Nggak ada penyaringnya tu mulut. Fitnah terus isinya."


"Gue itu nggak hamil.... Jangan suuzan deh lo."


Aku dan Rama mengoceh dengan suara sedang yang mungkin hanya bisa didengar oleh kami berdua.


Rama masih menatapku. "Terus ngapain lo baca buku kayak gitu? Persiapan mau nikahan?"


Aku mendecak. "Emang perlu ya gue kasih tau ke lo alasan kenapa gue baca buku kayak gini?" Aku memalingkan muka, lalu mulai membuka buku itu membacanya.


Lima detik. Sepuluh detik. Rama tampak masih duduk diam di sampingku. Aku kembali menoleh pada laki-laki itu. "Lo ngapain masih di sini?" tanyaku.


Aku sedikit heran. Kenapa bisa kebetulan sekali aku bertemu Rama di perpustakaan kota? Apa Rama juga hobi membaca?


Rama tampak berpikir mencari-cari alasan. "Gue mau baca buku, lah." Jawabnya.


Aku tau laki-laki itu berbohong. Tapi apa pedulinya aku? Aku kembali menyibuk dengan bukuku.

__ADS_1


"Akhir-akhir ini lo ke mana, sih?"


Aku kembali menoleh menatap Rama. Apa maksud pertanyaannya itu? Aku terus memasang ekspresi bingung.


"Ma-maksud gue, gue biasanya nggak sengaja lihat lo ke kafe-kafe deket sini," jelas Rama tampak kikuk. Dia aneh.


"Oh, ya? Gue jarang banget tu ngekafe. Gue bukan orang yang hobi ke tempat-tempat kayak gitu." Jawabku.


Rama terdiam.


Aku memalingkan muka pelan menatap buku di depanku. "Ayah gue kecelakaan. Jadi gue ke luar kota 3 hari." Aku tidak tau harus bicara apa lagi. Tapi Rama, dia seperti ingin tau sekali ke mana aku akhir-akhir ini.


Aku tidak dekat dengannya. Aku tak punya kontak teleponnya atau sesuatu yng mengikat kami. Aku hanya tau rumah laki-laki itu dan sedikit cerita keluarganya. Namun, Rama seperti tau kegiatanku. Dia bukan stalker, kan?


"Terus? Ayah lo nggak pa-pa?" tanya Rama.


Aku tersenyum kecut menoleh pada laki-laki itu. "Nggak pa-pa. Tapi tunggu, deh." Aku mendorong wajah menatap Rama dekat. "Lo kok kayak penasaran banget sama hidup gue. Lo bukan penguntit yang kayak di drama-drama korea gitu, kan? Lo suka ya sama gue?" Aku menyeringai.


Rama membuang muka. Aku pun memposisikan wajahku normal. "Pede amat sih lo!" seru Rama padaku.


Aku mengedikkan bahu. Aku menutup buku itu, lalu beranjak pergi meninggalkan Rama.


***


Malam ini di meja belajar aku membaca buku yang siang tadi kupinjam dari perpustakaan kota. Aku memahami konsep dan tujuan mengasuh anak. Setidaknya aku menguasai materinya dulu dan mempraktikkannya nanti jika sudah menjadi ibu.


"Lo ngapain Phi baca buku kayak gitu?" tanya Mini yang mendadak muncul di samping kananku.


"Pengen baca aja. Lagian si Juna ngritik gue waktu di festival pasar baru kamaren. Pas itu kan gue nggak bisa bujuk Lusy supaya mau minum air."


Mini tertawa. "Jadi gara-gara dikritik sama calon suami, lo mau baca-baca kek ginian?" Mini menunjuk-nunjuk bukuku.


Aku menepis tangan Mini. "Udah, sana-sana!" usirku.


Mini pun akhirnya pergi dengan tampang menggoda. Aku hanya melengos menatapnya, kemudian menyibuk lagi dengan buku.


Selesai membaca, aku segera mengecek ponsel. Aku menantikan pesan whatsapp dari Juna, tapi laki-laki itu tak mengirimiku satu pun pesan.


Aku berinisiatif menghubunginya duluan.


Sophia : Juna, lagi ngapain?


Lima belas menit. Pesanku tak kunjung dibaca Juna, padahal dia online. Tak biasanya Juna seperti itu.


Sophia : Juna....


Aku mengirim pesan lagi.


Satu menit. Dua menit. Juna membaca pesanku. Dan, hanya dibaca saja.


Aku mendecak kesal. "Ini Juna kenapa, sih?" gumamku sendirian karena Mini tak sedang di kamar bersamaku. Sepertinya dia sedang menonton TV di ruang keluarga.


Malam ini aku kesulitan untuk tidur. Juna tak membalas pesan whatsappku. Aku telepon juga tidak diangkat olehnya. Apa Juna ada masalah?

__ADS_1


Pikiranku mulai bermacam-macam. Saat di kantor tadi Ayah Rei terlihat kusut tak seperti biasanya. Bunda Aulia juga kelihatan sedikit pucat tampak lesu. Lalu Juna, dia tak bisa dihubungi.


Apa Juna dan keluarganya punya masalah? Atau Juna mulai bosan denganku dan mencoba menghindar? Aku juga paham, tak selamanya orang itu bisa bersikap baik. Aku harus menyelidiki sikap Juna ini. Dia terkesan aneh dan tak seperti biasanya. [ ]


__ADS_2