
Aku berjalan santai menuju parkiran kantor tempatku bekerja. Seperti biasa, setelah istirahat siang, sekitar pukul 13, pekerjaan kantorku selesai.
Aku pun bergegas pulang dengan yamaha fino hitamku. Tapi saat aku baru mendorongnya sebentar, motor matik itu terasa berat. Aku segera memeriksa ban depan dan belakangnya.
Aku mendecak kesal setelah mendapati ban motor belakangku ternyata kempis sekempir-kempisnya.
“Kenapa, Sophia?” tanya seseorang sedikit mengagetkanku.
“Oh, Pak Adi. Ini Pak, ban motor belakang saya kayaknya bocor.”
Adi Bagaskara, seorang PNS yang juga bekerja di sana. Laki-laki itu sering menjadi bahan godaan karyawan-karyawan kantor karena belum juga menikah di umurnya yang terbilang sudah cukup. Tapi, walaupun laki-laki itu sudah 30 tahunan, dia masih tampak awet muda, kok.
Pak Adi berinisiatif memencet-mencet ban belakang motorku. “Saya coba pompa dulu gimana? Siapa tau ini cuma abis angin,” tawarnya padaku.
“Boleh, Pak.” Jawabku sedikit tak enak tapi menyetujui.
Pak Adi pun beranjak mengambil pompa motor yang memang sudah disediakan kantor di dekat parkiran sana. Dia juga mulai menarik dan mendorong tuas pompa manual itu mengisi angin ban motorku.
Aku terus memperhatikan Pak Adi yang tengah berbaik hati. Satu menit. Dua menit. Pak Adi mendesah.
“Kenapa, Pak? Beneran bocor, ya?” tanyaku pada Pak Adi yang berjongkok memegangi ban motor belakangku.
Pak Adi berdiri. “Iya nih, kayaknya emang bocor.”
Aku terdiam menatapi Fino. Fino, nama yang sebenarnya kuberikan untuk motor matik hitamku itu. Hari ini Fino rewel, mungkin aku kurang baik menjaganya. Ban Fino juga sudah mulai halus, barangkali karena itu dia bocor. Maafin Sophia, Fino. Hik hik….
“Mau dibantu dorong motor ke bengkel?” Lagi-lagi, Pak Adi menawariku bantuan.
“Nggak usah, Pak. Saya sendiri aja. Nggak enak sama Pak Adi, nanti kecapekan gara-gara saya lagi.” Aku menolak.
Pak Adi tersenyum hangat padaku. “Nggak gitu juga, Sophia. Bengkel deket sini lumayan jauh, loh. Saya bantuin dorong, ya?”
“Tapi, Pak.”
“Udah…, nggak pa-pa.”
Pak Adi pun membantuku mendorong Fino pergi ke bengkel. Benar kata Pak Adi, bengkel terdekat dari kantor itu lumayan jauh. Sekitar dua puluh menit, kami baru sampai.
***
Di bengkel…
Aku memberikan sebotol minuman dingin yang baru kubeli di toko dekat bengkel itu kepada Pak Adi. Laki-laki itu tampak sangat lelah setelah mendorong Fino.
Sambil menunggu ban Fino diperbaiki, aku dan Pak Adi duduk menunggu di bangku panjang yang disediakan di bengkel itu.
“Pak Adi,” panggilku pelan membuat laki-laki itu menoleh. “makasih banyak udah bantuin saya dorong motor sampe ke sini. Saya jadi nggak enak.”
Pak Adi tertawa pelan. “Santai aja, Sophia.”
“Oh, iya. Ini kan udah bukan jam kantor lagi, kamu kalo ngobrol sama saya santai aja,” ujar Pak Adi yang mungkin melihat gelagatku sedikit canggung dengannya.
“Iya, Pak.”
Pak Adi tertawa pelan lagi. Apanya yang lucu, sih? Heran gue. “Panggil Adi aja, Sophia. Apa saya udah kelihatan tua banget, ya?”
Aku tersenyum. “Enggak kok, Pak.”
“Kok Pak lagi, sih?”
“Oh, iya. Adi maksudnya.” Aku tersenyum meringis malu.
Aku dan Adi saling membisu. Lima menit. Sepuluh menit. Aku pun mulai mengecek ponselku. Hatiku berdesir tipis setelah melihat sebuah pesan dari Juna.
Juna : Sophia…, lagi di mana?
Sophia : Lagi di bengkel. Fino sakit.
Ini kenapa gue ngetik 'Fino sakit', sih? Aku terheran dengan diriku sendiri.
Juna : Lagi di bengkel? Fino sakit? Maksudnya?
Ha ha ha, gue kerjain aja si Juna. Batinku tertawa.
Sophia : Iya, gue lagi di bengkel sama Fino.
Aku masih menunggu pesan Juna dikirim. Tapi laki-laki itu tampak lama mengetiknya. Satu menit. Dua menit. Juna juga belum membalas pesanku lagi.
__ADS_1
“Sophia, saya balik duluan, ya. Kamu nggak pa-pa kan nungguin sendiri?” pamit Pak-, oh, maksudnya Adi. Pamit Adi tiba-tiba padaku.
“Iya, nggak pa-pa. Sekali lagi makasih, Adi,” ungkapku sedikit cringe memanggil laki-laki sekantorku itu dengan namanya saja.
Adi tersenyum. “Iya, sama-sama. Ya udah, saya duluan, ya.”
Adi pun pergi dengan sebuah ojek yang memangkal tak jauh dari bengkel itu. Aku bisa melihatnya. Laki-laki itu berlalu menuju ke arah jalan kantor. Mungkin dia mau kembali ke sana untuk mengambil motornya.
Aku masih menunggu di bengkel itu. Aku kembali mengecek ponselku, dan sebuah pesan balasan dari Juna kubaca.
Juna : Bengkel mana?
Aku tersenyum sembari mengetik.
Sophia : Bengkel Anugerah, Jalan Widuri.
Juna : Oke, OTW ke sana.
Juna mau nyamperin gue ke sini? Seriusan??? Aku mengentak-entakkan kaki ke plesteran bengkel itu. Beruntung tak ada yang melihat sikap konyolku. Aku pun mengatur napas santai.
Lima menit. Sepuluh menit. Juna pun tiba menghampiriku. “Hai,” sapanya menatap seraya duduk di sebelah kananku.
“Hai,” balasku menyapa tersenyum padanya.
“Kenapa lo senyum-senyum gitu? Seneng ya gue samperin?” Juna menyeringai nakal.
Juna Raja Semesta, aku lupa kalau dia itu percaya dirinya tingkat akut! Santai Sophia…, tetap tenang dan elegan. Jangan kelihatan murahan, oke!
“Isss….” Aku mendesis, lalu membuang muka.
“Jadi Finonya udah baikan belum?” tanya Juna melirikku.
Aku sedikit membelalak. Apa Juna tau kalau Fino itu motorku? Gagal dong aku mengerjainya tadi? “Nggak tau. Masih diganti tu bannya.” Jawabku.
“Lo udah makan siang?” Juna kok perhatian banget, sih? Seumur-umur baru ketemu laki-laki kayak Juna. Aku jadi yakin kalau dia orang yang baik.
“Udah. Lo sendiri?” tanyaku balik.
“Udah. Sholat juga udah.” Jawab Juna tersenyum menatapku.
Jawaban itu mengingatkanku pada jawaban yang sama persis saat aku membalas pesannya. Saat itu, kata Mini, Juna meminjam ponselnya untuk menghubungiku di whatsapp. Jadi throwback, kan.... Aku menundukkan pandang terdiam tersenyum dalam hati.
“Iya. Tadi pas banget gue mau balik, dan ternyata ban belakang Fino udah kempes.”
“Jadi lo bawa Fino ke sini gimana? Dorong?” Juna tampak penasaran.
“Iya. Tapi bukan gue sih yang dorong Fino nyampe sini. Tadi ada Adi yang bantuin gue.”
“Adi? Siapa?” Dan sekarang wajah Juna tampak lebih penasaran daripada sebelumnya. Dia kenapa?
“Adi, dia temen ngantor gue.” Jawabku santai.
“Temen apa temen...?” Juna menyeringai.
“Bukan temen, sih. Dia sebenernya senior gue di kantor. Dia udah duluan kerja di sana ketimbang gue.”
“Hmmm….” Respon Juna padaku, lalu dia diam.
Aku pun ikut diam.
Selang tak lama, Fino pun selesai diganti ban. Aku pun membayar upah bengkel, lalu menggiring Fino keluar ke pinggir jalan.
“Juna, lo mau balik atau gimana? Udah mau sore nih, gue juga harus balik soalnya.”
Juna berjalan mendekatiku. “Entar malem gue chat lo. Jangan tidur dulu, ya. Hati-hati, Sophia,” bisiknya dekat di telingaku.
Angin bertiup pelan setelah Juna beringsut menjauh. Laki-laki itu tersenyum, kemudian pergi dengan motor trail kawasaki hitamnya. Jantung oh jantung, kenapa kau nyut-nyutan di dalam?
***
Di ruang kamar bersama Mini…
“Serius dia nanyain siapa Fino ke lo?” Aku sedang tak percaya dengan Mini yang katanya siang tadi Juna menanyainya tentang Fino.
“Iya, serius!”
“Gue pertamanya kaget kok tu orang nyamperin gue di kelas tiba-tiba. Dia nanya gini. Ni, Fino tu siapa? Ya gue yang nggak tau apa-apa jadi bingung, kan. Fino siapa sih, Kak? Terus Juna kayak gelagapan gitu. Apa hubungannya Fino sama Sophia? Nah, dari situ gue mulai paham. Oh, Fino…. Fino sama Sophia itu hubungannya deket banget, Kak. Fino itu…, motornya Sophia.”
__ADS_1
Aku terbahak dengan cerita Mini padaku. Astaga, jadi Juna balas pesan lama tadi gara-gara nanyain Fino ke Mini? Dia kok lucu, sih.
“Terus-terus? Gimana ekpresinya Juna pas lo bilang gitu?” tanyaku begitu penasaran pada Mini.
“Dia kek masang wajah datar gitu. Gue pikir sih dia malu. Mana di sana anak-anak lihatin kita lagi,” jelas Mini membuatku tertawa kecil.
Aku pun berjalan pelan mengambil ponselku di meja belajar. Aku duduk di kursi kayu itu, lalu membuka aplikasi whatsapp. Juna, kenapa dia belum juga mengirimiku pesan? Dia bilang, dia bakalan chat aku siang tadi.
“Ehem-ehem, ada yang nungguin gebetan chat, nih?” Mini mulai menggodaku.
Aku melirik tajam ke arah Mini yang tengah tiduran di kasur.
“Ya kalo Junanya belum chat, lo chat duluan, lah,” ujar Mini padaku.
“Nggak, ah. Entar gue dikira genit lagi.”
Mini terkekeh, kemudian beranjak duduk. “Juna ya bisa bedain lah cewek genit sama cewek rindu tu kayak gimana.”
“Maksud lo, gue nggak genit tapi rindu gitu?”
“Emang bener, kan?”
“Ogah, ah. Entar kalo gue chat duluan dianya kegeeran lagi. Lo tau, Juna itu pedenya tingkat dewa.”
Mini tertawa. “Lucu juga sih tu cowok. Tapi bagaimanapun, lo sama Juna harus jadian! Entar kita bisa double date, Phi.” Mini kegirangan.
“Double date pala lo?”
“Kok pala lo, sih? Ayo dong Phi semangat PDKT-nya!!!”
Aku mendesah. Tling. Bunyi notifikasi pesan masuk. Juna, laki-laki itu baru saja mengirimiku sebuah pesan. Aku pun segera membacanya.
Juna : Belom tidur, kan?
Sophia : Belom.
Juna : Gitu aja jawabnya?
Sophia : Terus? Emang harus jawab apa?
Juna : Nggak tanya balik gitu?
Sophia : Ngapain? Sekarang lo lagi chat gue, berarti lo belom tidur, kan?
Juna : Ha ha ha.
Juna : Lo Sabtu libur ngantor, kan?
Sophia : Iya. Kenapa?
Juna : Besok Sabtu siang ke kampus, ya.
Sophia : Ke kampus? Ngapain? Ogah, ah.
Juna : Harus mau!!! Pokoknya lo harus bawain gue makan siang besok Sabtu. Kalo lo nggak dateng, gue nggak bakalan makan siang. Lo nggak mau gue sakit, kan?
Sophia : Serah lo! Lo mau makan siang atau nggak, itu bukan urusan gue. Lo sakit, itu juga bukan urusan gue. Gue nggak mau ke kampus lo. Titik!!!
Juna : Makasih, Sophia. Gue tungguin lo besok Sabtu di kampus. See you….
“Ni orang waras nggak, sih???” ocehku menatap heran balasan pesan whatsapp Juna itu.
“Kenapa, sih?” tanya Mini bergumam sembari mengotak-atik ponselnya di kasur.
“Ini si Juna, masa dia nyuruh gue bawain makan siang ke kampusnya besok Sabtu?”
Mini yang awalnya tak acuh, tiba-tiba bangun dari kasur dengan wajah semangat. “Serius?” Mini membelalak kagum dengan mulut ternganga.
“Bodo, ah. Gue nggak mau ke sana lagi.”
“Kenapa? Ih, nggak pa-pa kali, Phi. Ini tu kesempatan lo buat nunjukin ke anak-anak kampus. Hai, ini gue Sophia, yang berhasil bikin seorang Juna Raja Semesta jadi cowok yang beda yang mungkin lo semua nggak bakalan percaya lihatnya! Come on, Sophia…!!!”
“Gila lo, Ni!”
Mini terkekeh. “Kok gila, sih?” Dia mendecak. “Gini deh, Phi. Anak-anak kampus tu pengen ketemu lo lagi sebenernya. Mana tau kan, lo ke sana terus dapet banyak fan. Sophia, cewek buluk yang disapa Juna di panggung First Day Campus. Wah…, bakalan jadi trending topik seantero kampus lo, Phi!” Mini terbahak.
“Lama-lama gue ngobrol sama lo ketularan sintingnya, Ni! Sinting!”
__ADS_1
Mini masih terbahak. “Apaan, sih. Cinta itu emang sinting, Phi!”
Aku berjalan keluar ruang kamar meninggalkan Mini yang malah menambahi beban pikirku itu. Dasar Mini. [ ]