Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Berdansa


__ADS_3

Perlahan namun pasti, kini aku semakin akrab dengan Eliana dan keluarganya. Ya meski kita belum resmi pacaran. Paling tidak keluarga William sudah berada pada genggaman ku, tinggal tunggu tanggal mainnya. Aku akan menghancurkan mereka.


Hari Minggu setelah aku latihan boxing, mendadak ada notifikasi masuk. Pemberitahuan kalau hari ini Eliana berulang tahun. Eliana mengundangku untuk acara ulang tahunnya yang ke 19. Aku sempat bingung juga apa yang disukai gadis cempreng itu. Atau mungkin dia suka novel seperti kakaknya Erlin.


Aku sendiri masih ingat saat Erlin dulu berulang tahun tepatnya saat ijab kabul. Aku belum bisa memberikan apa - apa padanya. Itu kesalahan yang mungkin bisa dimaklumi karena aku belum memiliki kekayaan.


Mobilku melaju memecah keramaian kota mencari sebuah toko.


“Novel. Ya, aku kado saja buku novel,” ucapku seraya menghentikan mobil tepat di toko buku. Aku masuk serta memilah – milah buku mana yang tepat untuk dia. Setelah aku menemukan lima buku, aku segera membayarnya. Tak lupa juga meminta pelayan toko untuk membungkus dengan rapi.


Kini aku sudah berada di halaman rumah Eliana, saat akan memarkir mobilku, ku lihat seorang pria yang tak asing lagi. Siapa lagi kalau bukan si otak udang, Ciko.


Ku banting keras pintu mobil sehingga membuat orang yang masih berada di luar rumah menatapku penuh tanya.


“Wah, keren banget nih cowok!”


“Siapa dia?”


“Mungkin itu kekasihnya Eliana,”


"Lihat mobilnya saja keren, pasti dia orang kaya!"


"Aku mau dong jadi pacarnya,"


Itulah bualan mereka padaku. Aku berjalan tegap tanpa memperhatikan orang – orang yang ada di sekitarku.


“Lagi – lagi kamu, dunia ini sempit ya,” ujar Ciko saat kami berpapasan.


“Dan itu sangat menguntungkan bagiku. Kamu pikir kamu pria baik yang pantas untuk Erlin. Tidak, kamu salah besar jika ingin mendapatkan dia.” ujarku menatap dengan tatapan membunuh.


“Siapa kamu, seolah kamu lebih mengenal Erlin dari pada aku. Aku kekasihnya, dan lihat bagaimana aku menaklukkan hatinya!” ujar Ciko menggebu – gebu.


“Sombong sekali. Aku tahu pria seperti apa kamu. Dan akan aku lihat usaha licik apa lagi yang akan kamu gunakan. Namun, dengarkan aku baik – baik! Sebelum itu terjadi juga, aku, Samuel Ramadhan akan mematahkan kedua tanganmu jika berani menyentuh dia secuil pun!” gertak ku seraya menekuk lima jari ku hingga membentuk kepalan lalu ku tunjukkan tinju pada wajahnya.


Seketika itu juga Erlin menghampiri Ciko.


“Ciko, kamu sudah datang?” sapanya terlihat manis. Sekilas juga dia menatapku seraya melirik apa yang aku bawa.


“Sayang, mana Eliana? Aku bawakan kado yang besar untuknya.” Ujar Ciko seraya menunjukkan kado sebesar tv membuat Erlin menatapnya lagi.


“Ada di dalam, ayo masuk!” ajak Erlin.

__ADS_1


Tanpa diminta pun aku turut mengekor mereka.


“Alamak, cantik juga Eliana, sebelas dua belas lah dengan istriku.” Gumamku seraya menatapnya penuh kekaguman saat ku lihat dia tengah menyambut para tamu.


“Ingat, aku mendekati Eliana tidak lebih hanya sekedar balas dendam.” Batinku mengingatkan.


“Kak Sam ...!” seru Eliana menghambur ke arahku.


Ku peluk dia sekedar, meski ini pertama kali bagiku memeluk wanita.


“Selamat ulang tahun gadis imut, semoga panjang umur!” doaku seraya memberikan kado padanya.


“Terima kasih Kak Sam!” ujarnya dengan penuh kebahagiaan. Senyumannya yang menawan hampir membuat jantung ku berdebar.


Papi dan mami menyambutku senang. Seolah aku ini anak menantu yang menjadi kebanggaan mereka. Memperkenalkan pada para tamu aku calon suami Eliana. Biarlah demikian, kita lihat siapa yang akan menang kali ini.


Pandangan ku tak lepas dari Erlin. Ciko pun tahu kalau aku sedang memperhatikan Erlin. Seolah Ciko menunjukkan kemesraan di depanku. Tentu itu membuat aku sangat jijik melihatnya. Ingin sekali aku memberi tahu siapa aku sebenarnya. Aku adalah suami Erlin yang masih sah di mata hukum dan agama. Ku kepalkan tinju geram melihat kemesraan mereka.


Erlin sendiri seperti menikmati perlakuan si otak udang itu.


Aku dengan langkah cepat menuju ke arah mereka berdua.


“Kak Sam, dansa yuk!” ajak Eliana membuat aku tertahan.


Ini salah satu kekurangan orang kaya model aku. Masa berdansa saja tak bisa? Ini bisa masuk lis daftar kegiatan ku terbaru.


Eliana terus saja mendesak ku. Terpaksa juga aku meladeni dia.


Musik pun berbunyi. Aku dan Eliana berdansa, hingga semua orang ikut berdansa. Awalnya kikuk juga, namun setelah tahu arah gerakannya aku menjadi terbiasa. Saat ada sesi tukar pasangan, aku tak percaya siapa pasangan ku.


“Erlin,” bisik ku dengan menyunggingkan senyum.


Tangan kami mulai menempel, dan tubuh kami pun lebih ke arah dekat.


“Ku rasa kamu tak pandai berdansa,” tebak nya membuyarkan lamunan batinku.


“Begitulah, berkuda nampaknya lebih menyenangkan.” Ujarku dengan sedikit penuh kebahagian.


"Kita bisa mencobanya di lain waktu." ujarnya kemudian.


Sempat kurasakan kulitnya yang mulus. Desiran angin menyeruak kalbu. Oh, Erlin, inilah saat - saat yang ku nanti.

__ADS_1


Kami berdansa hanya beberapa detik, setelah itu acara inti dimulai.


.


“Kak Sam!” panggil Eliana saat aku hendak memilih makanan.


“Kado Kakak kok buku novel semua,” ujarnya terlihat tak suka.


“Kamu nggak suka? Em, besok aku cari kado yang lain, maaf, aku tidak tahu kesukaan kamu apa?”


“Sungguh Kak, aku mau seperangkat alat kosmetik!” serunya penuh kegirangan.


“Boleh, bahkan toko nya pun bisa jadi milikmu.”


“Hore!” dia berlari persis layaknya anak kecil setelah mendengar penuturan dariku.


Segera aku mengambil piring, saat akan mengambil nasi aku berpapasan lagi dengan istriku.


“Bisa ambilkan aku ....” Erlin sedikit bingung dengan berbagai menu pilihan yang ada di atas meja.


“Mau spageti?” usulku yang ternyata mendapat anggukan darinya.


Seleranya tak berubah, masih sama seperti dulu. Lalu bagaimana dengan hatimu? Akankah berubah setelah melihat aku yang sekarang?


“Kok kamu bisa tahu kalau spaghetti ini kesukaanku?” tanya Erlin saat aku mengambil beberapa sendok spageti ke piringnya.


“Apa sih yang enggak tahu dari seorang Samuel,” ujarku membuat dia terkekeh.


“Alamak ... andai hidupku yang sekarang terjadi saat awal menikah dulu. Pasti rumah tanggaku seharmonis ini.” Gumamku.


“Minggir!” usir Ciko yang baru tiba.


Aku segera menggeser tubuhku. Bersamaan dengan itu Eliana datang lagi.


“Gadis imut, kamu mau aku ambilkan makanan?” tawarku.


“Iya Kak mau, terasah deh apa saja, asal Akak yang mengambilkan.” Tukas Eliana tanpa rasa malu sedikit pun.


Aku mengambil nasi goreng, mie goreng serta udang goreng. Piringnya penuh sekarang.


“Kak Sam, mana mungkin aku bisa menghabiskan ini semua,” omelnya dengan cemberut.

__ADS_1


“Salah sendiri,” batinku sambil tertawa jahat.


Aku tak lepas dari pandangan ku lagi pada Erlin. Aku ingin membuat dia cemburu. Aku akan membuat Eliana jatuh hati padaku. Dengan begitu Erlin pasti akan terasa sakit.


__ADS_2