Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Tinggal Serumah


__ADS_3

Pukul 15.00


Seharian berada di tanah lapang membuat aku benar - benar lelah sekarang.


Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur hingga terpental. Baru saja aku ingin memejamkan mata, ada notifikasi masuk di ponselku.


Dengan rasa malas aku meraih ponsel yang aku letakkan begitu saja tadi.


"Hah, banyak banget!" seruku.


Aku membaca pesan dari gadis imut, Eliana.


"Kak Sam curang, jahat, kenapa hanya kak Erlin saja yang di ajak naik jet."


"Aku juga mau Kak!"


"Tadi kak Erlin bilang, Kak Sam barusan mengajaknya keliling London, benarkah?"


"Aku pengen Kak ...."


"Terus kak Erlin bilang, Kak Sam tadi beli kuda poni juga, kudanya buat aku saja ya Kak."


"Kak Sam kan cowok, jadi nggak perlu kuda poni."


Dst ...


"Alamak, Erlin mengerjaiku, bisa - bisanya dia memfitnahku mengajaknya keliling London. Ditambah beli kuda poni segala!" aku ngedumel sendiri setelah membaca pesan dari Eliana.


Aku lemparkan ponsel di sampingku. Seraya mengabaikan deringan ponsel.


"Tok - tok !" suara pintu mengharuskan aku bangun dan segera membuka pintu.


"Kakek?"


"Biasa saja Sam, kamu melihatku seperti melihat hantu saja!" ujar kakek.


"Enggak Kek, bukan begitu, aku baru saja memejamkan mata, jadi agak kaget saja,"


"Bagaimana tadi?" tanya kakek meminta janjinya.


Aku segera berbalik menuju sofa, tas ku tadi ku taruh di sana. Aku menunjukkan piala kecil dengan pola kuda di atasnya.


"Ini Kek, aku berhasil kan ...."


"Good job Sam, tingkatkan prestasi kamu!" kakek memelukku erat.


"Iya Kek, Samuel janji akan menjaga prestasi ini."


"Kamu sudah mandi?"


"Belum Kek,"


"Sana pergi mandi, sudah sore juga!" perintah kakek. Aku hanya menunjukan deretan gigiku seraya menggaruk tengkukku.


Kakek keluar kamar. Aku menutup kembali pintu sambil menguap lebar. Aku sangat ngantuk.


Keesokan harinya.


"Tuan Muda Sam, seorang pria bernama Steven William sejak tadi menghubungi Anda." terang asistenku.

__ADS_1


"Biarkan saja, aku sudah tidak ada urusan lagi dengannya." terangku. Asisten perempuan itu segera undur diri.


Tak begitu lama, ponselku berdering.


"Jangan - jangan itu papi, orang tua itu tak tahu malu ya, sudah jelas - jelas aku menolaknya untuk mengembalikan saham yang sudah aku beli."


Aku mengabaikan deringan ponselku.


Terdengar keributan di luar ruangan. Aku segera keluar untuk melihatnya.


"Lepaskan, lepaskan kataku!" suara wanita yang tak asing bagiku.


"Erlin!" pekik ku tak percaya melihat istriku begitu arogan.


"Kamu!" dia menunjuk ke arahku.


Aku membawa dia menuju ruangan lain, agar lebih santai ngobrol.


"Kamu juga CEO di perusahaan ini?" Erlin bertanya penuh selidik.


"Ya seperti yang kamu lihat sendiri,"


Dia terdiam beberapa saat.


"Apa yang membuat kamu sampai jauh - jauh datang kemari?" tanyaku memulai obrolan lagi.


"Papi bercerita kalau CEO perusahaan Carmel Sekuritas Nusantara telah membeli sahamnya dengan harga diluar dugaan. Apa itu benar?"


Aku hanya mengangguk.


"Apa kamu bisa merubahnya menjadi keadaan seperti semula?"


"Aku bukan tipe orang yang lebih cepat berubah."


Aku hanya diam saja. Dia tahu aku tak merespon.


"Baik, terima kasih atas waktunya!" dia tampak kesal dan segera berlalu dari pandanganku.


"Erlin, ini belum seberapa,"


Aku segera ke ruangan meeting. Waktuku sedikit tersita untuk meladeni papi.


Selesai meeting, keributan pun terjadi. Kali ini papi bikin ulah lagi dengan menjatuhkan namaku di media sosial.


Aku segera menghubungi pengawal untuk menyelesaikan masalah ini. Dan setelah kejadian itu, aku mendengar keluarga William di usir dari rumahnya. Hutang yang menumpuk sudah jatuh tempo, mereka tak mampu untuk membayar.


Terdengar ponselku berdering cukup lama. Karena jengah aku segera mengeluarkan ponsel dari saku jasku.


Ternyata dari Eliana.


"Cih, kakak dan adik yang kompak," gumamku seraya mengangkat panggilan masuk darinya.


"Hallo Kak Sam, kami di usir dari rumah kami. Tolong keluargaku Kak!" ujar Eliana.


"Di usir?"


"Ya Kak, papi sudah nggak punya uang untuk mencari kontrakan."


"Tunggu, akan ada mobil yang akan menjemput kamu dan keluarga kamu." ujarku, aku tak ingin juga melihat Erlin sengsara meski dulu dia juga pernah mengsengsarakan hidupku.

__ADS_1


.


Aku meminta Bondan untuk membawa keluarga William tinggal serumah dengan kakek. Ada kejutan untuk mereka. Sebelumnya aku sudah merencanakan ini bersama kakek, dan beliau menyetujuinya.


Tiga puluh menit aku baru sampai di kediaman kakek. Aku langsung menuju ruang tamu.


"Kak Sam!" teriak Eliana, membuat semua orang yang ada di sana menoleh padaku.


Ku lihat wajah mereka satu persatu. Ada papi yang masih dengan tatapan bengisnya. Mami tak kunjung juga menetralkan pandangannya, mungkin mami masih takjub dengan segala kemewahan yang ada di rumah kakek.


Erlin yang tak berhenti juga menatapku.


Perlahan aku berjalan mendekati mereka. Menyalami satu per satu.


"Apa ini rumah kamu?" tanya mami.


"Bukan, ini rumah kakekku. Apa kalian semua sudah bertemu dengan Kakek?"


"Belum Kak!" sahut Eliana.


"Pi, Mi, sebaiknya kita cari kontrakan lain saja." Erlin menimpali.


"Papi juga setuju dengan cara berpikir kamu, ayo pergi!" ajak papi yang menggandeng tangan Erlin.


"Tapi Pi, ini sudah malam, kita mau cari kontrakan ke mana lagi? Lagian di luar sana masih hujan," mami sedikit berdebat dengan papi.


"Iya, Kak Erlin ini gimana sih, sudah bagus kak Samuel memberi pertolongan pada kita untuk tinggal sementara di rumahnya." Eliana membela mami.


"Tinggal di tempat musuh." ujar papi datar.


"Tunggu, Om Steven, aku harus meluruskan ini! Aku bukan musuh kalian, niatku baik, sekedar memberi kalian tempat tinggal untuk sementara sampai keadaan membaik."


"Untuk masalah saham, aku bisa mentolerir, jika harga pasaran sudah stabil mungkin aku bisa memikirkan ulang permintaan papi." ujarku kemudian yang membuat papi berubah raut muka nya.


"Selamat malam!" suara kakek mengheningkan suasana.


Semua orang menoleh ke arah kakek.


"Selamat malam!" sahut keluarga William.


"Yang mana Sam, gadis calon tunangan kamu itu?" tanya kakek yang membuat semua orang yang ada kagetnya bukan main.


"Calon tunangan?" Semua orang melihatku.


Aku tersenyum seraya berjalan menuju mereka berdua, yakni Erlin dan Eliana. Kebetulan mereka berdiri sejajar.


Aku menggandeng tangan Eliana. Saat akan menyentuhnya aku melewati Erlin. Sekejab saja pandangan kami bertemu.


"Kak Sam?" Eliana tampak berbinar.


"Ini, sungguh pilihan yang tepat!" puji kakek.


"Aku mengumumkan kepada semua orang yang ada di sini, bahwa Eliana adalah calon istriku. Sebentar lagi aku akan bertunangan dengannya."


"Sukurlah, ternyata Samuel diam - diam menyukai Eliana, sungguh beruntung nasibnya." ujar mami.


"Biasa Mi, jangan norak!" bisik papi.


Akhirnya papi bersedia untuk tinggal di rumah kakek. Sengaja aku bersandiwara agar mereka tak jadi pergi. Tapi mereka belum tahu sandiwara apa lagi yang akan aku tunjukkan pada mereka.

__ADS_1


Hai reader semuanya yang berbahagia, jangan lupa untuk tetap dukung author tercinta kalian ini. Dengan cara memberi like, hadiah, vote dan jangan lupa komennya. Author takkan berhasil tanpa adanya dukungan dari kalian. Terima kasih...


😘😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2