Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Si Kecil yang Usil


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Erlin terbangun dari pingsannya setelah mencium aroma minyak kayu putih.


"Sayang, kamu sudah sadar?" aku membantu dia bersandar.


"Tadi, ada ...." Erlin meringkuk ketakutan. Aku memeluk menenangkan dia.


"Apa yang kamu lihat tadi, ular?" tebakanku, pasti tak salah.


"Bukan Sam, ada hantu di rumah ini!" ujarnya kemudian.


"Alamak, Erlin, mana ada hantu di siang bolong begini," keluh ku seraya melepas pelukan ku. Aku tak percaya dengan omongannya barusan. Wanita modern seperti dia, percaya dengan hantu?


Paman Wito melongo mendengar penuturan Erlin.


Seketika itu, bibi Wati memasuki kamar seraya menggandeng anak kecil, bukan, sepertinya itu piaraan paman Wito. Bentuknya mirip banget dengan tuyul. Pantas saja istriku pingsan, mungkin dia mengira bocah ini adalah tuyul.


"Itu tuyulnya !" pekik Erlin seraya menunjuk ke arah bocah laki - laki berkisar usia 4 tahunan dengan kepala botak mirip upin ipin.


Paman Wito dan Bi Wati pun tertawa lepas.


"Ini bukan tuyul, Erlin, bocah ini adalah keponakan bibi kamu yang menginap di rumah paman," terang paman Wito seraya mendekatkan bocah itu.


Bi Wati mengambil tisu dan mengelap wajah bocah itu yang penuh dengan bedak.


"Namanya Cemplon, kebiasaan, tadi baru selesai mandi terus pakai bedak sendiri. Bibi lupa, pas tadi kamu datang tak menyimpan bedak lebih dulu, akibatnya begini nih hasilnya," terang bi Wati sambil mengusap wajah Cemplon.


"Nah, sekarang sudah ganteng!" bi Wati memperlihatkan wajah aslinya pada kami.


Erlin mulai tak takut lagi. Dia tersenyum manis tatkala melihat wajah asli yang dikira tuyul tadi.


"Cemplon, ayo minta maaf sama Mbak Erlin!" ujar paman Wito mengarahkan Cemplon.


"Mbak Erlin, Cemplon minta maaf!" ujar Cemplon dengan ciri khas anak kecil.


Erlin mulai tersenyum, "Sini, salim!" Erlin mengulurkan tangannya.


Cemplon pun mendekati Erlin dan menerima uluran tangannya. Saat akan mencium punggung tangannya, Erlin menjerit.


"Awww!" jerit Erlin seraya cepat menarik tangannya.


"Kenapa Sayang!" tanyaku panik.


"Dia hampir memakan tanganku." ujar Erlin seraya mengelus punggung tangan.


Galak tawa pun memenuhi kamar itu.


"Cemplon suka begitu, usil, maaf ya Erlin," kata bi Wati sungkan.


"Iya Bi, Erlin nggak apa - apa kok, cuman tadi pas dari kamar mandi seperti ada yang menarik bajuku dari belakang. Aku menoleh dan ada tuyul yang sedang mentertawakan aku. Aku kaget dan sontak teriak. Tak tahunya, aku sudah berada di kamar ini." terang Erlin polos.


"Cemplon, Cemplon, memang si kecil yang usil," Gumam paman Wito.


"Sudah siang nih, mumpung pada ngumpul, kita makan siang yuk!" ajak bi Wati.


"Bener juga, tadi paman mancing ikan loh sama Cemplon, dan sekarang ikannya sudah matang, ayo makan!" imbuh paman Wito.


"Hore makan!!" seru Cemplon yang langsung berlari menuju meja makan.

__ADS_1


Aku membantu Erlin untuk turun.


"Gimana, masih pusing kah?" tanyaku khawatir. Aku merangkul pundaknya.


Erlin menggelengkan kepala, "Sungguh, tadi jantung ku saja hampir mau loncat ketika melihat Cemplon,"


"Sudah, anggap saja kamu apes hari ini," gurau ku seraya mengusap bahunya.


Erlin menyikut perutku.


"Aww, sakit Yang!" pekikku.


Dia melepas rangkulan tanganku dan berjalan mendahului aku.


Saat di meja makan.


Aku sudah siap untuk makan. Aneh, perasaan tadi aku sudah mengambil ikan. Lalu kemana pergi nya ikan ku? Masa dia loncat dengan sendirinya, tidak mungkin kan?


"Ayo Samsul, dimakan nasi nya, keburu dingin loh!" ujar bi Wati, dengan cepat aku merespon, mengangguk kan kepala seraya mengamati semua orang.


Piring mereka lengkap dengan lauk ikan. Hanya piringku yang nggak ada. Apes deh ....


"Ke mana Cemplon Buk?" tanya paman Wito pada istri nya.


"Lah ke mana anak itu, tadi kan duduk di sini!" bi Wati dengan mulut penuh nasi menunjuk kursi di sebelahnya.


Dan semua orang mendengar suara di bawah meja.


"Cemplon!" semua orang mengintip suara di balik meja.


Galak tawa pun terjadi.


"Anggap saja Yang, lagi apes!" seru Erlin seraya memamerkan ikan miliknya.


Aku hanya menggaruk alisku.


"Sini piring kamu, aku bagi dengan punyaku!" pinta Erlin seraya mengambil piringku.


"Sudah, buat kamu saja, orang kaya biasa makan ikan begituan!" timpalku.


"Heleh, nggak usah sungkan!" Erlin menyerahkan piring ku kembali.


Selesai makan, aku dan Erlin berpamitan pada paman Wito dan bi Wati.


Sesampainya di rumah Emak.


"Sam, ini ada oleh - oleh buat kamu!" ujar emak seraya menunjukkan hasil bumi. Ya apa lagi kalau bukan, singkong.


"Emak, Samsul sudah jadi orang kaya masa ke kota bawa singkong, malu ah!" tolakku.


"Eis, kamu meski sudah jadi horang kaya nggak boleh meninggalkan budaya kita! Singkong itu kuenya orang desa." tutur emak yang tetap memaksa.


"Sam, sudah biarkan saja emak mau membawakan singkong, entar aku sulap deh jadi makanan yang luar biasa!" tutur Erlin membela emak.


"Tuh kan, istrimu saja mau,"


"Ya sudah deh, terserah Emak maunya gimana!" keluhku malah membuat emak tersenyum.

__ADS_1


"Oh iya Mak, ada yang ingin Samsul sampaikan ke Emak,"


"Apaan Sam?"


"Tiga tahun lagi Emak sudah bisa berangkat haji." terangku yang langsung membuat emak girang.


"Haji Sam?"


"Iya Mak, itu kan yang ingin Emak inginkan?" emak mulai menitikkan air mata seraya mengangguk. Erlin mengusap bahu emak.


"Samsul, emak tidak bisa berkata apa - apa selain terima kasih," emak mulai sesenggukan.


"Yang seharusnya mengucapkan terima kasih itu Samsul, Mak," Aku memeluk emak seraya mengusap punggungnya.


"Samsul, emak tak bisa memberikan kebahagian yang layak untuk kamu selama ini, dan kamu malah mau memberangkatkan haji emak," ujar emak. Aku melepas pelukan ku dan mengusap pipi emak.


"Sudah Mak, niat Samsul baik kok, anggap saja ini balas budi anak Emak," Erlin menimpali.


Emak mengangguk.


Pukul 15.30 aku dan Erlin meninggalkan emak. Emak tetap bersikukuh tak mau aku ajak ke kota untuk tinggal denganku.


Emak lebih memilih melanjutkan berdagang gorengan. Bahkan emak menolak aku beri pesangon. Katanya, uang bulan lalu yang aku kasih masih ada.


Setelah berpamitan pada emak, kami meninggalkan desa.


Karena perjalanan kali ini tanpa halangan, jadi kami lebih cepat sampai ke rumah. Aku membawa Erlin pulang ke rumah kakek. Sebelumnya aku sudah memberi kabar pada papi mami.


Sesampainya di rumah kakek.


"Sayang, kamu tahu ponselku ada di mana?" tanyaku seraya merogoh saku sana sini.


"Lah, tadi bukannya kamu bawa?" ujar Erlin memberi tahu.


"Perasaan tadi dari rumah emak terus aku masukkan ke ...." aku mengingat - ingat.


"Sepertinya ada di dalam tas!" sambungku kemudian.


Erin membantu mencari ponselku. Aku mematikan mesin mobil dan menuju ke bagasi.


Dalam bagasi ada dua buah tas yang berukuran berbeda.


Erlin mengambil salah satu tas yang besar sedangkan aku mencari di tas kecil.


"Kyaaa!" Erlin menjerit histeris kala membuka isi tas yang berukuran besar itu.


"Erlin, ada apa?"


"Itu ...."


Bersambung...


Maaf ya kakak reader semuanya, author lagi sibuk banget. Lain kali author akan rajin up date. Sementara satu bab aja ya...


Tetep semangat author tercinta kalian ini dengan memberi like, vote, hadiah dan jangan lupa komentar pedasnya.


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😁

__ADS_1


__ADS_2