Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Lima Centi


__ADS_3

Flashback


"Sam, kejar aku!" teriak Erlin seraya membawa lari bunga yang ku petik tadi.


"Ah, iya," aku tersadar dari lamunan, aku berusaha mengejar dia dengan lari - lari kecil. Melihat dia tertawa riang.


Erlin berlari sangat cepat menyusuri taman. Sesekali dia bersembunyi di balik rerumputan lalu mengejutkan aku secara tiba - tiba. Meski aku tahu itu.


"Sayang," aku berhasil menangkap Erlin yang berusaha ingin mengejutkan aku lagi dari belakang.


Kami tertawa bersama. Sungguh kencan yang sangat menyenangkan.


"I love you, Sam!"


"I love you too, Erlin." aku membelai rambutnya yang indah dan perlahan ciuman bertubi mendarat di wajahnya.


"Sam, lihat, ada kucing!" teriaknya seraya terlepas dari pelukanku. Dia berlari mengejar kucing berwarna putih. Kucing itu berlari sangat cepat hingga keluar dari taman.


Aku melihat dari kejauhan ada sebuah sepeda motor sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Secepat mungkin aku mengejar Erlin. Ku teriaki namanya berharap dia berhenti.


"Awas Erlin ... !" aku menjerit histeris. Erlin mengalami kecelakaan yang mengerikan.


"Tidak ...!" jeritan ku mengundang kerumunan.


Rambut Erlin terjepit jeruji. Dengan berbagai cara beberapa orang membantu ku. Aku menopang tubuh Erlin. Tukang cukur yang berada di sekitar komplek segera berlari untuk mengambil gunting.


"Cepat - cepat!" ujar salah satu warga sekitar.


Darah sudah mengalir di mana - mana. Mengerikan sekali nasibnya. Aku merasa berterima kasih sekali pada mereka yang telah menolong Erlin.


Aku segera melarikan dia ke rumah sakit terdekat.


"Bertahanlah Erlin!" ujarku pada tubuh yang tak sadarkan diri itu.


Erlin kini sudah mendapatkan penanganan yang maksimal.


Beberapa suster keluar masuk ruangan ICU membuatku merinding. Semoga Erlin selamat.


"Tuan Muda Sam, nyawa istri Anda tertolong, tapi maaf, beberapa jahitan harus kami berikan pada wajah istri Anda. Dan ada sedikit masalah," ujar dokter pria yang baru saja keluar dari ruangan ICU.


"Masalah apa Dok, cepat katakan!" bentakku kasar.


"Sabar Tuan Muda Sam, ini mungkin hanya terjadi untuk sementara waktu. Istri Anda, Erlin William mengalami gangguan di pita suara nya." terang dokter yang membuat ku shock.


"Erlin, maafkan aku, ini semua salahku. Andai aku tak mengajak kamu pergi, mungkin ini semua takkan terjadi," aku menyalahkan diri.


.


Selembar kertas mungkin tak cukup untuk memberi alasan dari semua pertanyaan yang pernah Erlin lontarkan. Aku sengaja meletakkan di atas meja. Berharap ketika dia sudah sadar, sudi untuk membacanya.


Aku mengintip Erlin dari balik jendela, ku lihat dia meremas kertas itu. Apa dia membenciku karena aku lalai menjaga dia??


Perlahan aku membuka pintu, berjalan mendekat ke arahnya. Dia melihatku. Air matanya mulai deras. Meski tak terdengar senggukannya, aku tahu betapa sedihnya dia.


Aku menggenggam erat tangan yang sedari tadi ingin menggapai ku.

__ADS_1


"Erlin, maafkan suami kamu yang jahat ini!" air mataku mulai menitik.


Erlin hanya mampu menggelengkan kepala. Aku mengusap pipinya yang banyak hiasan. Dia pun meraba pipiku, berusaha menghapus juga.


"Erlin, kamu sudah lega kan dengan surat yang aku tulis?" dia pun mengangguk.


"Aku lega melihat ini, jadi kamu tak usah mempertanyakan lagi padaku tentang seberapa besar cintaku padamu. Setelah kamu boleh keluar dari rumah sakit ini, aku akan membawamu pergi ke luar negeri."


"Kita hanya akan bersenang - senang di sana, menikmati kehidupan yang baru." sambungku lagi.


Erlin tersenyum, dan air matanya pun sudah berhenti.


Aku mencium pucuk kepalanya. Meski terlihat sedikit botak, dia tetap Erlin ku yang cantik.


Keesokan harinya.


Erlin meraba kepalaku. Aku terbangun. Ternyata semalaman aku tertidur dengan posisi duduk.


"Erlin, apa kamu butuh sesuatu, katakan !" ujarku seketika.


Erlin tetap terdiam membuatku mengulang pertanyaan.


"Alamak, aku lupa kalau Erlin tak bisa berbicara!" gerutuku dalam hati.


"Maafkan aku Erlin, kamu bisa mengangguk jika yang aku maksud itu benar, dan kamu bisa menggeleng jika yang aku maksud itu salah."


Erlin terdiam, ku anggap saja dia paham. Aku mencoba dengan satu hal.


"Kamu ingin ke kamar mandi?" dia menggeleng.


"Minum?" sama hasilnya.


"Beri aku petunjuk, agar aku tahu keinginan kamu!" Erlin menuding ke arahku.


"Aku, eum ... kamu menginginkan aku?" tebakanku yang berhasil membuat dia mengangguk.


Menggaruk kepala mungkin tak menjawab pertanyaan ku, tapi itulah yang aku kerjakan sekarang.


Berpikir sejenak untuk mencerna maksud Erlin menginginkan aku.


"Erlin, apa yang bisa aku lakukan?" Erlin melambai ke arahku agar aku mendekat ke arahnya.


Setelah mendekat, Erlin tetap mengarahkan tangannya agar aku lebih dekat lagi. Setelah pandangan kami bertemu dan hanya lima senti saja jaraknya. Erlin memejamkan mata. Hembusan nafasnya terasa hangat dan lembut. Aku tahu maksud Erlin apa, ciuman di pagi hari. Ku tempelkan bibirku dengan bibirnya, ku ***** dengan lembut dengan sensasi yang luar biasa. Seketika itu juga aku memejamkan mata.


Ketukan pintu berhasil membuat ciuman kami terlepas.


"Pagi!" sapa seorang suster.


"Pagi juga Sus!" sahutku seraya mengelap bibirku dengan cepat. Sepertinya suster itu menahan senyuman.


Suster mengecek selang infus, lalu memasang dengan yang baru.


"Sepuluh menit setelah sarapan, dokter akan mengecek keadaan pasien." terang suster yang segera pergi setelah meletakkan bubur nasi dan baskom.


"Iya Sus," sahut ku.

__ADS_1


"Mau sarapan dulu?" Erlin menggeleng.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menyeka tubuhmu!" Erlin menggeleng namun aku tak menghiraukan penolakannya.


"Jangan malu, aku ini suami kamu, dan bahkan aku sudah menyentuh semua kulit kamu!" aku mulai mengambil washlap yang sudah direndam dengan air hangat.


Ketika aku mulai mengusap daerah leher, Erlin seolah tertawa. Aku merasakan juga kalau dia geli.


"Tahan Erlin, mungkin yang terakhir ini lebih menggelikan!" Erlin menggeleng lagi, seolah dia ingin aku berhenti.


Aku menerobos di balik kain segitiga miliknya. Lebat dan ngangenin itu segera aku bersihkan. Erlin tertawa lepas, meski tak suara aku mendengar itu.


Setelah selesai dengan acara menyeka tubuh istriku, kini saatnya menyuapi dia.


"Buka mulut mu!" aku menyodorkan sendok ke mulutnya.


Dia bungkam serta menggeleng.


"Erlin, aku tahu kamu bukan bayi lagi sekarang, tapi kamu tak bisa menyendok sendiri, bahkan tubuh kamu masih lemas." omel ku yang sudah mulai ketularan emak - emak.


"Ayo, dibuka mulut nya!" dia masih sama.


"Apa kamu nggak suka bubur nasi?" dia mengangguk.


"Kamu suka apa, biar aku pesan kan sekarang!" aku mengambil ponselku mencari go food.


"Gurame bakar, ikan bakar, sate, bakso?" Erlin mengangguk antusias.


Sebelum aku memesannya, aku teringat dengan pita suaranya yang terganggu.


"Tunggu Erlin, bukannya kamu sakit di bagian ini?" Aku menunjuk leherku, "bagaimana bisa kamu menelannya?" aku membatalkan pesananku.


"Coba menu lain yang lembek!" Erlin menggeleng cepat.


Akhirnya aku punya ide untuk memesan makanan lain. Selain mengenyangkan menu ini juga kaya gizi.


Sambil menunggu makanan datang, Erlin memberi isyarat agar aku menghabiskan bubur nasinya.


"Baik, istriku yang tercinta," ujar ku seraya memasukkan bubur itu ke mulutku.


Saat bubur nasi itu tinggal satu suapan, dokter memergoki ulahku.


"Kamu mau jadi pasien!" hardiknya tegas membuat aku membelalakkan mata.


Bersambung ....


Kira - kira makanan apa ya yang disiapkan oleh Sam?


Hai reader semuanya, tetap dukung novel Suami Bulukku Mendadak Tajir ya ...


Jangan lupa like, komen yang membangun, hadiah dan vote nya.


Terima kasih yang sudah setia dengan author recehan ini.


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😎

__ADS_1


__ADS_2