Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Keluarga Baru


__ADS_3

"Kamu lupa, Sayang, bukankah dia si botak yang pernah membuat kamu pingsan 2 tahun lalu?" ujarku mengingatkan Erlin. Erlin mendongakkan kepala mencoba berpikir dan mengingat.


"Cemplon, benarkah itu kamu!" pekik Erlin setelah dia ingat. Dia tak percaya dengan kenyataan ini. Bola matanya mulai berkaca -kaca.


"Mama Erlin !" panggil Cemplon seraya merentangkan kedua tangannya.


Erlin menutup mulut nya terharu dengan sebutan yang ia dengar.


"Kamu barusan memanggilku apa?" tanya Erlin masih tak percaya.


"Mama Erlin," Cemplon mengulangi perkataannya.


Erlin pun langsung memeluk Cemplon. Aku sendiri terharu melihat pemandangan itu.


Aku mendekati mereka yang mengabaikan aku. Ikut memeluk juga.


"Ayo, kita masuk!" ajakku membuat mereka melepaskan pelukan rindu.


Erlin mengusap pipinya yang sedari tadi basah seraya mengangguk.


"Bagaimana bisa kamu melakukan ini, Sam?" tanya Erlin sambil menatapku.


"Apa yang tak bisa aku lakukan," ujarku renyah. Erlin sontak memelukku. Cemplon menutup kedua matanya, malu.


"Kamu sengaja tak memberi tahu hal ini," Erlin melepaskan pelukannya dan mengusap kepala Cemplon yang sudah lebat itu.


"Hem, kejutan kan, dengan begini kamu tak perlu khawatir lagi tentang anak. Aku sudah mengambil hak asuh dari paman Wito, agar Cemplon menjadi anak kita."


"Aku tak salah dengar?" terlihat jelas di raut mukanya kalau dia sangat bahagia.


"Tidak Erlin, Cemplon sudah jadi anak kita," kataku menegaskan.


"Anak, aku dan kamu?" Erlin seolah masih tak percaya. Dia menuding dirinya lalu diriku.


Aku mengangguk, menyakinkan dia.


"Cemplon, sekarang aku menjadi mama kamu! Kamu tahu, aku sangat senang dengan kehadiranmu!" ujar Erlin, dia tak henti -hentinya mencium pipi Cemplon yang menggemakan itu.


"Ayo!" ajakku lagi. Kami bertiga pun masuk.


Aku meminta pelayan untuk membawa semua barang milik Cemplon ke kamar.


Setelah sampai di ruang keluarga, kakek Rama tengah sibuk dengan pekerjaannya, ya apalagi sekarang kalau bukan mengisi TTS.


Kakek Rama juga terkejut dengan kedatangan Cemplon.


"Wah, siapa yang datang ini!" seru kakek, beliau meletakkan pulpen dan menutup bukunya. Berdiri dengan posisi tak tegak lagi.


"Kakek!" Cemplon berlari ke arah kakek. Mereka berdua saling berpelukan.


"Kakek tahu, aku akan tinggal di sini!" ujar Cemplon memberi tahu seraya melepas pelukannya.


"Sungguh?" kakek menatapku, seolah bertanya tentang kebenaran ini.

__ADS_1


"Iya Kek, Cemplon akan tinggal bersama kita di sini untuk selamanya, dia sudah menjadi anak aku dan Erlin." ujarku seraya menatap Erlin dan menggenggam erat tangannya.


"Sungguh, akhirnya kalian mempunyai anak sekarang, dan kakek memiliki buyut sekarang!" ujar kakek senang.


"Nah, Cemplon, sekarang kamu memanggil kakek dengan panggilan kakek buyut ya, coba panggil kakek lagi," ujar kakek.


"Kakek buyut," kata Cemplon terdengar menggemaskan.


Setelah mendengar kabar baik ini, kakek mengajak Cemplon ke kamarnya. Kakek bilang ada sesuatu yang ingin kakek tunjukkan pada Cemplon.


"Sam, terima kasih!"


"Untuk apa?"


"Em, ya untuk kejutan ini!"


"Apa kamu senang?"


"Senang sekali, Sam! Kamu tahu yang aku rasakan saat dia memanggilku dengan sebutan mama tadi, aku seperti jadi seorang ibu sungguhan," ujar Erlin, dari sorotan matanya tergambar jelas kalau dia sangat bahagia.


"Dengan begini kamu tak perlu sedih lagi," ujarku seraya menyelipkan rambut Erlin ke belakang telinganya.


"Aku tidak sedang bersedih sekarang."


"Bagus itu, aku berharap istriku yang cantik ini bahagia selalu!"


Erlin memeluk ku lagi. Ku balas pelukan Erlin.


"Aku akan membantu pelayan menyiapkan kamar untuk Cemplon dan setelah itu aku ingin memasak sendiri untuk makan siangnya." terang Erlin yang dengan segera melepaskan pelukannya dan menaiki tangga menuju kamar Cemplon. Letaknya ada di sebelah kamar Kakek.


Setelah urusan Cemplon beres, aku segera pergi ke kantor. Ada berkas yang tertinggal di sana. Bisa saja aku menyuruh Santo untuk mengantarnya, tapi aku sekalian pergi untuk membeli hadiah mainan buat Cemplon.


Selesai dari kantor aku mampir di sebuah toko mainan. Biasanya anak cowok suka dengan mainan mobil -mobilan dan robot, aku memborong 10 jenis mainan yang berbeda bentuk dan ukuran.


Tak terasa di rumah sampai sore. Aku melewatkan makan siang bersama keluarga baruku.


"Ah, nanti malam masih bisa makan bareng," Gumamku menghela sesal.


Aku segera menuju kamar Cemplon. Di sana ada Erlin yang tengah membantu Cemplon mengancingkan bajunya.


"Sore Sayang!" sapaku pada kedua insan yang kini telah mengisi hatiku.


"Sore Papa!" sahut Cemplon reflek menatap bungkusan keresek besar yang ada di kedua tanganku.


"Sam, kamu sudah pulang, tumben agak sore?" Erlin sudah selesai membenahi pakaian putranya.


"Iya, ini tadi aku beli sesuatu buat putra kita," ujarku seraya menaruh dua keresek besar itu di lantai.


"Cemplon, ini hadiah dari papa untuk kamu, bukalah!" pintaku.


"Hadiah Pa, untukku!" ujar Cemplon sumringah, dia lantas mengeluarkan semua isi nya dan memperlihatkan satu persatu pada mamanya. Erlin ikut bergabung di lantai.


"Wow, keren, terima kasih Papa!" Cemplon meletakkan mainannya dan menghambur ke arahku.

__ADS_1


"Iya, sana ajak mama kamu main!"


"Sini!" Erlin menepuk lantai. Cemplon kembali ke sana.


Mereka berdua asyik bermain bersama.


Saat aku hendak membalikkan badan, tiba-tiba tanganku tertahan.


"Sam," Erlin memanggilku lirih.


Aku menoleh.


"Aku tak menyangka kamu sebaik ini padaku, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Dari hatiku yang terdalam, aku bersyukur banget bisa menjadi bagian dari hidupmu." ujar Erlin.


"Sayang, kita akan memulai hidup menjadi keluarga yang sempurna, tentu bersama putra baru kita. Oh iya, apa kamu sudah merencanakan mau kamu sekolahkan di mana putra kita?" kataku tiba-tiba teringat dengan pendidikan Cemplon.


"Sangking senangnya aku lupa!" Erlin menepuk jidatnya.


"Aku ingin Cemplon sekolah di SD Tunas Bangsa saja, di sana pendidikannya lumayan bagus. Banyak brosur yang beredar mengunggulkan fasilitas di sana." terang Erlin.


"Baik, besok kita antar bersama."


Keesokan paginya, aku, Erlin dan Cemplon sudah rapi dan siap untuk mendaftarkan dia sekolah.


Pagi ini, Cemplon langsung di sambut hangat oleh lembaga sekolah, bahkan dia terlihat mudah sekali bergaul dengan teman-temannya. Cemplon duduk di bangku kelas satu.


Pulang sekolah pun tiba, aku dan Erlin menjemput Cemplon.


Tampak wajahnya yang murung setelah terlihat dari arah dekat.


"Kenapa Sayang, wajahmu terlihat murung begini?" tanya Erlin ketika Cemplon sudah masuk mobil.


Aku melihat dari arah spion mobil percakapan keluarga kecilku.


"Teman-teman bilang padaku, kalau aku hanya anak angkat." ujar Cemplon seketika tangisannya pecah.


Erlin menyurut air matanya.


"Sudah Sayang, jangan nangis, entar gantengnya hilang lho," hibur Erlin.


"Bilang sama semua teman-teman Cemplon, Cemplon sudah jadi anak sungguhan papa sama mama," ujarku juga mencoba menghiburnya.


Cemplon masih terisak.


"Sudah berhenti menangis ya, kita pulang yuk!" Erlin mengangguk padaku pada arah spion.


Aku segera menyalakan mesin mobil.


"Bagaimana kalau kita beli es krim dulu sebelum pulang?" tawarku untuk menceriakan suasana.


"Hore, aku mau makan es krim!" seru Cemplon yang kini tak terlihat sedih.


Di tengah jalan kami berhenti untuk membeli es krim. Dan kami bertiga makan bersama.

__ADS_1


Sosok pria mendekat ke arah kami.


"Halo, kamu tak lupa denganku kan Erlin, sudah lama kita tak bertemu, kamu terlihat semakin cantik saja!"


__ADS_2