Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Pernikahan Sakral


__ADS_3

Semua tamu undangan yang hadir mulai ricuh dengan segala macam omongan mengenai diriku. Entah itu baik atau jelek.


Papi dan mami menundukkan wajah malu dan enggan menatap wajah menantu buluknya, seakan mereka takut dengan reaksi yang nanti aku lakukan pada mereka.


Erlin menatapku penuh, dengan pandangan yang penuh air mata.


"Sam, rahasia mu sudah terbongkar, kamu kalah. Erlin jauh - jauh hari sudah mengetahui kalau kamu adalah suami buluknya. Bahkan dia mengikhlaskan kamu untuk menikahi adiknya. Apa kamu akan tetap melanjutkan balas dendam, menyakiti hatinya?" tanya kakek.


Aku mengabaikan omongannya, memilih diam.


Erlin sudah banyak berubah, tidak sepatutnya aku melakukan ini padanya. Aku berjalan mendekatinya. Suasana isi rumah menjadi hening. Pandangan para tamu fokus padaku.


Aku sudah sampai tepat di hadapan Erlin. Erlin masih sesenggukan. Tanganku menggapai wajahnya dan mengusap lembut air mata di pipinya.


"Sudah lama kamu tahu siapa aku?" tanyaku dengan suara yang begitu berat. Entah dari mana datang nya ini, aku menitikkan sesuatu di mataku yang bahkan selama ini sudah tak berharap sesuatu itu keluar lagi.


Erlin hanya mengangguk, lalu dia berkata, "Semenjak kamu terakhir menemui ku."


Tepatnya saat aku menjadi Samsul, menemuinya di butik.


"Lalu, mengapa kamu hanya diam saja?" Aku menurunkan tanganku.


"Kebahagiaan ini juga pantas kamu dapatkan Sam, sebagai ganti atas perlakukan buruk yang pernah aku lakukan padamu dulu," kata Erlin.


"Mengingat pernikahan sakral yang pernah kita jalani dan kamu pernah mengatakan pernikahan kita hanya di atas kertas, apa kamu akan menuntut ku setelah tahu aku adalah Samsul?" tanyaku sedikit ragu dengan ucapannya.


"Tidak Sam, aku ikhlas menjalani kehidupanku, aku rela jika kamu poligami, dan aku tidak akan menuntut apa pun tentang semua ini." entah itu benar atau tidak yang dia katakan, air matanya pun mengalir begitu deras.


Eliana mendekatiku, dia memegang tanganku.


"Kak Sam, kamu sudah siap?" tanya Eliana. Aku menjadi dilema saat ini. Pernikahan itu sakral, bukan main - main. Aku belum bisa menjawabnya. Air mataku menitik kembali.


Erlin membalikkan badan dan melangkah pergi.


"Kak Erlin jangan pergi!" Eliana menarik pergelangan tangannya. Erlin belum juga berbalik, punggungnya terlihat naik turun.


"Hadirin semuanya!" kata Eliana dengan suara lantangnya, membuat semua mata mengarah padanya.


"Kalian sudah melihat sendiri, kalau kakak perempuan ku masih istri sah dari calon suamiku. Bahkan dengan menunjukkan kerelaannya agar suami yang sangat ia cintai menikah lagi dengan ku. Jika kalian di posisi kakakku, mungkin kalian tak kan setegar dia." Eliana memegang tanganku.


Aku hanya mampu membisu. Pasrah dengan takdir.


"Kak Sam, Kak Erlin," Erlin membalikkan badannya.

__ADS_1


Eliana meletakkan tanganku di atas tangan Erlin. Aku menatap tajam tanganku yang berhasil menggenggam erat tangan Erlin.


"Eliana, apa maksudnya ini?" tanya Erlin dengan masih sesenggukan.


"Kak Erlin, kamu sudah menjadi kakak yang baik untukku. Tidak mungkin aku merebut kebahagian yang selama ini hilang darimu. Aku kembalikan kak Sam padamu." kata Eliana dengan bijak. Aku sendiri tak menyangka dengan keputusan yang Eliana buat. Bahkan dia terlihat semakin dewasa.


"Eliana, aku ...." kataku yang terputus.


"Kak Sam, entah rahasia apa lagi dari kamu yang belum aku ketahui, yang jelas di sini aku tidak ingin menikah dengan kamu, suami dari kakakku." kata Eliana lalu membalikkan badan.


"Papi, Mami, maafkan aku yang telah membuat kalian malu di hadapan semua tamu. Hukumlah aku dan jangan salahkan kak Erlin. Aku yakin kak Erlin melakukan ini semua karena dia sangat menyayangiku." kata Eliana setelah dia sampai di hadapan papi mami.


"Maafkan Mami, Eliana, lagi kamu harus gagal untuk mendapatkan kebahagian kamu." ujar mami yang dengan segera memeluk Eliana.


"Bukan gagal Mi, tapi masih tertunda, aku akan fokus kuliah dulu," mami melepaskan pelukannya.


"Anak papi cepat sekali dewasa dan sangat bijak. Maafkan papi pula yang memaksakan kamu. Papi juga setuju dengan pemikiran kamu yang sangat luar biasa itu. Bahkan papi mengizinkan kamu untuk menjadi dosen suatu saat nanti," ujar papi.


"Benar Pi, hore ...!" Eliana berjingkrak riang. Semua teman sekelasnya berdatangan memberikan ucapan selamat atas kebijaksanaan yang ia lakukan.


Aku menatap Erlin. Kakek rada menjauh dariku.


"Erlin," aku memberanikan untuk memanggilnya. Kali ini dengan nada yang begitu lembut.


Sepertinya Erlin tersenyum kecil, meski dia menyembunyikan aku tahu itu.


Anggap saja acara ini syukuran bersatunya aku dengan Erlin. Semua tamu undangan menikmati makan malam.


"Sam, aku tak menyangka semua ini adalah takdir kamu bisa bersatu kembali dengan Erlin. Selamat, dan semoga bahagia!" ujar kakek yang menghampiriku dan merangkulku.


"Terima kasih Kek, semua ini adalah takdir yang Maha Kuasa. Aku takkan menyia - nyiakan kesempatan ini. Aku akan memperbaiki kesalahan yang telah aku lakukan." ujarku lalu menggandeng Erlin. Kakek melepaskan tangannya seraya perlahan membaur dengan para tamu.


Aku mengajaknya keluar rumah untuk menikmati pemandangan langit.


"Sam," panggil Erlin. Aku masih terus menatapnya.


"Hm," sahutku hanya dengan deheman.


"Sampai kapan kamu terus menatapku?"


"Sungguh, aku tak percaya ini! Aku benar - benar bahagia!" air mataku menitik kembali.


Erlin mengusap pipiku.

__ADS_1


"Jangan menangis!"


Aku memegang tangannya agar berhenti mengusap pipiku.


"Biarkan air mata ini menjadi saksi cinta kita, Erlin."


"Sam, kamu tahu apa yang aku rasakan sekarang?" Erlin menarik tangan dari genggaman ku dan beralih memelukku.


Aku membalas pelukannya. Membelai rambutnya dan mencium pucuk kepalanya.


"Apa pun yang kamu rasakan itu tidak penting. Yang paling penting adalah aku mencintai kamu, Erlin."


Erlin semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku juga Sam, aku sangat mencintai kamu. Aku berharap kita bisa bersama tak hanya di dunia, di akhirat juga."


"Aamiin ...."


Dalam diam, aku memperjuangkan cintamu dalam doaku. Dan pada akhirnya takdir kita bersama kembali.


Ku titipkan cinta ini hanya pada-Mu, jagalah hatiku dan hatinya dariΒ rasa kecewa, hingga waktu itu tiba. Persatukanlah kami dalam restu dan Ridho-Mu.


Angin malam membuat kulit Erlin terkikis. Aku melepas kemeja ku dan mengenakan padanya.


"Erlin, ayo ikut aku!" aku menggandeng tangannya.


"Kemana Sam!" teriaknya seraya berlari mengikuti langkahku.


"Kita bulan madu malam ini!" kataku sambil berlari.


Tanpa sepengetahuan dirinya, aku meminta Bondan untuk menyiapkan hotel bagi kami. Menyewa satu kamar lengkap dengan hiasan bunga.


Mobil sudah siap membawa kami ke sana.


"Sam, kenapa kita harus ke hotel?"


"Agar papi mami kamu tak ikut campur.


Bersambung ....


Bagaimana reader , apa kalian suka?????


Jangan lupa like, vote, hadiah dan komentarnya ya...

__ADS_1


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2