
Semalaman aku menjaga Erlin, namun dia belum sadar juga. Dokter hanya mengatakan kalau kondisinya sedang tidak stabil. Karena terlalu depresi dan untungnya bukan penyakit serius.
Pukul 06.00 aku sudah selesai merapikan diri. Ku lihat Erlin menggeliat dan buru - buru aku menghampirinya.
"Erlin, kamu sudah sadar?" Aku menggapai tubuhnya dan membantu dia bersandar.
"Haus," ujarnya lirih seraya mengusap lehernya. Segelas air segera ku sodorkan padanya.
"Ini," dia menerimanya dan mulai meneguk.
"Pelan - pelan," sambungku seraya mengusap bekas minuman dengan tisu.
"Di mana aku?" tanyanya lirih seraya mengedarkan pandangan.
"Semalam kamu pingsan, dan aku membawamu ke rumah sakit." ujarku.
Erlin melihat sekelilingnya dan pandangan yang terakhir jatuh pada pakaian yang ia kenakan.
"Kebayaku, di mana kebayaku?" tanya Erlin seraya memegang bajunya dan menatapku serius.
"Tenang, perawat telah menyimpannya di lemari itu!" Aku menunjuk sebuah lemari kecil di samping ranjang. Aku berjalan mendekati lemari lalu berjongkok untuk mengambilnya. Sebuah kebaya putih aku serahkan padanya. Dia memeluknya begitu erat.
"Kamu khawatir sekali dengan kebaya itu?" tanyaku tak begitu serius.
Erlin tak menyahut, dia lebih memilih menundukkan kepala.
Aku mendesah pelan.
"Baiklah, sebentar lagi perawat akan datang. Apa ada hal lain yang bisa aku bantu?" tawarku, mungkin dia ingin ke kamar mandi atau hal lain.
"Tidak, terima kasih." tolaknya.
Belum selesai aku bicara, dia sudah mencoba melepas selang infusnya.
"Apa yang kamu lakukan Erlin!" pekikku seraya mencekal tangannya.
"Lepas kan tanganmu, aku bisa sendiri!" ujarnya, setelah selang infus itu lepas dia mencoba untuk menurunkan kedua kakinya dari ranjang.
Aku tak kuasa menahannya dan hanya bisa melihat apa yang ia lakukan.
Dia meraba tembok menuju kamar mandi. Baru satu meter saja dia tersungkur. Aku buru - buru mendatangi nya.
"Dasar keras kepala, kalau nggak bisa jalan jangan ngeyel!" ujarku, tanpa mendapat komando dengan sigap aku langsung menggendong nya.
"Auw! Apa yang kamu lakukan?" teriaknya seraya bersikeras ingin turun dari gendonganku.
"Ingin ke kamar mandi kan?" sejenak dia mematung lalu dengan malu - malu dia mengangguk pelan. Aku mengantarnya ke kamar mandi. Mendudukkannya di atas korslet.
__ADS_1
"Kalau sudah selesai, panggil aku!" aku segera menutup kamar mandi. Terdengar gemericik air dari dalam.
Saat aku menggendong tadi, terasa ada hawa bagaimana gitu. Ada hal yang menggelitik sehingga membuat aku senyum - senyum sendiri, hingga tak sadar kalau dia sedari tadi mengetuk pintu kamar mandi, per tanda dia sudah selesai.
Aku membuka pintu, "Sudah selesai?" lagi, dia mengangguk malu.
Aku menggendong nya lagi. Meski berat juga tak apalah, mumpung ada kesempatan yang jarang terjadi. Ini hal luar biasa yang pertama kali aku lakukan.
Perjalanan menuju ranjang, pandangan kami bertemu. Dia menatapku intens. Entah, apa yang ia lihat dariku, mungkin dia mulai terkesima dengan wajah tampanku, hahaha.
"Ehem," aku berdehem untuk membuyarkan lamunannya. Dia tampak malu - malu, sangat manis sekali. Aku suka ini.
Perlahan aku menurunkannya di atas ranjang pasien dan menyelimutinya. Seketika itu juga perawat datang mendorong meja membawa baskom dan sarapan. Meletakkan baskom dan mangkuk di atas meja.
"Saya seka dulu ya Mbak," perawat mulai mengambil lap.
"Ini selang infusnya kenapa di lepas?" perawat itu baru sadar, dia menatapku dengan sorotan mata yang menakutkan. Seperti aku tersangkanya.
"Nggak tahu Suster, mungkin dokter terlalu longgar memasangnya, jadi lepas!" ujarku asal.
Erlin seakan menahan tawa, rupanya dia senang jika aku diomeli suster itu. Suster menyebik seraya memasang kembali selang infus.
Selesai menyeka, suster itu pergi.
Aku membantunya duduk bersandar.
"Mau sarapan sekarang?" tawarku seraya mengambil semangkuk bubur hangat di atas meja.
"Belum lapar kamu bilang? Lantas itu bunyi apa?" Aku menunjuk ke arah perutnya yang terdengar nyaring sekali. Dia segera memeluk perutnya.
"Sini, aku bisa sendiri!" ujarnya seraya merebut mangkuk itu dari tanganku.
Dia membuka sendiri plastik pembungkus. Dan saat akan mulai menyendok.
"Auw!"
"Memang dasar cewek keras kepala, tetep aja ngeyel!" aku mengambil mangkuk dari pangkuannya dan mulai menyendok.
"Apa?" dia melotot ke arahku saat satu sendok bubur aku sodorkan.
"Buka mulutmu!" perintahku. Dia menggelengkan kepala.
"Aku bukan bayi lagi yang dengan mudahnya kamu suapi. Kalau tanganku tidak sakit, aku bisa makan sendiri dan tak perlu bantuan tanganmu ..." belum selesai dia mengoceh aku sumpal mulutnya dengan bubur.
"Makan dulu, baru bicara!" ujarku sambil menahan tawa melihat ekspresinya. Dia menutup mulutnya dan perlahan ada pergerakan.
Seketika itu kita diam seribu bahasa sampai bubur itu habis.
__ADS_1
"Mau aku beli kan sesuatu, mungkin teh hangat atau apa?" aku menaruh mangkuk bekas di atas nampan.
"Tidak, terima kasih!" tolaknya lagi.
"Jangan sungkan padaku! Baik, kamu aku tinggal dulu." pamitku undur diri. Saat aku memegang handel pintu. Dia memanggil namaku.
"Samuel!" aku membalikan badan.
"Apa?"
"Mengapa kamu memilih nama Samuel?" tanyanya membuat aku terhenyak.
Aku seketika terdiam bak patung, bola mata aku gerakkan ke kanan kiri. Mencoba mencari ide agar identitas ku yang sebenarnya tak ketahuan. Belum saatnya dia tahu siapa aku.
"Coba nanti, kamu tanya kakek Rama sendiri,"
"Mengapa kamu memberikan perhatian khusus padaku?"
"Em, jangan geer, tidak ada maksud yang lain. Anggap saja ini rasa solidaritas." ujarku sedikit kikuk. Aku segera keluar pintu. Khawatir dia bertanya aneh - aneh tentangku.
Aku segera ke kantor untuk mengurus penjualan saham. Tiga puluh menit aku sudah sampai. Segera ku menghidupkan laptop. Di pertengahan kesibukanku, ponselku berdering dan ternyata dari Bondan.
Bondan kini sedang berada di desa dimana aku tinggal dulu. Dia sudah bertemu dengan Paman Wito. Bondan bilang Erlin tak memiliki riwayat penyakit serius hanya ketakutan yang berlebihan terhadap ular.
Aku lega mendengarnya. Aku ingat saat dulu sebelum kami menikah. Erlin yang singgah di rumah pak Wito, pada waktu itu didatangi ular piton. Dia takutnya bukan kepalang.
Meski ini bukan penyakit serius, tapi aku khawatir juga dengan depresi yang tengah ia alami. Apa yang dia pikirkan?
Gara - gara Erlin pingsan, aku tak fokus bekerja. Segera ku mematikan laptop dan berniat untuk ke rumah sakit lagi.
Sesampainya di rumah sakit, saat aku akan memegang handel pintu, terdengar suara dari dalam kamar Erlin.
"Erlin, kamu sengaja ya merusak acara pertunangan adik kamu dengan Samuel, nah! Acara semalam batal gara - gara dia nganter kamu ke sini," suara mami terdengar marah.
"Enggak Mi, loh, acaranya batal, kenapa bisa Mi? Erlin sungguh tak tahu,"
"Masih tanya kenapa, mengapa kamu pingsan?" bentak papi.
"Erlin pusing, Pi,"
"Pi, ini gawat, kalau ada orang dengan tanda - tanda pusing terus pingsan, berarti itu tanda orang hamil, pi!" ujar mami yang membuat aku membelalakkan mata tak percaya.
"Hamil Mi!" pekik papi.
"Hei, Erlin, katakan pada papi, apa kamu hamil?"
"Enggak Pi, Erlin nggak hamil, sungguh!"
__ADS_1
"Pi, mami nggak mau kalau Erlin itu hamil dengan si tompelan Samsul itu. Aku nggak sudi punya cucu dari nya!" ujar mami.
Aku mendesah kasar. Bisa - bisanya mereka menghinaku. Dokter saja tak mengatakan Erlin hamil, bagaimana bisa kalian berdua menuduh anak sendiri yang bukan - bukan. Kalau Erlin hamil sungguhan lalu anak siapa?