Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Kehancuran Keluarga William


__ADS_3

"Ada apa Pi, kenapa wajah Papi menjadi suram?" mami menggoncangkan lengannya.


Papi tertunduk lemas.


"Perusahaan mebel papi hangus terbakar," ujarnya terdengar pilu seraya mengangkat wajahnya.


"Bagaimana bisa Pi, bukankah hari ini tak ada hujan dan tak ada petir?" Eliana terlihat panik juga.


"Terbakar? Itu tidak mungkin!" imbuh Erlin yang juga sama paniknya.


"Itu usaha papi selama bertahun - tahun, aku sudah gagal mengelolanya," papi tertunduk lemas lagi, mami mencoba menghiburnya.


Aku tersenyum dalam batinku. Ya, itu aku yang melakukannya. Biar mereka rasakan betapa sakitnya kehilangan sesuatu yang berharga. Mungkin hukuman ini bisa menjadikan mereka sedikit jera dan bisa memaknai arti kehidupan yang sesungguhnya.


"Usaha mebel?" tanyaku pura - pura larut dalam kesedihan mereka.


"Iya Kak, papi selain bekerja di kantor, papi juga membuka usaha mebel," terang Eliana.


Aku sedikit memberi mereka masukkan, menawarkan pekerjaan baru di tempatku. Tapi mereka menolak dengan alasan belum tertarik. Ya sudah, itu tawaran yang tak kan kuberikan kedua kali. Setelah suasana sedikit membaik, aku izin pulang.


"Tunggu kejutan yang akan datang," batinku menyeringai.


Keesokan paginya seperti biasa aku sudah bersiap dengan setelan kemeja, dan hendak pergi menemui klien bisnis ku. Rencananya pagi ini, aku akan menjual saham, mumpung di pasaran harganya sudah naik.


"Pagi Sam!" sapa kakek saat aku datang menemaninya sarapan.


"Pagi juga Kek!" sahut ku seraya menarik kursi.


"Rapi sekali, tumben pagi - pagi begini kamu sudah siap?"


"Iya Kek, lebih cepat lebih baik, pagi ini aku ada pertemuan dengan rekan bisnis." sahut ku seraya mengambil piring.


"Jangan lupa, besok ada acara perlombaan di pacuan kuda! Aku dengar kamu sudah mahir berkuda,"


"Oh itu, aku sudah berjanji suatu saat nanti pasti bisa mengalahkan Kakek. Dan tunggu kabar dariku besok aku pasti menenangkan perlombaan itu."


"Bagus, kakek akan menunggu kabar baik itu."


Kami sarapan dengan tanpa suara dan hening, berbeda sekali suasananya saat aku tinggal dengan emak. Terkadang kami bercerita di sela - sela makan.


Selesai sarapan aku bergegas pergi ke kantor.


Di tengah perjalanan, mobilku dihadang sekelompok preman.


"Tuan Muda Sam, sepertinya kita sedang ada masalah," ujar si sopir.


"Apa perlu aku turun tangan?" sahut ku.


"Tidak Tuan Muda, Anda sebaiknya duduk saja dan nikmati pertunjukan ini," sahut si sopir yang segera membuka pintu mobil, dia tahu harus melakukan apa.

__ADS_1


Sopir ku yang bernama Bondan itu jago banget boxing. Selain menjadi sopir pribadiku, dia adalah pelatihku di tempat boxing.


Bondan langsung menyerang mereka tanpa meminta penjelasan untuk apa menghadang mobil kami. Dan dengan sekali pukulan saja, para preman langsung keok.


"Beres Tuan Muda," ujar Bondan saat masuk kembali ke dalam mobil.


"Bagus," aku membuka pintu mobil dan berjalan menghampiri para preman.


"Katakan siapa yang menyuruh kamu!" bentakku seraya menarik rambut salah satu preman. Dia mendongakkan kepala.


"Ampun Tuan Muda, yang menyuruh kami adalah, bos Ciko!" ujar preman itu seraya merintih menahan sakit.


"Cih, si otak udang itu, katakan pada bos kamu, suruh datang sendiri melawanku!"


"Ba- baik, Tuan Muda !" dengan kasar aku melepas tanganku.


Aku kembali ke mobil.


"Jalan!" seruku, Bondan pun menyalakan mesin kembali.


Sesampainya di kantor.


"Tuan Muda Sam, selamat atas keberhasilan Anda!" ucap salah satu rekan bisnis ku.


"Ini tak bisa dipungkiri lagi, Anda baru saja menjabat sebagai CEO, tapi prestasi Anda dalam berbisnis sungguh luar biasa!"


"Aku tidak suka pujian!" aku mencium trik abal - anak kuno yang biasa dipakai untuk menikam ku dari belakang.


"Jika Anda tertarik, saya bisa mencarikan seseorang untuk melayani Anda di hotel, bagaimana?"


"Cih, sudah kuduga!" batinku mengutuk perkataannya.


"Aku benci wanita liar!" sanggahku.


"Anda belum mencobanya, sekali terjun Anda pasti ketagihan, hahaha ...." sungguh rekan bisnis yang tak punya adab.


"Terima kasih atas saran Anda, pintu keluar ada di sebelah sana!" Aku menunjuk dengan tangan kananku ke arah pintu.


"Anda mengusir saya?"


"Silahkan, aku hanya punya waktu 5 detik, satu, dua ...."


"Anda keterlaluan! Saya ke sini datang dengan baik - baik, tapi lihat perlakuan Anda terhadap saya!"


"Tiga, empat ...." belum selesai aku berhitung orang berotak kotor itu langsung beranjak dari kursi. Sungguh memalukan, niatnya berbisnis tapi ditempeli bisnis prostitusi, menjijikkan, dia belum tahu apa kalau aku sangat menjaga pernikahan ku dengan istri idamanku.


"Tuan Muda Sam, ini berkas dari perusahaan Steven William!" seorang asisten masuk seraya menyodorkan berkas. Aku baru ingat kalau kemarin papi ingin bernegoisasi dengan saham yang aku punya.


Awalnya aku tak tertarik sama sekali, muncullah ide lagi untuk mengerjai papi.

__ADS_1


"Siapkan dana, kita beli sahamnya dengan harga serendah mungkin!" perintahku.


"Baik, Tuan Muda!" asistenku segera mengatur pembayaran.


Dalam hitungan detik saja, semua saham Steven William menjadi milikku.


"Samuel!" teriak papi saat masuk ke ruanganku tanpa izin. Wajahnya terlihat merah seraya melotot.


Aku hanya diam seraya melipat tanganku.


"Panggil aku tuan muda!" hardik ku mengingatkannya.


"Dasar penjahat kamu!" papi menepuk mejaku dengan kasar," kamu membeli semua sahamku dengan harga yang buruk! Aku tak setuju kembalikan sahamku!" bentaknya murka.


Aku tertawa dalam diam.


"Aku bukan tipe orang yang mudah mengembalikan apa yang sudah menjadi milikku."


"Sial Kamu!" papi hendak melayangkan pukulan ke arahku. Dengan cekatan aku menangkis serangannya. Kalau bukan mertuaku sudah ku serang balik dia.


Mendengar keributan, dua orang sekuriti datang.


"Tuan Muda Sam!" pekik mereka berdua kompak seraya menarik papi menjauh dariku.


"Lepas kan aku!" bentak papi, namun dua orang sekuriti tetap memeganginya cukup kuat. Aku mengayunkan tangan. Dua orang sekuriti melepaskan papi.


"Aku pikir kamu akan terlena dengan putriku Eliana? Seharusnya kamu lebih menghargai aku dan bersikap murah hati padaku."


"Dia bukan seleraku."


"Apa? Lantas selama ini kamu mendekati dia untuk apa, hah!"


"Aku hanya menebus ketidaksengajaanku menabrak dia."


"Dasar tidak punya perasaan, Eliana sudah terlanjur menyukaimu!"


"Begitu pula dengan Anda, menyukaiku karena harta kan?" sanggahku menebak batinnya.


"Tidak, kamu salah besar, aku menerima kamu karena kurasa sangat cocok dengan Eliana."


"Cih, munafik!" batinku.


"Silahkan, pintu keluar belum berpindah tempat!" Aku menunjuk ke arah pintu.


"Tuan Muda Sam, ku mohon beri aku kemurahan hati Anda," papi mengatupkan kedua tangannya.


"Lalu bagaimana dengan aku dulu saat meminta agar papi tak mengusir ku waktu itu? Apakah papi bermurah hati padaku, tidak kan?" batinku mengingat perlakuannya dulu.


"Sekuriti!"

__ADS_1


"Tidak perlu, aku bisa keluar sendiri." papi segera keluar dengan hati yang luka. Aku bisa merasakan itu.


__ADS_2