Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Erlin Pov


__ADS_3

Aku Erlin William, berusia 23 tahun. Setelah lulus kuliah aku berencana memiliki sebuah butik sendiri.


Saat liburan, aku sengaja mengunjungi rumah pamanku bernama paman Wito yang ada di desa. Aku dengar di desa udaranya masih segar tak seperti di kota. Sedangkan pamanku seorang pengusaha kerupuk uyel yang rasa kerupuknya enak tiada tara.


Aku mengendarai Pajero melewati jalan terjal. Karena kesulitan mengemudi aku tak sengaja menabrak seorang pria. Aku turun dan melihat lecet Pajero ku dan aku langsung memakinya. Saat itu pula aku tak menyadari kalau cincin berlianku terjatuh.


Aku menemui paman Wito dan mengadakan sayembara serta bersumpah jika yang menemukan cincin ku seorang wanita maka aku jadikan saudara. Dan bila yang menemukan pria akan aku jadikan suami.


Ternyata pria yang aku tabrak kini menjadi suamiku. Dia jelek, buluk dan tompelan.


Awalnya aku tak setuju dengan pernikahan ini. Karena aku sering didatangi ular akibat sumpah ku yang tidak ku tepati akhirnya pernikahan yang tak ku inginkan terjadi juga.


Samsul Ramadhan namanya, dia sengaja aku bawa ke kota. Tak mungkin kan jika aku tinggal di desa?


Kedua orang tuaku juga tak menyukai suamiku. Ada saja ulah papi mami untuk membuat Samsul tidak betah tinggal dan berharap dia segera menceraikanku.


"Kuli ... sini kamu! Cuci semua bajuku dan buat kan aku spageti!" itulah perintah yang selalu aku ucapkan. Aku memanggilnya dengan sebutan kuli.


Pernikahan ini, aku anggap hanya di atas kertas. Jadi, aku tak membiarkan dia menyentuhku secuil pun. Kami tidur dengan kamar terpisah.


Satu tahun sudah Samsul tinggal bersamaku, bukan sebagai suami, bukan pula sebagai menantu di keluarga William. Namun, dia tinggal sebagai pembantu, melakukan pekerjaan rumah tangga.


Suatu ketika mami berteriak histeris karena kehilangan perhiasannya.


"Perhiasan mami hilang!" pekik mami seraya terisak.


"Siapa yang mencuri perhiasan Mami?" tanya papi yang baru datang.


"Pasti Kuli, Pi, dia kan lagi butuh uang!" aku menunjuk ke Samsul.


Aku menuduh Samsul yang mencurinya karena dia pernah mengeluh padaku tak punya uang. Nyatanya benar, dia yang mencurinya dan mami sangat marah sehingga mengusir suamiku seketika itu juga.

__ADS_1


Aku tak bisa berbuat banyak. Perintah mami adalah hukuman untuknya.


Samsul meninggalkan rumah tanpa membawa apa pun barangnya. Ini suatu kebebasan bagiku bisa terlepas dari nya.


Aku pikir hidupku akan bahagia setelah kepergiannya, nyatanya tak seindah yang aku bayangkan.


Saat aku membuka usaha butik yang berada di pinggir kota, aku kerap kali didatangi ular. Aku gemetaran saat itu. Ular paiton itu sedang melintas di teras butik. Kulitnya yang bersisik dan perut yang sangat besar membuat aku merinding. Aku diam mematung, membiarkan ular itu lewat.


Sejak peristiwa itu aku jadi murung, merenungi nasibku. Mungkin ini karma karena aku lalai menjaga pernikahan ku dengan Samsul yang telah menyelamatkan aku dari teror ular.


Aku meratapi kesalahanku yang membiarkan Samsul pergi dari rumah, tak menghargai dia sebagai seorang suami yang malah memperlakukan dirinya sebagai pembantu. Aku menangis sesenggukan setiap malam. Berharap bisa menebus kesalahanku suatu hari nanti.


Suatu hari aku sedang pergi ke cafe, dan kebetulan di sana ada Ciko, pacarku dulu sebelum aku menikah. Dia tak tahu kalau aku sudah menikah.


“Erlin, sampai kapan kamu terus menolakku. Kita sudah lama menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih. Ayolah kita menikah!” ucap Ciko.


“Ciko, sudah berapa kali aku katakan padamu, aku belum siap. Dan jangan memaksaku!” sahut ku, rasanya jengah mendengar ocehan dia yang selalu mengajakku untuk menikah. Bagaimana bisa aku menerima ajakan Ciko, sementara aku masih menjadi istri sah orang yang telah aku lukai hatinya?


“Sudahlah Ciko, itu hanya minuman! Lagi pula juga tinggal sedikit,” ujar ku melerainya.


Batinku sedikit tersentak dengan kehadiran pria itu. Wajahnya tak jauh beda dengan Samsul, suamiku. Dia lebih tampan dan putih, pakaiannya pun terlihat seperti orang kaya. Tidak mungkin ini Samsul, Samsul memiliki tompel di wajah.


Saat Ciko mengajakku pulang, aku memalingkan muka untuk melihat wajahnya lagi. Benar - benar mirip.


Untuk menghilangkan rasa murung yang bergejolak aku mengikuti lomba pacuan kuda. Dengan kuda putih aku berhasil memenangkan pacuan kuda.


“Selamat atas kemenangan kali ini. Tapi kita lihat perlombaan bulan depan, aku pasti akan mengalahkan kamu.” seorang pria menyodorkan tangannya.


“Oke aku terima tantanganmu!” sahut ku seraya menerima uluran tangannya.


Pria ini mirip sekali dengan Samsul. Akh, mengapa setiap orang yang baru aku kenal selalu aku anggap suamiku? Lama - lama aku bisa gila dengan semua ini.

__ADS_1


Malam pun tiba, aku sedang membaca buku novel kesukaanku. Sambil membenahi jepit rambut yang sedikit melorot. Ya, jepit rambut pemberian Samsul.


Tiba - tiba suara cempreng adikku membuat aku keluar kamar. Dia baru pulang seraya bercerita panjang lebar. Dia sedikit ada luka di sikut dan dahi. Cowok yang mengantarkan dia adalah orang yang menabraknya. Eliana, adikku memberiku jagung bakar yang katanya pemberian cowok Arjuna.


Minggu pagi saat aku dan Eliana sedang bercengkrama di teras, sebuah mobil Ferrari 250 GTO mendadak berhenti di halaman rumah. Seorang pemuda turun dari mobil. Aku tercengang lagi. Pria ini ...


”Kenalkan Kak Samuel, ini kakak perempuan ku!” ujar Eliana yang begitu akrabnya dengan pria itu.


“Samuel Ramadhan, panggil saja aku Sam.” ucap pria itu.


“Samsul Ramadhan?” pekikku, apa aku salah dengar, tak hanya wajah, namanya pun juga hampir sama dengan Samsul.


“Bukan Kak Erlin ... tapi Kak Samuel,” sela Eliana.


“Maaf, nama kamu mengingatkan aku dengan seseorang. Aku Erlin. Tapi tunggu, wajahmu sangat mirip dengannya hanya saja ada tanda yang hilang.” aku mulai menatapnya intens.


“Sungguh? Berharga kah dia sampai kamu mengingat seseorang yang bernama Samsul itu?” tanyanya menilik mataku.


Belum selesai kami ngobrol, Eliana mengajak nya masuk.


Jujur selama menjalin hubungan dengan Ciko tak ada perasaan khusus terhadapnya. Dan setelah aku kehilangan Samsul, timbul perasaan aneh menyeruak di kalbu. Apakah aku mulai jatuh hati padanya?


Dan siapa Samuel Ramadhan ini?


Dia kini sedang dekat dengan adikku. Aku sedikit iri padanya. Tapi aku harus menepis rasa itu. Hanya Samsul yang sedang aku tunggu. Apabila dia kembali, aku akan meminta maaf padanya. Aku takut dengan teror ular yang kapan saja bisa mendatangiku lagi.


Samsul, di manakah kamu kini ...


Maafkan atas kesalahanku yang lalu, menjadi istri yang durhaka padamu, aku takut dengan ular, kembalilah ke sini dan jagalah aku.


Hiks ... hiks ... hiks ...

__ADS_1


I love you ...


__ADS_2