Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Bertanding dengan Si Otak Udang


__ADS_3

Aku dan kakek berpapasan saat akan menuju meja makan.


"Sam, kamu sudah menyiapkan acara pertunangan kamu dengan Eliana?" tanya kakek dengan meninggikan suaranya. Kakek mengedipkan mata.


"Oh iya Kek, tapi sebenarnya aku belum siap untuk segera menikah, karena aku ingin calon istriku itu tak hanya cantik tapi juga bisa segalanya!" ujarku dengan meninggikan suara pula. Sengaja berlaku demikian agar mami papi mendengar.


Dan benar saja, mami langsung datang.


"Nak Sam, tak perlu khawatir hal itu. Aku akan merubah Eliana seperti wanita idaman kamu." sanggahnya.


Aku dan kakek saling pandang.


"Tapi aku belum melihat Eliana sejak aku bangun tadi," ujar Kakek.


"Eliana sudah bangun dari tadi, dia sedang mengepel sekarang." ujar mami menutupi, faktanya aku tahu dia masih tidur.


"Uaah em," Eliana menguap lebar seraya menarik kedua tangannya ke belakang. Dia baru keluar dari kamar.


"Pagi Kakek, pagi Kak Sam!" sapanya dengan penampilan khas bangun tidur.


Mami melotot ke arahnya. Namun, Eliana tak peka.


"Pagi Mami, maaf ya aku baru bangun," ujarnya membuat mami menundukkan kepala ketahuan bohong. Eliana sungguh berantakan, lihat penampilannya saja aku sudah tak tertarik. Apalagi dengan model rambut singa.


"Eliana, kamu baru bangun?" tanya kakek. Eliana mengangguk.


"Wah, bau makanannya sepertinya enak, aku mau makan sekarang!" serunya seraya berjalan ke arah meja makan yang letaknya tak begitu jauh dengan kami. Belum sempat ia berjalan, mami menarik tangannya.


"Sini, ikut mami!" mereka berdua menuju dapur.


Aku dan kakek menuju meja makan seraya ngobrol tentang bisnis saham. Obrolan ini sangat menarik, aku yang awalnya tak paham apa pun soal bisnis dan saham, kini pengetahuan ku bertambah seiringnya waktu. Tak ku sangka papi mendengar obrolan kami, aku tahu dari pantulan cermin lemari.


Aku mengedipkan mata memberi kode pada kakek.


"Kek, apa setelah menikah nanti aku bakal mewarisi seluruh harta Kakek?" tanyaku pura - pura.


"Tentu Sam, tambang emas di Batam, lapangan pacuan kuda yang luasnya 100 ha, dan perusahaan Carmel Nusantara akan menjadi milik kamu dan istrimu kelak." ujar kakek, kami sengaja mengganti topik pembicaraan mengenai harta warisan.


Aku kenal betul papi, seketika dia pasti akan berubah hijau bola matanya.


"Calon menantuku, mobil kamu sudah aku cuci, apa ada hal lain yang bisa aku lakukan?" papi datang tergopoh.


"Benar kan dugaanku," batinku menyeringai.


"Sudah, tidak ada hal lain yang perlu Om Steven lakukan!" ujarku.


"Kalau begitu ayo kita makan!" ajak kakek.


"Ayo," papi segera menarik kursi. Seketika itu juga mami, Erlin dan Eliana yang sudah rapi, datang menuju meja makan.


"Semua ini saya yang kasak Kek," ujar mami seraya menyebutkan berbagai varian menu di atas meja.

__ADS_1


Kakek hanya manggut - manggut dan mempersilahkan kami untuk makan. Suasana yang amat aku rindukan, makan bersama keluarga.


"Apa ini!" aku memuntahkan isi mulutku di atas piringku. Semua mata tertuju ke arahku.


Aku ingat saat membuat menu sarapan untuk keluarga William dulu, begitu kasar secara batin.


"Kenapa Sam?" tanya kakek.


"Makanan apa ini! Rasanya asin melebihi air laut, cih!" umpat ku sengaja untuk membalas perasaanku dulu.


Keluarga William menghentikan makan.


"Biar aku menggantinya dengan menu lain," tawar mami seraya mengambil piringku.


"Jangan Mi!" cegah Erlin menahan tangan mami.


Aku melotot ke arah Erlin, dia tak seperti yang aku duga.


"Dia kan pria kaya, biar dia cari makan di luar sendiri. Mami lanjutkan saja makannya!" perintah Erlin, mami pun tak jadi mengambil piringku, mami kembali duduk.


Kakek seakan menahan tawa aku dipermalukan Erlin.


Aku segera berdiri meninggalkan meja makan.


"Kak Sam, tunggu!" cegah Eliana membuatku berhenti.


Eliana berjalan ke arahku meski aku enggan berbalik.


"Aku tak berselera makan!" ujarku seraya bergegas menuju garasi. Aku mengemudi sendiri. Karena sengaja Bondan aku suruh ambil cuti.


Selama perjalanan menuju kantor, perutku berbunyi nyaring minta diisi.


"Sial, padahal niatku untuk mengerjai mereka, malah aku yang kena!" gerutuku kesal.


Karena tak kuasa menahan lapar, aku menghentikan mobilku di sebuah resto. Setelah memesan, aku menunggu makanan datang sambil membuka laptop.


"Keluar kalian semua dari sini!" teriak seseorang yang suaranya sangat aku kenal.


"Si otak udang, ngapain ke sini!"


"Aku tahu siapa sebenarnya kamu!" ujar Ciko membuat aku melotot. Apa dia tahu siapa aku sebenarnya?


"Kamu kan yang membeli saham dengan harga murah? Bisa - bisanya kamu menghancurkan harga saham di pasaran!" Ciko menepuk meja dengan kasar.


"Huh, aku kira dia sudah tahu siapa aku sebenarnya, nyata nya belum," gumamku seraya mendesah pelan.


"Mau kamu apa?" tantang ku.


"Kita duel!" ajaknya.


"Ini yang aku tunggu, sehingga kamu tak perlu mengotori tangan kamu lagi dengan menyewa preman murahan untuk melawanku." sindir ku.

__ADS_1


"Cih, sombong sekali, kita lihat siapa yang akan menang!" Ciko menunjuk wajahku dengan jarinya.


"Apa imbalan jika aku menang?"


"Seluruh saham yang aku punya akan menjadi milikmu," dasar otak udang, dia tak tahu siapa aku.


"Baik, kita duel sekarang!" ajakku. Aku segera berdiri menantangnya.


"Bukan di sini tempatnya. Ikut aku!" ajaknya seraya dia membalikkan tubuh menuju parkiran mobil.


Aku mengekor.


"Kamu bisa tinju?" tanya nya terdengar meremehkan aku. Aku hanya mengangguk.


"Bagus, aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Ciko masuk ke dalam mobil. Aku mengikuti mobilnya.


Seperempat jam kami sampai di sebuah stadion arena boxing.


Aku sudah tahu kemampuan Ciko seperti apa, hanya saja dia yang tak menyadari kalau aku adalah Samsul.


Aku menuruti saja keinginannya.


"Ambil ini!" Ciko melemparkan sarung tinju ke arahku. Aku menangkapnya dengan sigap.


Setelah melepas setelan kemeja ku, aku segera naik ke atas ring. Ciko sudah menunggu dengan tatapan sangar. Meski tubuhnya lebih pendek dariku, ku akui otot - ototnya sudah terbentuk kekar.


"Jangan sampai lengah kamu, hati - hati dengan pukulanku. Hahaha ...."


"Banyak omong kamu!" saat akan mulai melayangkan pukulan, mendadak perutku berbunyi.


"Krucuk, krucuk ...."


"Alamak, perutku lapar sekali!" pekikku dalam diam.


Sebisa mungkin aku menahan rasa lapar ini. Aku pun mulai menyerang Ciko, dia ternyata lebih gesit ketimbang dulu. Satu pukulan yang aku berikan bisa dengan lincah ia hindari. Giliran dia yang melakukan serangan.


"Kyaaa ...!"


Entah mengapa aku bisa kena satu pukulan di bagian pipiku.


"Wajahku," aku meringis menahan sedikit rasa memar.


"Kurang ajar kamu! Kyaaa ..." Aku berlari ke arahnya menyerangnya membabi buta. Tak ku beri ampun dia telah berani menyerangku.


Tapi, rasa lapar menguasai tubuhku, aku seperti tak punya daya lagi.


Bersambung, apakah Sam menang atau kalah?


Hai reader semuanya yang berbahagia, jangan lupa untuk tetap dukung author tercinta kalian ini. Dengan cara memberi like, hadiah, vote dan jangan lupa komennya. Author takkan berhasil tanpa adanya dukungan dari kalian. Terima kasih...


😘😘😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2