
Hari pernikahanku sebentar lagi, namun entah mengapa hatiku merasa gusar. Bukannya senang aku malah larut dalam masa lalu ku. Mengubah takdir yang sudah aku jalani membawaku pada dua pilihan yang cukup berat.
Dalam diam aku masih mencintai Erlin. Namun kenyataannya aku malah akan menikahi Eliana.
Setelah menikah nanti aku akan memberitahu pada Erlin siapa aku yang sesungguhnya. Aku sudah tahu isi hatinya kalau dia merelakan suaminya menikah lagi. Dan pastinya, Erlin akan menerima Eliana sebagai madunya.
Papi mami kini sudah memiliki rumah baru. Aku membelikannya sesuai kriteria mereka. Dan pada akhirnya Erlin dan Eliana ikut pindah juga.
Aku dan kakek kesepian lagi.
"Sam, besok kamu akan menikah dengan Eliana, apa kamu tak ingin menjadi Samsul dan bertemu dengan Erlin?" tanya kakek saat aku sedang duduk santai di balkon kamarku.
"Untuk apa Kek, Erlin sudah merelakan Samsul untuk menikah lagi, aku tak perlu menjadi Samsul lagi, " kataku.
"Lalu, mau kamu kemanakan hubungan Samsul dengan Erlin?"
"Setelah menikah, aku akan menceritakan semuanya Kek,"
"Aku bingung dengan cara pandang kamu Sam, dulu kamu bersikukuh ingin mempertahankan pernikahan kamu dengan Erlin. Nah, sekarang kamu sudah goyah pendirian."
"Kakek tahu apa, aku yang menjalani kehidupanku dan aku yang sudah pernah mengalami betapa sakitnya mencintai. Sakit Kek," aku hampir menitikkan air mata mengingat perlakuan Erlin dulu.
"Sebentar lagi Kek, tinggal beberapa langkah aku akan membuat dia merasakan apa yang aku rasakan."
"Sam, balas dendam itu tak baik. Sudah sering aku mengatakan ini padamu kan? Saran ku, pertahankan mahligai rumah tanggamu dengan Erlin. Dan untuk Eliana biarkan dia menjalani pendidikannya sampai tuntas." nasehat kakek lalu beliau pergi meninggalkan aku.
Aku sudah berubah, aku bukan Samsul lagi, aku mengubah takdir ku untuk mendapatkan kebahagian ku yang baru.
.
Hari pernikahan pun tiba. Selesai ibadah magrib, aku mengenakan setelan kemeja hitam senada dengan yang dikenakan kakek.
"Kamu sudah siap, Sam!" kata kakek saat menemui ku di kamar.
"Ya, aku sudah siap!" sahutku mantap.
"Ayo berangkat!" kakek keluar terlebih dahulu, aku melihat pantulan diriku di cermin.
"Selamat tinggal Samsul, selamat tinggal Erlin!" lalu aku menuruni tangga menuju mobil yang sudah Bondan siapkan.
Tiga puluh menit, sampai juga di kediaman keluarga William yang baru. Nuansa lampu memperindah suasana malam.
Aku dan kakek memasuki rumah mereka. Nampak tamu undangan yang tak begitu banyak. Hanya rekan kerja papi dan teman arisan mami yang diundang. Selebihnya hanya teman sekelas Eliana.
Pandangan mataku jatuh pada dua wanita. Erlin dan Eliana, mereka berdua mengenakkan kebaya putih dengan motif yang sama.
"Seperti pengantin kembar," gumamku.
__ADS_1
"Kenapa Erlin juga memakai kebaya yang sama dengan calon pengantinnya?" tanya salah satu tamu undangan.
"Eliana bersikukuh ingin memakai pakaian yang sama dengan kakaknya," sahut mami.
"Kan kesan calon pengantinnya ada dua,"
"Eliana tidak mau menikah kalau kakaknya tak memakai baju yang sama dengan dirinya." terang mami.
Aku tak jemu - jemu menatap mereka berdua.
Tunggu, Erlin, ada apa dengan dirinya? Sejak kedatanganku ke sini, dia terlihat sembab matanya.
Dan pandangan kami bertemu, dari sorotan matanya seolah dia ingin mengatakan sesuatu padaku. Kedua matanya kini meneteskan air mata. Dia terharu atau sedih ?
"Sam, kamu melihat Erlin? Dia menangis." ujar kakek.
"Aku melihatnya Kek, mungkin dia menangis bahagia." terka ku.
"Kak Erlin, sudah berhenti menangis!" kata Eliana mencoba menenangkan.
"Apa yang membuat Kakak menangis sampai begini, lihatlah, make up Kakak jadi luntur," sambung Eliana.
"Aku ... hiks, menangis bahagia Dik, hiks, kamu tak usah khawatir, hiks!" kata Erlin seraya menyeka air matanya yang jatuh dengan tisu.
Eliana sontak memeluk Erlin, "Sudah Kak, berhenti menangis di pernikahan ku yang bahagia ini!" sambil mengusap punggung.
"Erlin, sejak tadi kamu menangis terus, acaranya akan dimulai!" hardik mami tak suka.
"Jangan Pi, Eliana tak mau menikah jika Kak Erlin tak di sini bersamaku!" cegah Eliana.
Aku sendiri tak tahu juga maksud Eliana seperti apa.
Eliana melepas pelukannya.
"Baik Mi," Erlin masih terisak tapi sudah tak separah tadi.
Acara ijab qobul pun segera dimulai, pak penghulu pun juga sudah siap di tempatnya.
Aku hendak berjalan ke sana.
Mendadak lampu mati, beberapa detik kemudian menyala lagi. Namun hanya seberkas cahaya yang menyala. Itu pun dari sorotan lampu proyektor.
Aku dan semua orang dalam kegelapan mengarahkan mata ke sebuah layar.
Betapa kagetnya aku.
"Sam, itu kamu!" pekik kakek yang sejak tadi berdiri di sampingku.
__ADS_1
Ya benar, itu aku. Tapi bukan Samuel, melainkan Samsul.
Dalam tayangan itu aku, Samsul tengah melakukan ijab qobul bersama Erlin saat tinggal di desa dulu. Apa maksud semua ini, dan untuk apa memperlihatkan tayangan seperti itu?
Pada slide berikutnya aku Samsul tengah melepas tompel, lalu berubah menjadi diriku yang sekarang, Samuel.
Lampu kembali menyala terang benderang.
Semua orang saling berbisik dan melempar pertanyan.
Aku melihat Eliana berdiri di samping LCD.
"Eliana, apa maksud semua ini!" bentakku tak suka dengan ulahnya.
Eliana belum menyahut malah dia bertepuk tangan padaku.
"Bagus Kak, hampir empat bulan kita bersama dan pada akhirnya aku bisa membongkar sebuah rahasia yang tak banyak orang ketahui." Eliana berdiri di samping Erlin dan membawanya ke hadapanku.
"Eliana, jadi kamu juga sudah tahu?" tanya Erlin yang hampir sama dengan yang ingin aku sampaikan.
"Kak Erlin naif, Kakak sendiri padahal juga sudah tahu hal ini kan?" ujar Eliana yang membuat jantungku berdegup begitu hebatnya. Erlin sudah tahu kalau aku adalah Samsul?
Erlin menggelengkan kepala seraya terisak kembali.
"Katakan padaku Kak, mengapa Kak Erlin melakukan ini padaku? Seolah akulah yang jahat di sini. Aku sakit jika melihat Kakak sakit." Eliana pun juga terisak.
Aku benar - benar menjadi keledai di sini.
Baik Erlin maupun Eliana sudah tahu siapa aku, tapi mereka berdua tak mengatakan langsung padaku. Bahkan mereka berdua mampu menyimpan rahasia ini dengan begitu kuat. Hingga seorang Samuel tak mengetahuinya.
"Kak Sam jahat! Mengapa Kakak melakukan ini terhadap kami?" Eliana menudingku.
Aku melirik kakek meminta bantuannya. Sepertinya kakek tahu tapi seolah tak menyadari kalau aku sangat membutuhkan bantuannya.
"Jadi Tuan Muda Sam, adalah menantu kita yang telah kita usir dulu!" mami kagetnya bukan main, sama halnya dengan papi.
"Ternyata Tuan Muda Sam adalah suami Erlin yang buluk itu," kata papi dengan ekspresi gelisah.
"Aku bahkan telah menghinanya di depan Tuan Muda Sam," sambung papi.
Seolah tenggorokan ku kering tak mampu berkata - kata.
Bersambung ...
Akankah Samuel tetap melanjutkan pernikahannya dengan Eliana atau kembali dengan Erlin?
Tetap dukung selalu author tercinta kalian ini ya,
__ADS_1
Jangan lupa like , vote , hadiah dan komentarnya ya!
😘😘😘😘😘😘