Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Pembohong Besar


__ADS_3

Sepulang kerja Erlin sudah menantiku di ambang pintu.


"Sore Sayang !" sapaku seraya mengecup kedua pipinya. Dia menggandeng ku menuju lantai atas.


Setelah sampai di kamar.


"Erlin, aku belum mandi. Kamu mau lagi?" tebakanku seraya melepas jam tangan. Erlin menjatuhkan paksa aku di atas kasur. Aku terduduk sambil mendongakkan kepala menatapnya.


Dia melepas sepatuku, ikat pinggang. dan kemeja.


"Sayang, sungguh aku masih bau. Kalau mau minta, entar malam aja sepulang kencan," tawarku sambil memperhatikan apa yang dia perbuat padaku.


Erlin membalikkan badan mengambil sesuatu dibawah kolong meja. Dan kembali membawakan aku baskom.


"Untuk apa baskom itu?" tanyaku sambil mengernyitkan dahi tak paham. Aku kira dia minta jatah eh nyata nya dia menunjukkan padaku baskom berisi arang.


"Arang, untuk apa Erlin kamu memperlihatkan padaku arang ini?" tanyaku sungguh tak mengerti.


Erlin mengambil handuk yang ia kalungkan di lehernya sejak tadi. Membasahi dengan air lalu berjalan mendekat ke arahku. Menyodorkan handuk agar aku menyeka wajahku.


Aku menurut saja dengan permintaannya.


Selesai aku membasuh wajahku dengan handuk. Erlin mengusap arang pada wajahku secara perlahan. Sempat aku memberontak, namun tatapannya sangat pilu membuat aku tak tega, jadi aku mau saja diapa-apain dia. Dingin. Merem melek aku dibuatnya. Ingin menolak tapi terlanjur. Setelah semua wajahku menghitam, Erlin memberikan secarik kertas padaku, aku segera membacanya.


"Sam, aku mohon pergilah ke Cafe Barjak nanti malam dengan kondisi seperti ini. Aku ingin menguji kesetiaan cintamu padaku. Dan jika suatu saat nanti suaraku sudah kembali seperti dulu, aku berjanji padamu akan melakuan apa pun yang kamu mau." tulis Erlin. Menyakinkan aku agar bisa pergi malam nanti.


"Ada apa Erlin, katakan padaku, mengapa aku harus berpenampilan buluk seperti ini? Apa kamu tak suka melihat wajahku yang tampan?" kataku heran dengan perubahan sikap nya.


Erlin menggelengkan kepala cepat.


Aku heran juga dengan kelakuan Erlin yang meminta ku menjadi Samsul yang dulu. Tapi, baiklah demi istri tercinta apa sih yang enggak.


Pukul 19.00 tepat aku sudah rapi dengan penampilanku yang sederhana. Erlin yang memilihkan aku pakaian sweater dengan celana jeans.


"Kamu sudah siap Sayang?" tanyaku seraya menunjukkan sikut untuk ia gandeng. Erlin mengangguk seraya menggandeng lenganku.


Aku meminta Bondan untuk menyetir malam ini agar aku bisa duduk berduaan di belakang bersama Erlin.


Tiga puluh menit kemudian kita sampai di Cafe Barjak. Suasana malam minggu yang sangat ramai dan penuh pengunjung.


"Erlin, hati-hati!" ujarku padanya saat membantunya turun dari mobil.


"Bondan, kamu di sini saja!"perintahku pada si perjaka tua itu.


"Baik Tuan Muda!" sahutnya tegas.

__ADS_1


"Ayo Sayang, kita masuk, sepertinya tempat yang kamu pilih ini sangat cocok untuk kencan kita berdua." ujarku sembari tersenyum menatapnya. Erlin hanya menampakkan deretan gigi pepsodent nya.


Kami berjalan beriringan sambil berpegangan tangan.


Semua mata sejurus melihat kami, mulai masuk hingga kami memilih meja.


"Erlin, semua orang memperhatikan kita!" aku memelankan suaraku. Erlin hanya tersenyum seraya menggoyangkan jari telunjuknya agar aku tak perlu khawatir.


Seorang pelayan datang dan aku segera memesan berbagai makanan.


Erlin memberikan kode padaku kalau dia ingin pergi ke toilet.


"Aku antar," ujarku seraya berdiri, namun Erlin menolak, agar aku tetap berada di kursiku. Aku kembali duduk.


Aku menatap punggung Erlin, beberapa detik kemudian menghilang.


Mendadak ponselku berdering, aku segera mengangkatnya. Ternyata dari Emely. Aku segera berdiri untuk mengangkat panggilannya.


"Mau apa lagi dia, merusak suasana kencan saja." batinku menggerutu.


"Hallo, ya ada apa?" tanyaku to the poin. Berharap Emely tak membahas pekerjaan disaat aku bersama Erlin.


"Hallo, Tuan Muda Sam!" suara Emely terdengar sangat nyata di dekat ku.


Dia menepuk pundak ku dari arah belakang. Aku membalikkan badan dan Emely segera mematikan panggilannya, dia terlihat kaget melihatku.


"Emely, untuk apa juga kamu berada di sini? " bukannya menyahut aku malah balik bertanya.


"Kamu bahkan tahu namaku?" Emely mengernyitkan dahi sambil menunjuk dirinya.


"Ya, CEO wanita yang menangani penjualan saham kan?" terangku.


Emely membulatkan mata lebar, mungkin dia beranggapan bagaimana bisa seorang yang rendahan sepertiku bisa tahu posisinya di dunia bisnis.


"Hai pria buluk, katakan padaku di mana Tuan Muda Sam dan mengapa ponselnya ada padamu?" tanya Emely padaku. Rasa penasarannya yang tinggi membuatku berpikir seribu kali tentang permintaan Erlin agar aku berpenampilan buluk. Ternyata ini alasannya.


"Itu aku, inilah wajah asliku." sahutku singkat seraya tersenyum renyah padanya.


Aku tak memperkarakan wajahku menjadi buluk lantaran Erlin yang meminta.


"Tidak, itu tidak mungkin, bagaimana bisa aku jatuh cinta pada seorang yang buluk sepertimu." Emely seakan - akan ingin menangis, menyesali keadaan yang sebenarnya.


Tak begitu lama sekelompok orang datang menghampiri kami.


"Emely, bagaimana kabar kamu?" tanya seorang wanita padanya seraya cipika-cipiki.

__ADS_1


"Eum, baik." sahut Emely seraya mengusap matanya yang hampir basah.


"Emely, kamu berkencan dengan pria seperti ini?" tuduh wanita lain yang masih dalam sekelompok tadi.


"Bukan, dia bukan pacarku!" sanggah Emely, ekspresinya begitu takut akan reputasinya yang jatuh.


"Kamu bilang di akun instragam, kalau kamu sedang dekat dengan pebisnis tampan. Apa si buluk ini seseorang yang kamu maksudkan?" temannya mentertawakan Emely.


"Sungguh, aku ... tidak bohong, si buluk ini bukan seseorang yang aku maksudkan!" sanggah Emely tak mau kalah.


"Lalu dimana pacar kamu sekarang?"


"Dia ada di ...." Emely binggung untuk menyangkal yang kesekian kali.


Terpikir juga dalam benakku untuk mengerjai Emely.


"Emely, bukankah kamu yang mengajakku untuk berkencan?" kataku padanya seraya merangkul pundaknya.


Sontak Emely melotot ke arahku dan dengan cepat dia melepas tanganku.


"Dasar buluk, siapa juga yang mengajak kamu kencan!" makinya dengan nada tinggi.


"Aku bisa memberikan bukti kalau kamu menyimpan nomorku." Aku langsung mengangkat ponsel dan menekan nomor kontaknya.


Ponsel Emely berdering, dia berkeringat dingin dan terlihat pucat.


"Emely, ayo angkat ponselmu! Jika yang dikatakan si buluk ini benar, berarti kamu seorang pembohong." kata temannya yang masih tak percaya dengan keadaan ini.


Karena terlalu lama diam, dengan gerakan cepat aku langsung merebut ponsel yang berada dalam genggaman dia. Emely berusaha merebut kembali ponsel miliknya, namun kalah tinggi.


Segera aku menekan tombol off, seketika itu juga ponselku mati.


"Kalian sudah melihat sendiri kan?" kataku seraya menatap teman-teman Emely.


Emely terdiam dan tertunduk malu.


"Huh, dasar tukang tipu, gayanya saja yang sok, nyatanya dia tak mengakui kalau pacaran dengan si buruk rupa." teman-temannya meninggalkan dia seorang diri.


Aku tersenyum renyah.


"Puas kamu, hah! Kamu telah menjatuhkan reputasiku di depan semua orang!" hardiknya dengan suara yang lantang.


Emely melayangkan tangan menamparku, seketika itu aku memejamkan mata. Lama aku tak merasakan tangannya mendarat di pipiku. Perlahan aku membuka mata.


"Erlin," tangan Erlin mencekal tangan Emely agar tak menamparku.

__ADS_1


Emely mencoba melepaskan tangannya.


"Siapa kamu!" bentak Emely pada Erlin.


__ADS_2