
Kini aku berada di cafe langgananku. Eliana sengaja aku jadikan alasan agar aku bisa mengajak Erlin keluar.
"Kalian berdua mau pesan apa?" tanyaku seraya menyodorkan daftar menu pada Erlin dan Eliana.
"Kak Sam sendiri mau pesan apa, aku ikut aja deh!" ujar Eliana seraya tangannya bergelanyut manja di lenganku. Sebenarnya aku risih juga seperti ini.
"Kalau kamu Erlin?" tanyaku seraya melihat ke arahnya.
"Em, aku mau spageti, xxx ...." ujar Erlin.
"Ok, pelayan!" teriakku pada salah satu pelayan. Pelayan datang dan aku menyampaikan pesanan kami.
"Kak Sam, kapan Kakak akan meresmikan hubungan kita?" deg, pertanyaan Eliana benar - benar membuatku kaget. Sejauh ini aku belum memikirkannya.
"Kamu maunya bagaimana?" tanyaku sedikit jengah juga.
"Aku sudah memberitahu semua temanku di kampus kalau kita akan segera bertunangan." ujar Eliana dengan pedenya.
"Apa!" aku berteriak kaget.
"Kok Kak Sam panik begitu?" tanya Eliana tak suka.
"Eliana, kan kita masih calon belum ada hubungan resmi jadi ... "
"Hei, Sam, kamu jangan mempermainkan perasaan adikku ya!" Erlin melotot ke arahku seraya menyingsingkan lengan baju nya.
"Alamak, bagaimana ini?" batinku ambyar.
"Sebenarnya, aku menginginkan seorang istri yang bisa setia padaku. Menerima apa pun keadaan ku. Dan bukannya harta yang menjadi sasaran utama dalam membangun sebuah rumah tangga melainkan saling menerima kekurangan dan kelebihan pada pasangannya." terangku.
Mereka berdua menatapku intens.
"Aku juga ingin istri yang rajin beres - beres rumah."
"Adikku ini cocok banget dengan kreteria kamu. Aku jamin deh, kamu takkan menyesal menikahinya nanti." jelas Erlin mengunggulkan Eliana.
"Kriteria apanya, bangun suka kesiangan begitu," gumamku.
"Apa Kak?" Eliana menatapku intens.
"Enggak, eh, makanan sudah datang, kita makan dulu yuk!" ajakku mengubah haluan.
Aku sekilas melirik Erlin, memperhatikan cara dia makan. Dia makan begitu lahapnya. Dalam hatiku aku merasa puas bisa sedikit membuat istriku senang, ya meski ia tak tahu kalau aku ini sebenarnya adalah Samsul, suaminya.
"Kak Sam, woi!" teriak Eliana membuyarkan lamunanku.
"Eh, iya," aku segera menatap makananku.
"Kak Sam lagi mikirin apa sih?" tanya Eliana yang sok mengurusi urusan orang.
"Mikirin kamu," aku segera tersadar yang aku maksud tadi adalah Erlin, aduh ... aku salah bicara.
"Nah, begitu dong ..." timpal Erlin, "Aku sendiri saja yang aku pikirin nggak kunjung datang," protesnya seraya bergumam.
__ADS_1
"Sabar Kak, aku doakan kalian segera bertemu," sahut Eliana.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanyaku nggak paham.
"Itu Kak, su ..." Erlin segera membungkam mulut Eliana.
"Maksudnya, suasana di sini sangat hangat ya, sering - sering ya kita ke sini," ujar Erlin seraya melepas tangannya. Seolah Erlin memberi kode untuk merahasiakan sesuatu pada Eliana.
Aku abaikan saja ucapannya dan kembali fokus ke makanan ku.
Di tengah - tengah makan, Erlin tersedak. Buru - buru aku menyodorkan minuman ke arahnya.
"Ini minum dulu!" Erlin sontak menerima gelas dariku dan segera meneguknya.
"Terima kasih!" ujarnya setelah dirasa cukup. Aku tersenyum puas, tapi tidak dengan Eliana, sorotan matanya terlihat dia tak suka aku memperhatikan Erlin.
"Kak Sam, aku haus," ujarnya manja.
"Tuh, ambil!" aku menunjuk gelas di depannya.
"Kak Sam nggak adil, aku kan calon tunangan Kakak, kok malah kak Erlin yang diperhatikan!" Eliana marah.
Erlin melirik ke arahku, dia memberi kode dengan sorotan matanya agar aku mengambilkan minum juga untuknya.
"Iya, baiklah, ini minuman kamu," aku terpaksa menyodorkan minuman untuknya.
"Pegangin dong," ujarnya manja, aku terpaksa juga meladeni bocah manja ini.
Selesai Eliana menyeruput minumannya, aku izin pada mereka untuk pergi ke toilet.
Aku seksama memperhatikan orang yang ada di dekat Erlin.
"Si otak udang itu lagi, mau apa dia?" aku mempercepat langkahku setelah tahu pria yang duduk di sana tengah menggoda Erlin.
"Ciko, aku sudah tidak mau bertemu dengan kamu lagi, pergi sana!" Erlin berdiri seraya menunjuk dengan jari.
"Tidak semudah itu aku melepaskan kamu, setelah seseorang yang mengaku suamimu itu mengalahkan aku. Jadi, jangan harap kamu bisa lolos dariku." Ciko mencekal tangan Erlin.
"Kak Ciko lepasin kak Erlin, Kak Ciko juga jahat, Kak Ciko selingkuh kan?" tukas Eliana yang membela Erlin.
"Hei bocah, jangan ikut campur! Siapa juga yang selingkuh?" elak Ciko.
"Lepaskan tangannya!" perintahku seraya mencekal tangannya. Ciko menatapku tajam dan segera melepaskan Erlin.
"Urusan kita belum selesai," ujar Ciko terkesan mengancam.
"Kamu ingin kita menyelesaikan urusan kita di sini?" tawarku.
"Boleh juga," Ciko tanpa memberi kode langsung menghantam pukulan ke perutku.
Seketika aku langsung membungkuk. Perutku yang masih kenyang terasa ingin muntah. Aku segera mengkondisikan tubuhku.
"Ciko hentikan!" teriak Erlin panik.
__ADS_1
"Kak Sam, awas, hati - hati!" Eliana berteriak histeris.
Aku harus segera menyudahi perselisihan ini, sebelum kakek tahu.
Aku menyerang balik. Pukulan demi pukulan aku ayunkan ke arahnya, hingga mengenai perut, wajah dan lengannya.
Terdengar hiruk pikuk penghuni cafe. Mereka saling dorong untuk keluar dari sana. Ciko menghantamkan meja kosong ke arahku. Seketika itu juga aku berhasil menghindarinya.
Kesempatan yang tak kan aku biarkan begitu saja. Dia terlihat sudah kewalahan, aku mengarahkan tinju tepat di wajahnya, hingga membuat dia jatuh tersungkur.
Erlin dan Eliana menghambur ke arahku.
"Ayo kita pergi!" ajak Erlin seraya memapah tubuhku yang sempoyongan.
"Ayo Kak!" Eliana juga membantuku berjalan.
Aku sampai di parkiran mobil.
"Biar aku yang menyetir." Erlin membantuku duduk di kursi belakang seraya menadahkan tangan meminta kunci. Aku merogoh saku dan menyerahkan kunci padanya.
"Hati - hati Kak!" ujar Eliana yang begitu perduli.
Eliana duduk disampingku sedangkan Erlin mengemudikan mobil.
"Jangan bawa aku pulang!" larangku.
"Kenapa?" tanya Erlin seraya menyalakan mesin.
"Kakek melarang ku berkelahi, jika beliau tahu aku babak belur begini, kakek pasti akan menghancurkan seseorang yang telah berani melukaiku."
"Serem ya kakek kamu," timpal Eliana.
"Kita kemana?"
"Bawa aku ke rumah sakit, aku akan mengobati lukaku di sana!"
Erlin mengemudikan mobil menuju rumah sakit.
"Aww, sakit!" pekikku saat Erlin menyeka wajahku.
"Dasar lembek, jadi cowok yang kuat, begitu saja mengeluh!"
"Kak Sam," Eliana masuk dan memergoki Erlin tengah memegang wajahku. Dengan cepat dia menurunkan tangannya.
"Eh Dik, dapat air mineralnya?" Erlin mengkondisikan dirinya agar Eliana tak cemburu.
Aku mengangkat tanganku, "Cepat sini aku haus!" pintaku, Eliana dengan cepat membukakan tutup botol dan menyodorkan padaku.
"Aku bisa sendiri, terima kasih!" ujarku.
"Bagaimana Kak Sam, masih sakit kah?"
"Iya, ini bantu aku menyeka, sejak tadi Erlin nggak becus mengurusnya." ujarku agar Eliana tak salah sangka. Erlin segera menyerahkan baskom dan lap.
__ADS_1
Erlin tampak kecewa dengan ucapanku. Berbeda dengan Eliana, tergambar jelas di wajahnya kalau dia sangat senang.