Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Maafkan Aku


__ADS_3

"Istri Anda hamil, apa Anda tidak tahu hal ini?" tanya dokter serius, dokter wanita itu memberikan selembar kertas yang sudah di print gambar nya padaku.


"Ha-hamil, istriku hamil Dok ?" Aku tak percaya mendengar ini. Aku melihat gambar kertas itu.


"Aku tak tahu kalau dia sedang hamil, dia tak pernah cerita padaku." kataku kemudian. Sejenak aku merenungi permintaan Erlin yang ingin mengirimkan bekal siang tadi, mungkin Erlin akan menyampaikan hal itu padaku siang ini.


"Lalu, bagaimana dengan keadaan anakku, Dok?" tanyaku penasaran, aku berharap kandungan Erlin selamat.


"Sudah saya terangkan tadi, bayinya telah tiada. Sebuah benturan keras membuat kandungan istri Anda hancur. Dan ini adalah foto USG sebelum kami mengeluarkannya." ucap dokter wanita seraya menunjuk titik sebesar kacang polong pada kertas itu. Dokter wanita itu segera pergi setelah menepuk pundakku.


Aku menutup mulut dengan sebelah tanganku. Punggungku bersandar pada tembok dan menyusur ke lantai. Hingga aku terduduk.


Aku terdiam dalam kemurungan sambil menatap foto USG itu.


"Anakku telah tiada dan itu semua karena kesalahanku. " Aku mengusap gambar sebesar kacang polong itu.


"Ini salahku, salahku ...." Aku memukul dahi dengan genggaman tangan, air mata ini tak kuasa ku bendung lagi dan tumpah begitu derasnya.


Aku segera berdiri dan berbalik menuju kamar pasien. Berjalan terseok dan sedikit bergetar. Ku lihat Erlin sedang terbaring lemas di sana.


"Sayang, mengapa di awal kamu tak mengatakan padaku kalau kamu sedang hamil anak kita. Kamu kan tahu, aku begitu menantikannya. Dengan aku tahu kamu sedang hamil, pastilah aku akan menjagamu selalu. Dan tak ku izinkan kamu keluar rumah." aku menitikkan air mata kesedihan yang kesekian kali. Meski Erlin memejamkan mata, aku yakin dia pasti mendengarnya.


Aku meraih tangan Erlin, mengecupnya berulang-ulang.


"Maafkan aku Erlin, bagimu mungkin kata maaf tak cukup. Tapi, sungguh aku benar -benar minta maaf atas kebodohan ku ini."


"Kau tahu, aku sungguh senang melihat anak kita ini." aku menunjukkan foto hasil USG tadi.


"Besar nanti, jika dia perempuan pasti sangat cantik seperti kamu ibunya. Dan sebaliknya, jika dia laki-laki pasti setampan aku ayah nya."


"Aku sangat menantikan dia memanggilku ayah, hiks, hiks, hiks ...."


Seketika itu juga, ada panggilan masuk di ponselku. Aku menghapus air mata dan segera mengangkatnya.


"Ya, hallo, Santo!" ujarku dengan suara sedikit parau.


"Tuan Muda Sam, ini gawat, Anda ada di mana?" tanya Santo terdengar panik.


"Erlin kecelakaan, aku sedang menunggunya di rumah sakit." sahutku.


"Astaga, apakah istri Anda baik-baik saja?" tanya Santo yang terdengar mengkhawatirkan Erlin juga.


"Aku kehilangan calon bayiku."


"Ya Tuhan!"


"Yang sabar Tuan, baik, saya akan segera ke sana ingin menyampaikan kabar buruk juga untuk Anda." ujar Santo yang rasanya ingin aku pelintir tangannya. Dia tidak peka atau bagaimana, sudah tahu atasan lagi sedih malah ditambahi sedih. Santo, Santo.

__ADS_1


Aku mengusap lembut pucuk kepala Erlin dan mengecupnya.


"Ku mohon sadarlah!"


Tiba -tiba badan Erlin merembes noda darah. Aku sangat panik dan segera memanggil dokter.


Dokter pun datang.


"Istri Anda mengalami pendarahan. Ini hal wajar terjadi yang dialami kebanyakan wanita setelah melahirkan," ujar dokter menerangkan padaku.


"Tapi Dok, darahnya sangat banyak,"


Dokter hanya tersenyum lalu memberikan pengertian padaku lagi. Setelah dokter memeriksa keadaan Erlin, dia pergi lagi.


"Saya tinggal dulu, ada pasien yang harus saya tangani dengan segera."


"Iya Dok, terima kasih!"


Tak berapa lama kemudian Santo sudah ada di luar.


"Sayang, aku keluar sebentar!" kataku memberi tahu Erlin.


Setelah bertemu Santo.


"Hal penting apa yang ingin kamu sampaikan padaku, hah ?" tanyaku tak begitu tertarik juga dengan apa yang ingin Santo katakan.


"Biarkan," ujarku datar.


"Aku tak tertarik lagi dengan pekerjaan itu. Kebahagiaan Erlin jauh lebih penting bagiku." sahutku sambil memalingkan muka dari Santo.


"Tapi Tuan, bagaimana dengan kami? Anda tak bisa lepas tangan begitu saja. Permasalahan ini harus segera dibereskan."


"Lalu, kamu mau aku bagaimana?" tanyaku seraya melipat tangan di dada.


"Anda harus menyelidiki kasus ini, saya yakin jika istri Anda masih sadar, pasti istri Anda takkan membiarkan suaminya menyerah begitu saja." Santo berusaha membujuk ku dengan embel-embel nama Erlin.


Aku berpikir sejenak, apa yang dikatakan asistenku ini ada benarnya juga.


"Antar aku ke kantor dan minta beberapa orang untuk menjaga istriku!" titahku dan segera berangkat.


"Siap Tuan!" ujar Santo dengan semangat nya.


Kami segera ke kantor. Tiga penjaga juga sudah ada di rumah sakit.


Setelah sampai di kantor.


Aku segera melacak data di komputer. Hampir seratus persen saham yang aku punya hilang. Segera aku mengambil ponsel untuk menanyakan pada Bursa Efek. Mereka bilang aku telah menjual semua sahamku dengan harga murah.

__ADS_1


Mataku mendelik mendengar penuturan mereka. Kalau membeli saham dengan harga murah itu sudah biasa aku lakukan. Tapi menjual saham dengan harga murah itu hal yang tak mungkin aku lakukan.


"Santo, siapa terakhir kali orang yang masuk ke ruanganku?" tanyaku pada Santo. Aku menduga ada seseorang dibalik kasus ini.


"Saya akan segera melacak CCTV Tuan!" Santo pamit undur diri.


Aku menjambak rambut. Di saat aku sedang ada masalah, masalah baru muncul dengan tiba-tiba. Apa salahku?


Ini mungkin karma bagiku karena tak begitu adil pada perasaan Erlin. Seharusnya aku lebih peka.


"Tuan!" Santo masuk ke dalam ruanganku tanpa mengetuk pintu.


"Karyawan baru itu ...." katanya terputus.


"Emi maksud kamu?" tanyaku mungkin dia yang Santo maksudkan.


"Benar Tuan, karyawan baru itu orang yang terakhir keluar dari ruangan Anda."


"Panggil dia kesini!" perintahku.


"Tapi Tuan,"


"Ada apa pagi?"


"Sepertinya Emi sudah mengundurkan diri satu jam yang lalu, Tuan ."


"Secepat itu, apa dia tak membutuhkan gajinya, aku belum membayarnya sepeser pun." Aku meminta Santo untuk berhenti bicara dulu. Ponselku berdering dan ternyata itu dari kakek.


"Ada apa kakek menghubungi ku?" Gumam ku dan segera menerima sambungan telepon.


"Ya Kek, ada apa?"


"Sam, kamu sudah hancur telah berurusan dengan Emely, kakek sudah tak bisa membantumu!" ujar kakek yang tiba-tiba menyebut nama Emely.


"Emely lagi, aku tak takut." sahutku tegas.


"Emi karyawan baru kamu, dia adalah Emely."


"Apa!" aku membulatkan mata selebar -lebarnya.


"Emi adalah Emely?"


"Kamu akan bangkrut Sam dalam hitungan detik, kecuali kamu ...." ujar kakek.


"Kecuali apa Kek?"


"Kamu mengaku kalah dan menemui dia secara terang-terangan." kakek menawarkan solusi yang sulit aku terima.

__ADS_1


"Tidak Kek, aku tak sudi bertemu dengan dia lagi. Karena kesalahpahaman antara aku dan Emi, Erlin mengalami keguguran." terangku yang membuat kakek shock juga.


__ADS_2