
Aku sampai di rumah hampir menjelang magrib. Segera aku mandi dan sholat.
“Dari mana kamu, Sam?” tanya kakek saat aku baru tiba di ruang makan.
“Dari desa, Kek,” sahutku seraya menarik kursi.
“Ke tempat ibumu?” tanya kakek memperjelas.
“Iya, tapi emak menolak saat aku menawarinya untuk ikut ke kota.” terangku seraya mengamati wajah kakek, seperti ada kerinduan yang mendalam di sana.
“Bagaimana kabar ibumu?”
“Sehat Kek, tapi ....” sahutku terputus, sulit sekali untuk menggambarkan kehidupan emak di desa.
“Tapi kenapa Sam?” terlihat gurat kekhawatiran di wajahnya.
“Tidak apa – apa Kek, kondisi secara fisik sehat, tapi perekonomian yang agak merosot, ya maklum jualan gorengan tidak tentu habis setiap hari.” jelas ku.
“Suatu hari nanti, boleh aku menemui ibumu?” tanya kakek.
“Boleh, tentu sangat boleh, emak pasti sangat senang jika bertemu dengan Kakek.” sahutku percaya diri. Emakku sangat pemaaf.
“Aku banyak memberikan luka padanya. Bersediakah dia memaafkan kesalahan yang menumpuk seperti gunung?”
“Emak baik kok, pasti beliau mau memaafkan kesalahan sedikit pun itu.”
“Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya. Ayo kita makan, ada menu spesial untuk mu,” ajak kakek seraya menunjuk satu piring.
Aku melihat piring itu,” Wow, nasi jagung!” makanan favoritku. Aku segera mengambil piring yang ditunjuk kakek. Menghabiskan tanpa sisa.
Keesokan harinya seperti biasa aku mulai belajar berbagai hal mulai belajar berbisnis, laptop, berkuda dan banyak hal lainnya. Kakek mengundang sejumlah orang untuk pelajaran ku hari ini. Biarpun terasa jenuh tapi aku tak boleh menyerah.
Kegiatanku seperti itu berlangsung selama satu bulan. Aku sudah mahir mengoperasikan laptop dan juga berkuda. Kini aku ingin menjajaki dunia boxing, ya berlatih tinju, siapa tahu berguna suatu saat nanti.
Sore begini di saat hujan gerimis enaknya nongkrong di cafe. Meski belum punya teman banyak, tak apalah pergi ke sana sendirian.
Aku mengendarai mobil yang baru saja aku beli. Kini aku mengemudikan sendiri. Aku sudah belajar banyak selain hal – hal yang berkaitan dengan bisnis, termasuk menyetir.
__ADS_1
Ku arahkan mobilku tepat di parkiran cafe ternama di kota ini. Ku buka pintu mobil dan segera turun. Berjalan menuju cafe.
Mataku seketika tertuju pada seorang wanita cantik ketika aku mulai memasuki pintu cafe.
“Erlin, ya benar sekali itu Erlin, aku tak salah lihat,” ku buka kacamata hitamku dan ku kucek mata ini untuk memastikan wanita itu adalah istriku.
Langkahku sedikit terhenti saat tahu seseorang yang tengah duduk di samping istriku adalah pria.
“Siapa dia? Atau kekasihnya kah?”
“Permisi, saya mau pesan makanan yang paling enak di cafe ini,” pintaku pada pelayan cafe.
“Ya silahkan Anda memilih meja yang mana, daftar menu ada di sana,” ujar pelayan cafe.
“Aku ingin duduk di meja sana, ya tepat di belakang wanita berambut panjang yang memakai blouse hijau itu!” jariku ku tunjukkan pada Erlin.
“Ya silahkan!”
“Maaf kalau boleh tahu, siapa pengunjung yang memakai sweater hitam di sana itu?” tanyaku menunjuk seseorang yang duduk di samping Erlin.
“Dia adalah pengusaha paper di kota ini, namanya Ciko Hermawan,” terang pelayan cafe.
“Erlin, sampai kapan kamu terus menolakku. Kita sudah lama menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih. Ayolah kita menikah!” ucap Ciko membuat aku mengepalkan tangan, rasanya ingin sekali aku merobek mulutnya yang lancang sekali. Belum tahu apa aku dan Erlin masih pasangan suami istri yang sah di muka hukum.
“Ciko, sudah berapa kali aku katakan padamu, aku belum siap. Dan jangan memaksaku!” sahut Erlin dengan nada tinggi. Jadi selama aku diusir dari rumah neraka itu Erlin masih menjaga statusnya?
“Lalu selama ini, aku kamu anggap apa hah ?” Ciko membentaknya. Kurang ajar sekali, dia sebagai pria kurang sopan menyikapi pendapat wanita.
“Maaf, aku kira kita hanya sebatas rekan bisnis saja. Lagi pula usaha butik yang aku kelola sudah cukup berkembang pesat. Aku bisa memijakkan kaki sendiri.” Erlin terlihat sangat dewasa, sifat yang belum pernah aku temui ketika satu tahun menikahinya.
“Kamu !” Ciko tampak tak suka dengan jawaban Erlin, mata nya melotot. Kemudian Ciko mengubah ekspresinya.
“Baiklah kalau itu keputusanmu, aku takkan memaksa. Jika rasa yang pernah aku tanamkan padamu tak juga kunjung terbalas, aku akan menunggu sampai kamu benar – benar siap.” Ciko menyeruput minumannya. Takkan ku biarkan wanitaku lepas begitu saja. Ciko, kamu menunggu sampai jamuran pun Erlin takkan pernah bisa siap. Karena dia adalah istriku.
Tak begitu lama pelayan datang mengantar pesanan.
“Aku ke toilet sebentar,” suara Erlin terdengar samar. Aku menatap punggungnya. Sejauh ini Erlin belum mengetahui tentang keberadaanku.
__ADS_1
Saat aku mulai menyantap makanan, sempat ku lirik Ciko. “Astaghfirullah, apa yang dia perbuat?”
Ciko dengan cekatan menaburkan bubuk yang terdapat pada bungkusan kecil di tangannya pada minuman Erlin.
“Apa Ciko mau meracuni Erlin? Ataukah dia ingin melakukan sesuatu yang tidak – tidak pada Erlin?” gumamku seraya berpikir untuk menggagalkan perbuatan apa pun yang ada di otaknya.
Beberapa menit kemudian Erlin kembali. Ingin rasanya aku memberitahu siapa aku dan menolongnya dari laki – laki berotak udang itu.
“Sepertinya hujan sudah reda, habiskan minuman mu dan ayo kita pulang!” ajak Ciko melancarkan aksinya.
Erlin mengangguk dan mulai memegang gelasnya.
Tidak, jangan minum itu Erlin!
Aku segera berdiri dan dengan sengaja menabrak Erlin.
Gelas yang berada pada tangannya pun jatuh.
Ku lihat Ciko merasa geram karena usahanya gagal.
“Maaf Nona, tadi ada kecoak melintas jadi sontak aku berlari. Sekali lagi maaf.” ujarku seraya membungkukkan badan.
“Kurang ajar kamu! Kamu menjatuhkan minuman kekasihku!” teriak Ciko seraya mencengkeram kerah kemeja ku.
Aku melepas kacamataku. Dan ku tatap dia lekat – lekat.
“Kamu kira aku tak tahu apa yang kamu masukkan tadi ke dalam minumannya,” ucapku berbisik namun cukup jelas terdengar olehnya.
Ciko menatap tajam ke arahku dan begitu Erlin mendekat dia segera melepaskan cengkeramannya.
“Sudahlah Ciko, itu hanya minuman! Lagi pula juga tinggal sedikit,” ujar Erlin.
“Awas kamu, jika kita bertemu lagi akan aku buat kamu menyesal!” ancam Ciko seraya menunjukkan jari telunjuknya ke wajahku, aku tak takut.
Erlin menatapku sekilas dan pandangan kami bertemu beberapa detik.
“Alamak ... cantik nya istriku!” gumamku mengaguminya dalam diam.
__ADS_1
Ciko menggandeng paksa Erlin. Erlin sempat melihat ke arahku. Mereka pergi mengendarai mobil. Ingin aku mengejarnya tapi rasa lapar sulit untuk aku tinggalkan. Aku duduk kembali dan mulai menyantap makanan ku.
“Maaf ya mas, gara – gara ulahku, kamu jadi mengepel lantai,” batinku seraya melihat pelayan mengepel.