
"Akhir - Akhir ini, kamu terlihat sangat ceria?" tanya kakek saat aku sedang menyalakan laptop di ruang kerjaku. Kini aku sedang menggeluti bisnis saham.
"Tidak juga Kek," sahutku asal.
"Wajah kamu tidak bisa membohongiku, katakan siapa wanita yang telah membuat kamu senyum - senyum sendiri!" desak kakek.
"Istriku Kek," akhirnya aku mengaku juga.
"Kenalkan kakek padanya!"
"Tapi Kek, bagaimana dengan rahasia ku nanti?" aku takut jika kakek keceplosan bicara nanti.
"Tenang saja, kakek akan menjaga rahasia kamu," ucapnya seraya melihat layar laptop.
"Kamu sedang bermain bisnis? Kenapa yang kamu beli saham yang harganya turun?"
"Sabar Kek, segala cara trading saham tidak akan efektif apabila tidak disertai kesabaran. Sebagai pemula, aku menggunakan modal kecil dan meningkatkan jumlahnya seiring bertambahnya pengalamanku. Aku sedang melakukan average down dengan membeli saham yang nilainya sedang turun. Bisa jadi aku malah mengalami keuntungan ketika kondisi pasar telah stabil kembali."
"Good job, Sam, aku salut pada pemikiran kamu yang semakin maju ini." ujar kakek memujiku seraya menepuk bahuku.
"Aku akan berusaha menjalankan bisnis ini sebaik mungkin dan tak kan mengecewakan Kakek." ujarku seraya menatap layar laptop ku lagi.
Kemudian kakek Rama tersenyum padaku dan segera keluar ruangan.
Kakek Rama adalah seorang pebisnis yang cukup terkenal dan sangat hebat. Banyak perusahaan yang bekerja sama dengannya. Saat aku melanjutkan usaha nya di salah satu perusahaan Carmel Sekuritas Nusantara, dengan begitu cepat aku mendapatkan investasi saham.
Aku berkutat di depan laptop hingga dua jam. Sangat capek, sehingga aku memutuskan untuk istirahat sebentar. Jam masih menunjukkan pukul 10.30, waktu makan siang satu jam lagi.
"Tok ... tok ...!"
"Masuk!" seruku seraya meregangkan otot tanganku.
"Tuan Muda Sam, ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan Anda," ujar sekertaris seraya membungkukkan badan.
"Baik, antar dia ke ruang tamu, aku akan segera kesana setelah membenahi diri." sekretarisku segera membalikkan badan keluar ruangan.
Aku mendesah pelan, "Padahal aku baru saja mau beristirahat, sudah ada yang mencariku." aku merapikan jas dan dasi, setelah itu mengikuti jejak sekretaris.
"Pagi Tuan Muda Sam!" seru seseorang yang membungkukkan badan dengan hormat nya di ruang tamu.
"Pagi!" seruku seraya duduk di kursi.
Tamu itu mengangkat kepalanya.
"Alamak ... papi," batinku tak percaya.
"Samuel! Jadi kamu seorang CEO di perusahaan ini?" papi membelalakkan bola matanya menatapku tak percaya.
"Bisa kita mulai sekarang, saya tidak punya waktu banyak." ujarku mempersingkat, jujur aku masih sakit hati dengan sikap papi yang selalu mengunggulkan kekayaannya.
__ADS_1
"Baik, Samuel ..."
"Panggil aku dengan Tuan Muda Sam," ucapku memotong kalimatnya.
Dia tampak melongo mendengarnya.
"Tuan Muda Sam," ucap papi terdengar ragu.
.
.
.
Perutku seperti karung saat ini, semua menu di atas meja sudah ludes tak tersisa, pelayan restoran membawakan aku es krim sebagai penutup. Benar - benar hidangan yang sangat lezat.
Selesai membayar aku hendak berdiri namun aku urungkan lagi, pandanganku tertuju pada sepasang kekasih yang sedang berantem.
"Aku sudah bilang kan, kita tak ada hubungan lagi!" pekik wanita itu yang tidak lain adalah istriku bersama cowok berotak udang.
"Oke - oke Erlin, kondisi kan dirimu, jangan emosi! Kita berada di tempat umum sekarang. Aku hargai keputusan kamu. Tenang ya, sekarang minumlah aku akan mengantar kamu pulang. Aku minta maaf telah memaksakan keinginan ku." ujar Ciko berusaha menenangkan Erlin yang terlihat emosi.
Erlin terdiam sejenak lalu segera minum mungkin sangking lelahnya berdebat.
"Ciko, kepalaku terasa pusing,"
"Mungkin kamu terlalu lelah seharian ini bekerja di butik. Ayo aku antar pulang!" Ciko membantu Erlin berdiri.
Ciko dengan hati - hati memapah Erlin menuju parkiran mobil.
"Tunggu, jangan - jangan ... peristiwa ini seperti kemarin waktu aku memergoki otak udang itu di cafe. Erlin dalam bahaya!" Aku merasa curiga dengan minuman yang Erlin minum tadi. Langkah ku sedikit berlari menuju parkiran.
"Sial, ke mana perginya?" aku kehilangan jejak.
"Mas, lihat seorang cowok yang lagi pegangi si cewek yang lagi sakit nggak?" tanyaku pada seorang juru parkir.
"Ceweknya berjalan sempoyongan?" tambahnya.
"Bener Mas, kira - kira mereka tadi memakai mobil apa ya, soalnya dompet si pria tadi ketinggalan. Dan aku bermaksud mengembalikan." ujarku beralasan palsu.
"Alphard abu - abu, arah nya ke kiri Pak," terang si juru parkir.
"Baik Mas, ini," aku mengeluarkan selembar lima puluh ribuan dan memberikannya.
Segera aku memasuki mobil dan menyalakan mesin. Dengan sangat cepat aku meninggalkan restoran.
"Erlin, di mana kamu?" aku melesat mendahului mobil - mobil dan mencari Alphard abu - abu milik si otak udang itu.
Hampir putus asa aku di tengah jalan. Bukan Samuel namanya jika aku tak berhasil mendeteksi keberadaan mereka. Aku segera menghubungi pengawal kepercayaan kakek dan meminta bantuan dia untuk melacak Alphard abu - abu.
__ADS_1
Sekian menit kemudian ponselku berdering. Pengawal kakek mengabari tentang mobil yang aku maksudkan. Aku segera menuju lokasi itu.
Ciko membawa Erlin di sebuah apartemen. Aku melihat Alphard abu - abu terparkir rapi di sana. Segera aku memasuki pintu apartemen. Banyak pintu yang tertutup.
"Yang mana apartemen mereka?" aku menggaruk kepalaku.
Dengan sedikit berlari aku menyusuri gang berharap bisa menemukan mereka. Langkahku terhenti, nafasku tersenggal - senggal dan aku mulai lelah.
"Di mana kamu Erlin?"
Saat aku menata nafasku, mataku tertuju pada sebuah benda jatuh di depan pintu. Segera aku memungutnya.
"Ini," dengan cepat aku membuka pintu namun terkunci. Dengan tenaga super, aku mendobrak pintu itu hingga jebol.
"Kurang ajar kamu! Berani masuk ke apartemenku!" pekik Ciko yang sudah telanjang dada.
Mataku memerah, melihat Erlin tidur tak berdaya hanya mengenakan bra dan bawahan saja.
Ciko sendiri tak menyadari aku. Aku mengenakan tompel palsu. Ya, sengaja aku menunjukan identitas asliku.
"Apa yang telah kamu lakukan pada Erlin!" bentakku seraya melayangkan tinju tepat di perutnya. Ciko terbatuk menerima serangan ku.
"Dia kekasihku, suka - suka aku berbuat apa. Baru saja aku mulai menikmati tubuh indahnya, kamu datang mengacaukan pesta ku." oceh Ciko seraya mengusap perutnya.
"Kurang ajar kamu!" teriakku seraya membabi buta menyerangnya. Dia tak ku beri kesempatan untuk membalas.
Pelajaran boxing aku praktekkan untuk yang pertama kali menghajar orang. Sungguh menyenangkan. Dia terkulai tak berdaya, namun masih bisa melihat.
"Kepalaku pusing," keluh Erlin yang tanpa sadar sudah dengan posisi duduk.
"Erlin!" seruku khawatir.
"Samsul?" Erlin menutupi sebagian badannya dengan meraih bantal yang ada di sampingnya.
"Siapa kamu? Erlin, kamu mengenalnya?" Ciko menudingku dengan masih terlentang di atas lantai.
"Aku suami Erlin!" ucapku tegas. Ciko mentertawakan aku.
Aku tak menghiraukan tawanya yang terdengar menghinaku.
"Erlin, kamu sudah sadar? Pria itu mau melecehkan kamu," terangku seraya berjalan ke arahnya. Dia terlihat sangat ketakutan seraya menggeleng.
"Jangan mendekat!" pekiknya, kepala ia pegang, mungkin masih terasa pusing. Belum ada berapa langkah aku mendekatinya, ia kemudian pingsan lagi.
"Erlin! Kamu kenapa?" pekikku khawatir.
"Hai Tompelan, urusan kita belum selesai!" bentak Ciko yang ternyata sudah bisa berpijak lagi. Aku menghadap ke arahnya. Dia membawa balok kayu.
"Rasakan ini!" Ciko melayangkan balok kayu ke arahku. Dengan cepat aku menangkis serangannya. Satu tendangan berhasil membuat dia tak sadarkan diri.
__ADS_1
Aku segera menyelimuti tubuh Erlin dengan selimut dan mengangkatnya.