
Kakek masih belum bangun, ku lihat tidur nya begitu pulas. Aku segera keluar dan menutup pelan pintu kamarnya.
Aku menuju kamar tamu, sengaja aku memberikan dua kamar untuk mereka. Satu kamar ditempati mami papi dan satu kamar lagi untuk Erlin dan Eliana. Aku sudah menaruh CCTV yang tersembunyi di kamar mereka. Jadi aku tahu apa pun kegiatan mereka.
Pintu aku ketuk dan tak lama pemiliknya keluar.
"Nak Sam!" pekik mami seraya mengucek kedua matanya.
"Begini Tante Sandra, di rumah kakek semua pembantu sedang libur selama setahun. Dan aku sudah mencari pengganti mereka, tapi tak satu pun yang mau untuk bekerja di sini."
"Lalu?" sepertinya mami lambat merespon.
"Aku akan ke kantor dua jam lagi, tak ada satu makanan pun di meja makan." ujarku lagi.
Baru mami memahami apa maksud perkataanku.
"Ooo, baik Nak Sam, Nak Sam tak perlu khawatir. Aku akan memasak untukmu." ujar mami yang terdengar terpaksa.
Aku mengangguk seraya membalikkan badan, baru beberapa langkah aku membalikkan badan lagi.
"Ada apa lagi Nak Sam?"
"Hm, lantai semua rumah juga kotor." ucapku datar, berharap mami paham betul maksudku.
"Oh, Nak Sam tidak perlu khawatir! Kedua putriku sangat pintar bersih - bersih."
"Bagus, aku akan ke kamarku." ujarku lalu bergegas pergi. Hatiku amat senang bisa mengerjai mami.
Aku mulai membuka laptop, ingin melihat reaksi mereka melalui CCTV.
"Astaga!" aku segera menutup kedua mataku. Erlin sedang mengganti bajunya. Apa semua wanita seperti itu? Padahal ada kamar mandi yang bisa ia gunakan. Sepertinya tak apa jika aku mengintip sedikit. Toh, dia kan istriku. Erlin mengganti baju tidurnya dengan pakaian santai. Tetap cantik meski berpakaian apa pun itu. Aku melihat layar satunya di kamar mertuaku.
"Pi, ayo bangun!" mami menarik selimut.
"Papi masih ngantuk, dingin Mi, sini selimutnya !" rengek papi tanpa membuka mata seraya menarik selimutnya.
"Bantu mami yuk!"
"Masih ngantuk,"
"Ayo dong Pi, ingat jangan sampai Samuel dan kakeknya mengusir kita karena malas!" mami menarik selimut lagi.
Akhirnya papi bangun dan duduk bersandar seraya menguap lebar. Entah papi bangun karena rengekan mami atau perkataan mami.
"Bantu mami masak ya,"
"Masak Mi, kenapa harus kita, kan ada pembantu?" tukas papi.
"Sam bilang pembantu semuanya sudah pergi. "
"Kok bisa, rumah segede gini nggak ada pembantunya?" papi mengusap tenggorokannya.
"Mami juga nggak tahu, ayo Pi!"
"Papi haus, ya sekalian papi mau minum, ayo!" mereka berdua keluar kamar menuju dapur. Di dapur pula aku memasang CCTV.
__ADS_1
"Mana airnya Mi?" papi celingukan mencari galon.
"Nggak tahu Pi, kalau begitu bentar, mami rebus air dulu."
Aku cekikikan sendiri melihat ulah mertuaku.
Di kamar Erlin. Erlin sudah rapi, terlihat dia baru selesai mandi. Saat akan keluar kamar, keduluan mami masuk.
"Erlin, sebelum kamu berangkat ke butik, kamu harus membantu mami mengepel lantai!" ujar mami dengan antusias.
"Mengepel Mi, aku tak salah dengar?"
Erlin terlihat kaget.
"Sudah, jangan banyak tanya, cepat lakukan tugasmu!" perintah mami.
Mami melihat ke arah Eliana yang masih pulas. Erlin hendak membangunkan Eliana.
"Jangan kamu ganggu adikmu!"
"Masak aku sendirian yang mengepel?"
"Erlin, kamu lupa kalau Eliana itu adalah calon istrinya Samuel. Jadi, biarkan dia tidur."
"Mami tega!" rengek Erlin seraya menghentakkan kedua kakinya bergantian.
Aku tak habis pikir, perlakuan mertuaku seperti membedakan kedua putrinya. Apa Erlin bukan anak kandung mami?
Melihat suasana itu aku segera keluar kamar. Aku berjalan menuju dapur untuk mengecek keadaan mertuaku.
"Tante Sandra, aku lupa kalau kakek tak suka makanan berminyak."
"Saya belum tidur, tidak baik juga tidur lagi setelah subuh," selaku.
Mami tertunduk seperti memikirkan sesuatu.
"Kakek tidak suka makanan berminyak ya, itu hal kecil, aku akan memperhatikan itu," ujar mami.
Aku hanya tersenyum.
"Sam, di rumah segede ini, kamu tak punya air minum?" tanya papi yang baru muncul di belakangku. Aku membalikkan badan.
"Keluarga kami tak suka dengan air kemarin. Air yang kita minum selalu baru. Biasanya tiap pagi pelayan akan merebus air untuk kami." terangku sengaja membuat hal rumit.
Mertuaku tampak melongo mendengar penuturanku.
"Satu jam lagi, kakek akan turun. Dan biasanya dia meminta susu hangat, karena tak ada pembantu kakek pasti akan minum air putih saja."
"Jangan, susu memang bagus untuk seusia kakek. Aku akan membuatnya." tawar mami yang membuat aku tersenyum kembali.
"Oh iya Om Steven, mungkin aku segera mungkin mengembalikan saham ke tangan Om. Tapi tak semudah mengembalikan tangan. Sopir yang biasanya datang untuk mencuci mobilku, pagi ini sedang sakit." ucapku memancing papi, peka atau tidak.
"Aku akan mencuci mobil. Itu hal kecil, kamu tenang saja!" ujar papi yang segera bergegas menuju garasi.
Usaha yang berhasil untuk membuat mereka melakukan seperti aku dulu lakukan. Mereka tak sadar sedang aku permainkan.
__ADS_1
Aku celingukan mencari Erlin, padahal dia keluar terlebih dahulu ketimbang aku.
Aku berjalan menuju ruang keluarga untuk memberi makan ikan di akuarium.
"Awwww ...!" aku menjerit sangking kagetnya. Kakiku hampir saja terpeleset. Untungnya ada sepasang tangan yang merangkulku. Aku menoleh.
"Hati - hati, lantainya sangat licin!" ujar Erlin yang ternyata dia lah penolongku. Dia melepaskan tangannya.
Aku segera mengkondisikan diri.
"Terima kasih," ucapku.
"Kenapa tak ada pembantu di rumah sebesar ini?" tanyanya yang berhasil membuat aku tertahan.
"Aku menggaji mereka terlalu sedikit." sahutku asal.
"Pelit, kamu kan seorang pria yang tajir, menggaji saja pakai perhitungan segala." omelnya terdengar kesal.
"Begitu - begitu aku menggaji mereka, dari pada sama sekali tak menggaji," sahut ku.
"Bagaimana rasanya mengepel?"
"Kamu senang?"
"Itu belum seberapa, kalian akan merasakan seperti apa aku dulu!" batinku.
"Hm, tapi nyatanya tak seorang pun mau bekerja di sini, atau jangan - jangan kamu bertingkah kasar pada mereka?" tuduh Erlin.
"Alamak, dia malah menuduhku yang bukan - bukan!" gumamku.
"Aku bukan pria seperti itu, lanjutkan saja pekerjaan kamu!"
"Awas!" pekik Erlin saat aku sudah melangkah meninggalkan dia.
"Apa?" aku menoleh ke arahnya.
"Lihat jejak sepatumu! Lantainya jadi kotor lagi kan," gerutunya seraya menunjuk ke arahku.
Aku menggaruk kepalaku.
"Maaf, aku tak sengaja, hehehe," aku kembali lagi ke arah awal aku datang tadi.
"Tuh kan, kamu membuat kotor untuk kedua kalinya!" pekiknya seraya berkacak pinggang.
"Cerewet juga kamu, sini!" aku meminta alat pelnya. Dia melongo melihatku.
"Kamu bisa mengepel?"
"Jangan menghinaku, dulu aku juga pernah jadi tukang pel," aku mengepel bekas sepatu ku.
Dia sempat melongo.
"Nih!" aku menyerahkan alat pel dan segera bersiap ke kantor.
Bersambung....
__ADS_1
Hai reader semuanya yang berbahagia, jangan lupa untuk tetap dukung author tercinta kalian ini. Dengan cara memberi like, hadiah, vote dan jangan lupa komennya. Author takkan berhasil tanpa adanya dukungan dari kalian. Terima kasih...
😘😘😘😘😘😘😘😘