Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Samsul, Selamat Ulang Tahun!


__ADS_3

Erlin dan Samsul sudah sampai di rumah. Kakek menyambutnya bahagia.


"Erlin, selamat datang kembali, bagaimana kabarmu? Maaf kakek tidak bisa menjenguk kamu," ujar kakek.


"Alhamdulillah, Erlin sekarang sudah jauh lebih baik. Kakek tidak perlu repot - repot menjenguk ku, kesehatan Kakek jauh lebih penting." kata Erlin.


"Samuel, mana hadiah yang aku pesan tadi?" tanya kakek seraya mengulurkan tangan.


Aku merogoh saku celana dan mengambil kotak merah. Kakek menerimanya.


"Erlin, ini sebagai hadiah kesembuhan kamu dari kakek," seraya memberikan pada Erlin. Erlin terlihat sungkan.


"Tapi Kek, untuk apa? Erlin tidak perlu, sungguh!" ujar Erlin.


"Tidak apa - apa, terima saja, kakek akan sangat kecewa jika kamu menolaknya." Erlin terpaksa menerima kotak kecil itu.


"Baik Kek, sebelumnya terima kasih telah menerimaku menjadi bagian dari Kakek, aku akan bekerja lebih baik lagi di rumah ini dan takkan mengecewakan Kakek," kata Erlin dengan santun.


"Tidak, kamu baru saja sembuh, aku akan mencari pembantu lagi untuk mengurus pekerjaan rumah ." ujarku merasa bersalah telah terlalu kejam memberi pelajaran pada istri sendiri.


"Kamu serius Sam?" kakek menatapku seolah tak percaya dengan perkataan ku. Aku hanya mengangguk.


"Sudah malam, apa kalian sudah makan?" tanya kakek seraya mengajak kami menuju meja makan.


Kami kompak menggeleng lalu mengekor kakek menuju meja makan.


"Kak Sam!" seru Eliana yang tengah berlari menghambur ke arahku. Dia memelukku erat.


"Kak Erlin, bagaimana keadaan Kakak?" Eliana melepas pelukannya dan menoleh ke arah Erlin.


"Alhamdulillah, sudah membaik Dik,"


"Ayo Kak, kita makan malam, aku semalaman tak bisa tidur, karena Kak Sam tidak pulang," ujar Eliana seraya menarik kursi untukku.


"Erlin, syukurlah kamu sudah boleh pulang," ujar papi.


"Ayo Erlin, makan yang banyak agar kamu tak mudah sakit. Ingat, peristiwa kemarin membuat acara pertunangan adik kamu batal." imbuh mami.


"Sudah, kita makan malam dulu, perut kakek sudah sangat lapar," ujar kakek menengahi perdebatan mereka.


Erlin dan kakek segera bergabung juga. Eliana mengambilkan nasi untukku.


Aku merasa bersalah juga di posisi ini. Eliana, seandainya kamu tahu aku adalah Samsul, apa kamu tetap menerima lamaranku ?


"Erlin, ambil lauk yang banyak!" kataku seraya memberikan daging di atas piringnya. Semua orang terdiam sejenak dan menatapku termasuk Eliana.


Erlin sendiri hanya bisa membungkam mulutnya.


Makan malam pun selesai, semua orang meninggalkan meja makan kecuali, aku, Erlin dan Eliana.

__ADS_1


"Biar aku yang membereskan ini semua!" ujar Erlin seraya mengambil semua piring yang kotor.


Aku berniat membantunya, tapi pergerakan ku tertahan oleh Eliana.


"Kak Sam, aku ingin bicara!" ujar Eliana yang membuat aku menoleh ke arahnya.


"Baik, kita ke taman depan saja," sahut ku, sekilas aku melirik Erlin. Dia membawa tumpukan piring ke dapur.


Eliana menggandeng tanganku, lantaran aku tak kunjung berpindah tempat.


Kami sampai di taman depan rumah.


"Kak Sam, sebenarnya apa isi hati Kakak?" tanya Eliana yang membuat aku tercengang.


"Isi hatiku?"


"Hm, ku lihat Kakak begitu perduli dan perhatian dengan kak Erlin. Kak Erlin masih jadi istri orang loh, jadi Kak Sam jangan coba - coba mendekatinya!" ujar Erlin memperingatkan aku.


"Rasa solidaritas Eliana, hanya itu saja yang bisa aku sampaikan padamu. Untuk hal lain, aku tak mengizinkan kamu bertanya lebih dalam lagi mengenai diriku." ujarku sedikit memberi batasan.


"Kak Sam, bukankah kita akan menjadi suami istri nantinya? Wajar dong kalau aku bertanya demikian. Lalu untuk apa Kak Sam melarang ku bertanya mengenai Kakak? Ada hal lain yang Kak Sam sembunyikan dariku?" ujar Eliana sedikit marah.


"Eliana, bukankah kamu sudah lama tinggal bersamaku? Untuk apa aku menyembunyikan sesuatu darimu?"


"Ya mungkin saja, secara diam - diam Kak Sam menyimpan rasa pada kakakku," ujarnya dengan memelankan suaranya.


"Kak Sam, Eliana belum selesai bicara!" ujarnya namun aku tak menghiraukannya.


.


Keesokan paginya.


Semua pelayan yang dulu pernah aku berhentikan kini telah bekerja kembali.


"Selamat pagi Tuan Muda Sam!" sapa mereka yang berjumlah sepuluh orang yang berjajar memanjang.


"Ya, kalian bisa mulai bekerja sekarang juga!" titahku.


"Baik Tuan Muda!" mereka segera membubarkan diri.


Aku memberi tahu hal ini pada papi dan mami. Mereka terlihat senang, karena sudah tak bekerja lagi layaknya pembantu di rumah ini.


Lelah juga menjalani kehidupan seperti ini.


Aku segera pergi ke kantor, untuk mengurus saham yang dulu aku beli dari papi. Rencananya aku akan memulihkan nama baik papi. Tidak bagus juga memusuhi mertua sendiri.


Setelah makan siang, aku segera pulang untuk menyampaikan kabar ini. Kini aku sudah berada di kamar. Sudah lama aku tak melihat rekaman CCTV. Aku menyalakan monitor dan lebih dulu yang aku pantau adalah percakapan kedua mertuaku di kamarnya.


Kejadian ini sebelum Erlin pingsan.

__ADS_1


"Mi, kita tidak bisa begini terus. Eliana harus segera menikah dengan Samuel. Dengan begitu kita bisa cepat kaya. Harta Samuel tidak akan habis, jadi sebagai maharnya nanti, kita suruh Eliana untuk meminta sebagian emasnya." ujar papi di kala itu.


"Jangan hanya emas, Pi, rumah juga, bilang pada Eliana kita perlu rumah yang lebih mewah dari pada ini," timpal mami.


"Nah, itu tugas Mami, buat Samuel untuk segera menikah dengan Eliana!"


Cih, kedua mertuaku masih gila harta juga. Mereka belum kapok ternyata.


Aku memutar rekaman CCTV saat aku menunggu Erlin di rumah sakit.


"Pi, Samuel kok malah mementingkan Erlin ketimbang Eliana?" ujar mami.


"Iya ya, atau jangan - jangan Samuel hanya mempermainkan hati Eliana ? Itu tidak boleh terjadi. Eliana harus bisa menjadi istri Samuel." kata papi.


Baik, kalau itu permintaan kalian. Aku akan kabulkan.


Aku segera bangkit keluar kamar. Menuruni tangga mencari papi mami.


Namun yang aku temukan hanya Erlin. Dia tengah berkutat dengan peralatan dapur. Aku menghampirinya bermaksud menanyakan keberadaan papi mami.


"Sam, kamu sudah pulang?" tanyanya.


"Iya, aku ingin ... " belum selesai bicara dia memotong kalimatku.


"Lihatlah kue yang aku buat, cantik bukan?" Erlin memperlihatkan kue bolu berbentuk hati.


"Kamu sendiri yang membuatnya?" tanyaku penuh kekaguman.


"Tidak juga, pelayan ikut membantuku," terangnya.


"Itu tidak benar Tuan Muda, Nona Erlin sendiri yang membuatnya, kami berdua hanya menyiapkan peralatan saja." ujar salah satu dari dua pelayan


dapur.


"Untuk siapa kue ini?" tanyaku penasaran.


"Hari ini adalah hari ulang tahun suamiku, aku ingin memberikan kue ini padanya. Bisakah kamu membantuku?" tanya Erlin membuat aku terperangah untuk yang sekian kali.


"Oh Tuhan, aku lupa, memang benar hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 28. Dan hanya Erlin yang tahu," batinku.


Aku menggaruk kepala bingung berkata apa.


"Samsul, selamat ulang tahun, semoga panjang umur!" kata Erlin seraya menyodorkan kue itu padaku.


Deg


Mataku membulat, aku tak percaya ini, Erlin mengetahui identitas ku yang sebenarnya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2