
Akhirnya Erlin berhasil membuat Eliana mau bergabung dan bekerja di kantorku.
Semenjak peristiwa haram itu, aku dan Eliana bersikap sewajarnya dan kompak untuk tidak membahas masalah itu lagi.
Selama tiga hari tinggal di rumah kakek Rama, banyak kesan yang Eliana berikan di rumah ini. Seperti menemani bermain Cemplon dan membantu Cemplon belajar. Eliana sangat menyenangkan untuk diajak bermain, bahkan Cemplon pernah meminta agar Eliana tinggal di sini. Sifat yang kekanak-kanakannya menjadikan Cemplon nyaman berada di dekatnya.
"Tante, tinggal disini saja sama papa dan mama!" celetuk Cemplon disela-sela bermain. Aku pura-pura tak mendengar obrolan mereka. Sok sibuk dengan laptop yang berada di pangkuanku, di ruang keluarga.
"Cemplon Sayang, tante punya rumah sendiri, dan besok tante harus pulang!" ujar Eliana seraya mengusap rambut Cemplon.
"Kalau nggak ada Tante, Cemplon kesepian dong," rengek bocah itu.
"Kan ada mama papa di rumah," Eliana melirik ke arahku, pandangan kami pun bertemu. Dia tahu jika aku memperhatikannya. Aku segera menggerakkan bola mata cepat menatap layar laptop. Pikiranku mulai tak fokus lagi.
"Iya, tapi ditambah ada Tante jadi ramai," imbuh Cemplon. Bocah itu terlalu kesepian, hingga orang yang baru dikenalnya saja dengan mudah ia sukai.
Erlin yang terlihat baru selesai mandi datang menuruni tangga. Dia melempar senyum ke arahku. Mendekat dan mengurai rambutnya yang lebat.
"Masih sibuk, Sam?" tegur Erlin.
"Tinggal dikit lagi," sahut ku singkat. Erlin memindah pandangannya ke arah Eliana. Dia berjalan ke arahnya.
"Serius sekali, lagi ngobrol apa?" tanya Erlin setelah membaur bersama mereka.
"Ini Ma, Cemplon pingin tante Eliana tinggal bersama kita!" ujar Cemplon dengan polosnya.
"Wah, Cemplon bener sudah berpindah ke lain hati nih!" ujar Erlin dengan semburat senyum di wajah. Dia hanya bercanda saja.
"Enggak kok Ma, hati Cemplon tetep untuk Mama," pekik Cemplon seraya menatap Erlin lekat, takut ucapannya menyakiti hati.
"Mama bercanda kok, mama sih oke-oke saja Sayang, kalau tante Eliana tinggal disini, tapi tante Eliana mau nggak?" Erlin mencubit lembut pipi gembul bocah itu.
"Tuh, mama Erlin setuju kalau Tante tinggal di sini," Cemplon memindah bola mata menatap ke Eliana.
Eliana tampak bimbang meladeni omongan bocah kecil itu.
"Kak Erlin kok malah nggak keberatan kalau aku tinggal lama -lama di sini, aku kan jadi sungkan!" ujar Eliana.
__ADS_1
"Ngapain juga dik kamu harus sungkan, lagian rumah ini juga besar, mau ya!" desak Erlin tanpa meminta pertimbangan dariku terlebih dulu.
"Gimana ya," Eliana masih bingung untuk mengambil keputusan, Cemplon menggoyangkan lengan Eliana sambil terus merengek.
"Ayolah tante, tinggal lebih lama di sini!"
"Cemplon, sepertinya tante nggak bisa, maaf ya!" mendengar penolakan Eliana, Cemplon pun menangis.
Aku berdiri setelah mematikan laptop dan menyudahi pekerjaanku. Melangkahkan kaki mendekati mereka.
"Tinggallah beberapa hari lagi di sini, Cemplon sepertinya sangat nyaman bersamamu!" ujarku kemudian.
"Tuh, kak Sam saja setuju!" seru Erlin yang terlihat sangat senang.
"Baiklah kalau begitu," ujar Eliana setelah terdiam beberapa saat. Entah apa yang dia pikirkan.
"Hore!" teriak Cemplon seraya berjingkrak ria.
"Sudah sore, Cemplon belum mandi 'kan?" aku mengendus tubuhnya, dia hanya menggeleng.
"Cemplon mandi dulu ya!" perintah Erlin.
"Iya, cepet mandi sana, bau!" Eliana mengerucutkan bibirnya seraya mengibas tangannya ke udara.
"Eliana, kamu sudah bisa masuk kerja mulai besok. Mungkin ada yang ingin kamu tanyakan seputar pekerjaan?" tanyaku.
"Setelah masa training selesai, apa aku akan menjadi karyawan tetap?" tanya Eliana.
"Jika pekerjaan kamu lancar tiada kendala, kenapa tidak?"
"Tapi, aku takut,"
"Na, untuk apa kamu takut? Toh, kamu kan bekerja di tempat kak Sam, kakak jamin kamu bakal sukses. Pekerjaan apa pun itu akan terlihat sulit, jika kamu menganggapnya sulit. Namun akan terlihat mudah jika kamu menyikapinya dengan optimis." nasehat Erlin untuk adiknya.
"Iya Kak, aku akan mencobanya. Kak Sam, tolong bimbing aku agar bisa menjadi orang yang sukses!" ujar Eliana menatap ku intens.
"Pasti Na, kalau begitu aku naik ke atas dulu." pamitku undur diri.
__ADS_1
.
Papi dan mami sudah pulang dari Bekasi, kakek juga sudah tiba dari vila, jadi Eliana juga akan pergi dari rumah kakek. Namun, rencananya berubah setelah rengekan Cemplon untuk memintanya agar tinggal lebih lama lagi.
"Sam, apa kamu tak khawatir dengan tinggal nya Eliana bersamamu di rumah ini lagi?" tanya kakek saat kami berdua duduk santai di teras seraya menikmati dinginnya malam. Terlihat jelas kecemasan di wajahnya yang renta.
Aku mendesah kasar, "Cemplon yang minta, Kek! Dia terlanjur menyanyangi Eliana."
"Kamu yakin dengan keputusanmu mengizinkan dia tinggal lebih lama di sini?"
"Kita jalani saja Kek, seperti apa keadaan esok yang menjadi misteri Illahi. Terkadang, jika kita merencanakan sesuatu yang kasat mata tak sesuai dengan takdir yang telah terukir."
"Yang kakek khawatirkan, jika kamu terlalu dekat dengan Eliana akan berdampak buruk dengan hubungan rumah tanggamu. Kakek tak mau melihat Erlin tersakiti, jika kamu terlalu dekat dengan adiknya."
"Maksud kakek apa, dengan bicara begitu?"
"Meski kakek sudah tua, tapi kakek tak lupa dengan kejadian yang dulu. Saat kamu batal menikah dengan Eliana. Kita tak tahu isi hati orang. Eliana pasti masih memiliki rasa padamu. Secara dia masih jomblo." terang kakek yang membuat hatiku berdesir mengingat dulu.
Aku termenung menyelami nasehat kakek. Tapi bagaimana, apa aku harus menjilat ludah?
"Kakek masuk dulu. Hawa di luar terasa dingin. Sebaiknya kamu memikirkan perkataanku tadi, jika rumah tanggamu ingin selamat." kakek terdengar memberikan desakan padaku agar aku membiarkan Eliana pulang.
"Iya Kek!" sahutku.
Cemplon akan merasa kesepian jika Eliana pergi, terlihat juga Erlin sangat senang jika adiknya tinggal di sini.
Keesokan paginya saat aku menuruni tangga dan bersiap pergi ke kantor, ku lihat ada potongan kertas menempel di sepatuku. Aku membungkukkan badan bermaksud menghilangkan potongan kertas itu. Tanpa ku duga, seseorang dari belakang ku menabrak hingga orang itu hampir jatuh. Aku dengan cekatan menahan berat tubuhnya agar tak sampai oleng.
"Kak Sam, maafkan aku tak melihatmu!" Eliana segera mengkondisikan tubuhnya.
"Tidak seharusnya kamu meminta maaf, aku yang salah, mendadak berhenti tadi." ujarku yang juga segera mengkondisikan diriku.
Suara deheman kakek menghentikan obrolan dengan durasi yang amat singkat.
"Selamat pagi, Kek!" sapa Eliana. Namun kakek hanya memberikan deheman. Menandakan kalau beliau tak suka. Eliana segera pergi dari sana.
"Kek, samsul berangkat dulu. " Aku mengulurkan tangan untuk salim.
__ADS_1
"Inilah yang aku takutkan, banyak novel dan sinetron yang menyajikan berbagai drama pelakor."