
"Eum, maksud aku usaha agar kamu bahagia, ya, itu maksud aku." Erlin terlihat gugup, seakan dia menyembunyikan sesuatu dariku. Dia menghindar dengan berdalih menyiapkan makanan.
"Ya Tuhan, ini sudah siang, aku akan membantu bibi memasak di dapur!" ujarnya terlihat panik dan pergi begitu saja.
Aku berpikir keras dengan rumah tangga yang aku jalani saat ini. Mau ku bawa kemana bahtera ini, aku seorang pemimpin keluarga tapi aku tak bisa memberi keputusan yang adil untuk Eliana. Mendengar penuturan Erlin tadi ada benarnya juga, Eliana tengah mengandung anakku, tapi tidak begini caranya.
Aku menuju kamarku untuk bernegosiasi dengan istri kedua ku.
"Na, bangun!" titahku seraya menepuk pundaknya. Usahaku membangunkan dia berhasil, dia menggeliat seraya menguap lebar.
"Sudah pagi kah?" tanyanya seraya mengencangkan kedua lengannya ke samping kiri dan kanan.
Aku hanya berdehem. "Segera bersihkan tubuh mu, setelah itu aku akan bicara serius denganmu!" aku meninggalkan dia menuju kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi, ku dapati dia masih enggan bangun.
"Na, cepet mandi!" teriakku.
"I-iya Kak, nih udah mau jalan!" dia bergegas bangun.
"Hati -hati, jaga kesehatan tubuhmu, aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu, jangan sampai orang lain mengira aku tak memperhatikan kamu!" ujarku sempat membuat dia melongo.
"Baik Kak!" Wanita yang sudah berstatus istri kedua ku itu berjalan perlahan menuju pintu.
"Kamu bisa menggunakan kamar mandi di kamar ini," sambungku kemudian. Dia menoleh dan hanya tersenyum tipis.
"Terima kasih Kak, baju ganti ku ada di kamarku. Aku akan mandi di sana saja." wanita berambut cokelat itu segera keluar kamar.
Aku mengendus sprei bekas dia tidur, aroma parfum miliknya masih membekas. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan yang sempat terlintas.
"Iya, masuk!" seorang wanita paruh baya dengan penampilan lusuh masuk ke kamar. Dia pembantu yang aku sewa untuk bekerja di apartemen.
"Maaf menganggu Tuan Muda Sam, nyonya Erlin meminta saya untuk membersihkan kamar Tuan." ujarnya wanita tua itu dengan sopan.
"Baiklah, tolong Bibi ganti sprei ini dengan yang baru!" ujarku dan segera keluar kamar.
Ku dapati Erlin tengah berdiri membelakangiku.
"Tara!" dia membalikkan badan seraya membawa secangkir kopi panas.
__ADS_1
"Erlin, aku pikir kamu akan melupakan tradisi kita di pagi hari," celetuk ku.
"Enggak lah Sam, aku buru-buru mengantar kopi ini dan memberikannya padamu dalam keadaan masih panas. Dari pada kelamaan nungguin kamu, ya lebih baik aku antar saja. Awalnya aku mau menyuruh Eliana yang membuatkannya, tapi dia tak menyahut panggilanku. Terpaksa aku yang melakukan sendiri."
"Oh, jadi kamu sekarang terpaksa melakukan ini," aku mengerjapkan mata sebelum menatap tajam ke arahnya.
"Hehehe, enggak juga! Nih, mumpung masih panas!" Erlin menyodorkan lagi cangkir kopi itu, aku segera menerimanya.
"Terima kasih, Sayang !" ujarku penuh.
"Sama-sama, setelah ini kamu juga harus terbiasa dengan apapun pemberian Eliana,"
"Kita ke sana yuk!" ajakku sambil menunjuk sebuah sofa. Erlin mengekor.
Sambil menyeruput kopi buatan istri tercinta, aku menelaah beberapa kalimat yang sulit aku cerna.
"Maksud kamu apa Yang?" tanyaku, meski enggak penasaran.
"Eliana juga berhak memperlakukan kamu seperti yang sudah terbiasa aku lakukan ke kamu. Misal, menyiapkan makanan, pakaian dan yang lainnya. Kamu juga jangan nolak saat dia menaruh nasi di piringmu." terang Erlin seraya menepuk punggung tanganku.
"Adikku sudah jadi bagian dari hidup kamu juga, sebagai pria muslim kamu pasti tahu apa yang menjadi kewajiban kamu pada istrimu yang lain. Selain memberikan nafkah materi, kamu juga perlu memberikan nafkah batin padanya."
"Sam, aku tahu kelemahan ku. Aku tak bisa membiarkan kamu terus bersedih dengan keadaan kita yang sekarang."
Aku tahu ke arah mana pembicaraan yang ia maksudkan, apa lagi kalau bukan soal keturunan. Aku meletakkan cangkir di atas meja dan mulai menatapnya serius.
"Memiliki kamu adalah kebahagian ku." aku mencoba menerima dia apa adanya, namun, dia masih belum terima dan terus saja mendesak aku untuk menikah lagi. Setelah tujuannya berhasil, dia malah menyuruhku agar bisa berlaku lebih pada istriku yang lain, yang tidak bukan adalah adiknya.
"Itu semua tidak cukup Sam, sudah berapa kali aku katakan padamu. Kamu perlu penerus, sekarang calon penerus kamu sudah berkembang di dalam perut adikku. Ku mohon sekali lagi padamu, perlakukan dia dengan adil. Meski sakit hati ini melihat suami tercintaku membagi cintanya, tapi aku rela jika kamu bahagia telah memiliki anak dari nya. Sungguh, tidak ada niat yang lain kecuali membuat kamu bahagia." Erlin mulai menitikkan air matanya. Sebelum itu terlanjur deras aku menyambar bibirnya.
"Tenang kan dirimu, kamu adalah istriku yang baik. Di surganya Allah nanti aku ingin selalu bersamamu, kamu adalah wanita yang tercipta dari tulang rusuk ku. Jangan menangis lagi karena ku!" setelah menyambar bibirnya aku mengusap pipinya yang hampir basah sepenuhnya.
"Baiklah, apakah kamu sudah selesai masak? Aku lapar." ujarku memberi tahu dia. Erlin membersihkan sisa air matanya.
"Sudah, aku mau mandi dulu."
"Aku akan menunggumu di meja makan." Dia hanya mengangguk dan beranjak dari sofa.
Aku menuju meja makan. Beberapa menit kemudian, Eliana datang lebih dulu.
__ADS_1
"Pagi Kak Sam!" sapanya sambil menarik kursi.
"Pagi," sahut ku singkat.
"Oh ya, tadi Kak Sam ingin mengatakan apa padaku?" tanyanya, terlihat wajahnya cukup segar dengan ciri khas orang baru mandi.
"Sebagai istri kedua, aku berharap kamu tahu batasan kamu. Pertama aku akan membuat jadwal di mana hari -hari bisa tidur di kamarmu. Kedua, karena kamu sedang hamil jadi, kamu tidak usah bekerja lagi di kantor. Kamu bisa melakukan aktivitas lain di dalam apartemen ini untuk menghilangkan kejenuhan. Ketiga, aku tidak ingin kamu iri dengan kakakmu." terangku, ini semua sudah aku pikirkan matang -matang sebelum menyampaikan padanya.
"Satu dari ketiga yang Kak Sam sampaikan membuatku tak nyaman. Aku ingin Kak Sam berlaku adil padaku. Jadi, apa yang tak boleh aku iri dari kakakku?"
"Kamu cukup mendengar saja, tak perlu banyak komentar. Sudah baik aku mencoba menerima pernikahan ini dan tinggal bersama denganmu."
"Jadi, Kak Sam terpaksa? Bukannya bertangung jawab dengan ikhlas?" Eliana seolah tak mau berdamai dengan perkataan yang aku ujar kan tadi.
"Sebenarnya, aku sudah membuat kesepakatan dengan Erlin. Dan cukup kami berdua saja yang tahu itu. Terserah apa yang ingin kamu katakan. Yang jelas di sini aku yang berkuasa mengambil keputusan. Untuk kebutuhan pribadi mu mengenai kehamilan tentunya, jangan takut, sepenuhnya aku akan bertanggung jawab dengan ikhlas."
"Ikhlas seperti apa yang kamu maksudkan Kak, aku juga mau diperlakukan layaknya istri sungguhan, bukan karena keterpaksaan." Eliana hampir saja menangis. Jika Erlin tahu ini, dia akan mengira aku telah menyakiti adiknya.
"Sudah jangan menangis, aku tak mau anakku ikut menangis juga." dengan cepat Eliana mengusap matanya sebelum Erlin datang.
"Pagi semuanya!" sapa Erlin yang tengah menggandeng Cemplon.
"Pagi Mama Eliana, pagi Papa!" sapa Cemplon.
"Pagi Sayang!" sahutku.
Erlin menarik kursi di depanku sedang Cemplon disamping Erlin.
"Biar aku Kak yang mengambilkan nasi!" Eliana bergegas berdiri saat aku membalik piring ku.
Dia dengan telaten menciduk nasi ke piring ku setelah selesai mengisi piringku, dia mengambil nasi ke piringnya. Ku lirik Erlin, dia bersikap wajar saja seolah hatinya tak tersakiti.
"Terima kasih," ujarku.
"Sama -sama Kak, Kak Erlin juga mau aku ambilkan?"
"Tidak usah Dik, kakak bisa mengambilnya sendiri. Kamu makanlah dulu, kasihan jika bayi mu kelaparan."
Rumah tangga seperti apa ini, awal menjalani saja sudah sangat kikuk, bagaimana seterusnya?
__ADS_1
Siapa yang tersakiti di sini, aku kah atau Erlin yang seolah tak menghiraukan hatinya yang padahal aku tahu dia yang amat sakit.