
Erlin dan aku setelah seharian berkeliling di negeri sakura ini berhenti sejenak di sebuah tempat makan. Di sana ada penjual yang menjajakan makanan Indonesia, namun harganya sungguh fantastis. Ada bakso, kalau di Jakarta 15 ribu sudah dapat satu mangkuk, beda kalau di sini sekitar 105 ribuan.
"Erlin kamu mau makan bakso?" tawarku saat kami sudah sampai di depan kedai penjual bakso. Tentu Erlin tak menolak. Segera aku memesan dan mencari posisi yang nyaman.
Sepasang mata memperhatikan kami. Pengunjung yang ada di sana ada yang dari Indonesia juga. Mereka tengah menikmati liburan tahun baru di sini.
"Lihat wajahnya, buruk dan menjijikkan," ujar salah satu pengunjung yang memperhatikan kami. Ucapannya tak terdidik sama sekali. Aku mendengar jelas mereka mencibir dan menghina istriku.
"Benar, kalau aku jadi pria itu, sudah aku tinggalkan wanita cacat seperti dia. Mencari wanita yang lebih cantik lagi."
"Aneh, pasangan seperti mereka bisa bertahan, aku menjamin hubungan mereka pasti tak lama,"
Berbagai komentar mereka lontarkan pada kami.
"Erlin, kamu tenang saja, aku akan memberi pelajaran pada orang - orang itu!" Tanganku mengepal, ingin sekali merobek mulut yang berkata demikian. Aku hendak berdiri, dengan cepat Erlin menahan tanganku. Erlin menggelengkan kepala, bermaksud agar aku tak menghiraukan ucapan mereka.
Aku sebisa mungkin menahan amarahku.
"Sabar Sam," batinku menasihati.
Aku sontak berdiri tanpa menghiraukan kegelisahan Erlin.
"Hai, dengarkan aku !" suaraku yang menggelegar membuat semua orang terdiam.
"Dia adalah istriku, jadi berhenti mengejeknya. Bayangkan jika dia adalah pasangan kalian dan mengalami kecelakaan seperti apa yang dialami istriku. Bagiku, istriku adalah yang terbaik untukku!" teriakku marah pada mereka sambil mengacungkan jari.
"Aku takkan membiarkan mereka menghina istriku! Ayo bicara lagi dan kalian akan merasakan tinjuku!" ancamku seraya menggenggam satu persatu jariku hingga membuat kepalan tinju.
Semua mata menunduk takut dengan kemarahan ku. Dan suasana menjadi hening.
Pesanan kami datang, yang mengantar tampak bergetar membawa baki.
"Silahkan!" ujar pemilik kedai yang ramah itu.
Aku segera duduk kembali. Sejurus kemudian aku mengedarkan pandangan, kalau - kalau ada yang mencibir lagi. Mataku menatap Erlin, tangan Erlin mendatangiku mengusap jemarimu.
__ADS_1
"Ayo makan, dan jangan hiraukan mereka lagi. Anggap saja kita sedang dikelilingi monyet." hiburku agar Erlin tak canggung lagi.
Setelah selesai menikmati bakso, aku menangkap wajah Erlin yang terlihat pucat dan segera aku memutuskan untuk mengajak nya pulang ke hotel.
Sesampainya di hotel.
"Istirahatlah Sayang, mungkin kamu terlalu capek!" kataku pada Erlin seraya menaikkan kedua kakinya di atas kasur.
Siang ini cuaca memang begitu terik, wajar saja jika Erlin kecapekan.
Erlin pun begitu patuh dengan semua perkataan yang aku sampaikan. Dia pun akhirnya tidur.
Saat aku akan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tiba - tiba ponselku berdering. Ku lihat kontak nomor dengan wajah Emely di sana.
"Hallo!" sapaku sambil melepas ikat pinggangku.
"Hallo, Tuan Muda Sam! Bagaimana kabar Anda?" tanya Emely terdengar manja.
Aku sebenarnya enggan juga menerima panggilan dari nya. Tak biasanya Emely menghubungi ku, aku jadi teringat dengan perkataan kakek. Agar berhati-hati dengannya.
"Tuan Muda pasti bingung mengapa aku mendadak menghubungi ponsel Anda," ujarnya kemudian setelah keheningan beberapa detik.
"Tidak juga," sahut ku yang mungkin terdengar cuek baginya.
"Jangan begitu respon Anda, hargailah jika seorang wanita menghubungi Anda. Sebenarnya tidak ada hal yang penting, aku hanya ingin mengajak Anda makan malam saja, bagaimana?" tanya Emely.
"Maaf, aku sedang sibuk!" Aku segera menutup sambungan dari nya.
Bisa - bisanya dia mengajakku kencan. Belum tahu apa kalau aku seorang pria beristri. Ini harus segera diluruskan. Setelah dari sini aku akan memberitahukan pada publik kalau aku sudah memiliki istri yang cantik.
Tunggu, bagaimana dengan Erlin nanti jika terlihat oleh publik? Wajahnya memang tak secantik dulu, aku akui itu. Tapi, bagiku itu tak masalah. Yang jadi sorotan nanti pasti wajah Erlin. Erlin tentu akan mendapat hinaan dari mereka.
Aku akan membawa Erlin ke rumah sakit, mengajak dia operasi wajah.
.
__ADS_1
"Erlin, ini juga demi kebahagian kamu!" kataku tatkala sudah sampai di sebuah rumah sakit terkenal. Kami berada di muka pintu dokter spesial wajah.
Erlin berurai air mata. Ini diluar dugaan lagi. Erlin seperti menolak untuk melakukan operasi wajah. Dia meronta dan sesenggukan. Selembar kertas menuai jawaban darinya.
"Sam, apa kamu sekarang merasa jijik karena telah bersamaku? Kamu bilang aku harus setia dengan mu bagaimana pun keadaannya. Dan sekarang kamu tak menepati ucapan kamu sendiri. Wajahku memang tak seperti dulu lagi. Bersamamu lama - lama mungkin membuatmu tak nyaman. Kamu kini menjadi orang yang kaya dan sudah terkenal. Wajahku pasti mempengaruhi reputasimu jika mereka tahu aku adalah istri sah mu. Melakuan operasi wajah tentu membuatku terasa sakit, kamu hanya mencintai karena kecantikan bukan dari hati. Aku membenci mu Sam! Kamu telah berubah, kemana Samsul yang aku kenal dulu?" setelah menyerahkan secarik kertas, Erlin berlari menjauh. Aku bukan bermaksud untuk menyakiti hatimu Erlin, ini demi kebaikan kamu juga. Aku jadi serba salah. Erlin tak setuju dengan hadiah yang aku maksudkan ini, operasi wajah.
Mendadak ponselku berdering, aku tak menghiraukan siapa yang menghubungi aku dalam kondisi seperti ini.
Memutuskan untuk mengejar Erlin adalah hal utama ketimbang tahu siapa yang menelepon.
"Erlin, tunggu! Berhenti kataku!"
Erlin terus saja berlari tanpa mendengarkan teriakanku.
"Erlin, ku mohon berhentilah!" teriakku yang berhasil membuat Erlin diam. Ku tatap punggungnya yang terlihat berguncang.
Aku berjalan ke arahnya, menepuk salah satu bahunya.
"Erlin, bukan maksud hati untuk melukai perasan kamu. Operasi wajah mungkin bukan jalan yang bagus. Aku minta maaf, memutuskan ini tanpa seizin mu." kataku berharap Erlin memaafkan aku.
Erlin membalikkan tubuhnya. Dia ingin mengatakan sesuatu.
"Aku ingin pulang," satu kalimat yang berhasil aku susun sendiri. Erlin mulai bisa bersuara meski itu masih terdengar lirih dan gagap.
"Erlin, suara kamu, kamu hampir saja bisa kembali bersuara!" pekikku bahagia. Aku memegang kedua lengannya. Erlin tersenyum, aku membantunya menghapus air matanya.
"Baiklah jika ini bisa membuat kamu merasa lebih baik. Kita akan pulang. Jangan pergi lagi! Aku takkan memaksa kamu lagi,aku takut jika harus kehilangan kamu untuk yang kedua kali." ujarku kemudian memeluknya, Erlin membalas pelukan ku.
Aku segera memesan tiket kepulangan.
"Erlin, wajah kamu terlihat sangat pucat, apa kamu merasa tak enak badan?" tanyaku khawatir, saat aku menangkup wajahnya.
Erlin menggeleng pelan. Lama-lama dia tertidur dalam sandaran ku.
Erlin, sebentar lagi kita sampai di rumah.
__ADS_1