
"Sam, aku bahagia sekali," ujar Erlin setelah tiba di kamar hotel.
"Begitu pula denganku," aku menariknya hingga kami terpental di atas ranjang.
Dan penyatuan pun terjadilah.
.
Setelah melakukan malam panas, Erlin terbangun lebih dulu. Jam di dinding kamar hotel masih menunjuk pukul 02.00 dini hari.
"Seperti mimpi," ujar Erlin meski aku belum membuka mata, aku mendengar suaranya.
Aku membuka mataku sekilas untuk melihat apa yang sedang dia lakukan.
Dia tengah menguncir rambutnya yang panjang.
Perlahan aku menggeliat dan menarik kembali tubuhnya, dan sekarang dia dalam kungkungan ku.
Dia menjerit tapi aku tak menghiraukan nya.
"Sayang, kamu tak sedang bermimpi. Kita melakukannya dengan suka sama suka, apa kamu kecewa?" tanyaku seraya menyibak rambutnya yang menutupi wajah.
Dia menggeleng.
"Aku sangat kecewa jika kamu pergi dariku lagi," ujar nya.
"Aku berjanji padamu, takkan meninggalkan kamu lagi,"
"Janji?"
"Ya, ini buktinya." aku mencium pipinya hingga kedua pipinya memerah.
"Sam, geli!" pekiknya membuat aku ketagihan.
"Lagi," bisikku di telinga kirinya.
"Apa nya?" dia mengernyitkan dahi seolah tak tahu maksudku.
Aku langsung mendaratkan ciuman di bibirnya yang merekah.
"Bukannya semalam sudah?" sekarang dia tahu maksud ku apa.
Tanpa mendapatkan persetujuannya, aku langsung menyerang.
Season 2 pun akhirnya terjadi sudah.
"Erlin, tidurlah kembali !"Seketika dia memejamkan mata. Aku bangkit dan menyelimutinya.
Aku menghembuskan nafas pelan. Mengingat semuanya yang berubah begitu cepatnya.
Istriku yang sesungguhnya telah memberikan tubuhnya secara suka rela. Aku berharap dengan menanamkan benih di rahimnya bisa mempererat hubungan yang selama ini telah renggang.
Mencetak Samuel junior tentunya. Hahaha ...
Pagi pun tiba. Setelah kita mandi bersama aku segera memesan sarapan untuknya.
"Selesai sarapan kita tinggalkan hotel," kataku.
"Iya, boleh aku bertanya ?" aku mengangguk.
"Setelah ini kita akan tinggal di mana?"
"Kamu inginnya bagaimana?"
__ADS_1
"Ditanya malah balik nanya," Erlin mengerucutkan bibirnya.
"Sayang, asal tidak sama papi mami kamu, ke mana pun aku mau" aku memberi saran.
"Kamu masih membenci mereka?"
"Tidak juga, aku sadar bahwasanya balas dendam itu takkan membuat hati seseorang tentram, balas dendam terbaik adalah menunjukkan kepada mereka bahwa hidupku menjadi lebih baik setelah mereka mengusir ku."
"Aku salut dengan perkataan bijak yang kamu sampaikan ini." Erlin melangkah mendekat ke arahku.
"Maafkan aku sekali lagi, Sam. Sebenarnya papi lah yang memfitnah kamu waktu itu. Perhiasan mami, papi letakkan di bawah tempat tidurmu saat kamu sedang tak ada di kamar." terang Erlin membuat aku menganga. Mengingat kejadian lalu.
"Jadi, aku difitnah?" Erlin mengangguk.
"Semuanya sudah jelas, Sam. Ku mohon jangan benci papi. Dia sekarang khilaf dan aku pastikan papi akan meminta maaf padamu,"
Aku mendesah kasar.
"Erlin, istriku, sayangku, yang lalu biarlah berlalu , mendapatkan kamu kembali adalah takdir ku." Aku memeluknya erat. Wajahnya yang cantik terbenam dalam ceruk leherku.
Selesai sarapan kami segera meninggalkan hotel.
"Aku ingin membawamu ke suatu tempat." kataku.
"Ke mana lagi, berharap aku bisa pulang dan istirahat dengan tenang?"
"Jangan khawatir Erlin! Tempat ini akan membuat hati kita terasa damai,"
"Ya sudahlah, aku menurut saja!"
Aku meminta Bondan untuk pulang. Mobil yang akan aku kemudikan sendiri.
Sejauh perjalanan Erlin tertidur, mungkin sangking lelah nya melayaniku semalam.
Hampir dua jam aku mengemudi, dan syukurlah tanpa ada hambatan aku sampai di desa.
"Sam!" seru emak dari kejauhan.
"Sssttt, Erlin sedang tidur, Emak jangan teriak - teriak," bisikku setelah emak datang mendekat.
"Non Erlin, Masya Allah, makin cantik aja ya Sam!" ujar emak tetap dengan suara kerasnya.
Emak menang begitu, tak puas jika bicara dengan berbisik. Pendengaran nya memang sedikit terganggu.
Erlin menggeliat dan perlahan membuka mata.
Dia segera berontak turun dari gendonganku.
"Malu Sam, seharusnya kamu membangunkan aku tadi," Gerutunya segera menyodorkan tangan salim dengan emak.
"Emak, maafkan Erlin yang tidak tahu diri ini,"
"Sudah lupakan, ayo masuk!" emak menarik paksa Erlin. Aku mengekor dari belakang.
Setelah sampai di dalam rumah.
Emak mengangkat sebuah bakul dan menyajikan di atas meja.
"Apa ini Mak?" tanya Erlin penasaran seraya melihatnya seksama.
Aku tersenyum pias.
"Ini namanya nasi jagung, kamu belum pernah mencicipi ini kan, cobalah!" Emak menyodorkan piring yang sudah berisi nasi jagung.
__ADS_1
Erlin menerimanya, aku tahu dia pasti enggan untuk menerimanya.
Aku menarik piring miliknya.
"Sini aku suapi! Masih panas juga," ujarku seraya mengambil sesendok nasi jagung.
Aku meniupnya perlahan. Dia menatapku.
"Apa enak?" tanyanya.
"Dijamin deh, ini termasuk makanan favorit aku loh ...!" kataku.
Erlin membuka mulutnya.
"Bagaimana Non?" tanya Emak penasaran.
"Hmmm, asin," ujar Erlin sambil memakannya.
"Emak kebelet kawin ya," godaku.
Aku dan Emak tertawa bersama.
Erlin akhirnya menghabiskan juga nasi jagungnya.
Sore hari saat Erlin tengah menemani emak memotong sayuran, aku hendak mengatakan sesuatu pada emak.
"Sam, aku mau mampir ke rumah pamanku!" izin Erlin.
"Baik, ayo ku antar !" tawarku dan dia pun setuju. Aku menunda apa yang ingin ku sampaikan pada emak.
Sepuluh menit kemudian, kami sampai di rumah paman Wito, bos kerupuk uyel saat aku bekerja dulu.
"Paman, Bibi!" seru Erlin seraya menghambur ke arah mereka.
Pak Wito dan istri nya saat bertemu pandang denganku menaruh curiga kalau Erlin telah menikah lagi dengan pria lain.
"Bukan Paman Bibi, ini bukan suami ku yang baru. Ini adalah Samsul," terang Erlin membuat pak Wito menganga.
"Samsul, bagaimana bisa kamu berubah 360 derajat seperti ini?" pak Wito tak percaya.
"Yah, namanya rejeki, bisa mengubah takdir seseorang," kataku sedikit merendah.
Erlin, pak Wito dan istrinya saling bertukar pengalaman.
"Sam, aku mau ke toilet sebentar, setelah ini kita pulang." ujar Erlin lalu bergegas ke belakang.
"Samsul, aku tak menyangka hidup kamu bakal sukses seperti ini, padahal dulu setoran saja selalu telat, bahkan membeli baju saja tak mampu." kata pak Wito terdengar sinis, namun aku tak menanggapinya terlalu serius.
"Ya, kehidupan bagaikan roda yang berputar tak selamanya seseorang berada di bawah terus.
"Kyaaa ...!!" terdengar jeritan dari arah belakang.
"Itu Erlin, ada apa dengannya !" aku lansung berlari ke sumber suara.
"Erlin!" pekikku melihat dia sudah pingsan.
Aku langsung menggapai tubuhnya.
"Erlin, sadarlah!" Aku menepuk pipinya, namun tak ada perubahan, dia tetap memejamkan mata.
Pak Wito dan istrinya juga datang ke arah dapur yang letaknya cukup dekat dengan kamar mandi.
"Masya Allah Erlin !" pak Wito langsung duduk tersungkur dan ikut menyadarkan Erlin.
__ADS_1
"Pak, cepat ambil minyak kayu putih ! Dan kamu Sam, angkat Erlin ke sana!" bu Wito menunjuk ke sebuah kamar.
Aku langsung mengangkat Erlin. Ada apa denganmu Erlin?