
Aku sudah mengerahkan semua orang untuk mencari Emi atau Emely ke seluruh kota.
Tentu bukan untuk meminta maaf padanya, lagian aku tak merasa melakukan kesalahan padanya.
Ucapan terima kasih saja yang akan aku berikan padanya karena sudah susah payah membantu perusahaanku menjual saham. Dengan begitu aku tak merasa kalah, Emely lah yang akan kalah karena belum berhasil membuatku hancur.
Setelah aku mempertimbangkan, tak salah juga Emely menjual sahamku dengan harga murah. Aku kan kaya, bisa mencari pemasukan lain. Ha ha ha ....
Oke, untuk kasus ini aku biarkan mengalir saja mengikuti waktu. Aku harus lebih ekstra memperhatikan Erlin lagi.
Malam ini hujan turun begitu derasnya, untung saja aku lebih cepat sampai di rumah sakit sebelum langit tampak mendung tadi.
Ku lihat Erlin masih pulas, aku berjalan mendekatinya. Membenahi selimutnya dan memberikan sedikit ciuman di dahinya.
"Erlin, aku datang Sayang, maaf sedikit terlambat," ujarku lirih.
Aku meminta semua penjaga untuk pergi.
Saat aku mengitari ranjang, ku lihat Erlin mulai menggeliat. Lalu perlahan dia membuka matanya.
"Haus," ujarnya lirih namun aku bisa mendengarnya.
"Erlin, Sayang, kamu sudah bangun?" Aku segera menghambur ke arahnya. Meraih tangan dan mengecupnya.
"Haus," ujarnya lagi, aku segera mengambil air mineral yang tersedia di meja. Membuka tutup botol dan menaruh sedotan agar Erlin mudah meminumnya.
"Ini!" aku mendekatkan sedotan di ujung bibirnya.
Erlin segera meminumnya.
"Sudah?" tanyaku, Erlin hanya mengangguk cepat.
Aku mengambil tisu dan membersihkan bekas air minum di bibirnya.
"Apa kamu sudah makan?" tanyaku langsung, sebenarnya aku ingin menanyakan perihal kehamilan. Tapi, sepertinya ini waktu yang kurang tepat. Lain waktu saja jika dia susah siap.
Erlin hanya menggeleng. Kebetulan saat di jalan tadi aku membeli bebek goreng, bisa dimakan berdua. Aku membantu Erlin berbaring. Sejenak aku ingin melupakan masalah yang terus menghantuiku.
Setelah selesai makan berdua, Erlin memulai dialog nya denganku.
"Sam, apa kamu sudah tahu?" tanyanya terdengar ragu.
"Tentang apa?" tanyaku pura-pura tak tahu.
"Kamu pasti sudah mendengar dari dokter. Aku keguguran." terang Erlin dengan jujur.
Aku menarik nafas panjang dan membuangnya pelan.
__ADS_1
"Itu, eum, mengapa kamu tak mengabari ku sebelumnya?" tanyaku datar.
"Waktu itu aku ingin memberikan kejutan padamu. Tapi, kamu malah merusak suasana hatiku." ujar Erlin lalu berpaling dariku.
"Maaf Erlin, aku yang salah, tapi kamu harus tahu, aku tak ada hubungan apa pun dengan Emi. Dan ternyata Emi adalah Emely, dia menipu ku dan semua orang dengan berpura -pura menjadi karyawan baru di perusahan ku. Dia menghancurkan sahamku. " terangku.
"Apa, bagaimana bisa kamu tak menyadari hal itu?"
"Entahlah, aku terkecoh dengan penampilannya yang sederhana sehingga dengan mudah membiarkan dia bekerja di tempatku."
Erlin mendesah.
"Maafkan aku juga, Sam, yang terlalu gegabah dan tak mau mendengar penjelasanmu. Aku juga lalai menjaga anak kita." Erlin mengelus perutnya yang datar. Aku menyentuh tangannya.
"Tidak apa Sayang, kita akan mencoba lagi." ujarku menghiburnya.
Setelah tiga hari Erlin berada di rumah sakit dan kondisinya pun sudah pulih, akhirnya Erlin bisa ku bawa pulang.
Saat di rumah, aku mewaspadai pergerakan Erlin. Melarang ini itu dan sebagainya. Malam hari saat aku mencari Erlin di kamar ternyata dia ada di dapur.
"Erlin, apa yang sedang kamu lakukan?" teriak ku berusaha menghentikan aktivitas dia.
"Aku hanya mengangkat teflon, Sam, ini hal yang ringan," ujarnya tetapi aku tetap tak setuju.
"Sudah, berikan padaku, biar aku yang melakukan ini. Kamu ingin membuat telur mata sapi kan?" tebakanku yang mendapat anggukan kepala dari nya. Ku lihat di samping kompor ada tiga butir telur.
"Apa kamu bisa melakukannya?" tanya Erlin meragukan kemampuanku.
Setelah telur mata sapi jadi, aku menuangkannya di atas piring. Dan membawanya ke meja makan.
"Padahal ada pelayan, kenapa kamu melakukan ini sendiri?" tanyaku seraya meliriknya.
"Aku bosan diam kayak patung, aku juga ingin seperti wanita yang lain, masak, membuatkan makanan untuk suami."
"Tapi kamu baru sembuh," protesku.
Erlin seperti tak mendengar perkataanku, dia terus saja bergerak.
"Sudah Erlin, kamu duduk saja!" Aku memaksa Erlin duduk.
"Biar aku yang meladenimu!" Aku menarik piringnya dan mengambilkan nasi.
"Tapi, Sam, aku bisa sendiri," tangannya berusaha merebut dari tanganku. Namun kalah tenaga denganku.
"Nih, ayo di makan, setelah itu minum obatmu!" perintahku yang tak mau lagi mendengar bantahan darinya.
"Kamu juga makan!" ujar Erlin dengan ekspresi yang menggemaskan.
__ADS_1
"Tentu," aku mengambil sendiri nasiku.
Selesai makan, aku mengambilkan obat untuknya. Dia pun segera menelan tiga butir obat. Setelah itu Erlin tertidur.
Keesokan paginya.
Aku sudah siap akan pergi ke kantor.
"Tuan Muda Sam!" aku mendengar teriakan pelayan dari luar kamar. Aku yang sedari tadi membenahi dasi segera turun dan melihat apa yang terjadi.
"Erkin!" pekikku setelah tiba di bawah.
Erlin tengah pingsan dengan banyak darah yang keluar dari badannya.
Aku segera memanggil Bondan untuk menyiapkan mobil dan membawa Erlin ke rumah sakit. Aku sangat cemas dan takut akan darah yang sering keluar dari tubuhnya.
Setelah tiba di rumah sakit.
"Dokter, tolong istriku! Lakukan apa pun yang terbaik baginya!" ujarku panik.
"Iya, tolong keluar sebentar agar kami bisa menanganinya secara maksimal!" kata dokter yang segera menutup pintu.
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter keluar dan menemuiku.
"Silahkan ikut saya!" ujar dokter seraya menunjuk tangannya agar aku berjalan ke mengikuti nya.
Saat di ruangan dokter.
"Istri Anda banyak sekali mengeluarkan darah. Ini akibat benturan di rahimnya."
"Lalu, bahayanya dengan nyawanya?" tanyaku yang cukup khawatir dengan kondisi Erlin saat ini.
"Benar, dan lagian satu-satunya adalah mengangkat rahimnya." terang dokter yang membuatku melotot kaget.
"Tidak Dok, aku tak setuju!"
"Itu menurut Anda, tapi istri Anda akan terus mengeluarkan darah segar yang pada akibatnya akan menyulitkan dia."
"Jika rahimnya di angkat, itu artinya ..." aku berhenti sejenak.
"Istri Anda tidak akan bisa hamil lagi." terang dokter yang membuat tubuhku lemas.
"Ku mohon Dokter, jangan lakukan itu padaku dengan mengatakan hal itu. Aku sangat menginginkan anak dari rahim istriku. Apakah tidak ada cara lain lagi?" tanyaku berharap dokter memberikan jalan keluar.
Dokter itu menggeleng. "Tidak ada jalan lain selain mengangkat rahimnya."
Aku menangis sejadi -jadinya dan segera keluar ruangan dokter itu.
__ADS_1
"Ya Allah, dosa apa aku, sampai musibah yang menyakitkan ini datang padaku, berilah aku petunjuk agar aku bisa keluar dari masalah ini!"
"Erlin, bagaimana perasaan dia setelah mendebat kabar ini?"